Ada anak yang pulang sekolah dengan cerita panjang, tetapi ada pula yang memilih diam atau mengatakan tidak ada apa-apa. Orang tua mungkin khawatir, terutama ketika ingin memastikan anak aman dan nyaman di sekolah. Alih-alih memaksa cerita, cobalah membangun jalur komunikasi yang memberi anak kendali untuk berbagi sambil tetap memantau tanda yang membutuhkan perhatian.
Jangan langsung mengartikan diam sebagai masalah
Anak bisa diam karena lelah, ingin beristirahat, tidak menganggap kejadian hari itu penting, atau belum menemukan kata untuk menjelaskannya. Perbedaan temperamen juga memengaruhi cara anak berbagi pengalaman.
Namun, bila anak yang biasanya bercerita mendadak menghindar, takut pergi sekolah, sering mengeluh sakit sebelum berangkat, atau menunjukkan perubahan menetap, orang tua perlu menelusuri situasinya dengan tenang.
Buka percakapan lewat aktivitas dan pertanyaan konkret
Ajak anak menggambar, berjalan, membaca, atau menyiapkan bekal sambil berbincang ringan. Pertanyaan seperti “Apa yang kamu kerjakan saat pelajaran seni?” lebih mudah dijawab daripada “Kenapa kamu tidak mau cerita?”
Hindari mengajukan banyak pertanyaan sekaligus. Beri kesempatan anak mengubah topik atau menjawab singkat. Tunjukkan bahwa orang tua tertarik pada pengalaman anak, bukan hanya mencari kesalahan atau nilai sekolah. Sebagai rujukan lanjutan, baca sumber UNICEF Indonesia mengenai pendidikan dan dukungan anak.
Sampaikan bahwa cerita sulit juga boleh dibagikan
Anak mungkin khawatir dimarahi karena lupa tugas, bertengkar, atau melanggar aturan. Katakan bahwa ia boleh bercerita tentang kesalahan dan masalah; orang tua akan membantu memikirkan langkah yang bertanggung jawab.
Jangan menjanjikan tidak akan ada konsekuensi sama sekali. Jelaskan bahwa keselamatan dan kejujuran tetap penting, tetapi anak tidak akan ditinggalkan atau dipermalukan ketika membutuhkan bantuan. Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan ke mendengarkan anak agar berani bercerita.
Bangun komunikasi dengan sekolah bila ada kekhawatiran
Jika tanda masalah muncul, catat kejadian konkret dan hubungi guru melalui jalur komunikasi yang sesuai. Tanyakan pengamatan guru secara terbuka dan hindari langsung menuduh teman atau staf sekolah.
Jika anak mengungkapkan perundungan, kekerasan, atau ancaman, dengarkan dengan serius dan ikuti prosedur perlindungan sekolah serta layanan terkait. Jangan meminta anak menyelesaikan sendiri situasi yang melibatkan ketimpangan kuasa atau keselamatan. Pembahasan terkait juga tersedia dalam panduan perlindungan anak UNICEF Indonesia.
Contoh dalam keseharian
Sebelumnya, Farhan selalu bercerita tentang teman-temannya, tetapi beberapa minggu terakhir ia langsung masuk kamar. Ayah memberinya waktu, lalu mengajak berjalan sore. Farhan akhirnya bercerita bahwa ia merasa tertinggal saat permainan kelompok. Ayah mendengarkan dan kemudian menghubungi guru untuk memahami situasi.
Hal yang perlu diingat
Anak tidak harus menceritakan semua hal dengan cara dan waktu yang sama. Jaga percakapan tetap hangat, amati perubahan yang berlangsung, dan libatkan sekolah saat ada alasan yang jelas. Kepercayaan tumbuh ketika anak tahu orang tua siap membantu tanpa mempermalukannya.








