Suatu sore, anak bertanya ketika sedang merapikan tas sekolah, “Kenapa suara teman laki-lakiku mulai berubah?” Pada hari lain, ia melihat iklan pembalut di televisi lalu bertanya untuk siapa benda itu. Pertanyaan kecil seperti ini bisa menjadi awal percakapan tentang pubertas. Namun, sebagian orang tua menundanya karena merasa anak masih terlalu kecil, belum waktunya, atau khawatir tidak tahu harus menjelaskan dari mana.
Padahal, menyiapkan mental anak menjelang pubertas tidak harus menunggu perubahan tubuh terlihat jelas. Persiapan justru dapat dimulai melalui percakapan ringan yang berulang, informasi yang sesuai usia, serta keyakinan bahwa anak boleh bertanya tanpa ditertawakan. Tujuannya bukan membuat anak cemas menunggu masa pubertas, melainkan membantu ia merasa lebih siap ketika tubuh, emosi, dan hubungan sosialnya mulai berubah.
Pubertas bukan satu peristiwa yang datang sekaligus
Pubertas adalah masa ketika tubuh anak mengalami perubahan menuju kematangan fisik. Materi Kementerian Kesehatan mencantumkan rentang awal yang umum sekitar usia 8–13 tahun pada anak perempuan dan 9–14 tahun pada anak laki-laki. Rentang tersebut bukan jadwal yang harus sama pada setiap anak. Waktu dan urutan perubahan dapat berbeda, sehingga orang tua sebaiknya tidak membandingkan tubuh anak dengan teman atau saudara.
Perubahan pubertas dapat meliputi pertumbuhan tubuh, perubahan kulit dan bau badan, tumbuhnya rambut di area tertentu, perubahan suara, serta mulai matangnya fungsi reproduksi. Anak juga dapat mengalami perubahan dalam cara memandang diri sendiri, kebutuhan privasi, dan hubungan dengan teman. Tidak semua perubahan muncul pada waktu yang sama, dan anak mungkin memiliki pertanyaan yang belum berani ia sampaikan.
Orang tua dapat membaca materi Kementerian Kesehatan tentang pubertas sebagai pengantar untuk memahami perubahan umum pada masa ini. Ikatan Dokter Anak Indonesia juga menempatkan topik pubertas dalam bahan informasi praktis bagi anak sekitar usia 9–10 tahun melalui panduan informasi praktis untuk orang tua dan anak.
Yang perlu disiapkan bukan hanya pengetahuan, tetapi rasa aman
Anak dapat menghafal nama perubahan tubuh, tetapi tetap merasa malu atau takut membicarakannya. Karena itu, bekal emosional sama pentingnya dengan penjelasan biologis. Anak perlu tahu bahwa tubuhnya tidak memalukan, perubahan tidak membuatnya menjadi aneh, dan ia tidak harus membagikan semua hal pribadi kepada teman sebaya.
Rasa aman dibangun melalui pengalaman kecil: orang tua tidak menertawakan pertanyaan, tidak menjadikan tubuh anak bahan candaan, tidak membandingkan perkembangan anak dengan sepupu, dan menghormati kebutuhan privasinya. Jika anak bertanya sesuatu yang belum dapat dijawab, orang tua boleh berkata, “Ibu ingin memastikan jawabannya benar. Kita cari tahu dari sumber kesehatan yang tepercaya, ya.” Kejujuran seperti ini lebih baik daripada menebak atau memberi jawaban menakutkan.
Mulai percakapan sebelum anak merasa harus menyembunyikan pertanyaan
Percakapan tentang pubertas sebaiknya tidak hanya berupa satu pembicaraan besar. Anak mungkin belum siap menerima banyak informasi sekaligus. Lebih nyaman jika orang tua memanfaatkan situasi sehari-hari: ketika membeli perlengkapan kebersihan, melihat materi pelajaran, membahas perubahan suara, atau mendengar anak bertanya tentang teman yang mulai tumbuh lebih tinggi.
Beberapa pembuka yang bisa dicoba:
- “Kamu mungkin akan melihat teman-teman tumbuh dengan waktu yang berbeda. Setiap tubuh punya ritmenya sendiri.”
- “Kalau ada perubahan tubuh yang membuatmu bingung, kamu boleh tanya Ayah atau Ibu. Tidak perlu malu.”
- “Ada informasi yang benar dan ada mitos. Kalau mendengar sesuatu dari teman atau internet, kita bisa periksa bersama.”
- “Kamu boleh memilih apakah ingin bicara sekarang atau nanti. Ayah dan Ibu tetap bisa diajak bicara.”
Usahakan percakapan terasa dua arah. Tanyakan apa yang sudah anak ketahui, dari mana ia mendengarnya, dan bagian mana yang membuatnya penasaran. Jangan menganggap anak tidak tahu apa-apa, tetapi jangan pula mengira ia sudah memahami semua informasi yang diterimanya.
Bahas perubahan tubuh dengan bahasa yang sederhana dan tidak menakutkan
Gunakan istilah yang benar dan santun. Jelaskan bahwa tubuh dapat bertambah tinggi, kulit bisa lebih berminyak, keringat dan bau badan mungkin berubah, serta tubuh mulai berkembang menuju dewasa. Untuk anak perempuan, orang tua dapat menjelaskan menstruasi sebagai proses alami ketika darah keluar dari rahim melalui vagina secara berkala setelah tubuh memasuki tahap tertentu. Untuk anak laki-laki, jelaskan bahwa mimpi basah dapat terjadi saat tidur sebagai bagian dari perubahan tubuh. Sampaikan sesuai kebutuhan dan kesiapan anak, bukan dengan detail yang belum ia perlukan.
Jangan membuat anak merasa bahwa semua perubahan harus disukai. Sebagian anak merasa bangga ketika bertambah tinggi, sementara yang lain tidak nyaman karena menjadi berbeda dari teman sekelas. Beri ruang bagi respons yang beragam. Jika ia malu, jangan memaksanya menceritakan hal pribadi di depan saudara atau keluarga besar.
Siapkan keterampilan sehari-hari, bukan hanya penjelasan
Persiapan mental juga tumbuh ketika anak memiliki keterampilan praktis untuk merawat dirinya. Orang tua dapat mengenalkan kebiasaan mandi, mengganti pakaian, memakai deodoran bila diperlukan sesuai kondisi dan petunjuk produk, menjaga kebersihan pakaian, serta menyiapkan perlengkapan menstruasi bagi anak yang membutuhkannya. Ajarkan langkahnya secara bertahap dan beri kesempatan anak mencoba sendiri.
Privasi perlu dibicarakan dengan jelas. Anak berhak atas ruang pribadi, termasuk ketika berganti pakaian atau membersihkan diri. Jelaskan bahwa bantuan dari orang tua atau tenaga kesehatan dapat diperlukan dalam situasi tertentu, tetapi anak boleh bertanya mengapa bantuan itu dibutuhkan dan siapa yang akan melakukannya. Ajarkan pula bahwa ia dapat mengatakan tidak nyaman dan meminta pendamping tepercaya ketika memungkinkan.
Jangan menganggap setiap perubahan suasana hati sebagai masalah
Anak yang mendekati pubertas mungkin mulai ingin lebih mandiri, lebih sensitif terhadap komentar teman, atau memilih menghabiskan waktu sendiri. Perubahan seperti itu tidak otomatis menandakan masalah. Namun, orang tua tetap perlu hadir dan mengamati apakah anak tampak tertekan, terus-menerus menarik diri, mengalami gangguan tidur, atau kehilangan minat pada kegiatan yang sebelumnya disukai.
Alih-alih berkata, “Kamu sekarang sensitif sekali,” coba tanyakan, “Akhir-akhir ini ada hal yang terasa berbeda atau membuatmu kepikiran?” Dengarkan tanpa langsung memberi ceramah. UNICEF Indonesia menekankan pentingnya perhatian, pertanyaan terbuka, dan mendengarkan secara aktif dalam kiat berkomunikasi dengan remaja. Kebiasaan tersebut dapat mulai dibangun sebelum anak benar-benar memasuki masa remaja.
Hadapi rasa malu dan perbandingan dengan teman sebaya
Perubahan tubuh sering membuat anak memperhatikan dirinya lebih dekat. Ia mungkin merasa terlalu pendek, terlalu tinggi, belum mengalami perubahan yang sama dengan teman, atau justru merasa perubahan datang terlalu cepat. Hindari komentar yang menilai tubuh, meskipun maksudnya bercanda. Kalimat seperti “Kamu sudah besar, kok masih begitu?” atau “Temanmu sudah begini, kamu belum” dapat membuat anak merasa tubuhnya sedang dinilai.
Tekankan bahwa perkembangan tidak berlangsung seragam. Jika anak membandingkan dirinya dengan teman, jawab dengan tenang: “Kamu dan temanmu tidak harus berubah di waktu yang sama. Kalau ada hal yang membuatmu khawatir tentang kesehatan tubuhmu, kita bisa bertanya kepada dokter.” Jangan membuat janji bahwa semua akan terjadi pada usia tertentu.
Libatkan ayah, ibu, dan orang dewasa tepercaya
Jangan membebankan semua percakapan kepada satu orang tua atau menganggap topik pubertas hanya boleh dibicarakan oleh orang tua dengan jenis kelamin yang sama. Anak dapat memilih orang dewasa yang paling membuatnya nyaman. Ayah dapat menjelaskan kepada anak perempuan maupun laki-laki tentang perubahan tubuh dan rasa hormat terhadap privasi; ibu juga dapat mendampingi anak laki-laki memahami kebersihan serta perubahan emosi. Yang penting adalah informasi benar, sikap menghormati, dan kesediaan mendengarkan.
Jika orang tua tidak dapat hadir, tentukan orang dewasa tepercaya yang dapat ditanya anak—misalnya anggota keluarga yang aman, guru, atau tenaga kesehatan. Pastikan anak tahu bahwa ia tidak harus menyimpan pertanyaan yang membuatnya takut atau bingung.
Kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan?
Orang tua tidak perlu memeriksa setiap perubahan kecil secara berlebihan. Namun, jika perubahan tubuh tampak sangat dini, berlangsung dengan cara yang mengkhawatirkan, disertai keluhan fisik, atau membuat anak mengalami tekanan yang berat, konsultasikan dengan dokter atau dokter anak. Tenaga kesehatan dapat menilai keadaan anak berdasarkan riwayat, pemeriksaan, dan tahap perkembangannya. Jangan mencoba obat atau produk hormonal tanpa arahan tenaga medis.
Bila anak menunjukkan kesedihan atau kecemasan yang menetap, merasa sangat malu terhadap tubuhnya, mengalami perundungan, atau menghindari sekolah dan pergaulan karena perubahan yang dialami, pertimbangkan pula dukungan psikolog atau tenaga kesehatan mental. Mengajak anak berkonsultasi bukan berarti ada yang salah dengannya; itu salah satu cara memastikan ia mendapatkan pendampingan yang sesuai.
Jika anak mulai bertanya lebih rinci tentang tubuhnya, orang tua bisa melanjutkan dengan panduan membicarakan perubahan tubuh dan pubertas secara terbuka. Ayah juga dapat mengambil peran dalam percakapan tersebut melalui bacaan peran ayah saat anak mulai memasuki pubertas. Untuk memahami kebutuhan fisik yang ikut berubah, lihat pula kebutuhan gizi saat pubertas dan cara memahami perubahan bau badan saat pubertas.
Penutup: jadikan rumah tempat anak berani bertanya
Menyiapkan mental anak menjelang pubertas tidak berarti membuat daftar perubahan yang harus ia tunggu. Persiapan berarti membangun hubungan yang membuat anak merasa aman saat tubuh dan pikirannya berkembang. Anak perlu mendapat penjelasan yang benar, ruang untuk bertanya, kesempatan belajar merawat diri, dan jaminan bahwa ia tetap dihargai meski mengalami perubahan yang berbeda dari teman-temannya.
Mulailah dari percakapan kecil hari ini. Tidak perlu menunggu anak mengajukan pertanyaan yang sempurna. Ketika orang tua hadir dengan tenang dan tidak menghakimi, anak memiliki alasan lebih kuat untuk kembali bercerita saat menghadapi hal yang belum ia pahami.










