Seorang ayah membantu anak mencoba keterampilan baru di meja.
Belajar mengikat tali sepatu, berenang, menulis, atau memainkan alat musik dapat membuat anak frustrasi ketika hasil belum sesuai harapan.
Emosi & Kesehatan Mental Anak

Mendampingi Frustrasi Anak ketika Belajar Keterampilan Baru

Belajar mengikat tali sepatu, berenang, menulis, atau memainkan alat musik dapat membuat anak frustrasi ketika hasil belum sesuai harapan.

Belajar mengikat tali sepatu, berenang, menulis, atau memainkan alat musik dapat membuat anak frustrasi ketika hasil belum sesuai harapan. Orang tua dapat membantu anak bertahan tanpa mengambil alih seluruh tugas atau menuntutnya terus mencoba saat sudah kewalahan.

Perhatikan tanda frustrasi sebelum memberi arahan

Anak mungkin mengerutkan wajah, mengulang gerakan, meninggalkan alat, atau berkata tidak bisa. Beri jeda untuk mengamati apakah ia memerlukan bantuan, istirahat, atau penjelasan yang lebih sederhana. Terlalu cepat memberi instruksi dapat menambah beban.

Akui usaha dan perasaannya tanpa memuji secara berlebihan. Kalimat seperti, “Bagian ini memang sulit, kamu sedang mencari caranya,” membantu anak memahami bahwa kesulitan adalah bagian dari proses belajar.

Pecah keterampilan menjadi langkah yang lebih kecil

Tentukan satu bagian yang sedang dilatih, bukan seluruh keterampilan sekaligus. Saat belajar mengikat tali sepatu, misalnya, anak dapat berlatih membuat simpul dasar terlebih dahulu. Pilih tingkat kesulitan yang menantang tetapi masih mungkin dicoba.

Tunjukkan contoh bila diperlukan, lalu berikan ruang bagi anak untuk mencoba sendiri. Hindari mengoreksi setiap gerakan secara terus-menerus. Umpan balik yang spesifik dan tidak terlalu banyak lebih mudah diproses. Sebagai rujukan lanjutan, baca panduan Harvard tentang latihan fungsi eksekutif.

Gunakan jeda sebagai bagian dari latihan

Saat emosi meningkat, istirahat singkat dapat mencegah latihan berubah menjadi konflik. Sepakati tanda bahwa anak ingin berhenti sejenak, lalu tentukan kapan akan mencoba lagi. Jeda bukan kegagalan dan tidak perlu dipakai sebagai ancaman.

Variasikan cara latihan melalui permainan, benda berbeda, atau aktivitas singkat. Anak tidak harus berlatih dengan cara yang sama setiap hari. Perhatikan juga kebutuhan tidur, makan, dan kondisi fisik karena semuanya memengaruhi kesiapan belajar. Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan ke mendampingi anak menghadapi kegagalan dengan sikap mendukung.

Hargai kemajuan kecil dan batas kemampuan

Bandingkan kemajuan anak dengan dirinya sendiri pada waktu sebelumnya, bukan dengan saudara atau teman. Bila keterampilan tertentu sulit dikuasai meski sudah mendapat kesempatan dan dukungan, cari tahu apakah metode atau alat perlu disesuaikan.

Jika ada kekhawatiran tentang perkembangan motorik, bahasa, atau kemampuan lain, bicarakan dengan tenaga kesehatan atau guru yang kompeten. Jangan menyimpulkan adanya gangguan hanya dari satu keterampilan yang belum dikuasai. Pembahasan terkait juga tersedia dalam panduan CDC tentang perkembangan anak.

Contoh dalam keseharian

Anak berkali-kali gagal memasang kancing dan mulai melempar baju. Orang tua dapat menghentikan latihan, membantu anak menenangkan diri, lalu menawarkan pilihan: mencoba satu kancing besar atau beristirahat dan kembali besok.

Hal yang perlu diingat

Frustrasi saat belajar keterampilan baru bukan alasan untuk menyerah atau memaksa. Sesuaikan tantangan, beri jeda, dan tunjukkan langkah yang dapat dicoba. Tujuan pendampingan adalah membangun pengalaman belajar yang aman dan realistis.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.