Ayah mengangkat bayi dengan hati-hati, tetapi beberapa detik kemudian bayi menangis semakin keras. Ibu mencoba menggendong dan bayi perlahan tenang. Kejadian seperti ini dapat membuat Ayah merasa tidak disukai. Padahal, tangisan bayi bukan penilaian tentang kualitas seorang ayah. Tangisan merupakan salah satu cara bayi menyampaikan kebutuhan, ketidaknyamanan, atau respons terhadap keadaan di sekitarnya.
Bayi mungkin terbiasa dengan posisi gendong tertentu, sedang lapar, mengantuk, merasa kepanasan, membutuhkan sendawa, atau terlalu banyak menerima rangsangan. Perbedaan suara dan gerakan pengasuh juga dapat membuat bayi perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Ayah tidak perlu memaksakan diri menjadi satu-satunya orang yang bisa menenangkan bayi. Lebih baik mengenali isyarat bayi dan mencoba cara yang aman secara bertahap.
Tangisan tidak selalu berarti bayi menolak Ayah
Bayi belum dapat mengatakan “Aku lapar” atau “Posisi ini membuatku tidak nyaman”. Ia berkomunikasi melalui tangisan, gerakan tubuh, ekspresi, dan perubahan perilaku. National Health Service (NHS), layanan kesehatan nasional Inggris, menjelaskan beberapa alasan umum bayi menangis, termasuk lapar, popok basah, lelah, ingin dipeluk, kembung, terlalu panas atau dingin, bosan, atau mendapat terlalu banyak rangsangan. Karena itu, Ayah perlu memeriksa kebutuhan bayi sebelum menyimpulkan penyebabnya.
Baca panduan NHS tentang alasan bayi menangis dan cara menenangkannya. Panduan tersebut juga mengingatkan bahwa sebagian bayi menangis lebih banyak pada periode tertentu dan sulit ditenangkan meski kebutuhannya sudah diperiksa. Hal ini bisa membuat pengasuh lelah, sehingga dukungan antarorang dewasa tetap penting.
Periksa kebutuhan bayi sebelum mengubah cara menggendong
- Periksa waktu menyusu. Jika bayi menunjukkan tanda lapar, ikuti pola menyusu yang dianjurkan bagi usianya. Jangan menganggap tangisan selalu karena lapar, tetapi jangan pula menunda kebutuhan makan demi melatih bayi menerima gendongan Ayah.
- Periksa popok dan suhu tubuh. Popok basah, pakaian terlalu tebal, atau ruangan yang panas dapat membuat bayi tidak nyaman.
- Perhatikan rasa lelah. Bayi yang menguap, memalingkan wajah, atau mulai rewel mungkin perlu suasana lebih tenang.
- Periksa posisi tubuh. Pastikan kepala dan leher bayi tersangga sesuai tahap perkembangannya, wajah tidak tertutup, dan dagu tidak menempel ke dada sehingga jalan napas terganggu.
- Perhatikan kebutuhan sendawa atau kenyamanan perut. Jika bayi baru menyusu, perubahan posisi yang lembut dapat membantu sebagian bayi merasa lebih nyaman.
Coba cara menggendong yang lebih nyaman
Mulailah ketika bayi dalam keadaan cukup tenang, bukan saat sudah menangis sangat keras. Ayah dapat duduk dengan posisi stabil, meminta Ibu membantu menempatkan bayi, lalu mengambil alih perlahan. Pertahankan kepala dan leher bayi dalam posisi aman. Gerakkan tubuh secara lembut dan hindari menggoyang atau mengayun terlalu cepat.
Jika bayi menangis, cobalah berbicara pelan atau menyanyikan lagu yang sama. Jangan terus-menerus mengganti cara dengan cepat karena rangsangan tambahan mungkin membuat bayi semakin sulit tenang. Amati responsnya selama beberapa saat. Bila bayi justru semakin gelisah, hentikan dan minta bantuan pengasuh lain.
Bangun keakraban di luar momen bayi menangis
Ayah tidak harus menunggu bayi menangis untuk berinteraksi. Ambil bagian ketika bayi sedang tenang: berbicara saat mengganti popok, menyentuh tangan dengan lembut, bernyanyi, atau melakukan perawatan kulit ke kulit dengan aman ketika Ayah sepenuhnya terjaga. Rutinitas ini membantu Ayah mengenali sinyal bayi dan memberi kesempatan bayi terbiasa dengan suara serta sentuhannya.
Jangan menjadikan setiap interaksi sebagai latihan agar bayi mau digendong. Jika bayi sedang ingin beristirahat atau memalingkan wajah, beri jeda. Hubungan tidak dibangun dengan menahan bayi dalam posisi yang membuatnya semakin tertekan. Ayah bisa tetap dekat sambil berbicara pelan atau membantu tugas lain di sekitarnya.
Ketika Ibu lebih mudah menenangkan bayi
Jika bayi lebih cepat tenang bersama Ibu, biarkan Ibu membantu. Hal itu bukan kegagalan Ayah. Setelah bayi tenang, Ayah dapat mengambil bagian dalam tugas yang sesuai, seperti menyiapkan popok, membantu membersihkan, atau menemani rutinitas berikutnya. Secara bertahap, Ayah dapat mencoba menggendong ketika bayi berada dalam kondisi nyaman.
Orang tua sebaiknya menghindari komentar yang mempermalukan, seperti “Bayi tidak mau sama Ayah” atau “Ayah tidak bisa mengurus anak.” Kalimat tersebut dapat membuat Ayah enggan mencoba dan menambah tekanan pada Ibu. Bicarakan pembagian tugas secara praktis: kapan Ayah berlatih, kapan Ibu beristirahat, dan siapa yang mengambil alih ketika salah satu kelelahan.
Jika tangisan membuat Ayah kewalahan
Tangisan yang berkepanjangan dapat memicu stres pada siapa pun. Jika Ayah merasa marah, panik, atau hampir kehilangan kendali, jangan terus menggendong bayi sambil menahan emosi. Letakkan bayi telentang di tempat tidur bayi yang aman, tanpa bantal atau benda longgar, lalu menjauh sebentar untuk menenangkan diri selama bayi tetap berada di tempat aman. Minta bantuan orang dewasa tepercaya. Jangan pernah mengguncang, memukul, atau membentak bayi.
United Nations Children’s Fund (UNICEF), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berfokus pada hak dan kesejahteraan anak, juga menyarankan pengasuh mengambil jeda singkat setelah menempatkan bayi di tempat aman ketika tangisan membuat mereka kewalahan. Lihat penjelasan UNICEF tentang tangisan bayi dan cara meresponsnya. Bila tangisan terasa tidak biasa atau disertai tanda bayi sakit, sulit bernapas, demam, atau tidak mau menyusu, hubungi tenaga kesehatan.
Jangan memaksakan latihan saat bayi sedang tidak nyaman
Jika bayi sedang sakit, sangat lelah, baru selesai menyusu, atau membutuhkan kenyamanan dari pengasuh yang biasa menenangkannya, dahulukan kebutuhannya. Ayah tetap dapat berpartisipasi melalui cara lain. Tidak ada manfaat memaksa bayi terus berada dalam gendongan yang membuatnya menangis hanya untuk membuktikan bahwa Ayah bisa menenangkan.
Untuk memahami perkembangan dan kebutuhan bayi, orang tua dapat melihat panduan memantau tumbuh kembang bayi, aktivitas sederhana bagi bayi usia 0–3 bulan, dan perkembangan sensorik bayi.
Kapan perlu berkonsultasi?
Mintalah penilaian tenaga kesehatan jika bayi sering menangis dengan pola yang mengkhawatirkan, sulit menyusu, berat badan tidak bertambah sesuai pemantauan, muntah berulang, demam, atau menunjukkan gejala lain yang tidak biasa. Artikel ini tidak dapat menentukan penyebab tangisan bayi dari satu situasi. Tenaga kesehatan dapat menilai kondisi bayi berdasarkan usia, pemeriksaan, dan riwayatnya.
Periksa kebutuhan dasar sebelum mengganti-ganti cara menenangkan
Jika bayi menangis, periksa secara bertahap apakah ia lapar, popoknya basah, terlalu panas atau dingin, mengantuk, ingin bersendawa, atau membutuhkan jeda dari rangsangan. Pastikan pakaian tidak terlalu ketat dan tidak ada rambut atau benang yang melilit jari. Setelah kebutuhan dasar diperiksa, Ayah dapat mencoba menggendong dengan posisi yang aman, berbicara lembut, berjalan perlahan, atau mengurangi suara dan cahaya yang terlalu ramai.
Jangan mengguncang bayi dalam keadaan apa pun. Jika tangisan membuat Ayah kewalahan, letakkan bayi telentang di tempat tidur bayi yang aman, pastikan tidak ada benda berbahaya di sekitarnya, lalu ambil jeda singkat untuk menenangkan diri sambil tetap memastikan bayi aman. Minta bantuan orang dewasa lain bila tersedia. Tangisan yang disertai demam pada bayi sangat muda, kesulitan bernapas, tampak sangat lemas, tidak mau menyusu, atau tanda sakit lain perlu dinilai segera oleh tenaga kesehatan.
Bayi yang menangis saat digendong Ayah belum tentu menolak Ayah. Periksa kebutuhan dasarnya, pastikan posisi gendong aman, coba interaksi ketika bayi tenang, dan beri jeda saat bayi membutuhkan istirahat. Ayah dapat membangun kedekatan dengan banyak cara, tidak hanya dengan menjadi orang yang menghentikan tangisan. Keterlibatan yang lembut, konsisten, dan aman adalah fondasi yang lebih penting.










