Ketika bayi mulai makan makanan pendamping air susu ibu (MPASI), setelah sebelumnya memperoleh air susu ibu (ASI) atau sesuai kebutuhan dan kondisi medisnya, keluarga sering berfokus pada siapa yang menyuapi. Padahal, proses makan anak melibatkan banyak hal: menyiapkan bahan, memperhatikan kebersihan, memilih tekstur sesuai kemampuan, menyediakan waktu, mengamati sinyal lapar dan kenyang, serta menciptakan suasana makan yang tenang. Ayah dapat mengambil peran dalam semua proses tersebut, bukan hanya datang ketika sendok sudah terisi.
Keterlibatan Ayah tidak dimaksudkan untuk menggantikan Ibu atau mengambil alih keputusan gizi tanpa diskusi. Tujuannya adalah memastikan tanggung jawab pengasuhan dan pemberian makan tidak dibebankan kepada satu orang saja. Ayah dapat belajar prinsip dasar MPASI, berdiskusi dengan tenaga kesehatan, dan ikut membuat rutinitas yang realistis bagi keluarga.
Memahami kapan MPASI dimulai
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization atau WHO), lembaga kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa, menjelaskan bahwa makanan pendamping umumnya mulai diberikan sekitar usia enam bulan dan berlanjut pada periode 6–23 bulan, sambil tetap memperhatikan kebutuhan ASI atau susu formula. Rekomendasi ini bukan berarti setiap bayi harus dipaksa mencoba makanan pada tanggal yang sama. Kesiapan perkembangan, kondisi kesehatan, dan arahan tenaga kesehatan tetap perlu dipertimbangkan.
Ayah dapat membaca panduan WHO tentang pemberian makanan pendamping untuk bayi dan anak usia 6–23 bulan. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga menyediakan petunjuk teknis pemantauan praktik MPASI usia 6–23 bulan sebagai rujukan program dan pemantauan.
Peran Ayah sebelum makanan disajikan
1. Ikut merencanakan bahan dan menu
Ayah dapat membantu memilih bahan makanan yang beragam, sesuai kemampuan keluarga dan kebutuhan bayi. Diskusikan menu bersama pasangan agar beban perencanaan tidak selalu berada pada Ibu. Perhatikan ketersediaan bahan lokal, variasi kelompok pangan, dan anjuran tenaga kesehatan jika bayi memiliki alergi, kondisi medis, atau kebutuhan khusus.
2. Menyiapkan alat dan menjaga kebersihan
Cuci tangan sebelum menyiapkan makanan. Bersihkan alat makan, talenan, dan permukaan kerja. Pisahkan bahan mentah dari makanan matang dan simpan makanan dengan cara yang aman. Ayah dapat memastikan kursi makan stabil, perlengkapan bersih, dan bayi duduk dalam posisi yang sesuai untuk makan. Jangan memberi makanan ketika bayi berbaring atau sedang bergerak bebas.
3. Memperhatikan tekstur dan risiko tersedak
Tekstur makanan perlu disesuaikan dengan kemampuan perkembangan bayi dan ditingkatkan secara bertahap sesuai rekomendasi. Potongan makanan perlu disiapkan dengan mempertimbangkan risiko tersedak. Ayah harus mengenali perbedaan antara bayi belajar mengunyah dengan batuk atau tersedak yang membutuhkan tindakan segera. Jangan memberi makanan keras, bulat utuh, atau bentuk yang berisiko tanpa penyesuaian yang tepat. Jika belum yakin, minta demonstrasi dari tenaga kesehatan.
Ketika Ayah ikut menyuapi, gunakan pendekatan responsif
Pemberian makan responsif berarti orang dewasa memperhatikan sinyal anak dan mendukung anak makan sesuai kemampuan serta kebutuhan tubuhnya. WHO menjelaskan pendekatan ini sebagai cara memberi kesempatan anak makan secara mandiri sesuai kebutuhan fisiologis dan perkembangan, dengan dukungan pengasuh. Ayah dapat memperhatikan tanda lapar, minat membuka mulut, kelelahan, atau tanda kenyang seperti memalingkan wajah dan menutup mulut.
Jangan mengejar jumlah suapan dengan mengalihkan perhatian, menakut-nakuti, atau memaksa anak menghabiskan makanan. Hindari menjadikan porsi yang dimakan sebagai ukuran keberhasilan Ayah. Nafsu makan dapat berubah antarwaktu. Fokus pada suasana makan yang aman dan kesempatan anak mengenal makanan secara bertahap.
Berbagi peran selama waktu makan
Ayah dapat menyiapkan makanan sementara Ibu menemani bayi, atau bergantian menyuapi jika keduanya memahami prinsip dan kebutuhan anak. Saat Ayah bertugas, pastikan informasi penting tentang makanan, alergi, tekstur, serta jadwal sudah dibicarakan. Tulis kesepakatan sederhana agar pengasuh lain mengetahui apa yang sudah dicoba dan bagaimana bayi merespons.
Jangan menjadikan waktu makan sebagai arena membuktikan siapa yang lebih berhasil. Jika bayi menolak makanan yang disiapkan Ayah, jangan langsung menyalahkan cara memasak atau menganggap bayi tidak menyukai Ayah. Catat responsnya, tawarkan kembali pada kesempatan lain sesuai panduan, dan diskusikan perubahan yang perlu dilakukan.
Ayah juga bisa membantu setelah makan
Bereskan alat makan, bersihkan area, simpan makanan sisa sesuai aturan keamanan pangan, dan catat makanan baru yang sudah dicoba bila keluarga menggunakan catatan. Kegiatan setelah makan sering tidak terlihat, tetapi menjadi bagian penting dalam pembagian kerja. Ayah juga bisa membantu membawa anak ke Posyandu atau berkonsultasi ketika ada pertanyaan tentang pertumbuhan, kebiasaan makan, atau respons terhadap makanan.
Hal yang sebaiknya tidak dilakukan
- Memaksa bayi menghabiskan makanan meskipun menunjukkan tanda kenyang.
- Menggunakan gula, garam, madu, atau bahan lain tanpa memperhatikan rekomendasi usia dan panduan kesehatan yang berlaku.
- Memberikan makanan dengan tekstur atau bentuk yang tidak sesuai kemampuan bayi.
- Membandingkan porsi bayi dengan anak lain.
- Menganggap satu kali penolakan sebagai bukti bayi tidak menyukai suatu bahan makanan.
- Mengabaikan informasi alergi, riwayat kesehatan, atau saran tenaga kesehatan.
Kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan?
Diskusikan dengan dokter atau tenaga kesehatan jika bayi sulit menelan, sering batuk atau tersedak ketika makan, mengalami reaksi alergi, pertumbuhan perlu dipantau, atau keluarga tidak yakin dengan tekstur dan porsi yang sesuai. Jangan melakukan eliminasi kelompok makanan penting atau memberi suplemen tanpa penilaian yang tepat. Jika bayi memiliki kondisi medis atau lahir prematur, kebutuhan pemberian makan dapat berbeda dan perlu arahan khusus.
Jadikan MPASI sebagai tanggung jawab keluarga
Peran Ayah dalam MPASI melampaui menyuapi. Ayah dapat ikut merencanakan, menyiapkan, menjaga keamanan, membaca sinyal bayi, dan berbagi tugas setelah makan. Keterlibatan tersebut membantu keluarga memiliki rutinitas yang lebih seimbang. Untuk konteks pemantauan pertumbuhan, orang tua dapat membaca cara mendukung pencegahan stunting melalui gizi dan pengasuhan, cara membaca grafik tumbuh kembang WHO, serta panduan kurva pertumbuhan anak.
Ayah dapat membantu menyiapkan lingkungan makan yang aman
Pastikan anak duduk dengan posisi tegak dan stabil saat makan, selalu diawasi orang dewasa, serta mendapatkan makanan dengan tekstur yang sesuai kemampuan mengunyah dan menelan. Hindari memberi makanan sambil anak berjalan, berlari, atau berbaring. Bentuk dan ukuran makanan perlu disesuaikan agar risiko tersedak lebih rendah; beberapa makanan kecil, keras, bulat, atau licin memerlukan pengolahan khusus atau perlu dihindari sesuai usia dan kemampuan anak.
Ayah juga bisa membantu keluarga merencanakan belanja, menyiapkan bahan, mencuci tangan, dan menjaga kebersihan alat makan. Jika anak menolak makanan, jangan memaksa memasukkan suapan atau mengancam dengan hukuman. Perhatikan pola makan secara keseluruhan dan sampaikan kepada tenaga kesehatan jika ada kekhawatiran tentang pertumbuhan, alergi, kesulitan menelan, atau penolakan makan yang menetap. Panduan MPASI harus disesuaikan dengan kebutuhan anak, bukan sekadar mengikuti tren menu di media sosial.
MPASI bukan perlombaan menghabiskan mangkuk. Dengan dukungan Ayah dan pengasuh lain yang konsisten, anak memiliki kesempatan belajar makan dengan aman, mengenal beragam makanan, dan mengembangkan kebiasaan yang sesuai dengan kebutuhannya.










