Ayah membuka tangan untuk memeluk anak setelah pulang bekerja, tetapi anak malah mundur atau berkata, “Jangan.” Reaksi itu bisa terasa mengecewakan, apalagi ketika Ayah ingin menunjukkan rasa rindu. Meski begitu, pelukan tidak seharusnya menjadi ukuran apakah anak menyayangi Ayah. Anak berhak mempunyai batas tubuh, dan orang tua perlu menunjukkan bahwa batas tersebut dihormati.
Anak mungkin sedang tidak ingin disentuh, merasa gerah, lelah, malu di depan orang lain, atau memang lebih nyaman menunjukkan kedekatan dengan cara lain. Ada pula anak yang menyukai pelukan pada waktu tertentu tetapi tidak pada kesempatan lain. Respons yang paling membantu adalah menerima penolakan tanpa mengejek, memaksa, atau membuat anak merasa bersalah.
Pelukan adalah pilihan, bukan kewajiban
Kasih sayang orang tua tidak membuat tubuh anak menjadi milik orang dewasa. Menghormati penolakan terhadap pelukan membantu anak belajar bahwa ia boleh menyampaikan rasa tidak nyaman. Prinsip ini berlaku untuk semua orang, termasuk keluarga dekat. Panduan perlindungan tubuh anak dari panduan keselamatan tubuh dan batas pribadi dari National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), organisasi perlindungan anak di Inggris menekankan bahwa anak tidak harus mencium atau memeluk seseorang ketika ia tidak menginginkannya, sekalipun orang itu anggota keluarga.
Menghormati pilihan anak bukan berarti membiarkan semua hal tanpa batas. Orang dewasa tetap bertanggung jawab menjaga kebersihan, kesehatan, dan keselamatan anak. Namun, ketika tidak ada keadaan mendesak, jelaskan apa yang perlu dilakukan, minta kerja sama, dan berikan pilihan yang masuk akal. Saat pemeriksaan medis atau perawatan tertentu memerlukan sentuhan, jelaskan tujuan dan prosesnya sesuai usia anak, bukan melakukannya diam-diam atau untuk memenuhi keinginan orang dewasa.
Kenali alasan anak menolak pelukan tanpa menginterogasi
Mulailah dengan respons netral: “Tidak apa-apa, Ayah tidak akan memaksa.” Jika anak bersedia bercerita, dengarkan. Jika tidak, jangan mendesaknya untuk menjelaskan. Pertanyaan sederhana seperti “Kamu lebih suka Ayah menyapa dari jauh?” memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan preferensi tanpa harus membela diri.
Perhatikan konteksnya. Anak mungkin menolak pelukan ketika sedang bermain, ketika tubuhnya sakit, ketika ada banyak orang, atau setelah mengalami kejadian yang membuatnya tidak nyaman. Bila penolakan muncul mendadak disertai ketakutan terhadap orang atau situasi tertentu, cari tahu dengan tenang dan utamakan keamanan. Jangan langsung menyimpulkan anak manja, tidak sopan, atau tidak menyayangi orang tua.
Lima cara lain untuk mengatakan “Ayah sayang kamu”
1. Sapaan yang disepakati bersama
Ajak anak memilih salam yang ia sukai. Mungkin ia memilih tos, adu kepalan, lambaian tangan, gerakan khusus, atau sekadar menyebut nama panggilan. Kesepakatan tersebut dapat berubah sesuai usia dan suasana hati. Hal pentingnya adalah anak merasa punya suara dalam cara ia berinteraksi.
2. Menemani tanpa menuntut percakapan
Ayah dapat duduk di samping anak saat ia menggambar, membaca, atau bermain. Tidak semua kedekatan harus diisi pertanyaan. Kehadiran yang tenang memberi pesan bahwa Ayah tersedia dan tidak selalu meminta sesuatu sebagai balasan.
3. Membantu kebutuhan sehari-hari
Menyiapkan bekal, membantu mengikat tali sepatu, mengambilkan air, atau menemani anak merapikan mainan merupakan bentuk perhatian yang konkret. Anak dapat merasakan kasih sayang melalui tindakan yang membuat hari mereka lebih mudah.
4. Bermain sesuai minat anak
Pilih permainan sederhana yang anak sukai. Ayah bisa mengikuti aturan permainan yang dibuat anak, menunggu giliran, atau mengajak beraktivitas di luar rumah. Jika anak belum ingin bermain, jangan menganggapnya sebagai penolakan pribadi. Tawarkan lagi pada waktu yang berbeda.
5. Mengungkapkan kasih sayang dengan kata-kata
Kalimat “Ayah senang bisa menemanimu”, “Terima kasih sudah bercerita”, atau “Ayah sayang kamu, dan kamu tidak harus memeluk Ayah untuk membuktikannya” dapat menyampaikan afeksi tanpa menyentuh tubuh anak. Gunakan kalimat yang tulus dan tidak meminta anak membalas dengan ucapan tertentu.
Bagaimana jika keluarga besar menuntut anak mencium atau memeluk?
Dalam sebagian keluarga, anak diajarkan mencium tangan atau memeluk kerabat sebagai bentuk sopan santun. Orang tua dapat tetap mengajarkan salam dan penghormatan tanpa memaksa kontak fisik. Misalnya, anak bisa menyapa, mengucapkan salam, membungkukkan badan sedikit, melambaikan tangan, atau memilih berjabat tangan ketika ia nyaman.
Ayah dapat memberi contoh dengan berkata kepada kerabat, “Dia sedang tidak ingin dipeluk. Boleh kita sapa dengan lambaian dulu.” Sampaikan dengan tenang, bukan dengan mempermalukan anak atau kerabat. Ketika orang dewasa menghormati batas tubuh, anak belajar bahwa sopan santun dan hak atas tubuh dapat berjalan bersama.
Jangan memakai kasih sayang sebagai hadiah atau hukuman
Hindari ucapan, “Kalau tidak mau peluk Ayah, Ayah tidak sayang lagi,” atau “Anak baik harus mau dicium.” Kalimat semacam itu mengaitkan kasih sayang dengan kepatuhan fisik. Anak dapat belajar mengabaikan rasa tidak nyaman agar orang dewasa tidak kecewa. Sebaliknya, jelaskan bahwa cinta Ayah tetap ada sekalipun anak memilih tidak dipeluk.
Orang tua juga sebaiknya tidak menggelitik, menggendong paksa, atau mencium anak setelah ia mengatakan berhenti. Permainan fisik harus berhenti ketika salah satu pihak tidak nyaman. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa sinyal anak perlu didengar dan ditanggapi, bukan ditertawakan.
Bangun bentuk kedekatan yang sesuai usia
Balita sering lebih mudah memahami pilihan konkret, seperti tos atau lambaian. Anak usia sekolah dapat diajak membuat kesepakatan tentang cara menyapa. Remaja mungkin lebih nyaman dengan percakapan singkat, berbagi makanan, atau berkendara bersama tanpa banyak pertanyaan. Tidak ada satu cara yang cocok bagi semua anak.
Artikel peran Ayah dalam membangun kedekatan emosional dapat membantu orang tua memahami bahwa hubungan terbentuk melalui respons yang konsisten. Ayah juga bisa melihat cara mendengarkan cerita anak dan perhatian kecil dalam pola asuh positif untuk menemukan bentuk kehadiran selain pelukan.
Kapan penolakan perlu diperhatikan lebih jauh?
Penolakan terhadap pelukan saja bukan tanda pasti adanya trauma atau gangguan perkembangan. Namun, jika anak tampak sangat takut terhadap sentuhan tertentu, menunjukkan perubahan perilaku yang tajam, bercerita tentang pengalaman yang membuatnya tidak aman, atau menghindari orang tertentu karena alasan yang mengkhawatirkan, dengarkan tanpa menyalahkan. Jangan memaksa anak mengulang cerita berkali-kali. Cari bantuan profesional yang kompeten dan ikuti jalur perlindungan bila ada dugaan kekerasan.
Jangan menilai kasih sayang dari satu bentuk sentuhan
Dalam keluarga, pelukan kadang dianggap sebagai tanda kedekatan yang paling mudah terlihat. Namun, anak dapat merasa dekat melalui cara lain: duduk berdampingan, berbagi cerita, meminta bantuan, mengajak bermain, atau menunjukkan hasil karyanya. Ayah dapat memperhatikan bentuk interaksi yang secara sukarela dicari anak. Bila anak lebih suka tos, lambaian tangan, atau sekadar duduk dekat, terima pilihan tersebut tanpa komentar kecewa.
Periksa juga apakah ada kondisi yang membuat sentuhan terasa tidak nyaman, seperti sedang kepanasan, lelah, sakit, sensitif terhadap tekstur pakaian, atau baru saja mengalami kejadian yang membuatnya ingin menjaga jarak. Jangan langsung menyimpulkan bahwa anak tidak menyayangi Ayah atau memiliki masalah psikologis. Bila penolakan sentuhan muncul bersama ketakutan yang kuat, perubahan perilaku, atau cerita tentang pengalaman tidak aman, dengarkan dengan serius dan cari dukungan yang sesuai.
Ayah tidak kehilangan kedekatan hanya karena anak menolak pelukan. Anak dapat merasa dicintai melalui perhatian, waktu bersama, kata-kata yang hangat, pertolongan, dan kesediaan Ayah menghargai batasnya. Mulailah dengan menerima kata “tidak”, tanyakan bentuk sapaan yang nyaman, lalu tunjukkan kasih sayang secara konsisten. Hubungan yang aman tidak dibangun dengan memaksa anak mendekat, tetapi dengan membuatnya tahu bahwa ia boleh datang tanpa tekanan.










