Ketika lutut anak terbentur, ia menangis dan langsung memanggil Ibu. Saat terbangun tengah malam, ia juga mencari Ibu meskipun Ayah ada di sebelahnya. Situasi seperti ini kadang membuat Ayah merasa sedih, tersisih, atau bertanya-tanya apakah kedekatannya dengan anak kurang kuat. Perasaan itu manusiawi. Namun, anak yang mencari satu pengasuh pada saat tertentu tidak sedang membuat penilaian tentang siapa orang tua yang lebih disayang.
Anak biasanya mendatangi orang yang pada saat itu terasa paling mudah dikenali, paling akrab dengan rutinitas menenangkannya, atau paling sering merespons kebutuhan tertentu. Pola tersebut dapat berubah seiring usia, pengalaman, perubahan jadwal, dan kesempatan berinteraksi. Tugas Ayah bukan bersaing dengan Ibu, melainkan membangun hubungan yang aman dengan caranya sendiri, tanpa memaksa anak membuktikan kasih sayang.
Memahami alasan anak mencari Ibu ketika sedang sedih
Rasa aman tumbuh melalui pengalaman berulang: anak menangis, orang dewasa mendekat, kebutuhannya diperhatikan, lalu ia perlahan tenang. Jika selama ini Ibu lebih sering menemani tidur, menyusui, atau menghibur anak saat sakit, wajar bila anak lebih spontan mencarinya pada situasi tersebut. Itu bukan bukti bahwa Ayah tidak penting atau tidak mampu menenangkan anak.
Setiap anak juga mempunyai kebiasaan dan preferensi yang berbeda. Ada anak yang mencari Ibu saat lelah, tetapi meminta Ayah ketika ingin bermain. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima cara digendong, suara, atau ritme interaksi yang berbeda. Perbedaan ini tidak perlu langsung dianggap sebagai masalah hubungan.
Tinjauan tentang hubungan ayah dan anak menekankan pentingnya kualitas interaksi seperti kehangatan, kepekaan terhadap sinyal anak, rasa aman, bermain, serta bimbingan. Artinya, keterlibatan ayah bukan sekadar hadir di ruangan atau menghitung lama waktu bersama. Ayah dapat membaca ulasan penelitian tentang hubungan ayah-anak dan perkembangan pada masa kanak-kanak awal untuk memahami mengapa kualitas hubungan layak mendapat perhatian.
Jangan menjadikan kedekatan sebagai perlombaan
Hindari ucapan seperti “Kok selalu Ibu? Ayah juga sayang, dong,” terutama ketika anak sedang menangis. Kalimat itu mungkin keluar karena Ayah kecewa, tetapi anak dapat merasa harus memilih atau bertanggung jawab atas perasaan orang dewasa. Jangan pula meminta Ibu menjauh secara tiba-tiba agar anak terpaksa menerima Ayah. Perubahan yang dipaksakan bisa membuat momen menenangkan terasa seperti perebutan.
Ayah boleh mengakui perasaannya kepada pasangan secara pribadi, tetapi saat bersama anak, kebutuhan anak tetap menjadi pusat perhatian. Jika anak memanggil Ibu, Ayah dapat berkata, “Ayah di sini. Kamu boleh dekat dengan Ibu dulu. Ayah bantu ambilkan air, ya.” Respons seperti ini menunjukkan bahwa Ayah hadir tanpa menuntut anak mengubah pilihannya.
Cara membangun kedekatan melalui rutinitas yang bisa diulang
1. Ambil bagian dalam perawatan sehari-hari
Pilih beberapa rutinitas yang dapat Ayah lakukan secara konsisten, misalnya mengganti pakaian, menyiapkan sarapan, memandikan anak dengan aman, mengantar ke sekolah, atau membacakan cerita sebelum tidur. Tidak harus mengambil alih semua kegiatan sekaligus. Mulailah dari tugas yang realistis dan lakukan berulang sehingga anak mengenali kehadiran Ayah sebagai bagian dari kesehariannya.
2. Pelajari cara anak menunjukkan kebutuhan
Perhatikan tanda ketika anak mulai lelah, kewalahan, lapar, atau membutuhkan jeda. Sebagian anak mendekat dan meminta digendong; sebagian lain justru diam, memalingkan wajah, atau ingin duduk sendiri. Tanyakan dengan bahasa sederhana, “Mau Ayah duduk di dekatmu atau mau ditemani Ibu dulu?” Memberi pilihan kecil dapat membuat anak merasa dihargai.
3. Ikuti minat anak sebelum mengarahkan permainan
Jika anak sedang menyusun balok, Ayah tidak perlu langsung mengubah permainan menjadi lomba. Duduklah, amati, lalu ikut sesuai ajakannya. Ucapkan hal yang menggambarkan apa yang dilakukan anak, seperti “Kamu sedang membuat jembatan panjang.” Interaksi yang mengikuti minat anak sering terasa lebih nyaman daripada kegiatan yang dipenuhi instruksi.
4. Bangun momen singkat yang mudah diprediksi
Salam khusus sebelum berangkat, menyiram tanaman bersama, atau membaca satu cerita setelah makan malam dapat menjadi tanda bahwa Ayah memiliki waktu khusus untuk anak. Momen kecil yang berulang lebih mudah dipertahankan daripada janji kegiatan besar yang sering tertunda.
Ketika anak tetap menolak didekati Ayah
Jika anak berkata “Tidak mau Ayah”, jangan langsung membalas dengan kecewa atau pergi sambil menunjukkan kemarahan. Ayah dapat menjawab, “Baik, Ayah tunggu di sini. Kalau kamu butuh bantuan, panggil Ayah.” Pastikan anak tetap aman, lalu beri ruang. Penolakan pada satu kesempatan bukan keputusan permanen tentang hubungan.
Jika ada perubahan besar—misalnya Ayah baru kembali dari perjalanan panjang, baru mulai tinggal bersama anak, atau sebelumnya jarang terlibat dalam pengasuhan—mulailah dengan interaksi yang singkat dan tidak menuntut. Jangan memaksa kontak fisik. Biarkan anak mengenali suara, kebiasaan, dan respons Ayah melalui kegiatan sehari-hari.
Sepakati pendekatan bersama Ibu
Ayah dan Ibu dapat membicarakan rutinitas apa yang akan lebih sering ditangani Ayah, bagaimana merespons saat anak meminta Ibu, dan kalimat apa yang terasa menenangkan. Ibu tidak harus menghilang dari situasi. Ia dapat tetap mendampingi sambil memberi ruang bagi Ayah untuk membantu, misalnya berkata, “Ayah akan menemanimu mengambil minum. Ibu tetap di sini.”
Untuk memperluas gagasan tentang relasi ayah-anak, orang tua dapat membaca artikel peran ayah dalam membangun kedekatan emosional dengan anak dan pentingnya mendengarkan cerita anak. Bila keluarga sedang membagi tugas pengasuhan, bahasan kerja sama Ayah dan Ibu dalam pengasuhan dapat menjadi bahan diskusi.
Kapan perlu mencari dukungan lebih lanjut?
Preferensi anak terhadap salah satu orang tua biasanya tidak cukup untuk menyimpulkan adanya gangguan hubungan atau perkembangan. Namun, bila anak tampak sangat ketakutan terhadap Ayah karena pengalaman tertentu, ada riwayat kekerasan, atau hubungan keluarga dipenuhi konflik dan tekanan, keselamatan dan pengalaman anak perlu diperhatikan lebih dahulu. Jangan memaksa kedekatan sebelum penyebab ketakutan dipahami. Pertimbangkan bantuan psikolog anak, konselor keluarga, atau tenaga profesional yang sesuai.
Ayah juga dapat mencari bantuan jika rasa tersisih berubah menjadi kemarahan yang sulit dikendalikan atau membuat Ayah menarik diri dari pengasuhan. Mencari dukungan bukan tanda gagal, melainkan langkah untuk menjaga hubungan keluarga tetap sehat.
Jangan memaknai pilihan anak sebagai penolakan terhadap Ayah
Ketika anak meminta Ibu, Ayah dapat tetap terlibat melalui dukungan yang tidak mengganggu kedekatan mereka. Misalnya, Ayah membantu menyiapkan selimut, meredupkan lampu, mengambil minum, atau duduk di dekat anak jika ia mengizinkan. Dengan begitu anak melihat bahwa Ayah dapat menjadi bagian dari rasa aman, sekalipun bukan orang yang sedang dipilih untuk memeluknya.
Jika pola mencari Ibu membuat Ayah merasa tersisih, bicarakan dengan pasangan di luar momen anak sedang membutuhkan pertolongan. Sepakati rutinitas yang bisa dibagi, seperti Ayah menemani mandi sementara Ibu membacakan cerita, lalu bertukar peran di hari lain. Pembagian ini bukan strategi untuk membuat anak memilih Ayah, melainkan kesempatan agar anak mengenal perhatian dari kedua orang tua tanpa tekanan. Perhatikan juga kebutuhan Ibu untuk beristirahat dan kebutuhan Ayah untuk belajar memahami anak.
Anak boleh mencari Ibu ketika sedih dan tetap memiliki hubungan yang berarti dengan Ayah. Kedekatan tidak harus dibuktikan lewat pelukan, panggilan pertama, atau pilihan anak dalam setiap situasi. Hadirlah dengan tenang, kenali kebutuhan anak, lakukan rutinitas yang bisa diandalkan, dan hormati batasnya. Seiring waktu, anak memiliki lebih banyak pengalaman bahwa Ayah juga merupakan orang dewasa yang dapat dipercaya dan dimintai bantuan.










