Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sering dikenal sebagai tempat ibu membawa bayi atau balita untuk ditimbang, diukur, dan memperoleh layanan kesehatan dasar. Karena kebiasaan itu, sebagian ayah mengira kehadiran mereka tidak terlalu diperlukan. Padahal, kesehatan dan tumbuh kembang anak merupakan tanggung jawab keluarga. Ayah dapat ikut hadir, mendengarkan penjelasan kader, memahami jadwal layanan, dan membantu memastikan tindak lanjut dilakukan di rumah.
Kehadiran ayah bukan berarti menggantikan peran ibu atau membuat layanan Posyandu hanya menjadi urusan salah satu orang tua. Tujuannya adalah membagi pengetahuan dan tanggung jawab. Ketika kedua orang tua memahami informasi yang sama, keputusan mengenai imunisasi, pemantauan pertumbuhan, pemberian makanan pendamping air susu ibu (ASI), atau rujukan dapat dibicarakan bersama dengan lebih baik.
Posyandu bukan hanya tempat menimbang anak
Posyandu merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Kegiatan yang tersedia dapat berbeda menurut wilayah dan kebijakan setempat, tetapi keluarga dapat menjumpai pemantauan pertumbuhan, penyuluhan, imunisasi, pemberian vitamin atau layanan lain sesuai program, serta arahan untuk berkonsultasi atau dirujuk bila ditemukan hal yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Karena layanan dan jadwal dapat berubah, tanyakan kepada kader atau Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di wilayah masing-masing.
Pengukuran berat badan dan panjang atau tinggi badan bukan sekadar mencatat angka. Data yang dikumpulkan secara berkala membantu tenaga kesehatan melihat pola pertumbuhan anak. Satu angka yang tampak naik atau turun belum tentu menjelaskan keseluruhan kondisi. Cara membaca hasil perlu mempertimbangkan usia, riwayat pengukuran, keadaan kesehatan, dan penilaian petugas. Ayah dapat ikut mempelajari cara membaca catatan tersebut, bukan hanya membawa pulang buku kesehatan anak.
Mengapa keterlibatan ayah bisa membantu keluarga?
Ketika ayah hadir, ibu tidak harus menjadi satu-satunya orang yang mengingat jadwal dan menyimpan semua informasi. Ayah dapat membantu menyiapkan dokumen, mencatat pertanyaan, memahami jadwal imunisasi, atau mengatur transportasi. Pembagian ini dapat mengurangi beban yang selama ini sering tidak terlihat, terutama ketika keluarga memiliki lebih dari satu anak atau orang tua bekerja dengan jadwal berbeda.
United Nations Children’s Fund (UNICEF), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berfokus pada hak dan kesejahteraan anak, melalui laporan Indonesia pada 28 September 2026 menceritakan keterlibatan sejumlah ayah di Kota Kupang yang mulai membawa anak ke Posyandu dan mendukung imunisasi. Cerita tersebut menunjukkan bagaimana akses informasi yang juga menyasar ayah dapat membantu mengubah anggapan bahwa kesehatan anak hanya urusan ibu. Kisah ini bukan bukti bahwa setiap keluarga akan memperoleh hasil yang sama, tetapi memberi contoh bahwa partisipasi ayah dapat menjadi bagian dari kebiasaan keluarga. Baca cerita UNICEF Indonesia tentang ayah yang mengambil peran dalam imunisasi di Kupang.
Apa yang dapat dilakukan ayah sebelum datang ke Posyandu?
1. Periksa jadwal dan siapkan catatan anak
Pastikan keluarga mengetahui tanggal kegiatan di lingkungan tempat tinggal. Siapkan buku Kesehatan Ibu dan Anak bila digunakan, kartu imunisasi atau dokumen yang diminta petugas, serta catatan obat atau alergi yang perlu diketahui. Bila anak sedang sakit atau memiliki keluhan tertentu, tuliskan kapan keluhan mulai muncul dan perubahan yang diamati. Catatan sederhana membantu orang tua menyampaikan informasi dengan runtut.
2. Buat daftar pertanyaan yang benar-benar ingin dijawab
Ayah dan ibu dapat berdiskusi terlebih dahulu. Misalnya, apakah berat dan tinggi anak mengikuti pola sebelumnya, imunisasi apa yang akan diberikan, bagaimana jadwal kunjungan berikutnya, atau apakah ada hal yang perlu diperhatikan pada makanan dan tidur. Pertanyaan tidak harus banyak. Prioritaskan hal yang membuat keluarga bingung atau membutuhkan keputusan.
3. Sesuaikan kunjungan dengan kondisi anak
Usahakan anak cukup istirahat dan tidak terlalu lapar saat datang, sejauh jadwal memungkinkan. Bawa perlengkapan dasar sesuai usia, seperti popok, pakaian ganti, air minum untuk anak yang sudah boleh minum air, atau makanan sesuai tahap perkembangannya. Jangan memberi obat atau mengubah jadwal imunisasi hanya berdasarkan saran orang sekitar; diskusikan kondisi anak dengan petugas kesehatan.
Apa peran ayah selama berada di Posyandu?
Ayah dapat membantu menenangkan anak dengan cara yang sudah dikenalnya, memegang barang, atau menemani anak saat pengukuran dilakukan. Jika anak takut atau menangis, jangan mempermalukannya. Jelaskan secara singkat apa yang akan terjadi, dan ikuti arahan petugas. Bila ibu sedang menyusui atau mengurus bayi lain, ayah dapat mengambil peran praktis sehingga kunjungan lebih nyaman.
Dengarkan penjelasan kader atau tenaga kesehatan dan catat informasi penting. Jika ada istilah yang belum dipahami, minta penjelasan ulang. Tidak perlu malu bertanya tentang angka pada kurva pertumbuhan, jadwal imunisasi, cara pemberian makanan, atau kapan harus kembali. Hindari membandingkan anak dengan anak tetangga; setiap anak memiliki riwayat dan kondisi yang berbeda.
Setelah kunjungan, ubah informasi menjadi tindakan bersama
Sepulang dari Posyandu, bicarakan apa yang disampaikan petugas. Tentukan siapa yang mengingatkan jadwal berikutnya, siapa yang menyiapkan kebutuhan anak, dan kapan keluarga perlu melakukan tindak lanjut. Bila petugas menyarankan konsultasi ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan lain, jangan menunda hanya karena hasil pengukuran terlihat baik menurut perkiraan orang tua.
Ayah juga dapat mendukung kebiasaan harian yang berhubungan dengan kesehatan, seperti menyiapkan makanan keluarga yang sesuai kebutuhan anak, memastikan anak mendapat kesempatan bergerak dan bermain, serta membantu ibu menjaga rutinitas istirahat. Informasi tentang pemantauan pertumbuhan dapat diperdalam melalui artikel panduan memantau tahap tumbuh kembang bayi sesuai usia dan cara memahami kurva pertumbuhan anak.
Jika ayah tidak bisa hadir setiap kali
Keterlibatan tidak harus selalu berbentuk kehadiran fisik. Jika jam kerja tidak memungkinkan, ayah dapat membantu menyiapkan catatan dan pertanyaan, membaca Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) bersama ibu, mengingatkan tanggal berikutnya, atau ikut mendengarkan penjelasan melalui telepon jika petugas dan keluarga menganggapnya sesuai. Hindari membuat ibu merasa harus melaporkan semua hal seperti bawahan; jadikan komunikasi sebagai kerja sama dua orang tua.
Jika ayah dan ibu tinggal terpisah atau memiliki pengaturan pengasuhan berbeda, informasi kesehatan anak tetap perlu dibagikan dengan cara yang aman dan menghormati kesepakatan keluarga. Yang terpenting ialah anak tidak kehilangan tindak lanjut karena orang dewasa saling menunggu atau menganggap pihak lain akan mengurusnya.
Ketika hasil pemantauan memerlukan perhatian lebih lanjut
Jika petugas menyarankan pemeriksaan tambahan, tanyakan alasan, tempat tujuan, dan waktu yang disarankan. Hindari langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami gangguan tertentu hanya dari satu hasil timbang atau satu pengukuran. Sebaliknya, jangan menyepelekan saran tindak lanjut. Ayah dapat membantu keluarga mengumpulkan catatan sebelumnya dan mendampingi konsultasi agar informasi yang disampaikan lebih lengkap.
Ingat, Posyandu bukan pengganti seluruh pemeriksaan medis. Bila anak tampak sakit, mengalami kesulitan bernapas, kejang, sangat lemas, tidak mau minum, atau menunjukkan tanda gawat lainnya, keluarga perlu mencari pertolongan medis segera sesuai layanan darurat yang tersedia, tidak menunggu jadwal Posyandu berikutnya.
Kehadiran ayah dimulai dari sikap mau terlibat
Ayah tidak perlu menguasai semua istilah kesehatan sebelum datang ke Posyandu. Mulailah dengan hadir, mendengar, bertanya, dan berbagi tanggung jawab setelah pulang. Keterlibatan yang sederhana tetapi konsisten membantu kedua orang tua memahami kebutuhan anak dan membuat keputusan dengan informasi yang lebih utuh. Anak pun melihat bahwa menjaga kesehatannya adalah urusan keluarga, bukan beban satu orang saja.
Jadikan kunjungan Posyandu sebagai kesempatan belajar bersama. Bila ada hal yang belum dipahami, tanyakan kepada kader atau tenaga kesehatan, lalu sepakati langkah berikutnya sebagai orang tua. Peran ayah bukan mengambil alih ruang ibu, melainkan hadir sebagai mitra yang ikut memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan anak.










