Bonding adalah istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan proses membangun kedekatan emosional antara bayi dan orang yang merawatnya. Proses ini tumbuh melalui interaksi berulang, bukan terbentuk seketika atau hanya karena hubungan biologis. Ayah baru mungkin membayangkan kedekatan dengan bayi akan muncul seketika ketika pertama kali menggendongnya. Ada yang langsung merasa akrab, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu untuk mengenali tangisan, gerakan, dan kebiasaan bayi. Keduanya dapat terjadi. Hubungan ayah dan bayi tidak harus terbentuk lewat satu momen besar. Kedekatan tumbuh melalui pengalaman sehari-hari ketika Ayah hadir, merawat, dan merespons kebutuhan bayi dengan lembut.
Bayi belum dapat memahami penjelasan panjang, tetapi ia berkomunikasi melalui tangisan, gerakan tubuh, ekspresi, suara, dan perubahan pola aktivitas. Ayah dapat belajar memperhatikan isyarat tersebut. Tidak ada tuntutan agar Ayah selalu berhasil menenangkan bayi dengan cepat. Yang penting adalah terus mencoba secara aman, meminta bantuan ketika perlu, dan tidak menganggap proses belajar sebagai kegagalan.
Bonding bukan perlombaan antara Ayah dan Ibu
Ikatan dengan bayi terbentuk melalui pengasuhan yang responsif: kebutuhan bayi diperhatikan, kenyamanan dijaga, dan interaksi berlangsung berulang. Ayah tidak perlu menggantikan peran Ibu atau membuktikan bahwa ia bisa melakukan semuanya sendiri. Pembagian peran yang adil memberi bayi kesempatan mengenali lebih dari satu pengasuh yang aman.
Penelitian tentang hubungan ayah-anak menggambarkan peran kehangatan, kepekaan, permainan, dan bimbingan dalam interaksi orang tua dengan anak. Ada pula tinjauan sistematis yang membahas kontak kulit ke kulit oleh ayah dan pengalaman bayi. Temuan penelitian memberi dukungan pada pentingnya keterlibatan ayah, tetapi tidak berarti setiap keluarga harus menjalankan cara yang sama atau menjanjikan hasil identik. Orang tua dapat membaca tinjauan sistematis kontak kulit ke kulit dan sentuhan ayah pada bayi cukup bulan sebagai bacaan lanjutan.
Momen kecil yang bisa dilakukan setiap hari
1. Menyapa bayi dengan suara yang tenang
Ayah dapat berbicara ketika mengganti popok, menyiapkan pakaian, atau menggendong bayi. Gunakan suara alami dengan volume lembut. Tidak perlu membuat suara keras atau menggoyang bayi agar ia memperhatikan. Ketika bayi memalingkan wajah, menguap, atau tampak kewalahan, beri jeda.
2. Melakukan kontak kulit ke kulit dengan aman
Kontak kulit ke kulit dapat dilakukan ketika Ayah terjaga penuh, berada dalam posisi yang stabil, dan mampu mengawasi jalan napas bayi. Letakkan bayi dalam posisi yang sesuai anjuran tenaga kesehatan, pastikan wajah dan hidung tidak tertutup, serta jangan melakukannya saat Ayah mengantuk, sedang menggunakan obat yang membuat kantuk, atau berisiko tertidur. Jika rasa kantuk muncul, pindahkan bayi ke permukaan tidur yang aman dan datar, dalam posisi telentang sesuai panduan tidur aman.
3. Membantu rutinitas perawatan
Ayah bisa mengambil bagian dalam mengganti popok, membersihkan tubuh bayi, menyiapkan pakaian, atau membantu proses menyendawakan setelah menyusu. Jika bayi mandi, siapkan semua perlengkapan lebih dulu dan jangan pernah meninggalkan bayi sendirian di air, bahkan sebentar. Untuk teknik yang belum dikuasai, minta tenaga kesehatan atau pengasuh berpengalaman memperagakannya.
4. Menanggapi suara dan gerakan bayi
Ketika bayi mengeluarkan suara, Ayah dapat membalas dengan senyum dan percakapan singkat. Jika bayi menatap wajah, Ayah dapat memberi waktu untuk interaksi. Jika bayi memalingkan wajah atau mulai rewel, kurangi rangsangan. Komunikasi awal berlangsung dua arah meski bayi belum menggunakan kata-kata.
5. Mengambil giliran menenangkan bayi
Ayah dapat mencoba menggendong, mengayun dengan lembut, menyanyi, atau berjalan perlahan bila bayi tampak membutuhkan kenyamanan. Perhatikan apakah bayi semakin tenang atau justru semakin gelisah. Jika cara tertentu tidak cocok, ganti pendekatan atau minta bantuan Ibu. Kegagalan satu cara bukan tanda bayi tidak menyukai Ayah.
Belajar membaca isyarat bayi
Bayi dapat menunjukkan lapar dengan mencari puting, mengisap tangan, atau tampak gelisah. Tanda lelah bisa berupa menguap, memalingkan wajah, atau gerakan yang semakin tidak teratur. Bayi yang terlalu banyak menerima rangsangan mungkin menangis, menegang, atau sulit menenangkan diri. Isyarat tersebut tidak selalu sama pada setiap bayi, sehingga Ayah perlu mengenali pola anaknya sendiri.
Jangan menunggu bayi menangis keras sebelum mencoba memahami kebutuhannya. Periksa apakah ia lapar, popoknya basah, terlalu panas atau dingin, perlu bersendawa, atau membutuhkan suasana lebih tenang. Bila tangisan tidak biasa, bayi tampak sakit, sulit bernapas, demam, atau tidak mau menyusu, jangan menganggapnya semata-mata masalah bonding. Hubungi tenaga kesehatan sesuai kondisi.
Berikan ruang bagi Ayah untuk belajar
Ayah mungkin belum percaya diri memegang kepala bayi, mengganti popok, atau menyiapkan perlengkapan. Keterampilan tersebut dapat dipelajari secara bertahap. Minta pasangan memberi instruksi jelas dan kesempatan mencoba, bukan mengambil alih setiap kali Ayah melakukan sesuatu dengan cara berbeda. Jika ada cara yang tidak aman, koreksi dengan tenang dan spesifik.
Hindari menganggap Ayah hanya membantu Ibu. Pengasuhan adalah tanggung jawab bersama. Ayah dapat memiliki tugas tetap dan mengambil keputusan terkait kebutuhan bayi sesuai kesepakatan keluarga. Dengan demikian, keterlibatan tidak bergantung pada instruksi setiap saat.
Ketika Ayah belum merasakan ikatan yang kuat
Perasaan dekat tidak selalu muncul pada hari pertama. Kelelahan, perubahan peran, tekanan ekonomi, kecemasan, pengalaman masa kecil, atau masalah kesehatan mental dapat memengaruhi pengalaman menjadi orang tua. Ayah tidak perlu malu bila membutuhkan waktu. Terus lakukan perawatan yang aman dan bangun kebiasaan kecil.
Jika Ayah mengalami kesedihan berkepanjangan, kecemasan berat, mudah marah, atau sulit merasa terhubung dengan bayi hingga mengganggu keseharian, bicarakan dengan tenaga kesehatan. Dukungan untuk kesehatan mental orang tua juga bagian dari menjaga bayi. Jangan menunggu sampai kondisi menjadi krisis.
Jaga kerja sama Ayah dan Ibu
Bicarakan pembagian waktu istirahat, tugas rumah, dan perawatan bayi. Ketika salah satu orang tua kelelahan, yang lain dapat mengambil alih selama aman dan memungkinkan. Hindari membandingkan kemampuan menenangkan bayi. Bayi dapat merespons suara dan gerakan pengasuh secara berbeda pada waktu yang berbeda.
Untuk memahami tahap perkembangan, baca panduan memantau tumbuh kembang bayi, aktivitas aman untuk bayi usia 0–3 bulan, dan aktivitas sensorik yang aman untuk bayi. Pilih kegiatan sesuai kesiapan bayi, bukan untuk mengejar target tertentu.
Pastikan interaksi bayi selalu mengikuti kebutuhan dan keselamatan
Kontak kulit ke kulit dapat menjadi salah satu bentuk kedekatan pada bayi baru lahir bila dilakukan dengan aman dan sesuai kondisi ibu, bayi, serta arahan tenaga kesehatan. Ayah perlu memastikan wajah dan jalan napas bayi tidak tertutup, posisi kepala dan leher aman, serta orang dewasa tetap terjaga dan memperhatikan bayi. Jika Ayah mengantuk atau merasa tidak fit, pindahkan bayi ke tempat tidur yang aman sesuai panduan tidur bayi, bukan meneruskan kontak sambil tertidur.
Bonding tidak harus berupa kegiatan khusus. Mengganti popok, berbicara saat bayi terjaga, menyanyikan lagu pendek, atau membantu menyiapkan perlengkapan dapat menjadi bagian dari hubungan. Respons Ayah sebaiknya mengikuti isyarat bayi: bila bayi memalingkan wajah, menguap, atau tampak lelah, beri jeda. Bayi belum mampu menjelaskan dengan kata-kata, sehingga orang dewasa perlu belajar membaca tanda kenyamanan dan kebutuhan istirahatnya.
Ayah tidak harus memiliki teknik khusus atau membeli perlengkapan mahal untuk dekat dengan bayi. Menyapa dengan lembut, melakukan perawatan, mengamati isyarat, dan berbagi tanggung jawab adalah langkah yang bermakna. Terus belajar bersama pasangan dan tenaga kesehatan ketika diperlukan. Seiring pengalaman bertambah, Ayah akan semakin mengenali kebiasaan bayi dan menemukan cara berinteraksi yang terasa nyaman bagi keduanya.










