Seorang ibu duduk di samping anak usia sepuluh tahun yang sedang menggambar, memberi ruang untuk berbicara tanpa memaksa.
Kedekatan dapat dibangun lewat kehadiran yang tenang, bukan tuntutan agar anak segera menceritakan semua hal.
Komunikasi & Kedekatan Orang Tua-Anak

Ucapan yang Sebaiknya Dihindari Saat Anak Usia 10 Tahun Mulai Menutup Diri

Anak usia sepuluh tahun mungkin mulai memilih cerita yang ingin dibagikan. Kenali ucapan yang membuat percakapan terasa seperti interogasi atau penghakiman, lalu bangun kembali kesempatan berbicara tanpa memaksa anak membuka semua hal.

Dulu anak mungkin bercerita panjang tentang teman sebangku, permainan di sekolah, atau hal lucu yang terjadi saat istirahat. Sekarang, ketika ditanya “Bagaimana sekolah?”, jawabannya hanya “Biasa.” Orang tua bisa merasa kehilangan kedekatan dan mulai bertanya lebih banyak. Namun, semakin sering didesak, anak justru semakin menjauh. Pada usia sekitar sepuluh tahun, sebagian anak mulai lebih selektif tentang apa yang ingin diceritakan. Perubahan ini tidak otomatis berarti ada masalah, tetapi tetap layak diperhatikan bersama konteks keseharian anak.

Anak dapat memilih diam karena lelah, ingin memproses pengalaman sendiri, merasa malu, takut dimarahi, atau belum menemukan kata yang tepat. Bisa juga ia sedang menghadapi konflik pertemanan, kesulitan pelajaran, perubahan tubuh, atau pengalaman yang membuatnya tidak nyaman. Jangan langsung menyimpulkan anak tidak percaya kepada orang tua. Amati apakah ia masih menikmati kegiatan, berinteraksi dengan orang lain, tidur dan makan seperti biasa, serta merasa aman di rumah dan sekolah.

Perhatikan perubahan yang menetap atau berdampak pada kehidupan sehari-hari. Penarikan diri yang disertai ketakutan kuat, perubahan tidur atau makan, penurunan fungsi sekolah, kehilangan minat, atau tanda anak tidak aman perlu ditanggapi lebih serius. Percakapan yang hangat membantu, tetapi bukan pengganti bantuan profesional ketika dibutuhkan.

Ucapan yang dapat membuat anak makin enggan bicara

“Kamu kok sekarang tidak pernah cerita?”

Kalimat ini terdengar seperti keluhan dan dapat membuat anak merasa bersalah karena berubah. Coba katakan, “Ibu kangen mendengar ceritamu. Kalau ada yang ingin kamu bagi, Ibu siap mendengarkan.” Ini menyampaikan keinginan orang tua tanpa menuntut.

“Pasti ada sesuatu. Jangan bohong.”

Menuduh sebelum mengetahui fakta membuat percakapan terasa seperti pemeriksaan. Jika ada perubahan yang mengkhawatirkan, sebutkan apa yang diamati: “Beberapa hari ini kamu terlihat lebih diam dan tidak ingin ikut latihan. Ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?” Hindari menganggap diam sebagai bukti kebohongan.

“Masalah begitu saja kok dipikirkan?”

Masalah yang tampak kecil bagi orang dewasa dapat terasa besar bagi anak. Jangan mengukur pengalaman anak dari ukuran masalah orang tua. Tanyakan bagian mana yang paling sulit. Setelah ia bercerita, baru bantu melihat pilihan langkah berikutnya.

“Dulu kamu tidak seperti ini.”

Membandingkan anak dengan dirinya di masa lalu dapat membuat ia merasa perubahan adalah kesalahan. Anak sedang bertumbuh dan kebutuhan sosialnya berubah. Lebih baik bahas kebutuhan sekarang: “Kamu sepertinya lebih suka punya waktu sendiri setelah sekolah. Apakah ada cara supaya kita tetap punya waktu bersama?”

“Kalau kamu tidak cerita, Ibu tidak bisa menolong.”

Kalimat ini dapat membuat bantuan terasa bersyarat. Anak mungkin belum siap bercerita, tetapi tetap membutuhkan kehadiran. Katakan, “Kamu tidak harus menjelaskan semuanya sekarang. Kita bisa mulai dari hal yang paling mudah, atau duduk bersama dulu.”

Buka percakapan dengan pengamatan, bukan interogasi

Hindari rentetan pertanyaan ketika anak baru pulang sekolah. Pilih waktu yang lebih santai, misalnya saat berjalan kaki, memasak, menyusun puzzle, atau berkendara bersama. Beberapa anak lebih mudah berbicara ketika tidak harus saling menatap. Mulai dari pengamatan yang tidak menghakimi: “Kamu terlihat lebih pendiam setelah latihan kemarin.” Beri jeda agar anak dapat menanggapi.

Pertanyaan terbuka tidak harus rumit. “Apa bagian paling menyenangkan hari ini?” “Ada hal yang membuatmu kesal?” atau “Kamu ingin Ibu mendengarkan atau membantu mencari solusi?” Pertanyaan terakhir sangat berguna karena anak tidak selalu membutuhkan nasihat. Ia mungkin hanya ingin ceritanya didengar sampai selesai.

Hormati privasi, tetapi jangan melepas tanggung jawab keselamatan

Privasi anak usia sepuluh tahun dapat berupa ruang untuk menulis, menyimpan benda pribadi, atau tidak menceritakan setiap percakapan teman. Orang tua tidak perlu membaca semua catatan atau pesan hanya karena penasaran. Namun, tanggung jawab pengasuhan tetap ada. Jika muncul tanda risiko keselamatan—misalnya ancaman, perundungan, kontak orang asing yang mencurigakan, atau pembicaraan tentang menyakiti diri—orang tua perlu bertindak dan mencari bantuan.

Jelaskan batas privasi dengan transparan: “Ibu menghormati ruang pribadimu. Kalau Ibu melihat tanda kamu atau orang lain dalam bahaya, Ibu perlu membantu dan mungkin melibatkan orang dewasa tepercaya.” Hindari memata-matai sebagai kebiasaan tanpa alasan. Baca cara menjaga komunikasi ketika anak membutuhkan privasi.

Jangan buru-buru menyelesaikan masalah untuk anak

Jika anak bercerita bahwa teman tidak mengajaknya bermain, orang tua mungkin ingin segera menelepon orang tua teman atau guru. Kadang intervensi memang dibutuhkan, tetapi tanyakan dulu apa yang anak inginkan dan apakah ia merasa aman. “Kamu ingin Ibu mendengarkan dulu, membantu menyusun kalimat, atau menemanimu bicara dengan guru?” Pilihan ini membuat anak ikut terlibat, bukan merasa urusannya diambil alih.

Jika masalah berulang atau melibatkan perundungan, orang tua perlu berkoordinasi dengan sekolah. Jangan meminta anak menghadapi pelaku sendirian. Namun, pada konflik ringan, latih anak menyampaikan perasaan dan meminta bantuan secara tepat. Tujuannya bukan membuat anak menyelesaikan semua persoalan tanpa orang dewasa, melainkan memberinya keterampilan sambil memastikan dukungan tersedia.

Jika orang tua pernah bereaksi dengan marah

Anak bisa belajar bahwa cerita tertentu akan berakhir dengan ceramah, hukuman, atau panik. Orang tua dapat memperbaiki pola itu dengan mengakui: “Beberapa kali Ibu langsung marah ketika kamu bercerita. Ibu ingin belajar mendengarkan lebih dulu. Kalau Ibu mulai terlalu banyak bertanya, kamu boleh bilang kita perlu jeda.” Jangan menjanjikan bahwa orang tua tidak akan pernah bereaksi; tunjukkan upaya nyata untuk mengubah kebiasaan.

UNICEF menyarankan komunikasi dengan remaja melalui mendengarkan aktif dan sikap yang tidak menghakimi; prinsip ini juga dapat diterapkan secara sesuai usia pada anak pra-remaja. Lihat tips komunikasi UNICEF. Kemenkes juga mengingatkan pentingnya mendengarkan tanpa menghakimi dalam relasi yang sehat; baca penjelasan Kemenkes.

Bangun jalur komunikasi lewat kebiasaan kecil

Kedekatan tidak selalu tumbuh dari percakapan serius. Makan bersama tanpa gawai, berjalan santai, menjemput sekolah, atau membaca buku berdampingan memberi kesempatan anak berbicara saat ia siap. Jangan mengubah setiap momen bersama menjadi sesi evaluasi. Biarkan ada humor, cerita ringan, dan keheningan yang nyaman.

Orang tua juga dapat menyampaikan cerita sederhana tentang harinya tanpa menjadikan anak penanggung jawab emosi orang dewasa. “Hari ini pekerjaan Ibu padat, jadi Ibu perlu istirahat sebentar,” lebih tepat daripada “Kamu satu-satunya alasan Ibu bertahan.” Anak boleh mengenal kehidupan orang tua, tetapi tidak perlu memikul beban emosional keluarga.

Jika anak belum ingin berbicara, jangan menganggap usaha gagal. Sampaikan bahwa pintu tetap terbuka dan tunjukkan dukungan lewat tindakan sehari-hari. Baca cara membangun keberanian anak untuk bercerita, cara bertanya setelah sekolah tanpa menginterogasi, dan kebiasaan mendengarkan sebelum memberi nasihat. Anak tidak wajib membagikan semua hal, tetapi ia perlu tahu bahwa saat membutuhkan bantuan, ada orang dewasa yang siap hadir.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.