Seorang ibu berbicara setara dengan anak usia sekolah di ruang keluarga dengan ekspresi tenang dan penuh perhatian.
Percakapan yang tidak menyeret konflik pasangan membantu anak merasa diterima sebagai dirinya sendiri.
Komunikasi & Kedekatan Orang Tua-Anak

Ketika Orang Tua Berkata, “Kamu Mirip Mantan Ayah/Ibu”: Mengapa Ucapan Ini Bisa Melukai Anak

Membandingkan anak dengan mantan pasangan dapat membuat anak merasa terseret ke dalam konflik orang dewasa. Pelajari cara memisahkan persoalan pasangan dari identitas dan hubungan orang tua dengan anak.

Kalimat “Kamu persis seperti mantan ayahmu” atau “Sifatmu sama saja dengan ibumu dulu” kadang keluar ketika orang tua sedang kesal. Mungkin maksudnya hanya ingin mengomentari perilaku tertentu, tetapi anak dapat menangkap pesan yang jauh lebih berat: seolah-olah ada bagian dari dirinya yang tidak disukai karena mengingatkan orang tua pada mantan pasangan. Anak tidak memilih sejarah hubungan orang tuanya. Ia juga tidak seharusnya diminta menanggung emosi yang belum selesai di antara dua orang dewasa.

Mengapa kalimat itu terasa berbeda dari kritik biasa?

Kritik terhadap perilaku dapat diarahkan pada hal yang bisa diperbaiki: “Kamu membentak adik tadi, dan kita perlu membicarakan cara menyampaikan keberatan.” Sebaliknya, membandingkan anak dengan mantan pasangan menghubungkan perilaku anak dengan identitas seseorang yang memiliki sejarah emosional bagi orang tua. Anak mungkin tidak memahami seluruh latar belakangnya, tetapi ia bisa merasa sedang dinilai bukan sebagai dirinya sendiri.

Kalimat tersebut juga dapat menempatkan anak di tengah loyalitas keluarga. Anak bisa bertanya-tanya apakah ia boleh menyayangi kedua orang tuanya, apakah sifat tertentu membuat salah satu orang tua kecewa, atau apakah ia harus membuktikan bahwa dirinya berbeda. Tidak semua anak akan bereaksi sama. Ada yang diam, ada yang membalas, dan ada yang menganggapnya lelucon. Namun, respons yang tampak ringan tidak selalu berarti ucapan tersebut tidak membingungkan.

Anak bukan perpanjangan dari mantan pasangan

Anak mewarisi kombinasi ciri biologis dan tumbuh dalam lingkungan yang juga membentuk kebiasaan, tetapi ia bukan salinan salah satu orang tua. Ia memiliki kepribadian, pengalaman, minat, dan cara berpikir sendiri. Bahkan bila ada kemiripan kebiasaan—misalnya sama-sama sulit bangun pagi atau berbicara cepat—kemiripan itu tidak menjelaskan seluruh diri anak. Menyebut kemiripan seolah-olah sebagai celaan dapat membuat hal biasa terasa memalukan.

Lebih aman membicarakan perilaku yang benar-benar terjadi. Daripada berkata “Kamu sama keras kepalanya seperti ayahmu,” orang tua dapat berkata, “Kamu tetap ingin mempertahankan pendapatmu. Ibu ingin mendengar alasanmu, lalu kita cari cara menyelesaikannya.” Fokusnya berpindah dari perbandingan dengan mantan pasangan ke kebutuhan saat ini. Anak pun mendapat kesempatan menjelaskan tanpa harus membela orang tua yang sedang dibandingkan.

Jangan menjadikan anak tempat meluapkan konflik pasangan

Setelah perpisahan, perceraian, atau hubungan orang tua yang sedang renggang, emosi dapat muncul kembali dalam urusan sehari-hari: jadwal bertemu, pembagian biaya, aturan rumah, atau cara anak bersikap. Anak tidak perlu menjadi pembawa pesan, penengah, saksi pertengkaran, ataupun tempat meminta pembenaran. Ia boleh mencintai kedua orang tuanya, dan kedekatan itu tidak seharusnya diperlakukan sebagai pengkhianatan.

Jika kemarahan pada mantan pasangan muncul, bicarakan dengan orang dewasa yang tepat—pasangan saat ini, sahabat tepercaya, konselor, atau profesional. Hindari mencari dukungan emosional dari anak dengan menceritakan detail konflik yang belum sesuai usianya. Anak mungkin perlu tahu perubahan jadwal atau keputusan keluarga, tetapi tidak perlu menerima beban penilaian tentang karakter orang dewasa.

Bagaimana menyampaikan batas tanpa membandingkan?

Orang tua tetap boleh menegur perilaku yang menyulitkan. Bedanya, teguran diarahkan pada tindakan, bukan silsilah atau kemiripan. Misalnya, “Kamu membanting pintu ketika marah. Di rumah ini kita tidak membanting barang. Kalau perlu jeda, bilang bahwa kamu ingin sendiri sebentar.” Kalimat tersebut menjelaskan kejadian, batas, dan alternatif. Tidak ada kebutuhan untuk menyebut mantan pasangan sebagai contoh buruk.

Jika anak melakukan kebiasaan yang mirip dengan orang tua lain, pilih bahasa netral: “Kalian sama-sama suka berpikir dulu sebelum menjawab,” atau “Kamu punya gaya bercanda sendiri.” Kemiripan tidak harus menjadi bahan pujian atau celaan. Bila perilaku tertentu memang perlu diperbaiki, bahas dampaknya dan latihan yang dapat dilakukan anak, bukan siapa orang yang dianggap menjadi sumber sifat tersebut.

Jika kalimat itu sudah terlanjur diucapkan

Jangan menunggu anak bertanya atau menangis terlebih dahulu. Orang tua dapat kembali setelah situasi tenang dan berkata, “Tadi Ibu membandingkan kamu dengan mantan pasangan Ibu. Itu tidak adil untukmu. Ibu sedang marah, tetapi kamu bukan orang yang harus menanggung masalah orang dewasa. Maaf.” Permintaan maaf seperti ini tidak menghapus kejadian, tetapi menunjukkan bahwa orang tua bertanggung jawab atas kata-katanya sendiri.

Hindari permintaan maaf yang diikuti pembelaan, seperti “Maaf, tapi kamu memang begitu.” Kata “tapi” dapat membuat anak mendengar bahwa pembandingan tadi sebenarnya tetap dianggap benar. Jika ada perilaku yang ingin dibahas, pisahkan menjadi percakapan lain: “Soal membanting pintu kemarin, kita tetap perlu mencari cara yang lebih aman.” Dengan begitu, permintaan maaf tidak digunakan untuk membatalkan batas.

Contoh percakapan yang menjaga identitas anak

  • “Kamu tidak harus menjadi seperti Ayah atau Ibu. Kamu boleh belajar menemukan caramu sendiri.”
  • “Ibu sedang kecewa dengan tindakanmu, bukan menolak dirimu.”
  • “Kalau Ibu sedang kesal dengan urusan orang dewasa, Ibu akan membicarakannya dengan orang dewasa lain, bukan membebankannya kepadamu.”
  • “Kamu boleh menyayangi Ayah dan Ibu. Kamu tidak harus memilih pihak untuk membuat salah satu dari kami senang.”

Jika anak bertanya apakah ia mirip salah satu orang tua, jawablah dengan jujur dan tidak menghakimi. “Ada beberapa hal yang mungkin mirip, tetapi kamu tetap punya banyak ciri sendiri.” Jangan memaksakan anak untuk menyetujui penilaian orang tua. Dengarkan bagian mana yang membuatnya nyaman atau tidak nyaman.

Perhatikan perubahan perasaan dan perilaku anak

Setelah mendengar komentar seperti itu berulang kali, sebagian anak mungkin menjadi sensitif terhadap kritik, enggan bercerita, takut dianggap berpihak, atau berusaha menyenangkan orang tua dengan menyembunyikan pendapatnya. Gejala tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa satu kalimat tertentu adalah penyebabnya. Perhatikan keseluruhan keadaan: konflik keluarga, perubahan tempat tinggal, tekanan sekolah, pertemanan, dan dukungan orang dewasa lain dapat ikut memengaruhi kesejahteraan anak.

Bila anak terlihat tertekan, ajak bicara tanpa memaksa. Tanyakan, “Apa yang kamu pikirkan setelah mendengar perkataan Ibu?” lalu beri ruang untuk menjawab. Orang tua juga dapat membaca cara melindungi anak dari konflik orang dewasa, menjaga komunikasi saat anak membutuhkan privasi, dan mendengarkan tanpa langsung memberi nasihat.

Jangan memaksa anak menjadi penengah

Jika orang tua membutuhkan kesepakatan pengasuhan, pembicaraan sebaiknya berlangsung langsung antarorang dewasa dengan cara yang aman. Anak bisa dilibatkan untuk menyampaikan kebutuhan yang menyangkut dirinya, tetapi bukan dipaksa menentukan siapa yang benar. Misalnya, anak boleh menyampaikan bahwa ia kesulitan berpindah rumah setiap hari sekolah. Orang tua kemudian mencari solusi; anak tidak harus mengatur emosi atau keputusan kedua orang tuanya.

UNICEF Indonesia menjelaskan bahwa masalah keluarga, termasuk perpisahan orang tua, dapat menjadi salah satu sumber stres anak. Panduan UNICEF tentang stres pada anak dapat membantu orang tua mengenali situasi yang membebani. Untuk anak yang lebih besar, panduan UNICEF mengenai komunikasi dengan remaja menekankan pentingnya mendengarkan pandangan mereka secara empatik.

Anak tidak perlu membuktikan bahwa ia lebih baik daripada mantan pasangan. Ia hanya perlu dibimbing menjadi dirinya sendiri, dengan batas yang sehat dan hubungan yang tidak menjadikannya tempat menyimpan konflik orang dewasa. Ketika orang tua memisahkan persoalan pasangan dari identitas anak, rumah terasa lebih aman untuk belajar, salah, bertanya, dan bertumbuh.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.