“Kamu nyebelin banget!” Kalimat seperti ini bisa meluncur ketika anak kesal karena diminta berhenti bermain, kalah dalam permainan, atau merasa tidak didengarkan. Kadang kata yang keluar jauh lebih kasar. Orang tua mungkin langsung tersinggung—apalagi bila ucapan itu diarahkan kepada ayah, ibu, kakek, atau nenek. Ada dorongan untuk membalas, memarahi, atau menuntut anak segera meminta maaf. Sebelum merespons, berhenti sebentar. Kalimat anak memang perlu dibatasi, tetapi cara kita menanggapinya akan ikut menentukan apakah ia belajar memperbaiki komunikasi atau hanya belajar menyembunyikan kemarahan.
Mendampingi anak yang berkata kasar bukan berarti membiarkan penghinaan. Orang tua tetap perlu tegas bahwa kata-kata yang merendahkan orang lain tidak dapat diterima. Pada saat yang sama, satu ucapan buruk tidak otomatis menjelaskan seluruh karakter anak. Bisa jadi ia meniru teman, konten video, percakapan orang dewasa, atau sedang belum memiliki kata-kata yang cukup untuk menyampaikan rasa kecewa. Tugas orang tua adalah memisahkan dua hal: perasaan yang boleh hadir dan cara menyampaikan perasaan yang perlu diarahkan.
Jangan buru-buru menyimpulkan anak tidak punya sopan santun
Anak mempelajari bahasa dari lingkungan terdekat. Mereka mendengar pilihan kata di rumah, sekolah, kendaraan umum, permainan daring, tayangan, dan percakapan teman sebaya. Sebagian anak mengulang kata kasar karena belum memahami maknanya. Ada yang mengucapkannya untuk membuat teman tertawa, menguji reaksi orang dewasa, atau menunjukkan bahwa dirinya sedang marah. Ada pula anak yang memakai kata itu karena melihat orang dewasa melakukannya dan menganggapnya sebagai cara komunikasi yang biasa.
American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren menjelaskan bahwa penggunaan kata umpatan pada masa kanak-kanak tengah dan awal remaja dapat muncul sebagai bagian dari proses meniru bahasa lingkungan atau mencoba terlihat lebih dewasa. Namun, konteks tetap penting: mengumpat karena frustrasi tidak sama dengan sengaja menghina, mengancam, atau menargetkan seseorang secara berulang. Perbedaan tersebut membantu orang tua memilih respons yang sepadan, bukan bereaksi berlebihan terhadap semua kejadian dengan cara yang sama.
Perhatikan pola, bukan hanya satu kejadian. Apakah kata kasar muncul setelah anak kalah? Apakah hanya terdengar ketika bermain dengan kelompok tertentu? Apakah anak mengucapkannya kepada satu orang yang sedang berselisih dengannya? Apakah ia juga mendorong, mengancam, atau merusak barang? Catatan seperti ini membantu orang tua memahami pemicu tanpa buru-buru memberi label “anak nakal”.
Respons pertama: hentikan ucapan yang menyakiti, tanpa mempermalukan anak
Ketika kata kasar baru saja keluar, utamakan keselamatan dan batas yang jelas. Bila anak sedang berteriak atau emosinya memuncak, nasihat panjang biasanya sulit masuk. Gunakan kalimat singkat, nada yang mantap, dan volume suara yang tidak ikut meninggi. Contohnya:
- “Kamu boleh marah. Kamu tidak boleh menyebut adik dengan kata yang merendahkan.”
- “Aku akan mendengarkan kalau kamu menyampaikan keberatan tanpa menghina.”
- “Kita berhenti bicara sebentar. Setelah lebih tenang, kita cari cara mengatakan yang kamu maksud.”
Kalimat semacam itu melakukan dua pekerjaan sekaligus. Perasaan anak tidak disangkal, tetapi perilakunya diberi batas. Hindari membalas dengan hinaan, ancaman, atau kalimat yang menyerang identitas seperti “Kamu anak tidak tahu diri”. Jika orang tua membentak “Jangan kasar!” sambil memaki, anak menerima pesan yang bertentangan: kata-kata tertentu dilarang, tetapi boleh dipakai oleh orang yang lebih kuat.
Jika ucapan diarahkan kepada saudara atau orang lain, lindungi pihak yang menjadi sasaran. Hentikan percakapan yang mulai menyakiti dan beri ruang kepada anak yang terkena ucapan untuk menjauh. Jangan memaksa mereka langsung berbaikan ketika masih marah. Fokus pertama adalah menghentikan perilaku, bukan membuat suasana terlihat rukun di depan orang lain.
Ketika anak membalas teguran dengan nada tinggi
Ucapan “Bawel!” atau “Diam, aku tahu!” sering membuat orang tua ingin memenangkan perdebatan saat itu juga. Coba jangan masuk ke adu suara. Sampaikan batas yang bisa diulang: “Kamu boleh tidak setuju. Nada dan kata-kata yang menghina tidak bisa diteruskan.” Bila anak masih terus membalas, akhiri sementara percakapan dan jelaskan kapan akan dilanjutkan. Jeda bukan hukuman menghilangkan kasih sayang; jeda memberi kesempatan agar percakapan tidak berubah menjadi saling menyerang.
Setelah tenang, ajak anak mengulang inti keberatannya dengan bahasa yang lebih jelas. Misalnya “Bawel!” dapat diarahkan menjadi “Aku kesal karena sudah menyelesaikan tugas, tetapi belum boleh bermain.” Orang tua bisa menjawab, “Terima kasih sudah menjelaskan. Sekarang kita bahas aturannya.” Anak belajar bahwa cara menyampaikan pendapat dapat diperbaiki tanpa harus kehilangan hak untuk didengar.
Cari fungsi ucapan kasar: apa yang sedang ingin dicapai anak?
Perilaku sering memiliki pemicu dan fungsi yang berbeda. Anak yang mengumpat saat kalah mungkin belum mampu mengelola frustrasi. Anak yang berkata kasar agar teman tertawa mungkin mencari penerimaan kelompok. Anak yang membalas teguran dengan kata menyakitkan mungkin sedang berusaha mempertahankan kendali, terutama jika ia merasa selalu disalahkan. Pertanyaan “Kamu sengaja kurang ajar, ya?” cenderung memancing pembelaan. Pertanyaan “Apa yang terjadi tepat sebelum kamu mengatakan itu?” lebih membuka informasi.
Orang tua dapat menelusuri tiga bagian sederhana: kejadian sebelum ucapan, ucapan atau tindakan yang muncul, dan apa yang terjadi sesudahnya. Contoh ilustratif: seorang anak diminta mematikan permainan digital. Ia menjawab, “Ayah menyebalkan!” Lalu orang tua mengomel selama sepuluh menit dan akhirnya memberi tambahan waktu agar anak berhenti marah. Anak mungkin menangkap bahwa kata kasar membuat aturan berubah. Bukan berarti ia merencanakan manipulasi; pola respons keluarga saja dapat membuat perilaku tertentu terus terulang.
Jika ucapan muncul ketika lelah, lapar, kewalahan oleh suara, atau sulit beralih dari kegiatan yang disukai, perbaiki juga kondisi pemicunya. Beri pemberitahuan sebelum waktu bermain berakhir, pastikan anak tahu urutan kegiatan, dan jangan menumpuk instruksi saat ia sedang sangat frustrasi. Menyesuaikan kondisi bukan memanjakan; itu membantu anak belajar pada saat ia lebih siap.
Ajarkan kalimat pengganti yang benar-benar bisa dipakai
Nasihat “bicara yang sopan” terlalu abstrak bagi sebagian anak. Mereka perlu contoh kalimat yang dapat digunakan ketika perasaan sedang kuat. Latih beberapa pilihan dan sesuaikan dengan usia serta kemampuan bahasa anak:
- Saat kecewa: “Aku kecewa karena giliranku belum tiba.”
- Saat tidak setuju: “Aku punya pendapat berbeda. Boleh aku jelaskan?”
- Saat butuh jeda: “Aku masih marah. Aku mau menenangkan diri dulu.”
- Saat merasa diperlakukan tidak adil: “Menurutku aturan tadi belum sama untuk semua.”
- Saat ingin menolak: “Aku tidak mau melakukan itu. Tolong berhenti.”
Berlatihlah ketika suasana netral, bukan tepat setelah pertengkaran. Orang tua dapat bermain peran: satu orang meminta anak menghentikan permainan, lalu anak mencoba menyampaikan keberatan dengan kalimat yang dipilih. Jangan menuntut kalimat yang terlalu formal. “Aku kesal, boleh ngomong sebentar?” tetap lebih baik daripada hinaan, selama disampaikan tanpa ancaman.
Perhatikan pula perbedaan antara kata kasar yang menyakiti dan bahasa gaul yang sekadar terdengar asing bagi orang tua. Tidak semua ungkapan baru merupakan penghinaan. Tanyakan maknanya dan lihat konteks pemakaian. Jika orang tua melarang semua bahasa yang tidak dikenal, anak bisa berhenti terbuka tentang bahasa yang ia dengar. Batas harus didasarkan pada dampak kata, bukan semata-mata karena orang dewasa tidak menyukainya.
Kesepakatan keluarga harus berlaku untuk orang dewasa juga
Aturan bahasa akan sulit dipercaya jika orang dewasa boleh menghina ketika marah. Keluarga dapat menyepakati batas sederhana: tidak menggunakan kata yang merendahkan tubuh, kecerdasan, identitas, atau kondisi seseorang; tidak mengancam; tidak memakai julukan yang sudah diminta berhenti; dan tidak menyebarkan aib saat konflik. Aturan itu berlaku bagi orang tua, anak, kakak, adik, maupun pengasuh.
Jika orang tua terlanjur berkata kasar, akui tanpa menambahkan “tapi kamu membuat Ayah marah”. Misalnya, “Tadi Ibu menyebut kamu bodoh. Itu salah. Ibu sedang marah, tetapi seharusnya Ibu menjelaskan kesalahanmu tanpa menghina.” Permintaan maaf seperti ini bukan kehilangan wibawa. Anak melihat bahwa orang dewasa juga bertanggung jawab atas kata-katanya.
Kesepakatan tidak harus menjadi poster panjang. Pilih dua atau tiga aturan yang paling penting dan ulangi pada waktu yang relevan. Saat makan malam atau perjalanan pulang, orang tua bisa bertanya, “Kalau kamu tidak suka keputusan teman, bagaimana cara mengatakan tidak setuju?” Percakapan ringan lebih mudah diterima daripada kuliah mendadak yang hanya muncul setelah anak berbuat salah.
Bagaimana mengajarkan perbaikan setelah ucapan menyakiti?
Meminta maaf penting, tetapi tidak cukup jika hanya menjadi kalimat wajib. Anak perlu memahami siapa yang terluka, bagian mana dari ucapannya yang menyakitkan, dan apa yang dapat ia lakukan untuk memperbaiki situasi. Jangan menjadikan “maaf” sebagai tiket agar semua orang harus langsung memaafkan. Pihak yang terluka berhak membutuhkan waktu.
Orang tua dapat membantu dengan tiga pertanyaan: “Apa kata-kata yang kamu ucapkan tadi?”, “Menurutmu bagaimana perasaan orang yang mendengarnya?”, dan “Apa yang bisa kamu lakukan sekarang?” Anak mungkin perlu mengganti kata, mengembalikan barang yang dilempar, memberi ruang, atau mencoba berbicara ulang pada waktu yang lebih tepat. Untuk anak yang masih kecil, orang tua dapat mencontohkan satu kalimat dan membiarkan anak mengulang dengan caranya sendiri.
Jangan memaksa permintaan maaf di depan banyak orang sebagai tontonan. Jika anak sedang malu atau sangat marah, bantu ia menenangkan diri dahulu. Perbaikan yang tulus lebih bermakna daripada permintaan maaf lantang yang diucapkan karena takut dihukum. Setelah itu, tetap pertahankan konsekuensi yang berkaitan dengan perilaku, misalnya menghentikan permainan sementara jika permainan berubah menjadi saling menghina.
Kapan perlu mencari bantuan tambahan?
Satu atau beberapa ucapan kasar tidak otomatis menandakan gangguan emosi atau perilaku. Namun, orang tua sebaiknya mencari dukungan jika ucapan menyakitkan berlangsung terus-menerus, disertai ancaman atau kekerasan fisik, membuat hubungan sosial anak terganggu, muncul bersama perubahan suasana hati yang berat, atau anak tampak kesulitan mengendalikan tindakan di banyak situasi. Diskusikan pola yang terlihat dengan guru, dokter anak, psikolog, atau tenaga profesional yang sesuai. Sampaikan contoh konkret, bukan hanya label “kasar”.
Bila ada ancaman keselamatan, kekerasan, atau perundungan, penanganan tidak cukup dengan latihan sopan santun. Orang dewasa perlu segera melindungi anak yang terdampak dan berkoordinasi dengan pihak sekolah atau layanan yang berwenang. Disiplin positif bukan alasan untuk membiarkan orang lain terus disakiti.
Latihan kecil yang bisa dimulai hari ini
Pilih satu situasi yang sering memicu pertengkaran—misalnya waktu layar berakhir, giliran bermain, atau tugas rumah—lalu siapkan satu kalimat pengganti yang realistis. Beri tahu anak bahwa keluarga sedang berlatih, bukan sedang mencari siapa yang paling sering salah. Ketika anak berhasil menyampaikan ketidaksetujuan tanpa menghina, sebutkan perilaku spesifik yang Anda hargai: “Tadi kamu kesal, tetapi kamu bilang dengan jelas bahwa kamu belum selesai. Ibu bisa memahami itu.”
Orang tua juga dapat membaca pembahasan tentang menyepakati cara berkomunikasi saat sedang marah, mengurangi komunikasi keras dengan anak, dan membangun komunikasi ketika anak sulit mendengarkan untuk melihat persoalan dari sisi yang berbeda.
Yang sedang dibangun bukan anak yang selalu berbicara manis atau tidak pernah marah. Anak perlu belajar bahwa kemarahan dapat disampaikan, batas dapat ditegakkan, dan hubungan dapat diperbaiki tanpa merendahkan siapa pun. Proses itu membutuhkan contoh berulang dari orang dewasa. Kadang ada kemajuan, kadang anak kembali terpeleset. Konsistensi yang tenang jauh lebih berguna daripada satu hukuman keras yang membuat semua orang diam tetapi tidak memahami apa yang perlu diubah.
Untuk membedakan umpatan yang ditiru, ledakan emosi, dan kata yang sengaja dipakai untuk merendahkan orang lain, orang tua dapat membaca penjelasan American Academy of Pediatrics tentang anak dan penggunaan kata kasar. Pendekatan yang menenangkan, mendengarkan, dan tidak mempermalukan anak juga sejalan dengan dorongan KemenPPPA mengenai pengasuhan positif.
Catatan sumber: KemenPPPA menekankan pengasuhan positif dan komunikasi yang tidak menggunakan kekerasan; AAP membahas penggunaan kata umpatan dalam konteks perkembangan anak dan respons orang tua. Contoh dialog dalam artikel ini adalah ilustrasi pembelajaran, bukan laporan pengalaman nyata tertentu.










