Anak sekolah berbicara dengan dua teman di dekat kantin, sambil mempertimbangkan pilihan jajanan tanpa tekanan.
Percakapan tentang pilihan dan uang jajan membantu anak menghadapi ajakan teman tanpa harus mengorbankan keputusan pribadi.
Sosialisasi & Pertemanan

Parenting saat Anak Ikut-ikutan Teman Membeli Jajanan: Menghadapi Tekanan Teman Sebaya

Anak bisa ingin membeli jajanan karena rasa penasaran, ingin diterima, atau takut berbeda dari teman. Orang tua dapat melatih kalimat penolakan, perencanaan uang jajan, dan keberanian meminta bantuan.

“Semua teman beli yang itu. Aku juga mau.” Kalimat ini sering muncul saat anak mulai lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman. Pilihan jajanan tidak lagi hanya soal rasa. Anak dapat ingin membeli sesuatu karena teman membelinya, karena takut dianggap berbeda, atau karena tidak ingin tertinggal dari obrolan kelompok.

Keinginan mengikuti teman adalah bagian dari proses belajar bersosialisasi. Anak sedang memahami aturan kelompok, penerimaan, dan cara menyampaikan pendapat. Orang tua tidak perlu langsung menyebutnya mudah terpengaruh. Yang perlu dibangun adalah kemampuan anak mengenali keinginannya sendiri, mempertimbangkan keamanan dan anggaran, lalu menyampaikan keputusan dengan nyaman.

Cari tahu alasan di balik keinginan ikut-ikutan

Pertanyaan “Kenapa ikut-ikutan?” dapat terdengar seperti tuduhan. Coba ganti dengan “Apa yang membuat jajanan itu menarik?” atau “Apa yang terjadi kalau kamu tidak membelinya?” Jawaban anak dapat berbeda: ia penasaran dengan rasa, ingin punya pengalaman yang sama, takut diejek, atau merasa harus ikut agar tidak tertinggal. Memahami alasan membantu orang tua memilih respons yang tepat.

Jika anak hanya ingin mencoba karena penasaran dan jajanan aman, keluarga dapat mempertimbangkan kesempatan tertentu. Jika ada tekanan, ejekan, atau ancaman dari teman, masalahnya bukan lagi tentang jajanan semata. Anak perlu dibantu menjaga batas diri dan mencari bantuan orang dewasa di sekolah bila merasa tidak aman.

Bedakan rasa ingin mencoba dan tekanan teman sebaya

Rasa ingin mencoba biasanya masih memberi ruang bagi anak untuk memilih. Ia bisa berkata “Aku mau coba” atau “Aku tidak mau” tanpa takut akan konsekuensi sosial yang berat. Tekanan teman sebaya muncul ketika anak merasa harus melakukan sesuatu agar diterima, atau ketika penolakan dibalas ejekan, pengucilan, atau ancaman. Tidak semua ajakan teman berarti tekanan; lihat konteks dan respons kelompok terhadap pilihan anak.

Orang tua dapat menanyakan apakah anak masih merasa bebas memilih. “Kalau kamu bilang tidak, apakah temanmu tetap mau bermain?” Pertanyaan ini membantu anak mengenali perbedaan ajakan dan paksaan. Hindari menganggap semua teman membawa pengaruh buruk. Hubungan pertemanan juga dapat memberi dukungan positif dan memperkenalkan kebiasaan baru.

Latih kalimat untuk menolak tanpa merendahkan teman

Anak membutuhkan kata-kata praktis yang dapat digunakan saat situasi berlangsung cepat. Latih ketika suasana santai: “Aku tidak mau beli sekarang,” “Aku sudah bawa bekal,” “Aku mau pilih yang lain,” atau “Uang jajanku mau kusimpan.” Anak tidak perlu menjelaskan panjang lebar atau mengejek pilihan teman. Ia boleh menolak dengan sopan dan tetap ikut berkumpul.

Bila teman terus mendesak, anak dapat mengulang keputusan, mengubah topik, atau berpindah ke kegiatan lain. Untuk situasi yang membuatnya takut, mintalah bantuan guru atau orang dewasa tepercaya. Jangan menuntut anak menyelesaikan konflik sendirian demi terlihat mandiri.

Buat rencana uang jajan yang memberi ruang pilihan

Anak lebih mudah bertahan pada keputusan bila ia memahami batas uang yang tersedia. Sebelum berangkat sekolah, orang tua dapat menyepakati berapa uang yang disiapkan dan apa saja kebutuhan yang harus dipenuhi. Jangan mengurangi uang untuk kebutuhan makan agar anak belajar menabung. Jika uang jajan memang terbatas, jelaskan bahwa keluarga sedang membuat prioritas, bukan bahwa anak tidak boleh menyamai teman.

Bila memungkinkan, beri ruang bagi anak menentukan penggunaan sebagian kecil uangnya dalam batas yang disepakati. Ia dapat memilih camilan yang sesuai, menyimpan sedikit untuk tujuan tertentu, atau menggunakan uang pada hari yang berbeda. Latihan ini lebih efektif daripada mengawasi setiap pembelian. Bacaan terkait tersedia pada cara menghadapi perbedaan uang saku di antara teman dan mengelola uang saku sebagai latihan tanggung jawab.

Jangan jadikan kondisi ekonomi keluarga sebagai bahan malu

Anak tidak perlu membuka jumlah uang saku atau menjelaskan keadaan keuangan keluarga kepada teman. Jika ia berkata “Aku malu karena uangku lebih sedikit,” dengarkan tanpa meremehkan. Jelaskan bahwa setiap keluarga membuat keputusan berbeda. Uang saku bukan ukuran nilai seseorang, dan teman yang baik tidak seharusnya mengukur pertemanan dari makanan yang dibeli.

Jika ejekan terjadi berulang, catat apa yang berlangsung dan bicarakan dengan guru. Bedakan satu komentar yang tidak menyenangkan dari pola perundungan yang terus terjadi, tetapi tanggapi setiap laporan dengan serius. Anak tidak boleh dipaksa membayar atau membeli jajanan untuk mempertahankan pertemanan.

Bantu anak membaca iklan dan tren di lingkungan sosial

Sebagian jajanan populer karena promosi, kemasan, tantangan, atau konten kreator. Anak usia sekolah dapat diajak bertanya: apakah ia benar-benar ingin rasa makanan tersebut, atau tertarik karena kemasan dan video? Tidak perlu menjelekkan teman yang membelinya. Fokuskan pada kemampuan memilah informasi dan menyadari pengaruh pemasaran.

Orang tua dapat berdiskusi saat melihat iklan bersama: apa yang ditampilkan, apa yang tidak dijelaskan, dan informasi apa yang perlu dicari. Jika makanan kemasan, periksa label dan takaran saji. Untuk jajanan yang dijual di sekolah, diskusikan kebersihan penjual dan cara penyajian. Artikel tentang tekanan teman sebaya dapat menjadi bacaan tambahan untuk memahami pengaruh kelompok dalam keputusan anak.

Ciptakan ruang cerita tanpa langsung menyalahkan

Ketika anak mengaku membeli sesuatu karena teman, jangan langsung berkata “Kamu tidak punya pendirian.” Apresiasi keterbukaannya dan ajak meninjau keputusan bersama. “Kamu membeli karena ingin tetap bersama teman. Bagaimana perasaanmu setelah itu? Apakah kamu masih ingin melakukannya lain kali?” Pertanyaan tersebut membantu anak belajar dari pengalaman tanpa merasa dirinya buruk.

Orang tua juga perlu memberi teladan. Jika orang dewasa membeli sesuatu hanya karena tren, akui bahwa iklan dan pengaruh sosial dapat memengaruhi semua orang. Ceritakan bagaimana membandingkan kebutuhan, harga, dan kualitas sebelum memutuskan. Anak belajar bahwa keputusan bijak tidak berarti selalu menolak hal baru, melainkan mempertimbangkan alasan dan konsekuensi.

Penutup: anak boleh berbeda pilihan

Menghadapi tekanan teman saat jajan berarti membantu anak mengenali keinginannya, memahami batas anggaran, dan berani berkata tidak tanpa merendahkan orang lain. Jangan memusuhi kelompok teman atau mempermalukan anak karena ingin diterima. Bangun keterampilan memilih dan pastikan ia tahu kepada siapa harus meminta bantuan ketika ajakan berubah menjadi tekanan yang menyakitkan.

Latihan percakapan singkat sebelum masuk sekolah

Orang tua dan anak dapat berganti peran dalam permainan sederhana. Orang tua berpura-pura menjadi teman yang mengajak membeli camilan tertentu, sementara anak mencoba beberapa jawaban. Setelah itu, tanyakan kalimat mana yang terasa alami dan mana yang sulit diucapkan. Jangan menghafalkan dialog panjang; tujuan latihan adalah memberi anak beberapa pilihan yang dapat ia gunakan sesuai situasi.

Bicarakan pula kepada siapa anak dapat meminta bantuan jika tekanan berubah menjadi ejekan, ancaman, atau permintaan uang. Anak boleh menyampaikan kepada guru, wali kelas, atau orang dewasa yang dipercaya. Jika situasi berulang, keluarga dapat mencatat kejadian dan meminta sekolah menindaklanjuti. Keterampilan menolak berjalan bersama keterampilan mencari dukungan; keduanya tidak harus dilakukan anak sendirian.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.