Seorang ibu berbicara tenang dengan anak yang mengejek penampilan temannya
Orang tua membantu anak memahami bahwa komentar tentang penampilan dapat melukai perasaan teman.
Sosialisasi & Pertemanan

Cara Menghadapi Anak yang Suka Mengejek Teman Berdasarkan Penampilan

Ketika anak mengejek rambut, warna kulit, bentuk tubuh, tinggi badan, cara berjalan, atau ciri fisik temannya, orang tua mungkin ingin segera menegur keras. Teguran tegas memang dibutuhkan karena komentar tentang penampilan dapat melukai dan mempermalukan orang lain. Namun, menghentikan ucapan saja belum cukup. Anak perlu memahami apa yang membuat komentar itu menyakitkan, bagaimana memperbaiki hubungan, dan cara menyampaikan.

Ketika anak mengejek rambut, warna kulit, bentuk tubuh, tinggi badan, cara berjalan, atau ciri fisik temannya, orang tua mungkin ingin segera menegur keras. Teguran tegas memang dibutuhkan karena komentar tentang penampilan dapat melukai dan mempermalukan orang lain. Namun, menghentikan ucapan saja belum cukup. Anak perlu memahami apa yang membuat komentar itu menyakitkan, bagaimana memperbaiki hubungan, dan cara menyampaikan sesuatu tanpa menjadikan tubuh atau ciri pribadi orang lain sebagai bahan lelucon.

Ejekan tidak selalu berawal dari niat jahat yang matang. Anak mungkin meniru kalimat yang didengar, menganggap teman akan tertawa, atau belum memahami dampaknya. Penjelasan ini bukan pembenaran. Orang tua tetap harus menjaga anak yang menjadi sasaran ejekan sekaligus membantu anak yang mengejek belajar bertanggung jawab. Hindari melabeli anak sebagai “anak jahat”; fokuskan koreksi pada perilaku yang harus berhenti dan diperbaiki.

Hentikan komentar tanpa menertawakan atau mempermalukan

Jika ejekan terjadi di depan orang tua, hentikan dengan kalimat singkat: “Kita tidak mengomentari tubuh teman seperti itu. Ucapan tadi bisa menyakiti.” Jangan ikut tertawa, mengulang ejekan, atau meminta anak mengucapkannya lagi sebagai bahan pembuktian. Bila korban berada di tempat, pastikan ia mendapat dukungan dan tidak dipaksa menerima permintaan maaf di depan banyak orang. Orang dewasa dapat mengalihkan situasi dengan tenang, kemudian membahas perilaku anak secara pribadi.

Ketegasan perlu terlihat dalam tindakan. Jika anak terus melontarkan komentar, hentikan aktivitas yang sedang berlangsung dan pisahkan anak dari situasi untuk menenangkan diri. Hindari hukuman yang merendahkan seperti mengumumkan kesalahannya di grup keluarga atau menyuruh semua orang mengejek balik. Tujuan orang tua bukan membuat anak merasakan malu yang sama, melainkan membuatnya mengerti bahwa setiap orang berhak diperlakukan dengan hormat.

Cari tahu dari mana komentar itu dipelajari

Tanyakan dengan nada ingin memahami: “Kamu pernah dengar kata itu dari mana?” atau “Menurutmu, apa yang membuat temanmu tertawa?” Anak mungkin meniru ucapan teman sekolah, video, konten media sosial, orang dewasa, atau kebiasaan bercanda di rumah. Dengan mengetahui sumbernya, orang tua dapat mengatasi akar masalah. Jika ejekan berulang terjadi di lingkungan sekolah, bicarakan dengan guru untuk memahami apakah itu bagian dari pola perundungan atau perilaku yang tersebar dalam kelompok.

Periksa juga kebiasaan komunikasi di rumah. Apakah keluarga sering mengomentari berat badan, warna kulit, rambut, tinggi badan, atau bentuk tubuh orang lain? Apakah candaan menggunakan ciri fisik sebagai bahan tertawaan? Anak belajar standar dari hal yang ia lihat. Orang tua dapat mengakui kebiasaan yang perlu diubah: “Di rumah kita juga kadang berkomentar tentang tubuh orang. Kita akan berhenti karena tubuh orang bukan bahan untuk mengejek.”

Jelaskan mengapa penampilan bukan ukuran nilai seseorang

Gunakan contoh yang dekat dengan pengalaman anak. Seseorang tidak memilih semua ciri tubuhnya, dan setiap orang tumbuh dengan bentuk serta kemampuan yang berbeda. Komentar yang dianggap lucu oleh satu orang mungkin membuat orang lain malu untuk ikut bermain, berfoto, atau berbicara. Anak tidak perlu diminta menghafal teori tentang keberagaman. Ia perlu memahami bahwa teman tetap berhak merasa aman meskipun penampilannya tidak sama dengan kebanyakan orang.

Jangan mengajarkan penghormatan dengan mengatakan bahwa semua orang harus terlihat sama atau bahwa ciri fisik tertentu harus dipuji. Lebih baik ajarkan bahwa kita tidak perlu menilai tubuh orang untuk menentukan apakah ia layak menjadi teman. Jika anak bertanya tentang perbedaan fisik, jawab dengan bahasa netral: “Memang tubuh orang berbeda-beda. Kalau kamu penasaran, kamu boleh bertanya dengan sopan pada waktu yang tepat, tetapi tidak perlu menunjuk, menertawakan, atau menyebarkannya.”

Bantu anak memahami dampak dari sudut pandang teman

Setelah suasana lebih tenang, ajak anak membayangkan bagaimana rasanya bila ciri tubuhnya dijadikan bahan komentar berulang. Hindari memaksa anak merasa bersalah berlebihan. Pertanyaan seperti “Kalau teman mengatakan hal itu tentangmu di depan kelas, apa yang mungkin kamu rasakan?” membantu anak melihat dampak. Lalu tanyakan tindakan apa yang dapat memperbaiki keadaan. Empati tumbuh melalui latihan melihat pengalaman orang lain, bukan hanya melalui perintah agar anak merasa kasihan.

Jika anak masih kesulitan memahami, gunakan cerita atau permainan peran. Satu orang menjadi anak yang diejek, satu lagi menjadi teman yang menyaksikan. Coba beberapa respons: diam, ikut tertawa, mengalihkan pembicaraan, atau berkata “Jangan komentari tubuhnya.” Bahas mana yang aman dan membantu. Bacaan tentang empati melalui teladan mendengarkan dapat membantu keluarga mengembangkan percakapan semacam ini.

Latih pilihan kata yang tidak menyerang penampilan

Anak sering membutuhkan kalimat pengganti. Jika ia ingin mengajak teman bermain, ia tidak perlu mengomentari tubuh atau pakaian temannya. Jika ia tidak suka sesuatu, ia dapat membicarakan perilaku atau situasi: “Aku tidak suka kalau kamu mengambil bolaku tanpa izin,” bukan “Kamu aneh.” Bila komentar terkait kebutuhan praktis, gunakan bahasa yang netral, seperti “Kursinya terlalu tinggi untukku,” bukan menilai tinggi badan teman.

Ajarkan tiga pertanyaan sebelum berbicara: Apakah hal ini perlu disampaikan? Apakah saya sedang membicarakan perilaku yang bisa diubah atau ciri pribadi yang tidak perlu dinilai? Apakah cara saya mengatakannya tetap menghormati orang lain? Anak tidak harus selalu memuji. Ia boleh berbeda pendapat, mengatakan tidak suka pada suatu tindakan, atau memilih tidak berkomentar. Menghormati orang bukan berarti selalu setuju, melainkan menyampaikan penilaian tanpa merendahkan.

Perbaikan hubungan lebih penting daripada permintaan maaf formal

Jika ejekan sudah melukai teman, orang tua dapat membimbing anak meminta maaf ketika situasi memungkinkan dan pihak yang disakiti bersedia. Permintaan maaf yang bermakna menyebut perilaku yang dilakukan, mengakui dampak, dan menunjukkan perubahan: “Aku tadi mengejek rambutmu. Itu tidak baik dan bisa membuatmu sedih. Aku tidak akan mengulanginya.” Hindari menambahkan “tapi kamu juga...” karena itu mengalihkan tanggung jawab. Teman tidak wajib langsung memaafkan.

Perbaikan juga dapat berarti berhenti mengulang ucapan, tidak menyebarkan foto atau komentar, menghapus unggahan yang merendahkan, dan mendukung teman agar kembali merasa aman. Bila ejekan dilakukan berkali-kali, melibatkan kelompok, atau membuat anak lain takut datang ke sekolah, jangan memperlakukannya sebagai konflik kecil yang cukup selesai dengan satu kata maaf. Libatkan guru dan pihak sekolah. UNICEF menekankan pentingnya menanggapi perundungan secara serius dan membantu anak yang terdampak merasa aman melalui panduan penanganan perundungan.

Jangan mengganti ejekan dengan pujian yang tetap menilai tubuh

Orang tua kadang mencoba menyeimbangkan ejekan dengan berkata, “Tidak apa-apa, kamu lebih cantik daripada dia.” Niatnya menghibur, tetapi kalimat itu tetap mengajarkan bahwa penampilan adalah ukuran untuk dibandingkan. Lebih baik katakan, “Kita tidak perlu membandingkan tubuh siapa pun. Temanmu pantas dihormati, dan kamu juga.” Pujilah tindakan yang spesifik—misalnya mendengarkan, membantu, bermain adil, atau berani menghentikan ejekan.

Periksa apakah anak yang mengejek juga sedang mengalami tekanan, ingin diterima kelompok, atau menjadi sasaran ejekan di tempat lain. Jika iya, kebutuhan dukungan itu juga perlu ditangani. Perilaku menyakiti harus dihentikan, tetapi memahami latar belakang membantu orang tua memilih intervensi yang tepat. Keluarga dapat membaca cara memahami perilaku anak yang melakukan perundungan dan langkah mengenali perundungan dan membuat situasi aman.

Perubahan karakter bukan hasil dari satu teguran panjang. Ia terbentuk ketika anak berkali-kali melihat orang dewasa menghormati perbedaan, mendapat batas yang konsisten saat melukai orang lain, dan diberi kesempatan memperbaiki perilaku. Pesan yang perlu tinggal dalam ingatannya sederhana: kita boleh memperhatikan perbedaan, tetapi tidak boleh menjadikan perbedaan itu alasan untuk merendahkan seseorang.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.