Anak menunjukkan mainan baru kepada temannya tanpa merendahkan barang teman
Dua anak bercerita tentang mainan mereka dengan santai di ruang bermain.
Sosialisasi & Pertemanan

Mengatasi Perilaku Pamer pada Anak: Cara Menumbuhkan Rasa Syukur

Anak pulang sekolah dan bercerita bahwa ia memiliki sepatu baru, mendapat nilai bagus, atau pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi temannya. Ia mungkin mengulang cerita itu berkali-kali atau ingin semua orang memperhatikannya. Orang tua dapat merasa khawatir bahwa anak sedang menjadi suka pamer. Namun, tidak setiap cerita tentang milik atau pencapaian berarti kesombongan. Anak juga sedang belajar.

Anak pulang sekolah dan bercerita bahwa ia memiliki sepatu baru, mendapat nilai bagus, atau pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi temannya. Ia mungkin mengulang cerita itu berkali-kali atau ingin semua orang memperhatikannya. Orang tua dapat merasa khawatir bahwa anak sedang menjadi suka pamer. Namun, tidak setiap cerita tentang milik atau pencapaian berarti kesombongan. Anak juga sedang belajar berbagi pengalaman, mencari pengakuan, dan memahami posisi dirinya dalam kelompok.

Yang perlu diarahkan adalah cara bercerita yang merendahkan orang lain, memaksa teman mengagumi barang, atau menjadikan kepemilikan sebagai ukuran pertemanan. Tujuannya bukan mematikan kegembiraan anak, melainkan membantu ia menyampaikan rasa bangga tanpa mengecilkan orang lain serta menumbuhkan rasa syukur yang tidak berubah menjadi tuntutan untuk selalu memiliki lebih.

Pahami kebutuhan di balik perilaku pamer

Tanyakan kapan anak paling sering membanggakan sesuatu. Apakah setelah mendapat perhatian, ketika teman menunjukkan barang baru, atau saat ia merasa kurang dilibatkan? Perilaku tersebut bisa muncul karena antusias, ingin diterima, meniru lingkungan, atau mencari pengakuan. Memahami konteks membantu orang tua merespons dengan tepat dan tidak langsung memberi label negatif.

Dengarkan cerita anak terlebih dahulu. Jika ia menunjukkan mainan baru, orang tua bisa berkata, “Kamu senang sekali dengan mainan itu. Bagian mana yang paling kamu suka?” Setelah anak merasa didengar, ajak ia memikirkan cara bercerita yang juga memberi ruang kepada teman. Anak tidak perlu berhenti berbagi kabar baik hanya karena khawatir dianggap pamer.

Bedakan berbagi kegembiraan dan merendahkan orang lain

Berbagi kegembiraan: “Aku senang mendapat sepatu baru karena sudah lama menginginkannya.” Merendahkan: “Sepatumu jelek, punyaku jauh lebih bagus.” Jelaskan bahwa perbedaannya bukan pada apakah anak menyebut barangnya, melainkan apakah ia menggunakan cerita untuk menghina, menekan, atau membuat orang lain merasa kurang.

Jika anak berkata menyakitkan, koreksi dengan jelas: “Kamu boleh senang dengan sepatumu, tetapi tidak boleh merendahkan sepatu teman.” Bantu ia menyusun ulang kalimat: “Aku suka sepatuku karena warnanya biru.” Perbaikan konkret membantu anak melihat apa yang bisa dilakukan, bukan sekadar mendapat teguran “jangan sombong”.

Tumbuhkan rasa syukur melalui perhatian pada hal sehari-hari

Rasa syukur tidak harus berupa daftar panjang yang diwajibkan setiap malam. Ajak anak memperhatikan hal yang membuat hari terasa baik: teman yang mau bermain, makanan yang tersedia, kesempatan belajar, atau waktu membaca bersama keluarga. Jangan menggunakannya untuk membungkam keluhan. Anak boleh kecewa dan tetap dapat mengenali hal yang ia hargai.

Orang tua dapat mencontohkan rasa syukur dengan menyebut pengalaman secara spesifik, bukan hanya berkata “kita harus bersyukur”. Misalnya, “Ibu senang tetangga membantu mengantarkan paket ketika hujan.” Anak belajar melihat kontribusi orang lain dan memahami bahwa banyak hal baik hadir melalui hubungan, kerja, dan kesempatan.

Hindari membandingkan kondisi keluarga

Jangan mengatakan, “Kamu masih punya mainan, lihat anak lain tidak punya apa-apa,” untuk membuat anak merasa bersalah. Perbandingan semacam itu dapat menimbulkan rasa malu atau merendahkan orang yang memiliki lebih sedikit. Jika keluarga ingin mengajak anak berdonasi, jelaskan kebutuhan penerima dengan menghormati martabat mereka dan libatkan anak secara sukarela.

Ajarkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh merek pakaian, ukuran rumah, nilai sekolah, atau jumlah barang. Anak dapat memiliki benda yang disukai tanpa harus merasa lebih tinggi. Jika ia bertemu teman yang memiliki lebih sedikit, arahkan pada sikap menghargai dan mencari kegiatan bersama, bukan mengasihani atau memamerkan kelebihannya.

Latih anak mendengarkan dan berbagi giliran bercerita

Dalam percakapan, anak dapat belajar bahwa setiap orang memiliki kesempatan bercerita. Ketika ia berulang kali menyela untuk membanggakan sesuatu, ingatkan, “Tadi kamu sudah cerita tentang mainanmu. Sekarang kita dengarkan cerita teman.” Latih bertanya tentang pengalaman orang lain, bukan hanya menunggu giliran untuk kembali membicarakan dirinya.

Permainan bergiliran dapat membantu: satu orang bercerita tentang pengalaman hari ini, lalu pendengar menyebut satu hal yang ia dengar sebelum menanggapi. Jangan mengubah latihan menjadi ujian. Orang tua dapat ikut bermain dan memberi contoh ketika dirinya terlalu banyak berbicara.

Jika perilaku pamer dipakai untuk mengejek atau mengucilkan

Ketika anak menggunakan barang untuk merendahkan teman, orang tua perlu membantu memperbaiki dampak. Tanyakan apa yang dikatakan, siapa yang terdampak, dan bagaimana anak bisa menyampaikan penyesalan. Jangan memaksa pengakuan panjang di depan kelas. Bicarakan dengan guru jika perilaku berulang atau sudah menjadi bagian dari perundungan.

Jika anak menjadi sasaran pamer atau ejekan orang lain, bantu ia menyampaikan batas dan mencari dukungan. Ia tidak perlu membuktikan dirinya dengan membeli barang yang sama. Orang tua dapat menguatkan bahwa persahabatan tidak ditentukan oleh benda. Bila tekanan kelompok terus berlangsung, libatkan guru untuk memastikan situasi aman.

Bangun rasa cukup tanpa melarang anak memiliki cita-cita

Rasa syukur bukan berarti anak tidak boleh menginginkan sesuatu yang baru. Ia boleh punya keinginan dan belajar menabung untuk mencapainya. Orang tua dapat membantu membedakan kebutuhan, keinginan, dan kemampuan keluarga. Jika belum dapat membeli, berikan jawaban yang jujur tanpa menjanjikan tanggal yang tidak pasti. Anak belajar menunggu dan merencanakan, bukan merasa bersalah karena menginginkan sesuatu.

Pada akhirnya, arahkan anak agar mampu menikmati pencapaiannya, menghargai orang lain, dan tidak menilai dirinya dari kepemilikan. Rasa syukur tumbuh dari hubungan yang aman, teladan, dan pengalaman nyata. Bukan dari larangan untuk bercerita tentang hal yang membuatnya bahagia.

Hindari menggunakan rasa syukur untuk membungkam kebutuhan

Ketika anak menginginkan sesuatu, jangan langsung menjawab, “Harusnya kamu bersyukur.” Dengarkan dulu alasan dan maknanya. Mungkin ia ingin merasa diterima karena sebagian teman memiliki barang tertentu. Orang tua dapat mengakui keinginannya tanpa harus membeli barang tersebut. “Ibu paham kamu ingin sepatu seperti temanmu. Kita lihat apakah sepatu sekarang masih nyaman dan apakah perlu membeli yang baru.”

Rasa syukur lebih mudah tumbuh ketika anak merasa kebutuhannya didengar. Jika setiap keinginan dianggap tidak tahu bersyukur, anak mungkin menyembunyikan perasaan atau justru semakin mengejar pengakuan. Bantu ia mempertimbangkan pilihan dan batas keluarga, lalu cari hal yang dapat dinikmati bersama tanpa menjadikan perbandingan sebagai pusat pembicaraan.

Ajarkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan tanpa menghakimi

Jika anak ingin barang yang sedang populer, ajak ia bertanya apakah barang lama masih dapat digunakan, apa fungsi barang baru, dan apakah pembelian sesuai anggaran. Jangan membuatnya merasa bersalah karena tertarik pada sesuatu. Anak sedang belajar menilai keinginan. Orang tua dapat menetapkan batas belanja sambil mengakui perasaannya.

Rasa syukur juga tidak berarti harus selalu puas dengan keadaan yang kurang aman atau tidak layak. Anak boleh menyampaikan kebutuhan yang penting, seperti sepatu yang sudah rusak atau perlengkapan sekolah yang tidak memadai. Orang tua perlu membedakan keluhan yang wajar dari kebiasaan membandingkan diri tanpa akhir.

Bacaan lain yang dapat membantu menerapkan kebiasaan ini ialah mengajarkan empati pada anak, anak terus meminta mainan baru cara menetapkan batas belanja dengan empati, serta mengajarkan berbagi tanpa memaksa anak.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.