Anak melihat seorang teman diejek, dijauhi, atau didorong oleh beberapa anak lain. Ia mungkin ingin membantu, tetapi takut menjadi sasaran berikutnya. Ada juga anak yang memilih diam karena tidak yakin apakah kejadian itu benar-benar perundungan. Situasi seperti ini dapat menjadi kesempatan mengajarkan empati, tetapi orang tua harus mengutamakan keselamatan. Anak tidak perlu diminta menjadi pahlawan yang menghadapi pelaku sendirian.
Empati berarti berusaha memahami perasaan orang lain dan memilih respons yang membantu. Dalam situasi perundungan, respons yang tepat bisa berupa menemani korban, tidak ikut tertawa, meminta bantuan guru, atau melaporkan kejadian. Anak perlu tahu bahwa meminta bantuan orang dewasa bukan mengadu untuk mencari perhatian, melainkan langkah penting untuk menghentikan perilaku yang menyakiti.
Bantu anak mengenali perundungan dan konflik biasa
Konflik dapat terjadi ketika dua anak berbeda pendapat atau berebut giliran, dan keduanya masih memiliki kesempatan menyampaikan kebutuhan. Perundungan biasanya melibatkan perilaku agresif yang berulang atau ketimpangan kekuatan sehingga anak yang menjadi sasaran sulit menghentikannya sendiri. Anak tidak perlu menentukan istilah secara sempurna. Jika ada ancaman, kekerasan, penghinaan berulang, atau seseorang tampak takut, ia perlu memberi tahu orang dewasa.
Gunakan contoh yang sesuai usia: seorang teman berkali-kali mengejek bentuk tubuh anak lain, mengancam agar tidak ikut bermain, atau sengaja mengucilkan. Jelaskan bahwa satu pertengkaran tidak selalu sama dengan perundungan, tetapi semua perilaku yang menyakiti tetap perlu ditangani. Anak dapat menceritakan kejadian tanpa harus menyelidiki atau membuktikan sendiri.
Ajarkan beberapa cara membantu yang aman
Anak dapat memilih tindakan sesuai situasi. Jika aman dan ada dukungan, ia bisa berkata singkat, “Itu tidak baik,” lalu mengajak teman yang menjadi sasaran pergi ke tempat aman. Ia dapat duduk bersama korban, mengundangnya bermain, atau mengirim pesan dukungan yang tidak mempermalukan. Namun, bila pelaku mengancam atau situasi berpotensi menjadi kekerasan, anak sebaiknya menjauh dan segera mencari guru atau orang dewasa.
Jangan mendorong anak merekam atau menyebarkan video perundungan untuk membuktikan kejadian. Jika bukti digital sudah ada, anak perlu menunjukkannya kepada orang dewasa tepercaya, bukan mengunggah ulang. Penyebaran dapat memperluas rasa malu korban dan membuat situasi semakin buruk. Guru atau orang tua dapat menentukan cara dokumentasi yang aman dan sesuai aturan sekolah.
Latih kalimat yang mendukung korban
Anak dapat berkata, “Kamu mau duduk bersama kami?”, “Aku tidak ikut mengejek,” atau “Ayo kita cari Bu Guru.” Kalimat sederhana ini memberi dukungan tanpa memancing konfrontasi. Jika korban tidak ingin bercerita saat itu, anak dapat tetap berada di dekatnya atau memberi tahu guru secara pribadi. Jangan memaksa korban menjelaskan kejadian di depan teman-teman.
Ajarkan anak tidak menyalahkan korban dengan pertanyaan seperti “Kenapa kamu tidak melawan?” atau “Kenapa kamu berbeda?” Beri pesan bahwa setiap anak berhak aman dan dihormati. Jika ia tidak tahu harus berkata apa, cukup katakan, “Aku melihat kamu tidak nyaman. Mau aku temani mencari bantuan?”
Libatkan orang dewasa dengan informasi yang jelas
Anak dapat melaporkan apa yang ia lihat: siapa yang terlibat, kapan dan di mana kejadian berlangsung, apa yang dilakukan, serta apakah ada risiko keselamatan. Ia tidak harus menyimpulkan niat pelaku atau menyebarkan cerita ke seluruh kelas. Guru, wali kelas, konselor, atau orang tua dapat menindaklanjuti sesuai prosedur sekolah.
Jika kejadian berulang, ada cedera, ancaman, pemerasan, atau kekerasan, jangan menunggu anak menyelesaikan sendiri. Orang tua perlu berkomunikasi dengan sekolah dan mencatat kejadian secara faktual. Hindari menghadapi anak lain secara agresif atau menyebarkan identitas mereka di media sosial. Fokus pada perlindungan anak dan penghentian perilaku.
Dukung anak yang menjadi saksi maupun korban
Anak yang menyaksikan perundungan dapat merasa bersalah karena diam. Jangan menambah beban dengan berkata, “Kamu pengecut.” Tanyakan apa yang membuatnya takut dan susun pilihan aman untuk lain kali. Ia dapat belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti melawan; kadang keberanian adalah mencari bantuan yang tepat.
Jika anak sendiri menjadi sasaran, dengarkan tanpa menginterogasi. Tegaskan bahwa ia tidak pantas diperlakukan buruk dan orang dewasa akan membantu. Jangan meminta anak mengubah penampilan, minat, atau kepribadian agar perundungan berhenti. Tindakan utama harus ditujukan pada perilaku pelaku dan lingkungan yang memungkinkan perundungan berlangsung.
Latih empati melalui cerita dan percakapan sehari-hari
Ketika membaca cerita atau menonton film, tanyakan bagaimana perasaan tokoh yang dikucilkan dan apa yang dapat dilakukan orang lain. Jangan menuntut jawaban tertentu. Anak dapat membayangkan situasi dari sudut pandang berbeda dan memahami bahwa dampak ejekan mungkin lebih berat daripada yang terlihat. Gunakan percakapan ini untuk membangun kepekaan, bukan menguji apakah anak selalu memilih tindakan sempurna.
Orang tua juga dapat menunjukkan empati saat melihat orang lain diperlakukan tidak adil. Hindari membicarakan korban dengan nada menyalahkan atau menjadikan pengalaman orang sebagai bahan gosip. Anak belajar dari cara orang dewasa mendengarkan, melindungi privasi, dan mencari bantuan.
Jaga keselamatan dan kesehatan emosi anak
Setelah melaporkan kejadian, anak mungkin perlu waktu untuk merasa aman kembali. Tanyakan apakah ia khawatir bertemu pelaku, takut dianggap pengadu, atau merasa bersalah. Bicarakan langkah perlindungan bersama guru dan keluarga. Jika kecemasan, gangguan tidur, atau keengganan sekolah berlangsung, pertimbangkan bantuan tenaga profesional.
Empati bukan kewajiban untuk menanggung risiko demi orang lain. Anak dapat peduli, memilih tindakan aman, dan meminta dukungan. Ketika lingkungan sekolah dan keluarga bekerja sama, anak belajar bahwa perundungan bukan urusan korban seorang diri. Semua orang dewasa memiliki tanggung jawab menciptakan ruang yang aman.
Jangan membebankan tanggung jawab menghentikan perundungan pada anak saksi
Anak yang melihat perundungan mungkin hanya mampu pergi dan melapor, terutama jika pelaku lebih besar atau jumlahnya banyak. Tindakan itu tetap berarti. Jangan menyalahkan saksi karena tidak langsung membela korban secara terbuka. Orang dewasa yang bertanggung jawab harus menangani keamanan dan menindaklanjuti laporan. Anak dapat diberi tahu perkembangan seperlunya tanpa membuka informasi pribadi pihak lain.
Setelah kejadian, tanyakan bagaimana perasaan anak. Saksi pun bisa takut, marah, atau merasa bersalah. Beri ruang untuk bercerita dan bantu ia mengetahui siapa yang dapat dihubungi di sekolah. Jika ia terus merasa cemas atau takut datang ke sekolah, bicarakan dengan guru atau tenaga profesional. Empati perlu disertai perlindungan bagi saksi dan korban.
Jangan menyebarkan cerita korban demi mengajarkan empati
Ketika anak menceritakan perundungan, jaga privasi teman yang menjadi sasaran. Jangan meminta anak mengulang cerita kepada banyak orang atau menyebarkannya di grup keluarga. Informasikan hanya kepada orang dewasa dan pihak sekolah yang perlu mengetahui agar perlindungan dapat dilakukan. Anak belajar bahwa membantu tidak berarti menjadikan pengalaman sulit seseorang sebagai bahan pembicaraan.
Jika korban tidak ingin ditemani atau belum siap bercerita, hormati pilihannya sambil memastikan orang dewasa yang bertanggung jawab mengetahui risiko. Anak dapat menawarkan dukungan tanpa memaksa. Empati berarti memperhatikan kebutuhan orang lain, bukan mengambil alih keputusan mereka.
Pembahasan ini dapat dilengkapi dengan bacaan tentang anak menjadi saksi perundungan, mengajarkan empati kepada anak lewat teladan orang tua yang mau mendengarkan, serta mengenali perundungan dari cerita anak dan menentukan langkah aman.










