Seorang ibu dan anak usia sekolah duduk berhadapan di ruang keluarga, berbicara dengan tenang setelah berbeda pendapat.
Percakapan yang tenang membantu anak belajar menyampaikan keberatan tanpa merendahkan orang lain.
Komunikasi & Kedekatan Orang Tua-Anak

Saat Anak Menjawab dengan Nada Menantang: Cara Orang Tua Merespons Tanpa Memperkeruh Suasana

Anak boleh tidak setuju, tetapi tetap perlu belajar menyampaikan keberatan dengan hormat. Kenali penyebab jawaban yang terasa menantang dan cara merespons tanpa membungkam percakapan.

“Kamu tuh selalu begitu!”

Kalimat itu bisa muncul ketika orang tua mengingatkan anak mengerjakan tugas, meminta ponsel disimpan, atau menanyakan pekerjaan rumah. Nada anak meninggi. Orang tua ikut panas. Dalam beberapa detik, pembicaraan yang semula sederhana berubah menjadi adu suara.

Situasi seperti ini sering disebut backtalk, istilah bahasa Inggris untuk jawaban yang terdengar membantah, ketus, atau tidak menghormati lawan bicara. Namun, label itu perlu digunakan hati-hati. Anak yang berkata, “Aku tidak setuju,” belum tentu sedang bersikap tidak sopan. Ia boleh punya pendapat sendiri. Yang perlu dibatasi adalah cara berbicara yang melukai, merendahkan, mengancam, atau membuat percakapan tidak lagi aman.

Tujuan orang tua bukan membuat anak selalu menjawab “iya”. Tujuannya lebih jauh: anak belajar menyampaikan keberatan dengan jelas, sementara orang tua tetap mampu menjaga batas tanpa mempermalukan atau membungkamnya.

Bedakan keberatan, nada kesal, dan ucapan yang merendahkan

Sebelum menegur, dengarkan kalimat anak sampai selesai. Coba pisahkan tiga hal: isi pesan, emosi yang sedang dirasakan, dan cara pesan itu disampaikan. Misalnya, “Aku capek, boleh kerjakan setelah makan?” berisi permintaan yang bisa dibicarakan. “Aku kesal karena tugasnya banyak” menunjukkan emosi. Sementara “Ibu bodoh, diam saja!” sudah menyerang pribadi dan perlu diberi batas.

Ketiganya tidak sebaiknya direspons dengan cara yang sama. Jika setiap penolakan dianggap melawan, anak bisa belajar bahwa ia hanya boleh bicara ketika setuju. Sebaliknya, jika ucapan yang menghina dibiarkan tanpa batas, anak kehilangan kesempatan memahami bahwa orang lain juga berhak diperlakukan dengan hormat.

Orang tua dapat menyampaikan perbedaan ini dengan kalimat sederhana: “Kamu boleh tidak setuju dengan keputusan Ayah. Kamu juga boleh menjelaskan alasannya. Tetapi menghina atau membentak bukan cara yang bisa kita gunakan.” Pesan tersebut tegas tanpa menolak perasaan anak.

Mengapa jawaban anak bisa terdengar menantang?

Tidak ada satu penyebab yang berlaku untuk semua anak. Kadang-kadang, respons tajam muncul saat anak lelah sepulang sekolah, lapar, merasa dipermalukan, sedang terburu-buru, atau belum tahu cara menyatakan keberatan. Pada usia sekolah dan praremaja, anak juga mulai menginginkan ruang untuk berpendapat dan ikut mengambil keputusan. Perubahan ini bisa memunculkan gesekan ketika aturan keluarga masih disampaikan sebagai perintah satu arah.

Perhatikan pula pola komunikasi di rumah. Anak mendengar bukan hanya isi ucapan orang tua, melainkan juga nada dan cara orang dewasa menghadapi perbedaan. Jika orang tua sering menyindir, memotong pembicaraan, atau membentak ketika kesal, anak dapat meniru pola yang sama. Ini bukan berarti orang tua harus menyalahkan diri sendiri; ini kesempatan untuk memperbaiki kebiasaan bersama.

American Academy of Pediatrics mengingatkan pentingnya mendengar secara aktif, menghormati gagasan dan perasaan anak, serta memilih waktu yang tepat untuk berbicara. Anak yang baru pulang sekolah mungkin perlu jeda sebelum diajak membahas masalah. Prinsip komunikasi tersebut dapat dibaca dalam panduan komunikasi dengan anak dari HealthyChildren.

Apa yang bisa dilakukan ketika nada mulai meninggi?

Di tengah pertengkaran, nasihat panjang jarang membantu. Anak mungkin belum siap mendengar penjelasan, dan orang tua pun sedang berusaha mengendalikan emosi. Cobalah urutan singkat berikut.

  1. Hentikan eskalasi. Turunkan volume suara dan kurangi kata-kata. Bila memungkinkan, hentikan percakapan sebentar. “Kita sedang sama-sama kesal. Kita jeda dulu, lalu bicara lagi.”
  2. Akui emosi tanpa menyetujui ucapan yang menyakiti. “Ayah dengar kamu kecewa karena waktunya bermain selesai. Kecewa boleh, menghina tidak.”
  3. Nyatakan batas secara spesifik. Hindari kalimat seperti “Kamu memang anak tidak sopan”. Sebut perilakunya: “Saya tidak akan melanjutkan percakapan ketika ada makian.”
  4. Kembali pada masalah awal. Setelah suasana lebih tenang, bicarakan apa yang perlu dilakukan—misalnya menyimpan perangkat, menyelesaikan tugas, atau menyepakati waktu istirahat.

Jeda bukan ancaman dan bukan cara mendiamkan anak. Jelaskan kapan percakapan akan dilanjutkan. Bila orang tua perlu menenangkan diri, katakan dengan jujur: “Ibu perlu beberapa menit supaya bisa bicara dengan tenang. Setelah itu kita lanjutkan.”

Contoh mengubah respons agar percakapan tetap terbuka

Bandingkan respons yang menyerang pribadi dengan respons yang menegaskan batas sekaligus memberi jalan untuk memperbaiki ucapan.

SituasiRespons yang mudah memperkeruhRespons yang lebih membantu
Anak berkata, “Ayah nggak pernah ngerti!”“Kamu itu selalu kurang ajar.”“Kamu merasa Ayah belum memahami ceritamu. Coba jelaskan bagian yang belum Ayah tangkap, tanpa berteriak.”
Anak menolak tugas“Pokoknya diam dan kerjakan!”“Kamu boleh menjelaskan keberatanmu. Tugasnya tetap perlu diselesaikan. Kita atur urutannya.”
Anak mengucapkan hinaan“Lihat saja, nanti kamu menyesal!”“Saya tidak menerima hinaan. Kita berhenti sebentar dan ulangi kalimatmu dengan cara yang tidak merendahkan.”

Kalimat contoh ini bukan naskah wajib. Sesuaikan dengan kebiasaan bicara keluarga dan usia anak. Anak yang lebih kecil mungkin perlu contoh kalimat yang sangat sederhana. Anak yang lebih besar dapat diajak menyusun kesepakatan bersama.

Latih kalimat pengganti saat keadaan sudah tenang

Jangan hanya meminta anak “bicara yang baik”. Tunjukkan bentuk kalimat yang bisa digunakan ketika ia kecewa atau berbeda pendapat. Misalnya: “Aku belum selesai bicara,” “Aku tidak suka kalau dibandingkan,” “Boleh jelaskan alasannya?” atau “Aku butuh waktu sebentar.” Latih ketika suasana sedang baik, bukan hanya sesaat setelah konflik.

Orang tua juga dapat mengundang anak membuat aturan komunikasi keluarga. Bahas hal-hal yang tidak boleh dilakukan—seperti mengejek, memaki, mengancam, atau mempermalukan—dan hal-hal yang boleh dilakukan, seperti meminta jeda, menyampaikan alasan, atau meminta keputusan ditinjau kembali. Kesepakatan akan lebih bermakna jika orang dewasa juga terikat olehnya.

Jika keluarga sering berselisih soal nada bicara, pembahasan dapat disambungkan dengan panduan menyepakati cara berkomunikasi ketika sedang marah. Ketika anak menyampaikan kritik, orang tua juga bisa berlatih mendengar isi pesannya melalui artikel saat anak mengkritik orang tua. Jika pembicaraan mulai menyentuh aturan rumah, baca pula cara menyampaikan batasan tanpa memutus percakapan.

Perubahan perlu dimulai dari dua arah

Orang tua tidak harus selalu tenang dengan sempurna. Ada hari ketika pekerjaan menumpuk, tubuh lelah, dan kesabaran menipis. Jika terlanjur membentak, orang tua dapat kembali setelah keadaan reda dan berkata, “Tadi Ayah bicara terlalu keras. Itu tidak tepat. Ayah tetap perlu membahas aturan tadi, tetapi seharusnya tidak dengan membentak.” Meminta maaf tidak menghapus tanggung jawab anak; justru menunjukkan bahwa aturan menghormati orang lain berlaku untuk semua anggota keluarga.

UNICEF Indonesia juga menekankan pentingnya mendengarkan remaja secara aktif, mengajukan pertanyaan terbuka, dan menghormati pandangan mereka meskipun orang tua tidak selalu sepakat. Prinsip itu dijelaskan dalam kiat berkomunikasi dengan remaja. Pesan ini bukan berarti semua keputusan harus diserahkan kepada anak; orang tua tetap perlu menjaga batas keselamatan dan tanggung jawab keluarga.

Kapan orang tua perlu mencari dukungan?

Jika konflik berlangsung terus-menerus, makin sulit dikendalikan, mengganggu hubungan keluarga atau sekolah, atau disertai ancaman dan tindakan menyakiti, jangan mengandalkan teguran berulang saja. Bicarakan situasinya dengan dokter anak, psikolog, konselor keluarga, atau tenaga profesional yang sesuai. Cari bantuan juga jika anak tampak kesulitan memahami atau menyampaikan bahasa, karena masalah komunikasi dapat membutuhkan penilaian lebih lanjut.

Intinya, anak tidak harus selalu sepakat dengan orang tua. Ia perlu belajar bahwa ketidaksetujuan bisa disampaikan tanpa merendahkan, dan orang tua perlu memperlihatkan hal yang sama. Batas yang jelas akan lebih mudah dipahami ketika disampaikan dengan tenang, konsisten, dan tetap memberi ruang bagi anak untuk didengar.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.