Membeli jajanan kaki lima merupakan bagian dari keseharian banyak keluarga. Anak dapat mengenal makanan lokal, belajar memilih, dan menikmati variasi rasa yang mungkin tidak selalu tersedia di rumah. Namun, karena makanan siap santap sering disajikan di ruang terbuka, orang tua perlu memperhatikan cara makanan disimpan, dimasak, dan diserahkan kepada pembeli.
Tidak ada cara rumahan yang dapat membuat jajanan yang sudah terkontaminasi menjadi pasti aman. Menyiram saus dengan air panas, memanaskan ulang sebentar, atau menyemprot makanan bukan proses sterilisasi yang dapat diandalkan. Pendekatan yang lebih berguna adalah memilih penjual dengan praktik kebersihan yang baik dan menghindari makanan yang penanganannya meragukan.
Amati tempat penjualan sebelum melihat menunya
Lihat apakah makanan terlindung dari debu, asap kendaraan, serangga, dan sentuhan pelanggan. Etalase tertutup atau penutup makanan membantu mengurangi paparan, meskipun tetap bukan jaminan bebas mikroba. Perhatikan pula apakah penjual menggunakan penjepit, sendok, atau sarung tangan dengan cara yang benar. Sarung tangan yang sama untuk memegang uang dan makanan tidak otomatis lebih higienis daripada tangan bersih yang dicuci dengan benar.
Tempat cuci tangan, air bersih, dan area kerja yang tertata merupakan hal positif. Tanyakan dengan sopan bila ada hal yang belum jelas, misalnya apakah es berasal dari sumber air layak konsumsi. Jika penjual tidak dapat menjelaskan bahan atau penanganannya, keluarga dapat memilih makanan lain. Tidak perlu berdebat atau menuduh pedagang.
Pastikan makanan matang dan disajikan sesuai kondisinya
Makanan yang seharusnya panas sebaiknya dimasak hingga matang dan disajikan panas, bukan dibiarkan lama pada suhu ruang. Produk berisi daging cincang, ayam, telur, ikan, atau bahan berprotein lain memerlukan perhatian pada kematangan bagian dalam. Makanan yang disimpan dingin harus tetap berada pada kondisi dingin sesuai jenis produknya. Jika makanan terlihat matang di luar tetapi bagian tengahnya masih dingin atau mentah, jangan berikan kepada anak.
Hindari membeli makanan yang sudah lama dipajang tanpa pelindung, terutama bila mengandung kuah, santan, telur, susu, atau daging. Bau dan tampilan bukan alat uji keamanan yang pasti. Makanan yang tidak berbau aneh tetap dapat mengandung mikroorganisme. Karena itu, waktu pajang, suhu, dan kebersihan penanganan juga perlu dipertimbangkan.
Gunakan lima prinsip keamanan pangan sebagai panduan
WHO merangkum lima prinsip yang relevan untuk konsumen: menjaga kebersihan, memisahkan bahan mentah dan matang, memasak hingga matang, menjaga suhu pangan, serta menggunakan air dan bahan baku yang aman. Saat membeli makanan, orang tua tidak dapat mengawasi seluruh proses, tetapi dapat memperhatikan tanda-tanda apakah prinsip tersebut diterapkan oleh penjual.
- Kebersihan: alat makan dan penjepit terlihat bersih; makanan tertutup saat tidak disajikan.
- Pemisahan: bahan mentah tidak diletakkan bersentuhan dengan makanan matang siap santap.
- Pemasakan: makanan dimasak sampai matang, bukan hanya dipanaskan di permukaan.
- Suhu: makanan panas tetap panas dan makanan yang perlu dingin tidak dibiarkan lama di suhu ruang.
- Air dan bahan: air minum, es, sayuran, dan bahan mentah berasal dari sumber yang layak.
Baca pedoman aslinya di WHO Five Keys to Safer Food. Prinsip ini juga membantu orang tua menilai jajanan sekolah dari sisi keamanan dan gizi dan penanganan bekal dari rumah sampai waktu makan.
Pilih jenis jajanan dengan mempertimbangkan situasi
Makanan yang baru dimasak dan disajikan segera sering lebih mudah dinilai daripada makanan yang sudah lama berada di etalase terbuka. Pilih porsi yang akan langsung dimakan, bukan membeli banyak lalu menyimpannya berjam-jam di kendaraan. Bila keluarga bepergian jauh, makanan yang cepat rusak lebih baik dikonsumsi sesegera mungkin atau dibawa dalam wadah dan suhu yang sesuai.
Buah potong dan minuman es juga memerlukan perhatian. Kulit buah yang utuh melindungi bagian dalam, tetapi buah potong lebih banyak tersentuh alat dan permukaan. Es yang tampak bening tidak membuktikan sumber airnya aman. Tanyakan sumber air atau pilih produk kemasan yang memiliki identitas dan kondisi kemasan baik bila ragu.
Hindari cara “membersihkan” yang justru menambah risiko
Jangan menggunakan sabun, cairan pembersih rumah tangga, disinfektan permukaan, atau bahan kimia lain pada makanan. Jangan pula mengandalkan pemanasan sebentar sebagai pengganti proses memasak yang benar. Jika makanan dirasa meragukan, pilihan paling aman adalah tidak mengonsumsinya. Untuk anak, hindari memberi rasa sedikit hanya untuk memastikan rasa atau tekstur; mencicipi bukan cara mendeteksi cemaran.
Jika membeli makanan kemasan dari pedagang, periksa kemasan tidak bocor, menggembung, sobek, atau rusak. Pastikan label terbaca, tanggal kedaluwarsa jelas, dan produk disimpan sesuai petunjuk. BPOM menganjurkan konsumen melakukan Cek KLIK—kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa—untuk pangan olahan terkemas. Lihat penjelasan BPOM tentang Cek KLIK dan penandaan kedaluwarsa pada pangan olahan.
Libatkan anak tanpa membebani tanggung jawabnya
Anak dapat dilatih memperhatikan apakah makanan tertutup, apakah penjual memakai alat bersih, dan apakah ia mencuci tangan sebelum makan. Namun, anak tidak perlu mengambil keputusan rumit atau menilai risiko yang tidak terlihat. Orang tua tetap bertanggung jawab memilih tempat dan menentukan makanan yang sesuai usia, kebutuhan, serta alergi anak.
Buat pertanyaan sederhana ketika berjalan bersama: “Makanan mana yang baru dibuat?” atau “Di mana penjual menyimpan makanan yang belum dimasak?” Dengan begitu anak belajar mengamati, bukan mencurigai semua pedagang. Beri penjelasan bahwa praktik yang bersih melindungi pembeli sekaligus menghargai kerja penjual yang menjaga kualitas dagangannya.
Kapan perlu mencari bantuan kesehatan?
Jika setelah makan anak mengalami muntah, diare, demam, atau sakit perut, perhatikan waktu mulai dan berapa sering keluhan terjadi. Pastikan anak mendapat cairan sesuai kemampuan dan cari saran tenaga kesehatan bila keluhan mengganggu. Segera cari pertolongan bila ada tanda dehidrasi, anak sangat lemas, tidak mampu minum, darah pada tinja, nyeri hebat, atau gejala berat lainnya. Jangan memberikan obat antidiare atau antibiotik tanpa arahan tenaga kesehatan.
Penutup: pilih dengan cermat, bukan merasa semua jajanan harus steril
Tujuan memilih jajanan kaki lima bukan membuat makanan di luar rumah menjadi bebas risiko secara mutlak. Fokus pada hal yang dapat diamati: perlindungan makanan, kebersihan alat, pemisahan bahan, kematangan, suhu, dan sumber air. Jika ada keraguan yang tidak dapat dijawab, tinggalkan pilihan tersebut. Kebiasaan menilai dengan tenang lebih bermanfaat daripada mencoba mensterilkan jajanan setelah dibeli.
Tanda untuk memilih tempat lain
Orang tua tidak harus menunggu melihat tanda kerusakan makanan sebelum memutuskan pergi. Bila makanan siap santap diletakkan di dekat sampah atau selokan, alat penjepit tampak sangat kotor, penjual menangani uang dan makanan tanpa membersihkan tangan atau mengganti alat, atau air dan es tidak jelas sumbernya, keluarga dapat memilih penjual lain. Ini bukan vonis bahwa pedagang tertentu pasti menjual makanan tercemar. Ini keputusan pencegahan berdasarkan hal yang terlihat dan dapat ditanyakan dengan sopan.
Jangan menjadikan satu ciri, seperti makanan yang kenyal atau warna tertentu, sebagai bukti adanya bahan berbahaya. Ciri fisik hanya alasan untuk berhati-hati. Untuk produk kemasan, gunakan informasi pada label dan saluran resmi; untuk makanan siap saji, pertimbangkan proses, kebersihan, suhu, dan waktu penyajian. Orang tua juga dapat berdiskusi dengan sekolah mengenai kantin dan akses air minum melalui panduan menilai lingkungan kantin sekolah.










