Orang tua berbicara tenang dengan anak usia sekolah sambil meletakkan tempat pensil yang perlu dikembalikan di atas meja.
Percakapan pribadi yang tenang membantu anak memahami kesalahan, mengembalikan barang, dan belajar bertanggung jawab tanpa dipermalukan.
Pola Asuh & Disiplin

Saat Anak Mengambil Barang Orang Lain: Mengajarkan Kejujuran Tanpa Mempermalukan

Anak mengambil barang yang bukan miliknya? Pelajari cara mencari tahu duduk perkaranya, mengembalikan barang, memberi konsekuensi yang masuk akal, dan mengajarkan kejujuran tanpa memberi cap buruk pada anak.

Bayangkan anak pulang sekolah membawa penghapus lucu yang tidak pernah dibelikan keluarga. Saat ditanya, ia menjawab pelan, “Punya teman, tapi aku suka.” Di titik ini, orang tua mungkin kaget, malu, atau langsung marah. Perasaan itu bisa dimengerti. Namun, respons pertama orang tua akan sangat memengaruhi apakah anak berani jujur, memahami kesalahannya, dan belajar memperbaikinya.

Mengambil barang milik orang lain tanpa izin memang perlu dihentikan. Tetapi satu kejadian tidak otomatis menjadikan anak “pencuri” atau anak yang tidak punya nilai moral. Yang perlu kita tangani adalah perilakunya, sambil tetap menjaga harga diri anak. Tujuannya bukan membuat anak takut ketahuan, melainkan membantunya memahami hak orang lain, bertanggung jawab, dan memilih tindakan yang lebih tepat saat menginginkan sesuatu.

Artikel ini membahas situasi ketika anak membawa atau memakai barang yang jelas bukan miliknya tanpa persetujuan pemilik. Ini berbeda dari anak yang menemukan barang tercecer lalu belum tahu harus berbuat apa. Untuk situasi menemukan barang, orang tua bisa membaca panduan mengajarkan anak mengembalikan barang yang ditemukan.

Mulai dari memahami apa yang sebenarnya terjadi

Sebelum memberi konsekuensi, pastikan dulu duduk perkaranya. Barang itu mungkin dipinjamkan, tertukar, diberikan sebagai hadiah, atau memang diambil tanpa izin. Anak juga bisa membawa barang milik saudara karena mengira semua benda di rumah boleh dipakai bersama. Jangan langsung menyimpulkan niat sebelum mendengar penjelasan.

Pilih waktu yang cukup tenang dan berbicara secara pribadi. Hindari menegur anak di depan teman, saudara, atau orang banyak. Kalimat pembuka yang netral bisa membantu, misalnya, “Ayah menemukan mobil kecil ini di tasmu. Ayah ingin tahu bagaimana mobil ini bisa ada di sana.” Pertanyaan seperti ini membuka ruang untuk cerita. Sebaliknya, “Kamu mencuri, ya?” sudah berisi tuduhan dan bisa membuat anak lebih sibuk membela diri daripada menjelaskan.

Dengarkan sampai selesai. Jika cerita anak berubah-ubah, jangan buru-buru menginterogasi. Sampaikan fakta yang diketahui dengan singkat, lalu tanyakan bagian yang belum jelas. Orang tua tetap boleh tegas: barang itu tidak boleh disimpan atau digunakan sebelum pemiliknya memberi izin. Mendengarkan bukan berarti membenarkan tindakan.

Kenapa anak bisa mengambil barang yang bukan miliknya?

Alasannya tidak selalu sama, dan satu perilaku tidak cukup untuk menyimpulkan penyebab tertentu. Anak kecil mungkin belum memahami kepemilikan secara matang. Ada juga anak yang tahu aturan, tetapi tergoda karena sangat menginginkan barang tersebut, belum mampu menahan dorongan, ingin terlihat keren di depan teman, merasa tertinggal dari saudara, atau tidak tahu cara meminta.

American Academy of Child and Adolescent Psychiatry menjelaskan bahwa pemahaman anak tentang hak milik berkembang seiring usia. Anak yang lebih besar pun dapat mengambil barang karena tekanan teman sebaya, rasa tidak adil, keinginan diterima, atau kebutuhan emosional. Daftar kemungkinan itu bukan alat untuk menebak motif anak; gunakan sebagai pertanyaan untuk memahami konteks, bukan sebagai label.

Karena itu, pertanyaan yang berguna bukan hanya “Mengapa kamu melakukan ini?”, tetapi juga: “Kamu ingin barang itu untuk apa?”, “Apa yang kamu pikir akan terjadi kalau meminta izin?”, “Apakah ada teman yang menyuruhmu?”, atau “Apakah kamu merasa sulit mengatakan bahwa kamu menginginkannya?” Sesuaikan bahasa dengan usia. Anak tidak selalu mampu menjelaskan alasan yang rumit, jadi jangan memaksakan jawaban.

Langkah yang bisa dilakukan orang tua

1. Tegaskan aturan tanpa menyerang identitas anak

Gunakan kalimat yang memisahkan perbuatan dari pribadi anak. Contohnya, “Mengambil barang tanpa izin itu tidak boleh. Barang ini milik Raka, jadi kita harus mengembalikannya.” Hindari sebutan seperti “pencuri”, “anak nakal”, atau “tidak punya hati”. Label dapat melekat lebih lama daripada pelajaran yang ingin disampaikan.

Aturan juga perlu konkret. Jelaskan bahwa barang milik orang lain tidak boleh dibawa pulang, dipakai, dipindahkan, atau disimpan tanpa izin. “Kalau ingin meminjam, tanyakan dulu. Kalau pemiliknya bilang tidak, kita harus menghormati jawabannya.” Untuk melatih kebiasaan ini, orang tua dapat menggunakan contoh sehari-hari melalui artikel cara mengajarkan anak meminta izin sebelum memakai barang orang lain.

2. Kembalikan barang dan perbaiki dampaknya

Langkah berikutnya bukan sekadar meminta anak berjanji tidak mengulanginya. Barang perlu kembali kepada pemiliknya. Jika barang rusak atau hilang, bicarakan cara mengganti atau memperbaiki sesuai kemampuan keluarga dan usia anak. Untuk anak sekolah, orang tua bisa menemaninya menyerahkan barang kepada guru atau pemiliknya, terutama jika situasinya terjadi di sekolah.

Permintaan maaf sebaiknya tulus, bukan pertunjukan untuk mempermalukan anak. Bantu anak menyusun kalimat sederhana: “Aku mengambil tempat pensilmu tanpa izin. Maaf. Ini aku kembalikan. Lain kali aku akan bertanya dulu.” Jangan memaksakan anak berpidato panjang di depan kelas. Yang lebih penting ialah mengakui tindakan, mengembalikan hak pemilik, dan belajar apa yang perlu dilakukan lain kali.

American Academy of Child and Adolescent Psychiatry menyarankan agar anak tidak memperoleh keuntungan dari tindakan mengambil barang, serta dibantu mengembalikan atau mengganti barang tersebut. Setelah perbaikan dilakukan, jangan terus-menerus mengungkit kejadian yang sama. Anak perlu kesempatan memulai lagi dengan perilaku yang lebih baik.

3. Beri konsekuensi yang berhubungan dengan tindakan

Konsekuensi yang masuk akal membantu anak melihat hubungan antara tindakan dan dampaknya. Jika anak mengambil mainan temannya, ia perlu mengembalikan mainan itu dan untuk sementara tidak membawa pulang barang teman. Jika barang rusak, ia dapat ikut membantu memperbaiki atau mengganti dengan cara yang sesuai usia. Konsekuensi bukan balas dendam orang tua.

Hindari hukuman yang tidak berhubungan, seperti melarang semua kegiatan menyenangkan selama berminggu-minggu, mempermalukan di grup keluarga, atau memukul. American Academy of Pediatrics menganjurkan disiplin yang mengajarkan perilaku melalui penjelasan tenang, batas yang jelas, mendengarkan anak, serta konsekuensi yang konsisten. Prinsip ini dapat membantu orang tua mengoreksi perbuatan tanpa merusak hubungan.

4. Latih cara mendapatkan sesuatu dengan tepat

Anak perlu memiliki kalimat pengganti yang dapat dipakai saat menginginkan barang. Latih melalui permainan peran di rumah. Orang tua berpura-pura menjadi pemilik mainan, lalu anak berlatih berkata, “Boleh aku pinjam sampai selesai bermain?” atau “Boleh aku coba sebentar?” Ajarkan juga menerima jawaban “tidak” dan menunggu giliran.

Jika anak menginginkan barang yang tidak mampu dibeli keluarga, jelaskan batas keuangan dengan jujur tanpa mempermalukannya. Ajak mencari pilihan: menabung, meminjam dengan izin, membuat versi sederhana, atau menerima bahwa barang itu belum bisa dimiliki. Anak belajar bahwa keinginan boleh ada, tetapi tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga.

5. Periksa konteks sosial dan kebutuhan emosional

Jika kejadian berlangsung di sekolah, bicaralah dengan guru secara tenang. Tanyakan apakah ada tekanan dari teman, ejekan, perundungan, atau pola anak mengambil barang untuk diterima kelompok. Jangan langsung menyalahkan sekolah atau teman; kumpulkan informasi dari orang dewasa yang melihat kejadian.

Di rumah, perhatikan apakah anak sedang mengalami perubahan besar, konflik saudara, kesulitan berteman, atau merasa kurang diperhatikan. Itu bukan pembenaran untuk mengambil barang, tetapi bisa menjadi konteks yang perlu dibantu. Beri kesempatan anak bercerita tanpa takut setiap pengakuan akan berujung pada kemarahan. Bila anak juga sering berbohong karena takut dimarahi, pendekatan dalam artikel mendampingi anak agar berani berkata jujur dapat menjadi bacaan pendamping.

Ilustrasi: ketika anak membawa pulang barang temannya

Contoh berikut adalah ilustrasi gabungan untuk membantu membayangkan percakapan, bukan kesaksian keluarga tertentu. Seorang anak kelas tiga SD membawa pulang penghapus berbentuk hewan dari sekolah. Ketika ditanya, ia mengaku mengambilnya karena teman sekelas punya dua dan ia menyukai bentuknya.

Orang tua bisa berkata, “Terima kasih sudah cerita. Ayah senang kamu mau jujur. Namun, mengambil penghapus itu tanpa izin tetap salah. Besok kita cari cara mengembalikannya.” Keduanya lalu berlatih kalimat permintaan maaf. Orang tua juga bertanya apakah anak ingin memiliki penghapus serupa dan membahas cara menabung jika keluarga memang belum dapat membelinya.

Di sini ada dua pesan yang berjalan bersamaan: kejujuran anak saat mengakui kejadian dihargai, tetapi tindakannya tetap harus diperbaiki. Jangan memberi kesan bahwa karena anak sudah mengaku, barang boleh disimpan. Kejujuran dan tanggung jawab saling melengkapi.

Kapan orang tua perlu mencari bantuan?

Satu kejadian tidak otomatis menandakan gangguan perilaku. Namun, mintalah bantuan dokter anak atau psikolog/psikiater anak bila pengambilan barang terus berulang meskipun aturan dan konsekuensi sudah dijelaskan, anak tampak tidak peduli pada dampak terhadap orang lain, perilaku muncul bersama masalah serius lain, atau keluarga kesulitan memahami apa yang memicu kejadian. Cari bantuan lebih cepat bila ada tanda anak mengalami tekanan, kekerasan, eksploitasi, atau perundungan.

Profesional dapat membantu menilai konteks perkembangan, emosi, lingkungan rumah dan sekolah, serta kebutuhan anak. Orang tua tidak perlu menunggu masalah menjadi besar untuk berkonsultasi. Tujuannya bukan mencari cap atau diagnosis secepat mungkin, melainkan menemukan cara yang aman dan sesuai untuk membantu anak.

Yang perlu anak ingat setelah kejadian

Pesan akhirnya sederhana: barang orang lain harus dihormati, meminta izin adalah kebiasaan, dan kesalahan perlu diperbaiki. Anak boleh melakukan kesalahan, tetapi ia juga perlu belajar mengambil tanggung jawab. Orang tua dapat menunjukkan contoh melalui hal kecil—mengembalikan barang pinjaman, tidak membawa pulang perlengkapan kantor, dan meminta izin sebelum menggunakan milik anggota keluarga.

Kejujuran tumbuh melalui latihan berulang dalam hubungan yang aman dan batas yang jelas. Tegas pada perilaku, lembut pada anak, dan konsisten pada perbaikan. Dengan begitu, rumah bukan tempat anak belajar menyembunyikan kesalahan, melainkan tempat ia belajar mengakuinya dan melakukan hal yang benar setelahnya.

Rujukan: Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan Kemendikdasmen – Standar Nasional Pendidikan; American Academy of Child and Adolescent Psychiatry – Stealing in Children and Adolescents; American Academy of Pediatrics – What’s the Best Way to Discipline My Child?.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.