Orang tua terkadang menghubungkan pengalaman bayi dengan keadaan anak di sekolah. Ketika anak sepuluh tahun sulit memulai pertemanan atau tampak kurang nyaman dalam kelompok, muncul pertanyaan apakah kelekatan pada masa bayi ikut berperan. Pertanyaan ini dapat membuka pembahasan tentang hubungan awal, tetapi jawabannya tidak bisa ditentukan hanya dari satu riwayat masa kecil.
Hubungan yang responsif dengan pengasuh pada awal kehidupan merupakan bagian penting dari lingkungan perkembangan. Anak belajar bahwa sinyal dan kebutuhannya diperhatikan. Namun, kemampuan berteman pada usia sekolah juga dipengaruhi temperamen, pengalaman di rumah, hubungan dengan saudara, kesempatan bermain, budaya sekolah, dukungan guru, dan pengalaman dengan teman sebaya.
Apa yang dimaksud kelekatan?
Kelekatan menggambarkan ikatan emosional anak dengan pengasuh yang menjadi sumber rasa aman. Bayi mengembangkan pengalaman hubungan melalui respons orang dewasa terhadap tangisan, isyarat, dan kebutuhan sehari-hari. Kelekatan bukan berarti orang tua harus selalu hadir setiap detik atau tidak boleh membuat bayi menunggu sebentar ketika kebutuhan mendesak lain harus ditangani.
Pengasuhan responsif juga tidak menuntut orang tua sempurna. Ada saat ketika orang tua terlambat memahami tangisan atau sedang kelelahan. Yang lebih penting adalah pola hubungan secara keseluruhan dan kemampuan kembali merespons serta memperbaiki interaksi.
Hubungan awal bukan ramalan pertemanan
Penelitian tentang kelekatan membahas kaitannya dengan berbagai aspek sosial dan emosional, tetapi tidak berarti seorang anak yang mengalami tantangan pada masa bayi pasti kesulitan berteman. Hubungan sosial terbentuk melalui pengalaman bertahun-tahun dan dapat berubah. Anak yang pemalu dapat memiliki hubungan dekat dengan beberapa teman, sementara anak yang mudah bergaul juga tetap membutuhkan dukungan saat menghadapi konflik.
Hindari memberi label seperti “tidak aman sejak bayi” atau “sulit bersosialisasi karena dulu jarang digendong”. Kesimpulan semacam itu terlalu jauh dan dapat membuat orang tua menyalahkan diri atau anak. Perhatikan kebutuhan sosial anak saat ini dan bagaimana lingkungan dapat mendukungnya.
Lihat pengalaman sosial anak di sekolah dan rumah
Tanyakan bagaimana anak merasa saat bermain dengan teman, apakah ia memiliki satu atau beberapa teman yang dipercaya, dan kegiatan kelompok seperti apa yang membuatnya nyaman. Informasi dari guru dapat membantu memahami situasi, tetapi hindari mengubah percakapan menjadi interogasi. Ada anak yang lebih mudah bercerita saat melakukan kegiatan bersama daripada duduk berhadapan.
Di rumah, interaksi dengan saudara atau sepupu dapat memberi kesempatan berlatih bergiliran, bernegosiasi, dan menyampaikan pendapat. Namun, hubungan saudara berbeda dari pertemanan. Jangan menganggap anak harus selalu akur dengan kakak atau adiknya untuk dianggap memiliki keterampilan sosial yang baik.
Dukung keterampilan sosial yang dapat dipelajari sekarang
Orang tua dapat mengajak anak memikirkan cara bergabung dalam permainan, mengajukan pertanyaan, atau menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan teman. Latihan dapat dilakukan melalui permainan peran sederhana. Misalnya, anak mencoba kalimat, “Boleh aku ikut bermain?” atau “Aku ingin giliran setelah kamu.”
Jangan memaksa anak mengikuti kelompok yang membuatnya tidak aman atau terus-menerus mengejek. Keterampilan sosial bukan berarti harus menyenangkan semua orang. Anak juga perlu belajar mengenali batas, memilih teman yang menghormatinya, dan meminta bantuan orang dewasa ketika terjadi perundungan.
Ketika anak tampak menarik diri
Perubahan pertemanan dapat muncul karena banyak hal, seperti pergantian kelas, konflik, kesulitan akademik, kecemasan, atau pengalaman yang tidak nyaman. Jika anak tiba-tiba tidak mau sekolah, sering mengeluh, kehilangan minat, atau terlihat sangat tertekan, ajak bicara dan hubungi guru atau tenaga profesional sesuai kebutuhan.
Jika kesulitan sosial berlangsung lama dan mengganggu keseharian, konsultasi dengan psikolog anak dapat membantu memahami faktor yang terlibat. Penilaian profesional tidak didasarkan pada dugaan tentang kelekatan masa bayi saja, tetapi mempertimbangkan perkembangan dan lingkungan anak sekarang.
Hubungan dapat terus dibangun
Orang tua dapat menjaga komunikasi yang terbuka dan responsif sepanjang masa anak bertumbuh. Anak sepuluh tahun masih membutuhkan orang dewasa yang mau mendengarkan, menghormati perasaan, dan membantu mencari solusi ketika pertemanan sulit. Pengalaman masa bayi penting sebagai bagian dari perjalanan keluarga, tetapi bukan label permanen bagi masa depan sosial anak.
Persahabatan di sekolah dibentuk oleh lebih dari satu pengalaman
Kelekatan dengan pengasuh dapat menjadi salah satu bagian dari pengalaman sosial awal, tetapi hubungan pertemanan di SD tidak dapat diprediksi hanya dari cerita masa bayi. Anak belajar bergaul melalui interaksi dengan keluarga, teman sebaya, guru, lingkungan, kesempatan bermain, dan pengalaman menyelesaikan konflik. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menghubungkan satu pertengkaran di sekolah dengan pola pengasuhan bayi tanpa bukti yang cukup.
Dukung keterampilan sosial yang sedang dibutuhkan
Jika anak kesulitan mempertahankan pertemanan, tanyakan situasi spesifik: apakah ia sulit bergabung dalam permainan, memahami giliran, menyampaikan keberatan, atau menghadapi ejekan. Diskusikan contoh dan latih kalimat sederhana di rumah. Libatkan guru bila pola terjadi berulang di sekolah. Dukungan yang diberikan berdasarkan masalah sekarang lebih bermanfaat daripada menyalahkan masa awal kehidupan.
Perhatikan apakah anak merasa diterima di kelompoknya
Hubungan pertemanan di SD dipengaruhi pengalaman bermain, aturan kelompok, dukungan guru, dan kesempatan bertemu teman. Orang tua dapat bertanya apakah anak punya teman untuk duduk bersama, bermain saat istirahat, atau meminta bantuan ketika terjadi konflik. Jangan langsung menyuruh anak lebih berani tanpa memahami situasi. Ada perbedaan antara keterampilan yang perlu dilatih dan lingkungan sosial yang tidak aman atau tidak ramah.
Bangun jalur komunikasi dengan sekolah
Jika anak berulang kali pulang dengan cerita dikucilkan, diejek, atau takut masuk sekolah, catat contoh konkret dan bicarakan dengan wali kelas. Kerja sama antara rumah dan sekolah dapat mengidentifikasi apakah masalah terjadi pada situasi tertentu. Hubungan aman dengan pengasuh di rumah dapat menjadi sumber dukungan, tetapi bukan satu-satunya penentu bagaimana anak diterima teman.
Hargai temperamen yang berbeda
Ada anak yang mudah memulai percakapan, ada yang lebih nyaman mengamati sebelum bergabung. Perbedaan tersebut tidak langsung menunjukkan kualitas hubungan masa bayi. Orang tua dapat membantu anak menemukan lingkungan sosial yang sesuai minatnya, misalnya kelompok membaca, olahraga nonkompetitif, atau kegiatan seni. Tujuannya bukan mengubah anak menjadi pribadi yang selalu ramai, tetapi memberi kesempatan menjalin hubungan dengan cara yang nyaman.
Jangan menganggap anak yang pendiam tidak punya teman
Beberapa anak memiliki satu atau dua teman dekat dan merasa nyaman dengan pola itu. Ukuran hubungan sosial bukan jumlah teman atau seberapa sering anak berbicara di depan kelompok. Tanyakan apakah ia merasa aman, diterima, dan dapat meminta bantuan ketika dibutuhkan. Jika anak lebih suka mengamati sebelum bergabung, berikan waktu dan kesempatan tanpa memaksa. Perbedaan temperamen bukan masalah yang harus diperbaiki.
Jika anak ingin memperluas pertemanan, bantu menemukan kegiatan bersama yang sesuai minatnya. Mulai dari pertemuan singkat dan lingkungan yang dikenal, sambil tetap menghormati batas kenyamanannya.










