Game online dapat menjadi tempat anak bekerja sama dan bertemu teman, tetapi ruang interaksi itu juga dapat dipakai untuk mengejek, mengucilkan, mengirim ancaman, atau mempermalukan pemain lain. Perundungan siber atau cyberbullying tidak selalu muncul sebagai pesan panjang. Kadang bentuknya berupa hinaan berulang melalui chat suara, sengaja mengeluarkan anak dari kelompok, menyebarkan tangkapan layar, atau mengajak pemain lain menyerang akun tertentu.
Jika anak tampak takut membuka game, sedih setelah bermain, atau mendadak tidak ingin bertemu teman daringnya, jangan langsung menyimpulkan penyebabnya. Tanyakan apa yang terjadi dengan cara yang membuat anak merasa aman. Perlindungan mental dimulai dengan mendengar dan menanggapi cerita anak, bukan menyalahkannya karena berada di internet.
Apa bentuk cyberbullying di dalam game?
Perilaku merendahkan dapat terjadi melalui teks, suara, nama akun, avatar, hadiah yang dipakai untuk mengejek, atau tindakan dalam permainan yang sengaja mengucilkan seseorang. Satu komentar tidak menyenangkan belum tentu merupakan pola perundungan, tetapi tetap layak dibahas. Perundungan biasanya melibatkan perilaku agresif yang berulang atau ketimpangan kuasa sehingga korban sulit menghentikannya sendiri.
Anak juga dapat mengalami pelecehan dari orang yang tidak dikenalnya, ajakan keluar dari platform, permintaan data pribadi, atau ancaman untuk menyebarkan informasi. Situasi tersebut bisa melampaui cyberbullying dan masuk ke risiko keselamatan digital yang lebih serius. Orang tua perlu membedakan ejekan, konflik sesaat, pelecehan, pemerasan, dan ancaman agar responsnya tepat.
Kenali perubahan yang terlihat tanpa buru-buru mendiagnosis
Anak mungkin terlihat lebih cemas, mudah marah, enggan bermain, sulit tidur, kehilangan minat, atau menjadi sangat waspada terhadap notifikasi. Ada pula anak yang tidak memperlihatkan perubahan jelas, tetapi diam-diam menghindari teman atau menyembunyikan kejadian. Tanda-tanda ini tidak spesifik untuk cyberbullying; masalah sekolah, pertemanan, keluarga, atau kondisi kesehatan juga dapat memengaruhi perilaku.
Perhatikan perubahan dari pola anak sebelumnya dan tanyakan dengan kalimat netral. “Bunda melihat kamu tidak nyaman setelah main tadi. Ada yang membuatmu terganggu?” Hindari memaksa anak menunjukkan semua chat di hadapan saudara atau teman. Jika ia bercerita, ucapkan terima kasih karena sudah mempercayai orang tua. Pastikan ia tidak merasa bertanggung jawab atas perilaku pelaku.
Langkah orang tua saat anak menjadi sasaran
Dengarkan dulu dan pastikan anak berada dalam keadaan aman. Bila memungkinkan, simpan bukti seperti tangkapan layar, nama akun, waktu kejadian, dan tautan sebelum pesan dihapus. Jangan membalas pelaku dengan ancaman atau menyebarkan identitasnya ke media sosial. Setelah bukti diamankan, gunakan fitur blokir dan laporan pada platform. Periksa apakah akun anak dapat dihubungi oleh orang tak dikenal dan ubah setelan privasi.
Jika pelaku berasal dari sekolah atau komunitas yang sama, pertimbangkan menghubungi pihak sekolah atau pengelola komunitas dengan informasi yang jelas. Jelaskan dampak yang dialami anak dan minta langkah perlindungan konkret. Jangan meminta anak menyelesaikan sendiri konflik yang melibatkan ancaman, pelecehan, atau penyebaran informasi pribadi. Jika ada risiko fisik atau pemerasan, cari bantuan pihak berwenang.
Pulihkan rasa aman dan hubungan anak dengan aktivitas sehari-hari
Anak mungkin membutuhkan waktu untuk kembali merasa nyaman. Jangan memaksanya segera bermain lagi atau menganggap ia terlalu sensitif. Tawarkan jeda, kegiatan yang ia nikmati, dan kesempatan bertemu teman yang membuatnya aman. Jaga rutinitas makan dan tidur. Bila ia ingin berhenti dari suatu game atau kelompok, hargai keputusan tersebut sambil membicarakan cara tetap terhubung dengan teman yang positif.
Periksa keadaan emosional anak secara berkala. Tanyakan apakah ia masih mengingat kejadian, apakah merasa takut, dan bantuan apa yang dibutuhkan. Bila gejala seperti kecemasan berat, gangguan tidur, menarik diri, atau kesulitan berfungsi berlangsung atau memburuk, konsultasikan dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental anak. Bantuan profesional bukan berarti orang tua gagal; itu adalah bentuk perlindungan.
Menerjemahkan kesepakatan menjadi kebiasaan
- Tanyakan apa yang terjadi dan dengarkan tanpa menyalahkan. Catat kronologi secara faktual dengan kata-kata anak jika ia bersedia.
- Simpan bukti digital yang relevan, lalu gunakan fitur mute, block, dan report. Periksa ulang chat, daftar teman, serta pengaturan privasi.
- Sepakati orang dewasa tepercaya yang dapat dihubungi anak saat bermain. Bila masalah berlanjut, libatkan sekolah, platform, atau layanan perlindungan sesuai tingkat risikonya.
Menyesuaikan pendampingan dengan usia dan kebutuhan anak
Anak yang lebih kecil membutuhkan bantuan orang tua untuk mengenali ejekan, membedakan bercanda dengan merendahkan, dan menggunakan tombol laporan. Anak usia sekolah yang lebih besar dapat dilatih menyimpan bukti dan meminta bantuan tanpa membalas. Remaja perlu dilibatkan dalam keputusan tentang privasi, tetapi tidak boleh ditinggalkan sendiri menghadapi ancaman atau pemerasan.
Hal yang perlu diperhatikan orang tua
Jangan meremehkan laporan anak dengan mengatakan “cuma game” atau “matikan saja”. Namun, hindari pula menyimpulkan setiap konflik daring sebagai perundungan sistematis. Nilai pengulangan, ketimpangan kuasa, dampak, dan risiko keselamatan. Jika ada ancaman langsung, eksploitasi, pemerasan, atau konten seksual yang melibatkan anak, hentikan interaksi dan segera cari bantuan resmi.
Membedakan konflik sesaat dan perundungan yang berulang
Satu komentar kasar belum tentu menunjukkan pola cyberbullying, tetapi tetap dapat ditangani. Perhatikan apakah perilaku berulang, sengaja menyakiti atau mempermalukan, melibatkan ketimpangan kuasa, dan membuat anak takut atau tertekan. Simpan bukti yang relevan tanpa menyebarkannya, lalu gunakan fitur blokir dan laporan platform.
Jangan meminta anak membalas pelaku atau menyelesaikan masalah seorang diri. Jika ancaman berlanjut, menyangkut data pribadi, pemerasan, atau keselamatan fisik, libatkan orang dewasa tepercaya dan pihak yang berwenang sesuai situasi.
Pertanyaan yang sering muncul
Haruskah orang tua langsung menghapus game?
Tidak selalu. Prioritasnya menghentikan paparan berbahaya dan menjaga bukti. Tergantung situasi, langkah dapat berupa blokir akun pelaku, laporan ke platform, pengaturan privasi, jeda bermain, atau menghentikan penggunaan game tersebut.
Apakah anak perlu membalas pelaku agar tidak dianggap lemah?
Tidak. Membalas dengan hinaan dapat memperburuk keadaan. Ajarkan anak keluar dari percakapan, menyimpan bukti, memblokir, melaporkan, dan meminta bantuan orang dewasa.
Bacaan terkait di BisaBaca
- mengenali perundungan melalui cerita anak
- mendampingi kesulitan pertemanan anak
- mendampingi kecemasan anak
Rujukan untuk memahami topik lebih lanjut
UNICEF Indonesia menjelaskan bahwa perundungan dapat berlangsung di game melalui pesan kasar, ejekan, atau pengucilan. Baca UNICEF Indonesia: Apa itu cyberbullying? untuk melihat pedoman atau penjelasan sumber aslinya.
Panduan ini membahas langkah dukungan, penyimpanan bukti, pengaturan privasi, pemblokiran, dan pelaporan setelah pengalaman daring yang buruk. Baca UNICEF: mendukung anak setelah pengalaman negatif online untuk melihat pedoman atau penjelasan sumber aslinya.
Mulai dari perubahan yang bisa dijalankan bersama
Anak perlu mengetahui bahwa masalah yang terjadi di ruang digital tetap nyata bagi perasaannya. Orang tua tidak harus memahami setiap istilah game untuk dapat membantu. Dengarkan, simpan bukti, kurangi kontak dengan pelaku, laporkan perilaku yang melanggar, dan pulihkan rasa aman anak secara bertahap.










