Anak yang mengumpat ketika kalah atau kesal saat bermain game online dapat membuat orang tua khawatir. Bahasa kasar mungkin berasal dari teman bermain, konten yang ditonton, atau kebiasaan yang terbentuk ketika anak merasa frustrasi. Namun, orang tua tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa game adalah satu-satunya penyebab. Yang perlu ditangani adalah kata dan perilaku yang menyakiti orang lain, sekaligus emosi yang mendahuluinya.
Batas terhadap umpatan perlu tegas, tetapi tetap mengajarkan. Anak perlu memahami bahwa marah boleh dirasakan, sedangkan menghina, mengancam, atau merendahkan orang lain tidak dapat diterima. Orang tua dapat menghentikan sesi bila perilaku berulang, lalu membicarakan cara mengekspresikan frustrasi yang lebih aman.
Pisahkan emosi dari cara anak mengekspresikannya
Ketika anak mengumpat, perhatikan apa yang terjadi sebelum kata itu keluar. Apakah ia kalah, merasa ditipu, mendapat ejekan, atau kesal karena koneksi terputus? Memahami pemicu membantu orang tua mengajarkan respons yang tepat. Namun, pemicu bukan alasan untuk membiarkan kata-kata kasar terus berulang.
Sampaikan batas dengan jelas: “Kamu boleh kesal, tetapi tidak boleh memaki atau mengancam.” Hindari membalas dengan umpatan atau mempermalukan anak di depan teman. Orang tua dapat menghentikan sesi jika bahasa kasar berlanjut dan mengingatkan bahwa bermain bersama mensyaratkan sikap saling menghormati.
Ajarkan kalimat pengganti untuk situasi yang memicu
Anak dapat berlatih mengatakan “Aku kecewa,” “Aku butuh jeda,” atau “Aku tidak suka cara kamu berbicara.” Beri contoh bagaimana menyampaikan protes tanpa menghina. Latihan dapat dilakukan ketika anak tenang melalui permainan peran, bukan hanya saat ia sedang marah.
Jika anak mengumpat karena terbawa teman, diskusikan bahwa ia bertanggung jawab atas kata-katanya sendiri. Ia dapat mute, keluar dari ruang obrolan, atau melaporkan perilaku yang melanggar. Ajarkan bahwa ikut-ikutan tidak menghapus dampak pada orang lain.
Tinjau komunitas dan fitur komunikasi game
Periksa apakah game menyediakan chat teks, suara, atau komunikasi publik. Tinjau daftar teman, mute, block, report, dan pengaturan privasi. Anak mungkin belajar bahasa kasar dari interaksi yang terus berulang. Bila komunitas memaksa anak menggunakan bahasa menghina atau mengancam, pertimbangkan membatasi interaksi atau memilih mode permainan yang lebih aman.
Jangan meminta anak menampilkan chat di depan orang lain sebagai bahan mempermalukan. Periksa bersama dengan tujuan memahami konteks dan menjaga keselamatan. Bila ada ancaman, perundungan, atau ujaran yang mengarah pada eksploitasi, simpan bukti dan laporkan melalui platform.
Tegakkan konsekuensi yang konsisten dan proporsional
Orang tua dapat menetapkan bahwa sesi berhenti bila anak terus mengumpat setelah diingatkan. Sesi berikutnya dapat dilakukan dengan pengawasan lebih dekat atau fitur chat dimatikan sementara. Konsekuensi perlu dijelaskan sebelumnya, terkait dengan perilaku, dan memiliki jalan kembali ketika anak menunjukkan perubahan. Hindari larangan tanpa batas yang tidak pernah dievaluasi.
Beri apresiasi ketika anak berhasil berhenti, meminta maaf, atau menggunakan kalimat yang lebih baik. Jika ia menyakiti pemain lain, ajak memperbaiki dampak sesuai konteks, misalnya meminta maaf jika aman dan pantas. Jangan memaksa korban menerima permintaan maaf atau menghapus bukti perundungan.
Menerjemahkan kesepakatan menjadi kebiasaan
- Catat pemicu umpatan dan sampaikan batas perilaku dengan kalimat singkat yang konsisten.
- Ajarkan dua atau tiga kalimat pengganti serta cara mute, block, dan keluar dari chat yang tidak aman.
- Terapkan konsekuensi yang berkaitan dengan perilaku dan evaluasi pengaturan komunikasi game bersama anak.
Menyesuaikan pendampingan dengan usia dan kebutuhan anak
Anak usia 5–7 tahun membutuhkan batas sederhana dan pengawasan langsung. Anak usia 8–12 tahun dapat berlatih kalimat pengganti serta memahami dampak kata-kata. Remaja perlu diajak bertanggung jawab atas perilaku komunitasnya, termasuk menghentikan partisipasi dalam chat yang merendahkan. Sesuaikan konsekuensi dengan usia dan pola perilaku.
Hal yang perlu diperhatikan orang tua
Jangan membalas umpatan dengan penghinaan, ancaman, atau kekerasan. Hindari menempelkan label “anak kasar” pada identitasnya. Jika umpatan disertai ancaman, agresi fisik, atau muncul di banyak situasi, cari tahu faktor yang lebih luas dan pertimbangkan konsultasi profesional. Lindungi anak dari komunitas online yang memaksanya melakukan pelecehan.
Menangani umpatan dengan batas yang dapat dipahami
Pilih satu atau dua kata atau perilaku yang tidak dapat diterima, jelaskan dampaknya pada pemain lain, dan latih ungkapan pengganti saat anak frustrasi. Bedakan umpatan spontan karena emosi dengan pelecehan atau ancaman yang diarahkan kepada orang lain; tingkat respons perlu mengikuti perilaku dan risikonya.
Jika bahasa kasar berasal dari komunitas game, tinjau chat dan daftar teman bersama anak. Gunakan mute, block, atau report bila perlu, dan pastikan konsekuensi keluarga berkaitan dengan perilaku, bukan mempermalukan anak.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah anak harus langsung dilarang bermain jika mengumpat?
Jika perilaku berulang atau mengancam, sesi dapat dihentikan sesuai aturan yang telah dijelaskan. Untuk kejadian pertama, orang tua dapat memberi batas dan mengajarkan kalimat pengganti, bergantung pada tingkat keparahan.
Bagaimana jika semua teman di game juga mengumpat?
Anak tetap bertanggung jawab atas kata-katanya. Periksa pengaturan chat, mute atau block perilaku buruk, dan pertimbangkan komunitas atau mode yang lebih aman.
Bacaan terkait di BisaBaca
Rujukan untuk memahami topik lebih lanjut
UNICEF Indonesia menjelaskan bagaimana pesan kasar, ejekan, dan pengucilan di game dapat menjadi bentuk perundungan. Baca UNICEF Indonesia: cyberbullying untuk melihat pedoman atau penjelasan sumber aslinya.
Panduan UNICEF membantu orang tua merespons pengalaman negatif dengan mendengarkan, menyimpan bukti, dan menggunakan fitur pelaporan. Baca UNICEF: pengalaman online negatif untuk melihat pedoman atau penjelasan sumber aslinya.
Mulai dari perubahan yang bisa dijalankan bersama
Tegas terhadap umpatan bukan berarti membentak balik. Beri batas yang jelas, ajarkan bahasa pengganti, dan tinjau komunitas game yang diikuti anak. Ketika anak belajar mengelola frustrasi dan menghormati pemain lain, ia memperoleh keterampilan sosial yang berguna jauh di luar permainan.









