Anak membuka hadiah lalu berkata, “Aku tidak suka warna ini.” Orang tua mungkin merasa malu, apalagi jika pemberi hadiah berada di dekatnya. Situasi tersebut dapat digunakan untuk mengajarkan cara menghargai pemberian tanpa meminta anak berbohong tentang perasaannya. Anak boleh merasa kecewa atau kurang menyukai barang tertentu, tetapi ia perlu belajar menyampaikan respons dengan cara yang tidak merendahkan pemberi.
Menghargai hadiah berarti mengakui perhatian dan usaha orang yang memberi, bukan kewajiban menyukai semua barang atau memakai sesuatu yang tidak dibutuhkan. Anak dapat mengucapkan terima kasih atas niat baik, lalu berbicara dengan orang tua jika barangnya tidak sesuai ukuran, kebutuhan, atau preferensi. Pembedaan ini membantu anak belajar sopan santun sekaligus kejujuran.
Jelaskan perbedaan antara menghargai niat dan menyukai barang
Katakan kepada anak bahwa orang memberi hadiah untuk menunjukkan perhatian, merayakan momen, atau menyampaikan ucapan tertentu. Barang yang dipilih mungkin tidak selalu cocok. Anak dapat menghargai perhatian itu meskipun hadiah bukan pilihannya. Contohkan kalimat, “Terima kasih sudah mengingat ulang tahunku,” tanpa harus mengatakan “Ini hadiah terbaik” bila memang tidak demikian.
Rasa syukur dan ungkapan apresiasi dapat dilatih melalui contoh dan percakapan yang jujur. Orang tua dapat membaca panduan AAP menumbuhkan rasa syukur dan panduan AAP tentang komunikasi keluarga.
Jangan menuntut anak tersenyum lebar atau berpura-pura gembira. Emosi yang dibuat-buat tidak mengajarkan ketulusan. Bantu anak menemukan respons sopan yang benar: menerima dengan hati-hati, mengucapkan terima kasih, dan tidak langsung mengkritik. Bila ia sangat kecewa, beri waktu sebelum membicarakan hadiah lebih lanjut.
Latih respons sopan sebelum acara pemberian hadiah
Sebelum ulang tahun, hari raya, atau acara keluarga, jelaskan bahwa orang mungkin memberikan barang yang berbeda dari daftar keinginan anak. Latih satu atau dua kalimat sederhana. Anak usia dini dapat mengatakan “Terima kasih” sambil menerima dengan bantuan. Anak usia sekolah dapat menyebutkan bahwa ia menghargai pemberian. Remaja bisa belajar merespons tanpa meremehkan pilihan orang lain, sekaligus menyampaikan kebutuhan secara pribadi bila perlu.
Jangan membuat simulasi yang terlalu kaku. Percakapan cukup singkat dan sesuai situasi keluarga. Pastikan anak tahu bahwa ia tidak wajib menerima barang yang berbahaya, melanggar aturan keluarga, atau membuatnya tidak nyaman. Orang tua dapat mengambil alih bila hadiah menimbulkan persoalan seperti alergi, ukuran yang tidak aman, atau konten yang tidak sesuai usia.
Hindari membandingkan nilai hadiah atau pemberinya
Jangan mengajari anak mengukur perhatian dari harga barang. Hadiah mahal tidak otomatis menunjukkan kasih sayang lebih besar, dan hadiah sederhana tidak berarti pemberi kurang peduli. Bicarakan usaha atau perhatian yang ingin disampaikan tanpa menebak niat secara berlebihan. Anak perlu belajar bahwa hubungan tidak dibangun dari nilai materi.
Jika anak membandingkan hadiah dengan milik saudara atau teman, akui perasaannya lalu jelaskan bahwa setiap orang memilih berdasarkan kemampuan dan pengetahuan masing-masing. Hindari membuat pemberi merasa dipermalukan. Setelah acara, anak dapat dibantu menulis pesan terima kasih atau menyampaikan apresiasi dengan cara yang sesuai.
Bagaimana jika hadiah tidak dapat digunakan?
Jika hadiah tidak sesuai ukuran, sudah dimiliki, tidak aman, atau tidak dapat digunakan, orang tua dapat membicarakan langkah berikutnya secara pribadi. Ada situasi ketika barang bisa ditukar, diberikan kembali dengan persetujuan, disimpan, atau didonasikan. Jangan langsung membuang atau memindahtangankan hadiah tanpa mempertimbangkan perasaan pemberi dan aturan keluarga. Untuk barang yang tidak aman, keselamatan lebih penting daripada kewajiban menyimpannya.
Ajari anak membedakan respons saat menerima hadiah dan keputusan tentang penggunaannya. Ia dapat berterima kasih saat menerima, lalu orang tua membantu menentukan apa yang dilakukan berikutnya. Bila ada pertanyaan dari pemberi, jawab secara jujur dan sopan. Tidak semua hadiah harus dipakai setiap hari agar pemberian dihargai.
Orang tua perlu memberi contoh ketika menerima sesuatu
Anak memperhatikan bagaimana orang dewasa merespons hadiah, makanan, bantuan, atau perhatian yang tidak sesuai harapan. Jika orang tua menerima barang yang kurang cocok, tunjukkan penghargaan tanpa mengejek. Bila perlu menyampaikan keberatan, lakukan secara pribadi dan santun. Anak belajar bahwa seseorang dapat memiliki preferensi sendiri tanpa merendahkan orang lain.
Jangan meminta anak mengucapkan terima kasih kepada orang dewasa tetapi membiarkan orang tua mengkritik hadiah di depan pemberi. Aturan yang berlaku bagi anak juga perlu terlihat dalam perilaku orang dewasa. Keteladanan ini membuat sopan santun menjadi kebiasaan keluarga, bukan tugas anak semata.
Bicarakan batas hadiah dan rasa berutang budi
Anak perlu tahu bahwa menerima hadiah tidak berarti ia harus menuruti semua permintaan pemberi. Jika seseorang memberi barang lalu meminta rahasia, sentuhan, atau tindakan yang membuat anak tidak nyaman, orang tua harus menjelaskan bahwa hadiah tidak membeli hak atas tubuh atau keputusan anak. Anak boleh menolak dan meminta bantuan. Ini terutama penting ketika hadiah berasal dari orang yang belum dikenal baik.
Untuk hadiah dari keluarga dekat, aturan dapat dijelaskan dengan tenang: kita berterima kasih, tetapi tetap mengikuti aturan keselamatan, kesehatan, dan kebutuhan anak. Jangan menimbulkan rasa takut terhadap semua pemberian. Fokus pada prinsip bahwa perhatian dan barang tidak boleh digunakan untuk memaksa anak melakukan sesuatu yang tidak aman atau tidak pantas.
Jadikan apresiasi sebagai tindakan yang bermakna
Anak dapat membuat kartu, menyampaikan ucapan, atau menggunakan hadiah dengan merawatnya jika ia memang menyukainya. Tidak perlu membalas hadiah dengan barang lain. Apresiasi bisa berupa perhatian, pesan, atau ucapan yang tulus. Jika anak belum mampu menulis, orang tua dapat membantunya memilih kata yang sesuai tanpa membuatnya menghafal kalimat yang tidak ia pahami.
Apabila hadiah berupa barang yang tidak diperlukan, keluarga dapat membicarakan alternatif yang menghormati pemberi. Pilihan tersebut sebaiknya tidak menjadi hukuman atau pelajaran tentang kesederhanaan yang dipaksakan. Anak dapat diajak memahami bahwa barang memiliki fungsi, ruang penyimpanan terbatas, dan keputusan menyimpan atau melepas sesuatu perlu dilakukan dengan pertimbangan.
Menentukan kapan hadiah perlu dibicarakan secara pribadi
Tidak semua tanggapan perlu disampaikan langsung di depan pemberi. Jika anak kecewa, orang tua dapat membantu mengucapkan terima kasih terlebih dahulu, lalu membahas ketidakcocokan hadiah secara pribadi. Hindari mengarang cerita bahwa anak menyukai barang itu. Ungkapan netral seperti “Terima kasih sudah mengingat kami” dapat menyampaikan penghargaan tanpa membuat klaim palsu. Bila pemberi bertanya, orang tua dapat menjawab dengan sopan dan jujur sesuai situasi.
Jika hadiah berupa makanan yang tidak aman bagi anak, barang yang tidak sesuai usia, atau sesuatu yang melanggar batas keluarga, orang tua boleh menolak atau menyimpannya tanpa memaksa anak menerimanya. Jelaskan bahwa keselamatan dan kenyamanan tetap menjadi pertimbangan. Anak dapat belajar bahwa sopan santun tidak mengharuskan menerima semua hal, dan menghargai niat baik tidak berarti menyetujui semua bentuk pemberian.
Membicarakan hadiah tanpa mengajarkan kepura-puraan
Anak dapat belajar bahwa menghargai niat pemberi tidak sama dengan harus menyukai setiap barang. Orang tua dapat membantu memisahkan tiga hal: usaha orang yang memberi, perasaan anak terhadap hadiah, dan keputusan tentang cara menggunakan barang tersebut. Kalimat seperti “Terima kasih sudah mengingatku” dapat disampaikan dengan tulus, sementara pendapat tentang warna atau bentuk hadiah tidak harus diucapkan saat itu juga. Anak tidak perlu berbohong bahwa hadiah tersebut adalah barang favoritnya.
Jika hadiah berupa makanan, pakaian, atau benda yang tidak dapat digunakan karena alergi, ukuran, keamanan, atau kebutuhan keluarga, orang tua boleh mengambil keputusan tanpa membebani anak. Jelaskan secara sederhana bahwa hadiah tetap dihargai, tetapi tidak semua barang harus dipakai. Jangan menyimpan benda yang tidak aman hanya demi menjaga perasaan pemberi. Bila memungkinkan, bicarakan penggantian atau penyaluran barang secara pribadi dan sopan, bukan di depan anak sebagai pelajaran rasa terima kasih.
Bacaan terkait di BisaBaca
Topik ini dapat diperdalam melalui mengembangkan empati, etika saat menerima tamu dan bertamu, dan keterampilan sosial. Pilih bacaan sesuai kebutuhan dan tahap perkembangan anak; setiap keluarga dapat menerapkannya dengan cara yang berbeda.










