“Kok aku tidak boleh punya akun seperti teman-teman?” Pertanyaan seperti ini bisa muncul ketika anak mendengar akses ke platform tertentu mulai dibatasi atau pengaturan akunnya berubah. Bagi orang tua, perubahan kebijakan mungkin terdengar seperti urusan teknis. Bagi anak, dampaknya bisa terasa lebih personal: takut tertinggal obrolan kelas, tidak bisa mengikuti tren teman, atau merasa dirinya dianggap belum cukup besar.
Di sinilah keluarga membutuhkan lebih dari sekadar aturan baru. Anak perlu memahami mengapa perlindungan digital diperkuat, apa yang berubah, dan bagaimana ia tetap bisa belajar, bermain, serta terhubung dengan orang lain secara aman. Percakapan ini juga membantu orang tua menjelaskan bahwa pembatasan akses bukan hukuman karena anak melakukan kesalahan.
Apa yang perlu dipahami keluarga tentang PP TUNAS?
PP TUNAS adalah sebutan untuk Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak. Aturan pelaksanaannya tercantum dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026, yang ditetapkan dan diundangkan pada 6 Maret 2026. Aturan ini memberi pedoman teknis kepada penyelenggara sistem elektronik untuk memperkuat pelindungan anak di ruang digital.
Komdigi mengumumkan pada 6 Maret 2026 bahwa implementasinya akan dimulai secara bertahap pada 28 Maret 2026. Pada tanggal tersebut, pemerintah menyatakan peraturan ini resmi diterapkan. Platform digital diwajibkan membatasi akses anak sesuai usia serta memperkuat pelindungan data pribadi; baca siaran pers Komdigi tentang mulai berlakunya aturan.
Dalam PP TUNAS, kewajiban utama ditujukan kepada penyelenggara sistem elektronik sesuai ketentuan yang berlaku. Peran orang tua tetap penting untuk mendampingi anak, tetapi perlindungan tidak boleh dianggap sebagai tanggung jawab keluarga semata. Permen Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 dan siaran pers Komdigi tentang implementasi PP TUNAS.
Mengapa anak perlu diajak memahami aturan, bukan hanya diberi tahu?
Anak yang hanya mendengar “tidak boleh” mungkin mematuhi aturan saat diawasi, tetapi belum tentu memahami risikonya. Ketika teman menawarkan jalan pintas atau anak memakai perangkat lain, ia belum tentu tahu cara mengambil keputusan. Sebaliknya, penjelasan yang sesuai usia memberi anak alasan untuk ikut menjaga dirinya, bukan sekadar menghindari teguran.
Ada juga kebutuhan sosial yang nyata. Sebagian anak menggunakan platform untuk mengikuti percakapan teman, melihat karya, atau mengetahui kegiatan kelompok. Ketika akses berubah, rasa kecewa atau takut tertinggal tidak perlu dianggap berlebihan. Orang tua dapat mengakui perasaan itu tanpa harus membatalkan batas keselamatan.
Cara menjelaskan perubahan kepada anak sesuai usianya
Untuk anak usia sekolah dasar
Gunakan kalimat pendek dan contoh yang dekat. Misalnya, “Ada aplikasi yang belum cocok untuk semua umur. Seperti film yang punya batas usia, aplikasi juga punya aturan karena tidak semua isi dan percakapannya aman untuk anak.” Hindari penjelasan menakutkan tentang semua orang di internet. Anak perlu tahu bahwa ada banyak pengalaman digital yang bermanfaat, tetapi tetap perlu dipilih.
Untuk anak yang mulai beranjak remaja
Ajak berdiskusi dua arah. Jelaskan bahwa layanan digital mengumpulkan data, mempertemukan pengguna yang tidak selalu saling mengenal, dan dapat memuat konten atau interaksi yang belum siap mereka kelola sendiri. Tanyakan bagian aturan yang terasa tidak adil atau membingungkan. Mendengarkan bukan berarti semua permintaan harus disetujui; ini cara memahami kebutuhan anak sebelum mencari alternatif.
Ketika anak protes, merajuk, atau merasa tertinggal
Respons seperti “Teman-teman boleh, kenapa aku tidak?” tidak perlu langsung dibalas dengan perbandingan atau ancaman. Coba gali kebutuhan yang ada di balik permintaan itu. Mungkin anak ingin melihat informasi tugas, mengikuti obrolan kelompok, atau merasa diterima oleh teman. Kebutuhan tersebut bisa jadi masuk akal, meskipun platform yang diminta belum sesuai.
“Ibu paham kamu kecewa karena teman-teman membicarakan itu. Kita cari cara supaya kamu tetap bisa ikut mendapat informasi, tetapi lewat jalur yang lebih aman dan sesuai aturan.”
Jika kebutuhan anak berkaitan dengan sekolah, tanyakan apakah informasi dapat disampaikan melalui kanal resmi kelas atau guru. Jika berkaitan dengan pertemanan, bantu anak merencanakan cara lain untuk berkomunikasi yang disetujui keluarga. Jangan menjanjikan bahwa anak tidak akan pernah merasa tertinggal; fokuslah pada pilihan yang benar-benar tersedia.
Buat kesepakatan yang menjawab kebutuhan anak
Setelah alasan kebijakan dipahami, keluarga dapat menyusun kesepakatan praktis. Bedakan aturan yang berasal dari kebijakan platform atau ketentuan usia dengan keputusan keluarga tentang waktu layar, jenis aplikasi, dan pendampingan. Memisahkan keduanya membantu anak mengerti mana yang tidak bisa dinegosiasikan dan mana yang masih dapat dibicarakan bersama.
- Periksa layanan yang benar-benar digunakan anak. Catat fungsi masing-masing, bukan hanya nama aplikasinya. Apakah untuk belajar, bermain, berkomunikasi, atau mengikuti komunitas?
- Baca pemberitahuan resmi platform. Periksa perubahan batas usia, fitur, verifikasi, dan kontrol orang tua langsung dari pusat bantuan atau pengumuman resminya.
- Bicarakan pilihan pengganti. Siapkan cara lain untuk menerima informasi sekolah, menghubungi keluarga, atau beraktivitas bersama teman.
- Tentukan cara meminta bantuan. Anak perlu tahu kepada siapa ia bisa bercerita ketika melihat konten mengganggu, menerima pesan aneh, atau merasa ditekan oleh pengguna lain.
- Tinjau ulang kesepakatan. Perkembangan usia, kebutuhan sekolah, dan perubahan fitur dapat membuat aturan keluarga perlu disesuaikan.
Untuk menyusun aturan rumah dengan lebih lengkap, orang tua dapat melanjutkan dengan panduan kesepakatan keluarga tentang penggunaan teknologi. Sementara itu, pembahasan etika bermedia sosial dan privasi dapat membantu ketika anak sudah mulai berinteraksi di ruang digital. Jika pertanyaan keluarga lebih khusus tentang kapan anak siap memiliki akun sendiri, baca juga panduan menilai kesiapan anak memiliki akun media sosial.
Jangan menyiasati aturan dengan memalsukan usia
Ketika anak kecewa, orang tua mungkin tergoda mengganti tanggal lahir agar akun kembali bisa digunakan. Langkah ini bukan jalan keluar yang baik. Data usia yang tidak benar dapat membuat layanan menerapkan pengaturan yang tidak sesuai dan mengurangi perlindungan yang seharusnya diterima anak. Bila informasi akun keliru, gunakan prosedur koreksi resmi dan pahami terlebih dahulu data apa yang diminta platform.
Orang tua juga tidak perlu menyerahkan dokumen identitas atau data biometrik tanpa membaca tujuan, prosedur, dan kebijakan privasi layanan. Gunakan saluran resmi, pertimbangkan apakah proses tersebut memang diperlukan, dan jangan mengirim data sensitif melalui tautan yang datang dari pesan tidak dikenal.
Perlindungan digital tumbuh dari aturan dan hubungan yang sehat
PP TUNAS memberi kerangka perlindungan bagi anak di layanan digital. Di rumah, orang tua dapat menerjemahkannya menjadi percakapan yang jujur, pilihan yang sesuai usia, dan jalur bantuan yang jelas. Anak mungkin tetap kecewa pada awalnya. Itu bukan tanda bahwa orang tua gagal menjelaskan atau bahwa aturan harus dibatalkan.
Bunda dan Ayah tidak harus menjawab semua pertanyaan teknis sekaligus. Mulailah dengan mengakui perasaan anak, menjelaskan alasan perlindungan, memeriksa informasi resmi, lalu mencari cara agar kebutuhan belajar dan sosialnya tetap terpenuhi. Ketika anak merasa didengar, ia lebih mungkin datang kepada orang tua saat menghadapi masalah digital berikutnya.
(Naya)










