Anak dapat mempelajari cara menggunakan telepon pintar atau aplikasi sejak dini, tetapi kemampuan mengoperasikan gawai tidak sama dengan kesiapan menghadapi interaksi sosial di internet. Media sosial memungkinkan pengguna berbagi foto, mengirim pesan, memberi komentar, mengikuti akun, dan berinteraksi dengan orang yang belum dikenal. Di dalamnya terdapat manfaat sekaligus risiko yang perlu dipahami keluarga.
Ketika membahas usia anak menggunakan media sosial, orang tua perlu memisahkan dua pertanyaan: apa ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia dan apakah anak memiliki keterampilan untuk menggunakan layanan digital dengan aman. Keduanya saling berkaitan, tetapi tidak sama.
Memahami ketentuan usia digital di Indonesia
Indonesia menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, yang dikenal sebagai PP TUNAS. Aturan ini menjadi payung tata kelola layanan elektronik untuk melindungi anak. Aturan teknisnya adalah Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026. Ketentuan tersebut mengatur batas minimum usia anak untuk menggunakan produk, layanan, dan fitur berdasarkan klasifikasi risiko, termasuk layanan jejaring dan media sosial.
Pemerintah mengumumkan implementasi bertahap mulai 28 Maret 2026 pada sejumlah platform yang dinilai berisiko tinggi. Dalam penerapannya, anak di bawah 16 tahun ditunda akses akunnya pada platform digital berisiko tinggi yang ditetapkan, termasuk sejumlah layanan media sosial dan jejaring. Ketentuan ini tidak boleh disederhanakan menjadi anggapan bahwa setiap layanan digital atau setiap fitur memiliki batas usia yang sama. Orang tua perlu melihat daftar, klasifikasi risiko, dan pengumuman resmi terbaru.
Peraturan teknis memuat penilaian tingkat risiko produk, layanan, dan fitur serta kewajiban penyelenggara sistem elektronik. Karena status dan pelaksanaan platform dapat diperbarui, periksa informasi dari Kementerian Komunikasi dan Digital sebelum membuat keputusan mengenai akun tertentu.
Kesiapan anak tidak hanya ditentukan umur
Di luar ketentuan hukum, anak perlu belajar mengenali privasi, mengelola komentar, memahami jejak digital, dan meminta bantuan. Anak yang mahir mengoperasikan aplikasi belum tentu memahami bagaimana foto dapat disimpan orang lain atau mengapa kode verifikasi tidak boleh dibagikan.
Perhatikan apakah anak mulai memahami bahwa informasi pribadi tidak untuk disebarkan, tidak semua akun memiliki identitas yang dapat dipastikan, dan seseorang yang ramah tetap dapat meminta hal yang tidak pantas. Keterampilan ini berkembang bertahap dan perlu diulang dalam percakapan sehari-hari.
7 hal yang perlu dibicarakan sebelum anak menggunakan media sosial
1. Informasi apa yang boleh dibagikan?
Beri contoh informasi yang perlu dijaga: alamat rumah, nomor telepon, nama sekolah, jadwal rutin, lokasi langsung, dokumen identitas, kata sandi, dan kode verifikasi. Jelaskan bahwa unggahan foto juga dapat memuat informasi lokasi tanpa disadari, misalnya papan nama sekolah atau tanda rumah.
2. Siapa yang boleh menghubungi anak?
Jelaskan bahwa anak tidak wajib menerima semua permintaan pertemanan atau membalas pesan. Foto profil, nama, dan jumlah pengikut tidak memastikan identitas seseorang. Ajarkan anak untuk bertanya kepada orang tua ketika menerima pesan yang membuatnya bingung atau tidak nyaman.
3. Bagaimana merespons komentar negatif?
Anak tidak harus membalas setiap komentar. Ia dapat berhenti sejenak, menyimpan informasi yang relevan, membatasi interaksi, atau melaporkan akun yang mengganggu. Orang tua sebaiknya membahas cara menyelesaikan konflik tanpa mempermalukan anak di depan orang lain.
4. Mengapa kata sandi harus dijaga?
Kata sandi dan kode verifikasi merupakan kunci akses akun. Jangan membagikannya kepada teman, orang yang mengaku sebagai petugas, atau pihak yang menawarkan hadiah. Gunakan kata sandi berbeda untuk layanan penting dan aktifkan pengamanan tambahan jika tersedia.
5. Apa yang perlu dipikirkan sebelum mengunggah foto?
Ajak anak memeriksa apakah foto memperlihatkan informasi pribadi, dapat mempermalukan dirinya, atau menampilkan orang lain tanpa persetujuan. Ingatkan bahwa menghapus unggahan tidak selalu menghapus salinan yang telah disimpan orang lain.
6. Bagaimana menggunakan fitur pelaporan dan pemblokiran?
Tunjukkan cara melaporkan akun, membatasi komentar, mengatur privasi, dan memblokir pengguna. Menu dapat berbeda pada setiap platform, jadi periksa panduan resmi layanan yang digunakan.
7. Kepada siapa anak dapat bercerita?
Tentukan orang dewasa yang dapat dihubungi ketika anak mengalami ancaman, perundungan, atau paparan konten yang mengganggu. Yakinkan anak bahwa ia tidak akan dimarahi hanya karena bercerita tentang pengalaman daring yang sulit.
Bagaimana jika anak telah memiliki akun?
Mulailah dengan memeriksa platform dan ketentuan usia yang berlaku. Jika akun anak tidak sesuai ketentuan, ikuti prosedur penyesuaian atau penonaktifan yang disediakan platform dan pemerintah. Jelaskan alasan perubahan dengan jujur. Hindari mempermalukan anak atau menganggapnya sengaja melanggar aturan jika sebelumnya ia belum memahami ketentuan tersebut.
Jika anak menggunakan layanan digital untuk belajar atau berkomunikasi, cari alternatif yang sesuai aturan dan kebutuhan. Tidak semua pengalaman digital harus dihentikan; keluarga dapat mengarahkan anak pada kegiatan daring yang sesuai usia dan memiliki pengamanan lebih baik.
Fitur keamanan tidak menggantikan pendampingan
Pengaturan privasi, pembatasan konten, dan kontrol orang tua dapat membantu mengurangi paparan risiko. Namun, fitur tersebut tidak dapat menggantikan komunikasi, pendidikan privasi, dan contoh perilaku orang dewasa. Orang tua juga perlu memperlihatkan cara memeriksa sumber informasi, menghargai hak cipta, serta bersikap sopan ketika berinteraksi.
Penutup
Kesiapan anak menggunakan media sosial perlu dilihat dari ketentuan usia, kebutuhan perkembangan, kemampuan menjaga privasi, dan dukungan keluarga. Orang tua tidak perlu terburu-buru membuatkan akun hanya karena teman sebaya sudah memilikinya. Ikuti aturan yang berlaku dan bangun keterampilan digital anak secara bertahap.
Memahami pengaturan usia berdasarkan jenis layanan
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, yang dikenal dengan sebutan PP TUNAS, yang dikenal sebagai PP TUNAS, menjadi payung perlindungan anak di ruang digital. Aturan pelaksanaannya, Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026, mengatur batas usia minimum berdasarkan produk, layanan, fitur, dan tingkat risiko. Artinya, orang tua perlu membedakan media sosial, layanan jejaring, permainan, aplikasi pendidikan, dan fitur komunikasi; ketentuannya tidak otomatis sama untuk semua produk.
Dalam penerapan kebijakan, platform berisiko tinggi termasuk layanan jejaring dan media sosial dikenai pembatasan akun anak di bawah 16 tahun sesuai klasifikasi dan ketentuan yang berlaku. Pemerintah mengumumkan implementasi bertahap mulai 28 Maret 2026. Karena platform, fitur, dan pelaksanaan dapat diperbarui, periksa pengumuman pemerintah serta kebijakan layanan terbaru sebelum membuat keputusan akun.
Bagaimana mendampingi anak yang belum memiliki akun?
Anak tetap dapat belajar kecakapan digital melalui kegiatan bersama, seperti mencari informasi dengan pendampingan, membuat karya, atau mengikuti materi pendidikan yang sesuai usia. Orang tua dapat mengenalkan privasi, jejak digital, izin menggunakan foto, dan cara melaporkan konten tanpa harus membuat akun media sosial pribadi.
Jika anak meminta akun karena teman-temannya sudah memiliki, dengarkan alasan di balik permintaan tersebut. Ia mungkin ingin mengikuti percakapan kelas, melihat karya teman, atau merasa tidak ingin tertinggal. Cari alternatif yang memenuhi kebutuhan sosial atau pendidikan tanpa melanggar ketentuan usia. Hindari memalsukan tanggal lahir atau menggunakan akun orang dewasa seolah-olah milik anak karena hal itu dapat melemahkan perlindungan yang disediakan.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah semua aplikasi boleh digunakan anak di bawah 16 tahun? Tidak dapat disimpulkan demikian. Batas usia mengikuti jenis layanan, fitur, serta klasifikasi risiko dalam aturan dan kebijakan platform.
Apakah anak yang belum memiliki akun tetap perlu belajar keamanan digital? Ya. Anak dapat mempelajari privasi, komunikasi aman, dan cara meminta bantuan sebelum memiliki akun sendiri.
Jangan mengakali batas usia dengan akun orang dewasa
Membuat akun menggunakan tanggal lahir yang tidak benar atau meminjam akun orang dewasa dapat membuat pengaturan perlindungan tidak sesuai dengan pengguna sebenarnya. Hal itu juga menyulitkan platform menerapkan pembatasan usia dan rekomendasi konten. Jika layanan belum sesuai untuk anak, cari pilihan yang memang dirancang bagi rentang usia tersebut dan gunakan dengan pendampingan sesuai petunjuk penyedia.
Orang tua dapat meninjau kembali keputusan ketika anak bertambah usia atau ketika aturan platform berubah. Periksa tanggal kebijakan, informasi risiko, dan pengaturan privasi secara berkala. Jangan menjadikan usia teman sebaya sebagai satu-satunya dasar keputusan; ketentuan hukum dan kebijakan layanan tetap harus diikuti.
Sumber dan bacaan lanjutan
- Permen Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 — Peraturan mengenai klasifikasi risiko serta batasan usia pada layanan digital.
- Implementasi Perlindungan Anak di Platform Digital — Kementerian Komunikasi dan Digital, penjelasan pelaksanaan PP TUNAS.
- Tips Aman Berinternet — UNICEF Indonesia, materi privasi, kata sandi, dan interaksi digital yang aman.










