Ibu mendampingi anak usia sekolah memeriksa label produk perawatan kulit sederhana di meja kamar mandi yang bersih.
Orang tua membantu anak membedakan kebutuhan perawatan kulit dari produk yang sekadar sedang viral.
Kesehatan & Perawatan Anak

Skincare Anak Lagi Ramai, Apa Sebenarnya yang Dibutuhkan Kulit Si Kecil?

Anak mulai tertarik pada skincare yang viral? Kenali kebutuhan dasar kulit anak, bahan yang perlu diperhatikan, cara memilih produk, dan kapan keluhan kulit sebaiknya diperiksa.

Belakangan, anak usia sekolah tidak hanya mengenal sabun mandi dan tabir surya. Sebagian mulai meminta serum, toner, masker wajah, bahkan rangkaian perawatan yang mereka lihat dari video kreator favorit. Kemasan lucu dan rutinitas berlapis membuat skincare terlihat seperti aktivitas seru yang bisa dilakukan bersama teman. Wajar jika Bunda atau Ayah bertanya: apakah kulit anak memang membutuhkan semua itu?

Jawabannya tidak sesederhana mengikuti daftar produk yang sedang viral. Kebutuhan kulit berbeda menurut usia, kondisi kulit, aktivitas, dan masalah yang benar-benar dialami. Pada banyak anak yang belum mengalami masalah kulit tertentu, skincare anak tidak membutuhkan banyak tahap; rutinitas sederhana biasanya sudah cukup untuk menjaga kebersihan, kenyamanan, dan perlindungan kulit.

Untuk kulit yang sehat, skincare anak tidak perlu mengikuti banyak tahap seperti rutinitas orang dewasa. Pilihan sederhana biasanya lebih mudah dijalankan dan lebih kecil risikonya daripada menambah produk tanpa kebutuhan jelas.

Mengapa skincare anak ikut ramai?

Media sosial membuat produk perawatan kulit mudah terlihat sebagai bagian dari gaya hidup. Anak dapat menemukan video unboxing, rutinitas pagi-malam, rekomendasi influencer, atau konten “before-after” tanpa selalu memahami usia sasaran dan alasan suatu bahan dipakai. Mereka mungkin tertarik karena warna kemasan, aroma, rasa ingin ikut tren, atau ingin merasa lebih percaya diri saat bergaul.

Minat itu tidak otomatis berarti anak memiliki masalah citra tubuh. Anak juga bisa sekadar ingin meniru orang yang dikagumi. Namun, orang tua tetap perlu mengajak anak membedakan kebutuhan kulit dari dorongan membeli. Produk yang cocok untuk orang dewasa belum tentu diperlukan atau nyaman untuk kulit anak.

American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren menjelaskan bahwa kulit anak dan remaja awal cenderung lebih sensitif. Retinoid, alpha-hydroxy acids (AHA), dan beta-hydroxy acids (BHA) memiliki fungsi tertentu dalam perawatan kulit, tetapi produk anti-aging atau eksfoliasi yang viral umumnya ditujukan untuk masalah seperti kerutan, hiperpigmentasi, atau tekstur kulit—bukan kebutuhan rutin anak dengan kulit sehat. Pemakaian yang tidak sesuai indikasi, konsentrasi, atau frekuensi dapat memicu kemerahan, rasa perih, pengelupasan, ruam, dan gangguan lapisan pelindung kulit. Bahan-bahan tersebut tidak berarti selalu terlarang dalam semua keadaan; dokter dapat merekomendasikan terapi tertentu untuk kondisi kulit tertentu dengan aturan pakai yang jelas.

Apa yang biasanya dibutuhkan kulit anak?

Untuk anak yang kulitnya sehat dan tidak memiliki keluhan khusus, rutinitas tidak perlu panjang. Fokusnya adalah kebersihan lembut, menjaga kelembapan bila kulit terasa kering, serta melindungi kulit dari paparan matahari. Tidak semua anak harus memakai banyak produk, dan tidak semua anak memerlukan serum.

1. Pembersih yang lembut

Pilih pembersih yang sesuai usia dan kondisi kulit, tidak membuat kulit terasa tertarik atau perih setelah dibilas. Anak yang banyak berkeringat setelah bermain mungkin perlu membersihkan wajah, tetapi menggosok terlalu kuat atau mencuci berulang kali tidak membuat kulit otomatis lebih sehat. Hindari scrub kasar ketika kulit sedang iritasi.

2. Pelembap bila memang diperlukan

Kulit yang terasa kering dapat terbantu oleh pelembap sederhana. Perhatikan apakah produk membuat perih, gatal, atau ruam. Jangan menumpuk beberapa produk baru sekaligus karena akan sulit mengetahui produk mana yang memicu reaksi. Bila anak memiliki eksim, alergi, atau kulit sangat sensitif, pilihan produk sebaiknya dibicarakan dengan dokter yang merawat.

3. Perlindungan dari matahari

Aktivitas luar ruang tetap penting bagi anak. Gunakan perlindungan matahari sesuai usia dan kebutuhan, seperti mencari tempat teduh, memakai topi dan pakaian pelindung, serta tabir surya yang sesuai. Kebiasaan ini lebih bermakna daripada mengejar produk pencerah. Untuk perlindungan saat bermain, orang tua juga dapat membaca artikel melindungi kulit anak dari paparan matahari.

Bahan yang perlu dibicarakan sebelum dibeli

Jangan menilai skincare hanya dari kemasan, jumlah langkah, atau klaim “viral”. Produk yang mengandung bahan aktif untuk jerawat atau anti-aging bisa memiliki fungsi khusus, tetapi bukan berarti cocok dipakai anak tanpa penilaian. Retinoid, asam eksfoliasi seperti AHA/BHA, scrub fisik, pewangi kuat, dan produk dengan klaim memutihkan perlu diperiksa lebih hati-hati. Beberapa bahan memang digunakan dalam perawatan medis, tetapi penggunaannya harus mengikuti indikasi dan petunjuk tenaga kesehatan.

BPOM secara berkala mengawasi kosmetik yang beredar. Dalam hasil pengawasan triwulan I 2026 yang diumumkan melalui siaran pers bertanggal 29 April 2026, BPOM mengidentifikasi 11 kosmetik yang mengandung bahan berbahaya dan/atau dilarang, termasuk asam retinoat, deksametason, hidrokuinon, merkuri, pewarna merah K10, dan 1,4-dioksan. Temuan asam retinoat dalam kosmetik tidak boleh disamakan dengan pernyataan bahwa seluruh golongan retinoid selalu dilarang untuk semua penggunaan medis. Orang tua dapat memeriksa identitas dan status produk melalui Cek Produk Kosmetika BPOM serta membaca siaran pers pengawasan kosmetik BPOM 2026. Notifikasi BPOM adalah salah satu pemeriksaan dasar, bukan jaminan bahwa setiap produk cocok untuk setiap anak.

Cara merespons ketika anak meminta produk viral

Menolak dengan kalimat “Kamu masih kecil, tidak boleh” mungkin menghentikan percakapan saat itu, tetapi belum tentu membantu anak memahami alasan di balik keputusan. Sebaliknya, membelikan semua produk agar anak tidak kecewa juga bukan solusi. Coba ubah percakapan menjadi kesempatan belajar.

  1. Cari tahu apa yang menarik bagi anak. Apakah ia ingin mengatasi jerawat, mencoba aroma tertentu, mengikuti rutinitas teman, atau sekadar penasaran melihat video?
  2. Periksa fungsi produk bersama. Baca label, tujuan pemakaian, batas usia bila dicantumkan, cara pakai, peringatan, dan status notifikasi BPOM. Jangan hanya mengandalkan testimoni kreator.
  3. Tentukan kebutuhan yang benar-benar ada. Bila tidak ada keluhan kulit, jelaskan bahwa anak tidak harus membeli produk tambahan. Bila ada jerawat atau iritasi, konsultasikan bila menetap atau mengganggu.
  4. Buat batas belanja yang masuk akal. Anak dapat belajar bahwa tren tidak selalu perlu diikuti dan produk perawatan bukan ukuran penampilan atau nilai dirinya.
  5. Jadilah contoh. Hindari mengomentari wajah anak secara berlebihan atau mengaitkan kebersihan kulit dengan cantik, tampan, atau diterima teman.

“Kita boleh penasaran dengan produk yang sedang ramai. Tapi sebelum membeli, kita cari tahu dulu apakah kulitmu memang membutuhkannya.”

Kapan perlu berkonsultasi?

Bawa anak berkonsultasi ke dokter bila muncul ruam yang luas, bengkak, rasa terbakar, nyeri, infeksi, reaksi alergi, atau jerawat yang meradang dan mengganggu. Hentikan produk yang diduga memicu iritasi dan jangan mencoba menetralkan kulit dengan bahan rumahan yang belum jelas keamanannya. Jika anak memakai obat kulit dari dokter, jangan menggantinya dengan produk viral tanpa berdiskusi lebih dahulu.

Orang tua juga perlu memperhatikan apakah keinginan merawat kulit berubah menjadi kecemasan berat terhadap penampilan, pemeriksaan wajah berulang, atau penolakan bergaul karena merasa tidak cukup menarik. Hal tersebut tidak otomatis menandakan gangguan, tetapi layak dibicarakan dengan tenang dan, bila menetap, dikonsultasikan kepada tenaga profesional.

Skincare bukan perlombaan mengikuti tren

Anak boleh belajar merawat diri. Yang perlu dijaga adalah pesan bahwa perawatan kulit bertujuan untuk kesehatan dan kenyamanan, bukan untuk memenuhi standar wajah sempurna di internet. Rutinitas sederhana, pemilihan produk yang masuk akal, dan percakapan tanpa mempermalukan anak jauh lebih berguna daripada lemari penuh botol.

Bunda dan Ayah tidak harus mengetahui semua tren kecantikan. Cukup dampingi anak memeriksa informasi, memahami kebutuhan tubuhnya, dan berani berkata “belum perlu” ketika suatu produk tidak memiliki alasan yang jelas untuk digunakan. Dengan begitu, anak belajar membuat keputusan, bukan hanya mengikuti apa yang sedang ramai.

Bila anak memiliki kulit sensitif, orang tua dapat membandingkan kebutuhan perawatan dengan panduan memilih sabun untuk kulit sensitif dan risiko iritasi dari produk mandi berpewangi.

Karena itu, skincare anak sebaiknya dimulai dari kebutuhan yang benar-benar terlihat, bukan daftar produk yang sedang dipromosikan. Jika kulit anak sehat, rutinitas sederhana lebih masuk akal daripada menambah serum atau toner tanpa alasan.

Saat anak meminta produk baru, ajak ia menilai manfaat, sasaran usia, petunjuk, dan alasan pemakaiannya. Anak belajar bahwa merawat diri bukan berarti harus membeli setiap produk yang sedang ramai.

(Naya)

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.