Lift dan eskalator memudahkan keluarga berpindah lantai, tetapi keduanya memiliki risiko yang berbeda. Di lift, anak perlu dijauhkan dari celah pintu, tidak menahan pintu dengan tangan atau kaki, dan mengikuti instruksi orang dewasa bila lift berhenti. Di eskalator, anak harus berdiri stabil, memegang tangan orang dewasa atau pegangan sesuai usia, serta tidak duduk, bermain, atau mendekati sisi anak tangga yang bergerak. Aturan naik lift dan eskalator sebaiknya dijelaskan sebelum keluarga menggunakannya, bukan ketika anak sudah berada di dalam alat.
Orang tua tetap harus mendampingi anak secara langsung. Kebiasaan naik lift dan eskalator dengan aturan yang sama setiap kali membantu anak mengingat batas aman. Anak yang sudah dapat menghafal aturan belum tentu mampu merespons perubahan mendadak seperti pintu yang menutup, orang yang berdesakan, atau barang yang tersangkut. Pengawasan perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan bergerak, dan kondisi tempat.
Kenali perbedaan risiko lift dan eskalator
Lift memiliki pintu yang membuka dan menutup otomatis, ruang kabin yang bergerak, serta celah antara kabin dan lantai. Anak bisa terdorong mendekat ketika pintu terbuka atau mencoba menahan pintu agar orang lain sempat masuk. Di dalam kabin, anak mungkin menekan banyak tombol atau bergerak ketika lift mulai berjalan. Karena itu, orang dewasa perlu mengatur posisi dan menjelaskan urutan masuk, berdiri, keluar, serta tindakan ketika terjadi gangguan.
Eskalator memiliki anak tangga yang bergerak dan celah di sisi serta ujung tangga. Sepatu, tali pakaian, atau benda yang menjuntai dapat tersangkut. Anak juga dapat kehilangan keseimbangan jika melompat, duduk, berbalik, atau bermain di anak tangga. Komisi Keselamatan Produk Konsumen Amerika Serikat (CPSC) menganjurkan orang dewasa selalu memegang tangan anak saat menggunakan eskalator, memastikan sepatu terikat, berdiri menghadap ke depan, dan tidak membawa anak dengan stroller atau kereta di atas eskalator.
Kedua alat ini bukan tempat bermain atau lomba. Jika anak takut, orang tua dapat memilih lift atau tangga biasa bila aman dan tersedia. Jangan memaksa anak menggunakan eskalator ketika ia belum mampu berdiri stabil atau sedang kewalahan.
Sebelum masuk lift
Berhentilah di area tunggu dan jauhkan anak dari pintu sampai lift benar-benar berhenti dan terbuka. Jangan berdesakan untuk masuk ketika orang di dalam masih keluar. Biarkan penumpang turun terlebih dahulu, lalu masuk bersama anak. Untuk anak kecil, pegang tangan atau gendong sesuai kondisi dan pastikan tidak ada bagian tubuh atau pakaian yang tertinggal di dekat pintu.
Ajarkan anak tidak bermain dengan tombol, tidak melompat, dan berdiri dekat orang dewasa. Jika lift penuh, pertimbangkan menunggu lift berikutnya daripada memaksakan diri masuk. Jangan meminta anak berdiri dekat pintu hanya agar lebih mudah keluar. Posisikan keluarga di area kabin yang tidak menghalangi pintu dan tidak membuat anak terjepit penumpang lain.
Saat berada di dalam lift
Jelaskan bahwa tombol hanya ditekan oleh orang dewasa atau dengan izin orang dewasa. Anak tidak perlu menekan semua tombol. Beri tahu lantai tujuan dengan sederhana: “Kita turun di lantai tiga. Setelah pintu terbuka, kita keluar bersama.” Jika anak ingin melihat panel tombol, orang tua dapat menjelaskan angka atau simbol tanpa mengizinkannya bermain.
Jangan bersandar atau bermain di pintu. Hindari menahan pintu dengan tangan, kaki, tas, atau benda lain. Bila pintu mulai menutup sebelum semua anggota keluarga masuk, jangan menyelipkan tangan atau kaki untuk menahannya. Tunggu lift berikutnya. Jika keluarga terpisah, anak perlu tetap bersama orang dewasa yang mendampinginya dan tidak keluar sendiri di lantai yang tidak dikenal.
Jika lift berhenti atau terjadi keadaan darurat
Jika lift berhenti di antara lantai atau lampu padam, tetap tenang dan gunakan tombol alarm atau interkom sesuai petunjuk di kabin. Jangan mencoba membuka pintu, memanjat keluar, atau memaksa pintu terbuka. Tunggu bantuan petugas. Anak perlu diberi penjelasan sederhana: “Lift sedang berhenti. Kita akan menunggu petugas membantu. Kita tidak membuka pintunya sendiri.”
Orang tua dapat mengajak anak berdiri di tempat yang aman, menjauh dari pintu, dan tetap bersama. Jika anak panik, gunakan suara tenang dan beri tahu bahwa orang dewasa sedang meminta bantuan. Jangan membuat janji waktu pasti bila tidak mengetahui kapan petugas datang.
Sebelum naik eskalator
Periksa sepatu dan pakaian anak. Ikat tali sepatu yang terlepas, rapikan rok atau celana panjang, serta pastikan tidak ada tali tas yang menjuntai. Jika anak menggunakan stroller, kursi roda, atau alat bantu mobilitas, gunakan lift atau jalur akses yang disediakan, bukan eskalator. Pilih eskalator hanya bila anak dapat berdiri stabil dan mengikuti instruksi.
Jelaskan bahwa anak harus memegang tangan orang dewasa, menghadap ke depan, dan menjaga kaki berada di bagian tengah anak tangga. Pegangan eskalator dapat digunakan sesuai petunjuk fasilitas. Jangan biarkan anak duduk, merangkak, atau memegang sisi celah. Jika ada tanda peringatan atau petugas meminta pengguna tidak naik, ikuti aturan tersebut.
Saat naik dan turun eskalator
Masuk dan keluar dengan langkah mantap ketika anak tangga datang atau mencapai lantai. Orang dewasa sebaiknya berada dekat anak dan siap membantu tanpa menariknya secara tiba-tiba. Jangan berhenti di ujung eskalator karena dapat menghalangi pengguna di belakang. Setelah keluar, segera menjauh dari area ujung tangga sebelum berhenti atau merapikan barang.
Jika anak tiba-tiba takut atau tidak siap melangkah, jangan memaksanya ketika eskalator sedang bergerak. Bila masih berada di area tunggu, pilih jalur lain. Jika sudah berada di eskalator, tetap pegang anak dan ikuti arah gerak sampai mencapai ujung dengan aman. Jangan melakukan gerakan mendadak yang dapat membuat keduanya kehilangan keseimbangan.
Bagaimana menjelaskan aturan kepada anak kecil?
Gunakan beberapa aturan singkat: “Pegang tangan.” “Hadap ke depan.” “Jangan duduk atau bermain.” “Setelah turun, kita menjauh dari tangga.” Latih dengan permainan peran di rumah menggunakan gambar atau langkah berpura-pura, bukan dengan membiarkan anak mencoba alat sungguhan tanpa pengawasan. Ulangi aturan sebelum setiap penggunaan, terutama jika anak jarang memakai eskalator.
Jangan menakut-nakuti dengan gambaran cedera yang mengerikan. Jelaskan bahwa alat bergerak dan bagian tertentu dapat menjepit sepatu atau pakaian. Anak perlu memahami alasan aturan tanpa merasa bahwa semua alat publik berbahaya. Sikap tenang dari orang dewasa membantu anak mengikuti instruksi.
Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan dengan membimbing anak menjaga sikap ketika berada di tempat umum.
Pertimbangan khusus untuk bayi dan anak dengan kebutuhan tertentu
Bayi dan anak yang belum dapat berdiri stabil tidak sebaiknya dibawa menggunakan eskalator dengan stroller atau kereta. Gunakan lift atau jalur yang dirancang untuk alat bantu. Anak dengan hambatan mobilitas, keseimbangan, penglihatan, atau pemrosesan sensorik mungkin membutuhkan waktu lebih lama dan bantuan tambahan. Rencanakan rute sebelum perjalanan bila memungkinkan dan ikuti petunjuk fasilitas.
Jika anak sedang sangat lelah, sakit, atau menangis hebat, pertimbangkan menunggu atau memilih lift. Jangan menuntut anak segera menyesuaikan diri hanya karena keluarga sedang terburu-buru. Pilihan transportasi vertikal yang lebih lambat tetapi aman lebih baik daripada memaksakan penggunaan alat yang belum dapat diikuti anak.
Kesalahan yang perlu dihindari orang tua
- Membiarkan anak berdiri beberapa langkah di depan tanpa pegangan ketika eskalator ramai.
- Menggunakan eskalator dengan stroller, kereta bayi, atau alat bantu yang seharusnya memakai lift.
- Menahan pintu lift dengan tangan atau kaki.
- Membiarkan anak bermain menekan semua tombol atau melompat di kabin.
- Berhenti tepat di ujung eskalator untuk mencari barang atau memeriksa ponsel.
- Mengabaikan tanda larangan, petugas, atau instruksi keselamatan fasilitas.
Jika barang tersangkut atau anak kehilangan keseimbangan
Jangan menarik paksa sepatu atau pakaian yang tersangkut pada eskalator jika hal itu menempatkan anak dalam risiko. Gunakan tombol berhenti darurat bila diperlukan dan minta bantuan petugas. Jika anak terjatuh, prioritaskan menjauhkannya dari bagian bergerak sesuai kondisi dan cari bantuan. Setelah kejadian, ikuti instruksi petugas serta dapatkan pemeriksaan medis bila anak mengalami cedera.
Untuk lift, jika barang terjepit di pintu, jangan menariknya dengan paksa ketika pintu bergerak. Minta bantuan petugas atau gunakan tombol yang tersedia sesuai petunjuk. Anak harus tetap di dekat orang dewasa dan tidak mencoba mengambil barang sendiri.
Gunakan fasilitas yang sesuai untuk stroller dan alat bantu
Keluarga yang membawa stroller, kereta bayi, kursi roda, atau alat bantu berjalan sebaiknya menggunakan lift atau jalur akses yang disediakan. Jangan mencoba menaikkan stroller ke eskalator meskipun ada orang yang membantu mengangkat. Gerakan anak tangga dan ruang sempit dapat membuat alat kehilangan keseimbangan atau menghalangi penumpang lain. Bila lift ramai, tunggu kesempatan berikutnya atau minta bantuan petugas yang bertanggung jawab.
Periksa apakah pintu lift cukup lebar dan apakah ada ruang untuk bermanuver sebelum masuk. Pastikan roda stroller terkunci ketika berhenti dan jangan memposisikannya hingga menghalangi pintu. Saat keluar, lihat lantai dan celah antara kabin dengan lantai gedung. Bantu anak turun atau berjalan setelah kendaraan benar-benar berhenti dan pintu terbuka penuh.
Untuk anak yang takut suara lift atau gerakan eskalator, jelaskan terlebih dahulu apa yang akan terjadi dan tawarkan alternatif bila tersedia. Tidak semua gedung memiliki akses yang sama; rencanakan rute sebelum perjalanan jika anggota keluarga memerlukan dukungan mobilitas.
Pilih alat yang tepat ketika kondisi berubah
Jika eskalator ramai, anak terlalu lelah, atau ada barang bawaan besar, gunakan lift bila tersedia. Sebaliknya, bila lift penuh atau tidak dapat digunakan, jangan memaksakan eskalator bila anak belum siap. Tanyakan kepada petugas lokasi jalur akses yang sesuai. Tidak perlu merasa harus mengikuti arus pengunjung lain; menunggu beberapa menit sering lebih aman daripada berdesakan.
Setelah keluar dari lift atau eskalator, berhenti di area yang tidak menghalangi pengguna lain. Rapikan stroller, tas, atau pakaian setelah keluarga menjauh dari pintu dan ujung tangga. Hal ini membantu anak melihat bahwa keselamatan mencakup orang lain yang menggunakan fasilitas yang sama.
Kesimpulan: utamakan pegangan, posisi, dan kesiapan
Aturan naik lift dan eskalator perlu diajarkan sebelum keluarga menggunakannya. Pada lift, jaga jarak dari pintu, jangan menahan pintu, dan tetap bersama anak ketika terjadi gangguan. Pada eskalator, pastikan anak siap berdiri stabil, pegang tangannya, hadap ke depan, dan jauhkan pakaian atau benda yang dapat tersangkut.
Jika anak belum siap, gunakan lift atau jalur lain. Pendampingan orang dewasa, kepatuhan pada petunjuk fasilitas, dan keputusan untuk tidak terburu-buru merupakan bagian terpenting dari keselamatan.










