Orang tua mendampingi anak membuat rencana tabungan sederhana dengan uang dan catatan kecil di rumah
Kebiasaan mengelola uang dapat dipelajari dengan langkah kecil yang tidak membebani kebutuhan keluarga.
Pendidikan & Pembelajaran

Mengajarkan Anak Menabung Saat Anggaran Keluarga Terbatas: Mulai dari Kebiasaan Kecil

Menabung tidak harus dimulai dari nominal besar. Orang tua dapat mengajarkan perencanaan dan pilihan keuangan tanpa mengorbankan kebutuhan dasar keluarga.

Ada orang tua yang ingin mengenalkan kebiasaan menabung, tetapi merasa tidak punya ruang untuk memberi uang saku besar. Ada pula keluarga yang harus mengatur pengeluaran dengan ketat sehingga menyisihkan uang terasa sulit. Dalam keadaan seperti ini, menabung untuk anak sebaiknya tidak berubah menjadi tuntutan tambahan atau ukuran keberhasilan keluarga.

Anak dapat belajar tentang uang meski jumlah yang bisa disimpan kecil, tidak tetap, atau bahkan belum ada pada suatu waktu. Pelajaran utamanya bukan nominal, melainkan memahami tujuan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membuat pilihan sesuai keadaan nyata. Orang tua tidak perlu memaksakan tabungan bila kebutuhan dasar keluarga masih harus diprioritaskan.

Menabung bukan kewajiban yang mengalahkan kebutuhan dasar

Sebelum mengajak anak menabung, pastikan kebutuhan penting—makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan wajib, dan keselamatan—tidak dikurangi demi mengisi celengan. Anak tidak perlu diminta menahan makan, tidak membeli perlengkapan sekolah penting, atau merasa bersalah karena menggunakan uang untuk kebutuhan yang semestinya dipenuhi orang tua.

Jika keluarga sedang belum bisa menyisihkan uang, katakan dengan jujur dan sederhana: “Bulan ini kita belum punya uang lebih untuk ditabung. Kita bisa belajar membuat rencana dulu.” Hindari ungkapan yang membuat anak merasa keadaan ekonomi keluarga adalah kesalahannya. Membicarakan kondisi keluarga dengan cara yang sesuai usia juga dibahas dalam panduan menjelaskan perubahan keuangan keluarga kepada anak.

Mulai dari kebiasaan, bukan nominal

Ketika ada uang yang memang boleh disimpan, anak dapat menyisihkan jumlah kecil sesuai kemampuan. Tidak perlu menetapkan angka yang sama untuk semua anak. Bagi satu keluarga, Rp1.000 mungkin realistis; bagi keluarga lain, belum ada jumlah yang bisa disisihkan setiap minggu. Keduanya tidak boleh dijadikan bahan perbandingan.

Bila anak menerima uang hadiah, ajak ia memikirkan rencana sederhana: apakah seluruhnya akan dipakai, apakah sebagian ingin disimpan, atau apakah ada tujuan kecil yang ingin dicapai. Jangan memaksa persentase tetap. Tujuannya membantu anak melihat bahwa uang bisa direncanakan.

OJK menjelaskan literasi keuangan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi sikap serta perilaku dalam mengambil keputusan dan mengelola keuangan. Penjelasan OJK tentang literasi keuangan dapat menjadi pijakan: keterampilan mengelola uang lebih luas daripada sekadar memiliki tabungan besar.

Gunakan tujuan yang tidak mahal

Tujuan tabungan tidak harus berupa gawai atau mainan mahal. Anak dapat menabung untuk buku bekas yang masih bagus, alat gambar sederhana, bibit tanaman, atau kegiatan keluarga yang terjangkau. Untuk anak yang belum punya tujuan, orang tua dapat menawarkan beberapa pilihan murah dan membiarkannya memilih.

Jangan mengajarkan anak mengukur keberhasilan dengan barang yang dimiliki teman. Anak dari keluarga berpenghasilan berbeda memiliki kesempatan berbeda. Jika teman membeli sepeda baru, bukan berarti anak harus menabung untuk barang serupa. Bantu ia menemukan tujuan yang sesuai minat dan keadaan keluarganya.

Cara memilih tujuan kecil juga bisa dipelajari melalui kebiasaan menabung melalui tujuan kecil. Jika anak mengelola uang saku, diskusikan kebutuhan apa yang memang harus disediakan keluarga dan apa yang boleh ia pilih sendiri. Lihat juga cara menentukan uang saku anak SD secara realistis.

Jangan membuat anak merasa uang adalah sumber kasih sayang

Sebagian orang tua memberi uang sebagai hadiah karena anak membantu pekerjaan rumah, mendapat nilai bagus, atau bersikap patuh. Hadiah sesekali bisa menjadi pilihan keluarga, tetapi jangan membuat semua bentuk kontribusi anak selalu dibayar. Anak tetap perlu belajar membantu sebagai bagian dari hidup bersama, bukan hanya ketika ada imbalan.

Jika keluarga ingin memberi uang saku, pastikan aturan dan kemampuan keluarga jelas. Jumlah kecil yang konsisten lebih mudah dipelajari daripada nominal besar yang berubah tanpa penjelasan. Namun, konsistensi tidak berarti orang tua harus memaksakan pemberian ketika keadaan keuangan berubah. Bicarakan perubahan tersebut dengan tenang dan jelaskan apa yang tetap menjadi tanggung jawab orang tua.

Cari cara belajar yang tidak membutuhkan uang

Anak bisa belajar mengelola uang melalui permainan toko-tokoan menggunakan kertas, membandingkan harga saat belanja, menyusun daftar kebutuhan, atau memilih satu dari dua barang. Aktivitas ini tidak memerlukan pembelian perlengkapan khusus.

Ketika berbelanja, orang tua dapat menjelaskan alasan memilih merek tertentu, menunda pembelian, atau membawa daftar. Jangan membuka semua rincian keuangan keluarga. Cukup tunjukkan bahwa ada batas anggaran dan orang dewasa juga perlu membuat prioritas.

Panduan Money as You Grow dari CFPB menyediakan aktivitas dan percakapan sesuai tahap usia anak. Orang tua bisa mengambil ide sederhana seperti mengenali harga, membandingkan pilihan, dan membicarakan apa yang ingin dibeli.

Bila tabungan anak tidak bertambah setiap minggu

Tidak perlu membuat jadwal yang membuat anak merasa gagal. Ada minggu ketika ia tidak menerima uang saku, ada kebutuhan yang harus didahulukan, atau keluarga sedang mengatur pengeluaran. Tracker boleh menunjukkan jeda. Jelaskan bahwa jeda bukan berarti anak malas atau tidak disiplin.

Jika anak merasa sedih karena tabungannya lebih sedikit daripada teman, akui perasaannya. Katakan bahwa tiap keluarga punya keadaan berbeda dan uang bukan ukuran nilai seseorang. Bantu anak membuat tujuan yang dapat dicapai tanpa harus mengorbankan kebutuhan penting.

Peran orang tua: memberi contoh tanpa berpura-pura sempurna

Anak belajar dari cara orang tua mengambil keputusan. Orang tua dapat berkata, “Ayah sedang menunda membeli barang ini karena ada kebutuhan yang lebih penting minggu ini.” Tidak perlu berpura-pura bahwa semua pengeluaran selalu mudah. Namun, jangan pula menjadikan anak tempat mencurahkan kecemasan tentang utang, tagihan, atau konflik rumah tangga.

Jika orang tua pernah berbelanja impulsif, akui bahwa orang dewasa pun belajar. Ceritakan langkah perbaikan yang sederhana, misalnya membuat daftar atau menunggu satu hari sebelum membeli. Keteladanan bukan berarti tidak pernah salah; keteladanan berarti bersedia memperbaiki keputusan.

Ukuran keberhasilan bukan saldo celengan

Kebiasaan menabung yang sehat membuat anak memahami bahwa uang terbatas, kebutuhan perlu diprioritaskan, dan tujuan dapat disesuaikan. Ia juga belajar bahwa kondisi keluarga tidak sama dengan kondisi keluarga lain. Jika saat ini belum ada uang yang bisa disisihkan, keluarga tetap dapat belajar merencanakan dan membicarakan uang dengan cara yang aman.

Jangan membebani anak dengan target yang tidak realistis. Sedikit ruang untuk bertanya, memilih, dan memahami keputusan sering lebih bermanfaat daripada celengan yang penuh tetapi anak tidak tahu mengapa uang itu disimpan.

Bila anak bertanya mengapa teman bisa menabung lebih banyak, jawab tanpa merendahkan teman atau keadaan keluarga sendiri. Katakan bahwa setiap rumah memiliki aturan dan kemampuan berbeda. Keluarga tidak perlu membuka seluruh rincian penghasilan untuk menjelaskan hal itu. Cukup beri konteks bahwa kebutuhan setiap rumah tidak sama dan orang tua sedang mengatur prioritas.

Jika ingin memberi anak pengalaman mengelola uang, jangan menggunakan pinjaman dari anak sebagai latihan. Uang saku yang disepakati harus dibedakan dari uang yang orang tua pinjam atau hadiah yang disimpan. Kejelasan ini membantu anak membangun rasa aman terhadap uang dan keluarga.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.