Orang tua mendampingi anak menghitung uang THR dan merencanakan penggunaannya di ruang keluarga saat suasana Lebaran
THR dapat menjadi momen belajar mengelola uang ketika anak ikut menyusun rencana dengan pendampingan orang tua.
Pendidikan & Pembelajaran

Cara Mengelola Uang THR Anak: Menabung, Berbagi, dan Menggunakan dengan Bijak

Uang THR bisa menjadi kesempatan belajar tentang belanja, menabung, dan berbagi. Dampingi anak membuat rencana tanpa memaksakan persentase atau mengambil alih uangnya.

Begitu menerima amplop THR saat Lebaran, sebagian anak langsung membayangkan mainan, es krim, atau barang yang sudah lama diinginkan. Orang tua mungkin ingin sebagian besar uang itu masuk celengan. Di sinilah momen belajar bisa dimulai: bukan dengan mengambil alih seluruh uang anak, melainkan mengajaknya merencanakan apa yang ingin dilakukan dengan hadiah yang ia terima.

Tunjangan Hari Raya (THR) atau uang salam tempel dapat menjadi pengalaman konkret untuk mengenalkan bahwa uang memiliki beberapa kemungkinan penggunaan. Anak bisa menikmati sebagian, menyimpan sebagian, atau berbagi jika ia memang ingin. Tujuannya bukan membuat anak merasa bersalah saat membelanjakan uang, melainkan menolongnya membuat pilihan dengan sadar.

Mulai dengan mengakui bahwa uang itu terasa menyenangkan

Jangan buru-buru membuka percakapan dengan “separuh harus ditabung”. Anak mungkin baru saja menerima hadiah dan sedang bersemangat. Beri ruang untuk menikmati momen itu. Tanyakan apa yang paling ingin ia lakukan dengan uangnya dan dengarkan jawabannya sebelum menawarkan rencana.

Setelah suasana nyaman, jelaskan bahwa uang yang diterima bisa digunakan untuk tujuan berbeda. Materi edukasi Kementerian Keuangan tentang mengelola THR anak dengan bijak juga menempatkan momen THR sebagai kesempatan mengenalkan uang, pengeluaran, menabung, dan berbagi. Sampaikan dengan bahasa anak, bukan istilah akuntansi.

Rancang pilihan bersama, bukan persentase wajib

Orang tua dapat menawarkan tiga atau empat tujuan: menikmati sesuatu sekarang, menabung untuk tujuan yang dipilih, berbagi secara sukarela, atau menyimpan untuk rencana yang lebih jauh. Tidak ada persentase tunggal yang cocok bagi semua anak. Jumlah THR, usia, pengalaman, kebutuhan, dan kemampuan keluarga berbeda-beda.

Contohnya, seorang anak menerima beberapa amplop dari keluarga. Ia ingin membeli buku komik, menyimpan uang untuk sepatu olahraga, dan menyisihkan sedikit untuk kotak donasi di sekolah. Orang tua dapat membantu menghitung apakah rencananya mungkin dilakukan. Jika tidak cukup, anak bisa memilih mana yang paling penting atau menunda salah satunya. Jangan langsung menetapkan bahwa anak harus menyumbangkan jumlah tertentu.

Untuk anak yang lebih kecil, gunakan uang mainan atau gambar barang sebagai alat bantu. Untuk anak yang sudah lancar berhitung, tuliskan nominal yang diterima dan rencana penggunaannya. Cara ini melengkapi pengenalan literasi keuangan melalui uang saku dan belanja dengan konteks uang hadiah yang datang tidak rutin.

Jelaskan bahwa THR bukan uang yang harus segera dihabiskan

Karena THR sering diterima sekaligus, anak dapat merasa jumlahnya sangat besar dibanding uang saku harian. Bantu ia melihat bahwa uang itu tetap terbatas. Bila semuanya dipakai hari ini, tidak ada lagi bagian yang bisa digunakan untuk rencana lain. Anak tidak perlu dilarang membeli sesuatu; ia perlu memahami akibat pilihannya.

Orang tua bisa mengajak anak membandingkan dua pilihan. “Kalau membeli mainan ini, sisa uangmu berapa?” “Apakah kamu masih ingin menyimpan untuk sepatu?” “Mau menunggu beberapa hari sebelum memutuskan?” Menunda keputusan bukan berarti menolak keinginan. Kadang jeda satu atau dua hari membantu anak mengetahui apakah ia masih benar-benar menginginkan barang tersebut.

Jangan menggunakan THR sebagai sarana menilai anak hemat atau boros. Jika anak menghabiskan sebagian uangnya untuk hal yang aman dan sesuai kesepakatan, gunakan itu sebagai bahan refleksi. Anak dapat belajar tanpa harus dipermalukan di depan keluarga.

Hormati pemberian dan jelaskan batas penggunaannya

Uang yang diberikan kepada anak dapat diperlakukan sebagai kesempatan untuk berlatih bertanggung jawab. Bila orang tua memiliki kebutuhan keluarga yang mendesak, jangan diam-diam mengambil uang tersebut lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Bicarakan sesuai usia, bedakan kebutuhan keluarga dari uang yang sedang dikelola anak, dan jangan membuat anak merasa bertanggung jawab menyelamatkan keuangan rumah tangga.

Untuk kebutuhan yang memang wajib ditanggung orang tua—makanan utama, sekolah, kesehatan, transportasi pokok, dan keselamatan—jangan menjadikan THR anak sebagai sumber pembiayaan rutin tanpa penjelasan dan persetujuan yang layak. Anak bukan penanggung beban keuangan keluarga. Jika ada kesepakatan bahwa sebagian uang digunakan untuk kebutuhan tertentu, jelaskan sebelum uang dialihkan.

Berbagi harus lahir dari pemahaman

Berbagi dapat menjadi bagian dari rencana, tetapi hindari memaksa anak memberikan uang agar terlihat baik. Ceritakan tujuan berbagi dengan konkret: membantu kegiatan sosial, membeli kebutuhan teman yang membutuhkan, atau mendukung lembaga yang dipercaya keluarga. Pastikan orang tua memeriksa penerima dan cara penyalurannya. Anak boleh memilih jumlah kecil atau belum siap berbagi dalam bentuk uang.

Berbagi juga tidak harus selalu menggunakan uang. Anak dapat menyumbangkan buku yang masih layak, membantu kegiatan keluarga, atau memberikan waktu dan perhatian. Dengan begitu, kebaikan tidak dipersempit menjadi berapa rupiah yang diberikan.

Jaga keamanan uang dan transaksi

Untuk anak kecil, simpan uang THR bersama orang tua di tempat aman sambil tetap mencatat jumlah yang menjadi bagian anak. Bila anak mulai memakai rekening atau dompet digital, pastikan produk sesuai usia, persyaratan resmi dipenuhi, dan orang tua memahami biaya, batas transaksi, serta mekanisme pengaduan. Jangan meminta anak menyebut PIN, kata sandi, atau kode sekali pakai di depan orang lain.

Otoritas Jasa Keuangan menjelaskan bahwa literasi keuangan mencakup pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku dalam mengambil keputusan serta mengelola keuangan. Lihat penjelasan literasi keuangan dari OJK. Pesan sederhananya untuk anak: pahami sebelum menggunakan, tanyakan jika tidak mengerti, dan jangan membagikan informasi rahasia.

Buat evaluasi ringan setelah Lebaran

Beberapa hari atau minggu setelah Lebaran, ajak anak melihat rencananya. Apa yang sudah dilakukan? Apakah masih ada tujuan yang ingin dicapai? Apakah ia ingin mengubah rencana? Tidak perlu membuat laporan panjang. Percakapan singkat sudah cukup untuk melihat bahwa uang bukan hanya soal menerima dan membelanjakan, tetapi juga merencanakan.

Bila anak kecewa karena uangnya tidak cukup, bantu ia menyusun pilihan berikutnya. Mungkin targetnya perlu dibuat lebih kecil, menabungnya diperpanjang, atau ia memilih barang lain. Jangan menjanjikan orang tua akan selalu menambah kekurangan. Belajar menyesuaikan rencana adalah bagian penting dari mengelola uang.

THR bisa menjadi latihan, bukan ujian

Setiap anak menerima THR dalam jumlah dan keadaan yang berbeda. Jangan membandingkan nominal antarsaudara atau anak dengan sepupu. Jangan pula memaksa anak menyisihkan uang dalam jumlah yang sama jika kondisi pemberian mereka berbeda-beda.

Yang paling berharga dari THR bukan seberapa banyak uang yang akhirnya masuk celengan. Momen itu dapat mengajarkan anak mengenali keinginan, merencanakan tujuan, menikmati sesuatu tanpa berlebihan, menjaga uang, dan berbagi dengan sukarela. Orang tua cukup membuka percakapan, menyediakan batas aman, lalu menemani anak belajar dari pilihannya.

Jika anak menerima uang dari beberapa kerabat, tuliskan jumlahnya bersama-sama agar tidak ada amplop yang terlupa. Untuk anak yang belum lancar berhitung, orang tua dapat menghitung sambil menyebut pecahan uang. Untuk anak yang lebih besar, biarkan ia menjumlahkan dengan pendampingan. Kesalahan hitung bukan alasan untuk mengejek; ulangi perlahan dan tunjukkan cara memeriksa kembali.

Hindari pula menjadikan momen Lebaran sebagai ajang membandingkan siapa menerima THR paling banyak. Jumlah hadiah dipengaruhi keputusan masing-masing keluarga dan bukan ukuran kasih sayang. Bila ada anggota keluarga yang memberi uang dengan pesan khusus, misalnya untuk membeli buku, bantu anak memahami maksud pemberian itu dan tanyakan bila pesannya belum jelas.

Jika anak mulai mendapat uang saku rutin, kebiasaan dari momen THR dapat diterapkan kembali dalam skala kecil. Orang tua dapat melihat cara mengelola uang jajan mingguan agar percakapan tentang rencana tidak berhenti setelah Lebaran. Uang hadiah dan uang saku memang berbeda, tetapi keduanya dapat menjadi kesempatan anak berlatih membuat pilihan.

Untuk hadiah uang yang diterima pada kesempatan lain, artikel mengatur uang angpao dan hadiah ulang tahun anak dapat membantu orang tua membandingkan cara mendampingi anak ketika menerima uang tidak rutin.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.