Orang tua mendengarkan dua anak Indonesia yang sedang membicarakan perselisihan saat bermain permainan papan.
Anak berlatih menyampaikan pendapat dan mendengarkan teman setelah suasana hati lebih tenang.
Pola Asuh & Disiplin

Cara Melatih Anak Mengatasi Konflik dengan Teman Sebaya Secara Dewasa

Latih anak menenangkan diri, mendengar dua sudut pandang, menyampaikan batas, dan mencari solusi; kenali kapan konflik perlu ditangani orang dewasa.

Anak pulang sekolah lalu berkata, “Aku tidak mau bermain dengannya lagi.” Setelah ditanya, ternyata ia dan temannya berbeda pendapat ketika memilih permainan. Orang tua mungkin tergoda langsung menyalahkan teman, menyuruh anak mengalah, atau menghubungi orang tua lain. Padahal, tidak semua perselisihan perlu diselesaikan orang dewasa. Sebagian dapat menjadi kesempatan anak belajar mendengar, menyampaikan keberatan, bernegosiasi, dan mencari jalan keluar.

Mengatasi konflik secara dewasa bukan berarti anak harus selalu tenang atau mengalah. Anak boleh marah, kecewa, dan mempertahankan batasnya. Yang dilatih adalah cara menyampaikan perasaan tanpa menyakiti, memahami sudut pandang orang lain, serta memilih tindakan yang tidak memperbesar masalah.

Bedakan perselisihan biasa dari perundungan atau kekerasan

Perselisihan biasa dapat terjadi ketika dua anak sama-sama ingin memakai bola, berbeda aturan permainan, atau merasa pembagian tugas tidak adil. Biasanya ada ruang untuk saling berbicara dan mencari kesepakatan. Namun, jika satu anak berulang kali mengintimidasi, mengancam, memukul, mengucilkan, meminta uang, atau menggunakan ketimpangan kuasa untuk menyakiti, situasinya bukan sekadar konflik yang harus diselesaikan sendiri oleh anak.

Orang tua perlu menanyakan apakah anak merasa aman, apakah kejadian berulang, dan apakah ada ancaman atau cedera. Jika ada kekerasan, perundungan, pemaksaan, atau risiko keselamatan, libatkan guru dan pihak sekolah. Jangan meminta anak bernegosiasi sendirian dengan orang yang mengancamnya. Perlindungan harus didahulukan sebelum latihan komunikasi.

Bantu anak menenangkan diri sebelum membahas masalah

Anak yang masih marah mungkin belum siap mendengarkan penjelasan. Beri waktu untuk minum, duduk, bergerak sebentar, atau menceritakan perasaannya tanpa langsung mencari siapa yang salah. Orang tua dapat berkata, “Kamu terlihat kesal. Kita tenangkan diri dulu, lalu ceritakan dari awal.” Mengakui emosi tidak berarti membenarkan semua tindakan yang dilakukan saat marah.

Jika anak mendorong atau memukul, hentikan tindakan tersebut dan pastikan semua orang aman. Setelah tenang, bicarakan cara lain untuk menunjukkan keberatan. Anak boleh berkata “Aku tidak suka kalau kamu mengambil giliran tanpa bertanya” atau menjauh untuk mencari bantuan. Jangan mengajarkan bahwa kekerasan adalah cara wajar mempertahankan pendapat.

Dengarkan cerita tanpa buru-buru memberi vonis

Minta anak menjelaskan apa yang terjadi sebelum konflik, apa yang ia lakukan, apa yang dilakukan temannya, dan bagian mana yang membuatnya tidak nyaman. Pertanyaan terbuka membantu: “Apa yang kamu harapkan saat itu?” atau “Menurutmu, apa yang mungkin dipikirkan temanmu?” Hindari pertanyaan yang sudah menyisipkan tuduhan seperti “Dia memang sengaja jahat, kan?” karena dapat membuat cerita menjadi satu arah.

Orang tua tidak harus bersikap netral terhadap perilaku yang jelas membahayakan. Namun, dalam perselisihan biasa, dengarkan semua sisi sebelum menyimpulkan. Anak perlu merasakan bahwa ceritanya dipercaya untuk didengar, bukan otomatis semua penilaiannya dianggap lengkap. Ini membantu anak belajar membedakan perasaan, fakta, dan dugaan.

Ajarkan langkah menyelesaikan masalah yang sederhana

  1. Jelaskan masalah dengan kalimat singkat tanpa memberi cap pada orang lain.
  2. Sampaikan perasaan dan kebutuhan: “Aku kesal karena belum mendapat giliran.”
  3. Dengarkan jawaban teman dan ulangi inti yang dipahami.
  4. Usulkan dua atau tiga solusi yang bisa diterima bersama.
  5. Pilih kesepakatan, coba jalankan, dan lihat apakah semua merasa aman.

Anak yang lebih kecil mungkin membutuhkan orang tua atau guru untuk memandu setiap langkah. Anak yang lebih besar dapat berlatih menyusun kata-katanya sendiri. Orang tua dapat bermain peran di rumah, misalnya dua anak ingin memakai alat yang sama. Coba beberapa kemungkinan: bergantian, menggunakan timer, memilih kegiatan lain, atau meminta bantuan orang dewasa jika tidak ada kesepakatan.

Tunjukkan contoh kalimat yang tegas tetapi tidak menyerang

Anak sering memerlukan contoh kalimat karena sulit menemukan kata-kata ketika emosinya tinggi. Ajarkan frasa seperti “Aku belum selesai memakai itu”, “Aku tidak nyaman kalau kamu mengejek”, “Kita bisa bergantian?”, atau “Aku mau berhenti dulu karena kita sedang marah.” Kalimat tersebut membantu anak menyampaikan batas tanpa menghina.

Tegas tidak sama dengan kasar. Anak boleh menolak ajakan yang tidak nyaman, mengatakan bahwa sebuah permainan terasa tidak adil, dan meminta bantuan. Ia tidak harus selalu menyenangkan semua teman. Hubungan yang sehat memberi ruang bagi perbedaan dan penolakan yang disampaikan dengan hormat.

Latih anak mendengar, bukan hanya berbicara

Saat berkonflik, anak mungkin hanya fokus pada apa yang dirasakannya. Minta ia mencoba memahami sudut pandang teman: apakah temannya belum mendapat giliran, salah memahami aturan, atau sedang kecewa karena hal lain? Memahami alasan orang lain tidak berarti anak harus menyetujui semua perilakunya. Ini membantu membuka kemungkinan solusi yang lebih adil.

Orang tua dapat mencontohkan mendengar secara aktif di rumah. Ketika anak menyampaikan keluhan, ulangi singkat, “Jadi kamu merasa tidak dilibatkan karena keputusan dibuat tanpa bertanya?” Setelah anak membenarkan atau mengoreksi, baru tawarkan pandangan. Kebiasaan ini mengajarkan bahwa konflik dapat dibicarakan tanpa saling memotong.

Kapan orang dewasa perlu turun tangan?

Libatkan guru jika konflik memengaruhi kehadiran, rasa aman, hubungan kelas, atau berulang meskipun anak sudah mencoba menyelesaikannya. Hubungi orang tua teman bila ada kerusakan barang atau kesalahpahaman yang memerlukan pembicaraan antar keluarga, tetapi hindari konfrontasi langsung di depan anak. Untuk masalah yang melibatkan ancaman, kekerasan fisik, pelecehan, atau pemerasan, gunakan jalur perlindungan sekolah dan layanan terkait.

Setelah masalah mereda, tanyakan apakah anak merasa aman untuk kembali berinteraksi. Ia tidak wajib langsung berteman dekat atau memaafkan sebelum siap. Kadang penyelesaian yang sehat berarti membuat batas baru, memilih kelompok bermain lain, atau meminta pengawasan lebih dekat. Fokusnya adalah keamanan, penghormatan, dan kemampuan menjaga hubungan secara sehat.

Jangan jadikan anak mediator untuk konflik orang dewasa

Jika orang tua tidak akur dengan keluarga teman, jangan meminta anak menyampaikan pesan atau membalas sindiran. Anak tidak semestinya memikul konflik orang dewasa. Selesaikan komunikasi orang tua secara langsung dan sopan. Dengan begitu, anak dapat mengembangkan pertemanan berdasarkan pengalaman mereka sendiri, bukan mewarisi perseteruan keluarga.

Bacaan terkait di BisaBaca

Baca juga mengajarkan negosiasi yang sopan, menangani konflik tanpa mempermalukan anak, dan mendampingi anak ketika bertengkar dengan teman.

Rujukan

University of Wisconsin Extension menjelaskan langkah membantu anak menyelesaikan masalah dengan orang lain. Health Promotion Board Singapura juga menyediakan panduan mengelola konflik dengan teman sebaya.

Latih anak membedakan konflik biasa dan tindakan yang tidak aman

Tidak semua perselisihan dapat diselesaikan dengan meminta kedua anak bergantian mengalah. Jika ada ancaman, kekerasan fisik, pemerasan, perundungan berulang, atau perbedaan kuasa yang membuat seorang anak takut, orang dewasa perlu turun tangan dan melindungi anak. Jangan memaksa anak berdamai atau berjabat tangan sebelum ia merasa aman. Catat kejadian yang berulang dan libatkan guru atau pihak sekolah sesuai kebutuhan.

Untuk konflik sehari-hari yang relatif setara—misalnya berbeda pendapat tentang aturan permainan—orang tua dapat membantu anak menyampaikan masalah tanpa menyerang pribadi. Ajak ia menjelaskan apa yang terjadi, apa yang ia rasakan, dan apa yang ia butuhkan. Setelah mendengar pihak lain, anak dapat mengusulkan beberapa pilihan: bergiliran, mengganti aturan, membagi peran, atau memilih permainan lain. Tidak semua konflik berakhir dengan kesepakatan. Terkadang anak perlu mengambil jarak dengan sopan. Keterampilan dewasa bukan berarti selalu mengalah, melainkan mampu menjaga batas, mendengar, dan memilih respons yang aman.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.