Ketika anak memukul, merebut barang, atau mengucapkan kata yang menyakiti temannya, orang tua sering ingin anak segera meminta maaf. Permintaan maaf memang dapat menjadi bagian dari memperbaiki hubungan, tetapi mengucapkan “maaf” secara otomatis belum tentu membuat anak memahami dampak tindakannya. Anak perlu dibantu mengenali apa yang terjadi dan bagaimana memperbaiki keadaan.
Tujuannya bukan memaksa anak merasa bersalah atau mempermalukannya. Orang tua ingin mengajarkan tanggung jawab, empati, dan keterampilan memperbaiki kesalahan. Proses ini perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan bahasa, dan keadaan emosi anak.
Amankan situasi dan hentikan perilaku yang menyakiti
Jika anak memukul, mendorong, atau melempar benda ke arah orang lain, hentikan perilaku itu terlebih dahulu. Pisahkan anak bila perlu dan pastikan pihak yang terluka mendapat perhatian. Gunakan kalimat tegas: “Aku tidak akan membiarkan kamu memukul. Kita berhenti dulu.” Jangan memaksa anak meminta maaf ketika situasi masih panas.
Periksa apakah ada luka atau kebutuhan pertolongan. Jika ada cedera, tangani sesuai kebutuhan dan cari bantuan medis bila diperlukan. Keselamatan orang yang terluka lebih penting daripada segera membuat anak mengucapkan kata maaf.
Bantu anak memahami kejadian secara konkret
Setelah tenang, jelaskan perilaku yang terjadi tanpa memberi label: “Kamu mengambil mobil dari tangan Dimas dan mendorongnya ketika dia tidak mau melepas.” Tanyakan apa yang anak ingat dan dengarkan jawabannya. Anak yang lebih kecil mungkin belum mampu menjelaskan alasan dengan runtut; orang tua dapat membantu menyebutkan urutannya.
Jelaskan dampak dengan kalimat sederhana: “Dimas terjatuh dan mungkin kesakitan.” Hindari kalimat yang mempermalukan seperti “Kamu anak nakal” atau “Semua orang tidak suka kamu.” Fokus pada tindakan yang dapat diperbaiki, bukan identitas anak.
Ajarkan beberapa cara untuk memperbaiki keadaan
Permintaan maaf dapat disampaikan melalui kata-kata, tindakan, atau keduanya. Anak dapat bertanya apakah temannya baik-baik saja, mengembalikan barang, membantu mengambil benda yang jatuh, atau membuat kesepakatan agar kejadian tidak terulang. Jangan memaksa korban menerima pelukan atau langsung memaafkan.
Contoh kalimat untuk anak: “Aku minta maaf sudah mendorongmu. Kamu jatuh. Aku akan bilang kalau ingin main mobil, bukan merebut.” Untuk anak yang belum lancar berbicara, orang tua dapat mencontohkan kalimat singkat dan membantu anak melakukan tindakan perbaikan yang sesuai.
Jangan menjadikan permintaan maaf sebagai pertunjukan
Meminta maaf di depan banyak orang atau saat anak masih menangis dapat membuatnya fokus pada rasa malu, bukan memahami dampak. Beri waktu dan bantu anak menyiapkan respons. Jika ia belum siap berbicara, orang tua dapat menyampaikan bahwa perilakunya tidak boleh diulang sambil menunggu anak lebih tenang.
Namun, jangan menghapus tanggung jawab dengan mengatakan “namanya juga anak-anak” ketika ada pihak yang terluka. Anak tetap perlu mempelajari bahwa tindakannya berdampak pada orang lain. Kehangatan dan batasan dapat hadir bersamaan.
Latih perilaku pengganti untuk kejadian berikutnya
- Jika ingin mainan, ajarkan meminta giliran atau menunggu.
- Jika marah, ajarkan mengatakan “Aku kesal” atau menjauh sejenak.
- Jika tidak setuju, ajarkan mengungkapkan keberatan tanpa memukul atau menghina.
- Jika melakukan kesalahan, ajarkan memberi tahu orang dewasa dan ikut memperbaiki keadaan.
UNICEF menjelaskan bahwa positive parenting mengutamakan bimbingan, batas yang jelas, dan disiplin tanpa kekerasan. Baca panduan UNICEF untuk anak usia 6–10 tahun sebagai referensi pendekatan sesuai tahap usia.
Bekerja sama dengan sekolah atau orang tua lain
Jika kejadian berlangsung di sekolah atau rumah teman, sampaikan respons keluarga dengan tenang dan terbuka. Dengarkan penjelasan guru atau orang tua lain, tanyakan kebutuhan anak yang terluka, dan sepakati langkah pencegahan. Hindari menyebarkan cerita yang mempermalukan anak di grup pesan atau media sosial.
Bila perilaku menyakiti berulang, semakin berat, atau disertai kesulitan mengelola emosi yang mengganggu hubungan dan kegiatan anak, mintalah penilaian tenaga profesional. Orang tua juga dapat membaca contoh komunikasi dua arah dengan anak saat konflik untuk membangun percakapan yang lebih baik.
Permintaan maaf berarti belajar memperbaiki, bukan sekadar mengucapkan kata
Anak belajar bertanggung jawab ketika orang tua membantu mereka melihat dampak, memperbaiki keadaan, dan mencoba respons berbeda. Permintaan maaf yang bermakna tumbuh melalui latihan dan teladan. Tidak harus sempurna pada satu kejadian; yang penting, anak terus dibimbing untuk memperlakukan orang lain dengan aman dan hormat.
Pastikan anak yang terluka memiliki ruang dan pilihan
Anak yang terluka mungkin ingin menjauh, diam, atau tidak mau berbicara. Jangan memaksanya menerima pelukan atau memaafkan agar situasi cepat selesai. Tanyakan apa yang dibutuhkan untuk merasa aman, misalnya waktu sendiri, bantuan orang dewasa, atau mengambil kembali barang. Menghormati batas anak yang terluka sama pentingnya dengan mengajarkan tanggung jawab kepada anak yang menyakiti.
Jika tindakan menyebabkan cedera atau ada pola kekerasan yang berulang, orang dewasa perlu menyusun langkah perlindungan yang lebih kuat dan melibatkan pihak yang kompeten. Permintaan maaf saja tidak menggantikan penanganan keselamatan.
Periksa perubahan perilaku, bukan hanya kata maaf
Setelah anak meminta maaf atau melakukan perbaikan, amati apakah perilaku pengganti mulai muncul. Apakah ia meminta giliran, menjauh ketika marah, atau mencari bantuan sebelum memukul? Beri umpan balik pada usaha yang terlihat. Jika perilaku menyakiti terus terjadi, cari pemicu dan konsultasikan bila diperlukan.










