Seorang ibu memanggil anak yang sedang bermain balok di ruang keluarga dengan ekspresi tenang dan tidak memaksa.
Orang tua dapat mendekat, memastikan perhatian anak, lalu mengamati pola responsnya dalam berbagai situasi.
IBU BERTANYA

Apa yang Bisa Dilakukan Saat Anak Tidak Merespons Ketika Dipanggil?

Anak yang tidak menoleh saat dipanggil belum tentu sengaja mengabaikan. Kenali pengaruh perhatian, lingkungan, pemahaman, dan kemungkinan gangguan pendengaran.

Ketika orang tua memanggil anak beberapa kali tetapi tidak mendapat jawaban, situasinya mudah terasa menjengkelkan. Anak terlihat mendengar, tetapi tetap bermain, menatap layar, atau berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Ketika anak tidak merespons ketika dipanggil, orang tua sebaiknya mencari tahu lebih dulu apakah panggilan terdengar, pesannya dipahami, dan anak memiliki kesempatan untuk menanggapi. Sebelum menyimpulkan bahwa ia sengaja mengabaikan, coba lihat situasinya lebih utuh. Anak mungkin sedang sangat berkonsentrasi, tidak menangkap suara di tengah keramaian, belum memahami instruksi, atau memang mengalami kesulitan mendengar.

Karena itu, tidak merespons ketika dipanggil bukan alasan untuk langsung memberi label “bandel” atau “tidak patuh”. Respons yang tepat dimulai dengan mencari tahu apakah anak mendengar, memahami, dan memiliki kesempatan untuk menanggapi. Pada bayi dan anak kecil, kemampuan merespons suara serta nama juga perlu dilihat sesuai tahap perkembangan, bukan dibandingkan begitu saja dengan anak lain.

Orang tua dapat mencoba beberapa penyesuaian sederhana di rumah. Namun, bila pola ini terjadi berulang dalam berbagai situasi, disertai keterlambatan komunikasi, atau membuat orang tua khawatir tentang pendengaran dan perkembangan anak, konsultasi dengan tenaga kesehatan lebih tepat daripada terus menaikkan suara.

Bedakan anak tidak mendengar, belum memahami, dan belum bersedia merespons

Tiga situasi ini dapat tampak mirip dari luar, tetapi membutuhkan pendekatan yang berbeda. Anak yang tidak mendengar panggilan mungkin tidak menangkap suara. Anak yang belum memahami instruksi bisa mendengar namanya, tetapi tidak tahu tindakan apa yang diminta. Sementara itu, anak yang sedang asyik bermain mungkin mendengar dan memahami, tetapi belum mengalihkan perhatian atau belum ingin menghentikan kegiatannya.

Karena itu, perhatikan apa yang terjadi sebelum, selama, dan sesudah orang tua memanggil. Apakah anak menoleh ketika ada suara lain? Apakah ia merespons jika orang tua mendekat atau berada dalam bidang pandangnya? Apakah ia memahami instruksi sederhana pada kesempatan lain? Apakah perilaku ini hanya muncul ketika sedang menonton video, bermain, atau berada di tempat ramai? Catatan kecil seperti ini jauh lebih berguna daripada menilai anak hanya dari satu kejadian.

Perhatian anak bisa sedang tertuju pada kegiatan lain

Anak yang sedang menyusun balok, menggambar, membaca, atau menonton sesuatu mungkin membutuhkan waktu untuk mengalihkan perhatian. Ini tidak otomatis berarti ia tidak mendengar. Sebagian anak juga belum terbiasa berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain dengan cepat. Dalam keadaan seperti ini, memanggil berulang-ulang dari ruangan berbeda sering tidak membantu karena anak tetap harus menghentikan aktivitas, mencari sumber suara, lalu memahami maksud orang tua.

Anak mungkin mendengar, tetapi belum memahami instruksi

Nama anak dan instruksi adalah dua hal yang berbeda. Anak bisa mengenali namanya, tetapi belum memahami kalimat panjang seperti, “Ayo cepat bereskan semua barangmu, setelah itu ambil tas, lalu tunggu di depan.” Untuk anak yang masih kecil, kalimat sepanjang itu dapat terasa membingungkan. Pecah menjadi satu arahan yang konkret, kemudian sampaikan arahan berikutnya setelah anak menyelesaikan langkah pertama.

Pendengaran juga perlu diperhatikan

Gangguan pendengaran tidak selalu terlihat jelas. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa pendengaran berperan dalam perkembangan bahasa, kemampuan belajar, dan interaksi sosial. Kemenkes juga mengingatkan bahwa anak yang terlihat tidak fokus atau kesulitan belajar bisa saja memiliki masalah pendengaran yang belum dikenali. Karena itu, jangan menganggap semua respons yang terlambat sebagai masalah perilaku. Baca penjelasan Kementerian Kesehatan tentang deteksi dini dan kesehatan pendengaran untuk memahami mengapa perhatian terhadap pendengaran penting sejak masa tumbuh kembang.

Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan dengan membangun komunikasi dan kerja sama ketika anak belum mau mendengarkan.

Perhatikan usia dan tahap perkembangan anak

Harapan terhadap respons anak perlu disesuaikan dengan usianya. Bayi belum menanggapi panggilan dengan cara yang sama seperti anak prasekolah. Anak yang lebih besar pun bisa memahami instruksi tetapi memerlukan waktu untuk menghentikan aktivitas atau mengelola emosinya sebelum menjawab.

CDC mencantumkan perilaku melihat ketika namanya dipanggil sebagai salah satu milestone sosial-emosional yang umumnya sudah terlihat pada usia 9 bulan. CDC menjelaskan bahwa milestone adalah kemampuan yang dapat dilakukan oleh sebagian besar anak—setidaknya 75 persen—pada usia tertentu. Daftar tersebut membantu orang tua memantau perkembangan, tetapi bukan alat skrining perkembangan yang tervalidasi atau alat untuk mendiagnosis kondisi anak. Orang tua dapat melihat daftar milestone CDC untuk usia 9 bulan sebagai bahan diskusi saat pemeriksaan rutin.

Pada usia yang lebih besar, perhatikan juga kemampuan anak memahami bahasa, mengikuti instruksi sesuai tahap usianya, menggunakan gestur atau kata untuk berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Tidak semua anak mencapai setiap keterampilan pada hari atau minggu yang sama. Yang lebih penting adalah melihat pola perkembangan dari waktu ke waktu dan menyampaikan kekhawatiran bila ada keterampilan yang belum muncul atau justru menghilang.

Langkah yang bisa dicoba orang tua saat memanggil anak

Tujuannya bukan membuat anak selalu langsung menuruti setiap panggilan. Tujuannya adalah membangun komunikasi dua arah: anak belajar mengenali panggilan, sementara orang tua belajar memberi pesan yang jelas dan sesuai kemampuan anak.

  1. Dekati anak terlebih dahulu. Jika memungkinkan, berjalanlah mendekat hingga suara terdengar jelas. Panggilan dari dapur ke kamar yang tertutup atau dari lantai berbeda mudah tertutup suara lain. Untuk anak kecil, sejajarkan posisi tubuh agar ia lebih mudah melihat wajah dan gerak bibir orang tua.
  2. Kurangi suara yang bersaing. Matikan atau kecilkan televisi, musik, atau perangkat lain bila situasinya memungkinkan. Jangan menguji pendengaran dengan membunyikan suara sangat keras atau tiba-tiba. Orang tua hanya perlu menciptakan situasi komunikasi yang lebih tenang, bukan melakukan pemeriksaan pendengaran sendiri.
  3. Sebut nama anak dengan nada wajar. Gunakan nama yang biasa ia kenali. Hindari berteriak dari kejauhan atau mengulang nama berkali-kali dengan nada semakin marah. Beri jeda agar anak memiliki kesempatan mengalihkan perhatian dan menanggapi.
  4. Berikan satu instruksi yang jelas. Ganti kalimat panjang dengan arahan pendek dan konkret, misalnya, “Tolong letakkan balok di kotak.” Setelah anak melakukannya, lanjutkan dengan arahan berikutnya. Gunakan kata yang dikenal anak dan sesuai usianya.
  5. Pastikan anak menangkap pesan. Perhatikan apakah ia menoleh, berhenti sejenak, menjawab, menunjuk, atau melakukan tindakan yang diminta. Pada anak yang belum lancar berbicara, respons tidak harus berupa kata-kata. Gestur, tatapan, atau gerakan yang sesuai konteks juga dapat menjadi bentuk komunikasi.
  6. Beri waktu untuk beralih kegiatan. Jika anak sedang bermain, beri penanda sebelum kegiatan berakhir, misalnya, “Setelah balok ini masuk kotak, kita cuci tangan.” Peringatan singkat membantu anak mempersiapkan diri daripada dipaksa berhenti mendadak.
  7. Hargai respons yang muncul. Ucapkan terima kasih atau jelaskan bahwa orang tua sudah melihat usahanya. Hindari pujian berlebihan untuk setiap respons kecil; cukup tunjukkan bahwa komunikasi berjalan dua arah. Jika ia belum menanggapi, ulangi dengan cara yang lebih jelas tanpa mempermalukannya.

Contoh kalimat yang lebih membantu daripada membentak

Kalimat yang dipilih orang tua dapat membuat perbedaan. Coba bandingkan beberapa situasi berikut.

SituasiRespons yang sebaiknya dihindariAlternatif yang lebih jelas
Anak sedang menyusun mainan“Kamu ini dipanggil dari tadi tidak dengar, ya?”“Kak, lihat sebentar. Setelah balok ini selesai, waktunya makan.”
Anak berada di ruangan lainBerteriak berkali-kali dari jauh.Datangi anak, sebut namanya, lalu sampaikan satu instruksi.
Anak tidak segera bergerak“Selalu saja tidak mau menurut!”“Kamu dengar Ibu? Tolong letakkan sepatu di rak, ya.”
Anak tampak tidak memahami permintaanMengulang kalimat panjang dengan suara lebih keras.Gunakan kalimat singkat, lalu tunjukkan benda atau tempat yang dimaksud.

Jika anak belum menjawab, orang tua dapat memeriksa pemahamannya dengan pertanyaan sederhana seperti, “Tadi Ayah minta kamu melakukan apa?” Untuk anak yang lebih kecil, minta ia menunjukkan benda yang dimaksud. Cara ini membantu membedakan apakah pesan tidak terdengar, belum dipahami, atau sudah dipahami tetapi belum dilakukan.

Hal yang sebaiknya tidak dilakukan

  • Jangan langsung memberi cap nakal atau tidak patuh. Label tidak membantu orang tua memahami penyebab perilaku dan dapat membuat anak merasa selalu disalahkan.
  • Jangan mempermalukan anak di depan orang lain. Komentar seperti “Dia memang tidak pernah mendengarkan” dapat merusak rasa aman dan tidak menyelesaikan persoalan komunikasi.
  • Jangan menjadikan bentakan sebagai cara utama memanggil. Anak mungkin merespons karena terkejut atau takut, bukan karena memahami pesan. Respons yang muncul karena rasa takut juga tidak membangun kebiasaan komunikasi yang sehat.
  • Jangan menguji pendengaran dengan suara ekstrem. Menepuk keras dekat telinga, membunyikan benda secara mendadak, atau menaikkan volume bukan pengganti pemeriksaan pendengaran.
  • Jangan menganggap satu kejadian sebagai bukti kondisi tertentu. Anak yang tidak menoleh sekali saat dipanggil tidak otomatis mengalami gangguan pendengaran, autisme, atau masalah perilaku. Penilaian memerlukan riwayat perkembangan dan pemeriksaan yang sesuai.

Kapan orang tua perlu memeriksakan pendengaran dan perkembangan anak?

Perhatikan pola, bukan satu kejadian. Jika anak sering tidak menoleh terhadap suara atau panggilan dalam berbagai situasi, tidak merespons suara dari arah berbeda, tampak hanya menanggapi ketika melihat wajah orang yang berbicara, atau terlihat kesulitan memahami percakapan, sampaikan hal tersebut kepada dokter. Catat juga apakah anak sering meminta orang mengulang ucapan, menaikkan volume televisi, atau mengalami keterlambatan bicara.

CDC mencantumkan beberapa tanda yang dapat berkaitan dengan gangguan pendengaran, antara lain tidak terkejut oleh suara keras, tidak menoleh ke sumber suara setelah usia 6 bulan, belum mengucapkan kata tunggal seperti “mama” atau “dada” pada usia 1 tahun, atau menoleh ketika melihat orang tetapi tidak ketika namanya dipanggil saja. Pada anak yang lebih besar, keterlambatan bicara, ucapan yang tidak jelas, kesulitan mengikuti arahan, sering berkata “apa?”, atau mengatur volume televisi terlalu tinggi juga patut diperhatikan. Tanda-tanda tersebut bukan diagnosis, tetapi alasan untuk meminta penilaian profesional. Rujuk panduan CDC tentang tanda gangguan pendengaran pada anak dan diskusikan temuan yang sesuai dengan kondisi anak.

Jika orang tua memiliki kekhawatiran, jangan menunggu sampai anak masuk sekolah. Bicarakan dengan dokter anak, dokter di puskesmas, atau tenaga kesehatan yang menangani tumbuh kembang. Dokter dapat menilai riwayat kesehatan, perkembangan komunikasi, kondisi telinga, dan menentukan apakah anak perlu skrining atau pemeriksaan pendengaran lebih lengkap. Pemeriksaan lanjutan dapat melibatkan dokter THT atau tenaga profesional audiologi sesuai kebutuhan.

Riwayat lolos skrining pendengaran saat bayi juga tidak berarti orang tua harus mengabaikan tanda yang muncul kemudian. CDC mengingatkan bahwa tanda gangguan pendengaran tetap perlu diperhatikan meskipun anak pernah melewati skrining sebelumnya. Bila anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki—misalnya dahulu merespons suara atau menggunakan kata tertentu lalu tidak lagi—sampaikan hal itu secepatnya kepada tenaga kesehatan. Kehilangan keterampilan yang sudah muncul perlu dinilai, bukan ditunggu tanpa penjelasan.

Apa yang perlu dicatat sebelum berkonsultasi?

Catatan sederhana akan membantu tenaga kesehatan memahami situasi dengan lebih jelas. Orang tua tidak perlu membuat kesimpulan atau diagnosis sendiri. Cukup tuliskan hal yang benar-benar diamati.

  • Usia anak dan kapan orang tua mulai melihat perubahan respons.
  • Situasi ketika anak menanggapi atau tidak menanggapi, misalnya saat bermain, di tempat ramai, dari jarak dekat, atau ketika orang tua berada di luar pandangan.
  • Jenis suara yang tampaknya menarik perhatian anak, tanpa melakukan uji suara keras atau percobaan berisiko.
  • Perkembangan bicara, pemahaman instruksi sederhana, gestur, dan interaksi anak sehari-hari.
  • Riwayat infeksi telinga, keluhan telinga, pemeriksaan pendengaran sebelumnya, atau perubahan kemampuan yang pernah dimiliki.
  • Contoh kejadian yang membuat orang tua khawatir, termasuk kapan terjadi dan apa yang dilakukan anak.

Bila memungkinkan, ajak pengasuh atau guru berbagi pengamatan. Anak mungkin menunjukkan respons berbeda di rumah dan di sekolah. Informasi dari beberapa lingkungan dapat membantu melihat apakah kesulitan muncul secara konsisten atau hanya pada keadaan tertentu. Namun, jangan meminta guru atau pengasuh menyimpulkan diagnosis.

Respons yang baik dimulai dari rasa ingin tahu, bukan tuduhan

Orang tua tidak harus memilih antara membiarkan perilaku anak atau langsung memarahinya. Ada langkah tengah yang lebih bermanfaat: dekati anak, pastikan suasana memungkinkan untuk mendengar, sampaikan pesan yang jelas, lalu amati responsnya. Jika anak sedang fokus pada kegiatan, bantu ia beralih. Jika instruksi terlalu rumit, sederhanakan. Jika ada kekhawatiran mengenai pendengaran atau perkembangan komunikasi, cari penilaian profesional.

Pada akhirnya, tidak merespons ketika dipanggil adalah perilaku yang perlu dipahami berdasarkan usia, situasi, dan pola yang berulang. Anak tidak selalu mengabaikan orang tua dengan sengaja, dan orang tua tidak perlu menebak penyebabnya sendirian. Komunikasi yang tenang serta pemeriksaan tepat waktu membantu keluarga menentukan dukungan yang benar-benar dibutuhkan anak.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.