Ibu berbicara tenang dengan anak yang bertanya tentang kata yang didengarnya di ruang keluarga.
Jawaban yang tenang membuat anak berani bertanya sekaligus belajar menggunakan bahasa yang menghormati orang lain.
IBU BERTANYA

Apa yang Bisa Dilakukan saat Anak Mendengar Ucapan Kasar dari Orang Dewasa?

Dengarkan konteksnya, jelaskan makna dengan bahasa sesuai usia, dan bedakan rasa ingin tahu dari pengalaman dihina atau diancam.

Ketika anak mendengar ucapan kasar dari orang dewasa, orang tua perlu membantu memahami bahwa kata-kata tersebut tidak pantas digunakan untuk merendahkan atau menyakiti orang lain. Namun, respons tidak harus berupa kepanikan atau ceramah panjang. Anak mungkin belum mengerti arti kata yang didengar dan hanya penasaran, atau ia merasa takut karena ucapan itu ditujukan kepada seseorang. Cara orang tua menjelaskan perlu disesuaikan dengan usia, konteks, dan apakah anak merasa terancam.

Jika mendengar ucapan kasar terjadi dalam percakapan orang dewasa, anak dapat bertanya mengapa seseorang berbicara seperti itu. Jika ucapan itu ditujukan kepadanya atau membuatnya tidak nyaman, kebutuhan utamanya adalah merasa aman dan mengetahui bahwa ia boleh bercerita. Orang tua perlu membedakan rasa ingin tahu tentang kata dengan pengalaman mendengar penghinaan atau ancaman.

Jangan langsung memarahi anak karena bertanya

Anak mungkin mengulang kata yang didengar tanpa memahami maknanya. Jika orang tua langsung membentak, anak dapat menjadi lebih penasaran atau merasa tidak aman untuk bertanya. Dengarkan dulu: “Kamu mendengar kata itu dari mana?” atau “Apa yang kamu pahami dari ucapan tadi?” Pertanyaan ini membantu mengetahui konteks tanpa menuduh anak.

American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa anak dapat meniru kata kasar yang didengar dari orang dewasa atau teman, kadang tanpa memahami arti sepenuhnya. Respons orang tua sebaiknya tidak meledak-ledak. Jelaskan bahwa kata tertentu dapat menyakiti orang lain dan keluarga memiliki aturan berbicara dengan hormat.

Jelaskan makna sesuai usia anak

Untuk anak kecil, cukup jelaskan bahwa kata tersebut kasar dan dapat membuat orang lain sedih atau merasa direndahkan. Tidak perlu mengulang atau menguraikan kata vulgar secara rinci. Katakan, “Kata itu tidak digunakan untuk berbicara kepada orang lain. Kalau kamu marah, kamu bisa bilang ‘Aku kesal’.”

Untuk anak usia sekolah, orang tua dapat membahas bahwa beberapa kata digunakan untuk menghina, merendahkan, atau menunjukkan kemarahan. Jelaskan bahwa konteks dan dampaknya penting. Anak dapat memahami perbedaan antara mengutip kata untuk bertanya dan menggunakan kata itu untuk menyerang seseorang.

Untuk remaja, percakapan dapat mencakup bagaimana bahasa kasar muncul dalam pergaulan, media, atau hiburan. Tanyakan bagaimana mereka menilai kata itu dalam situasi tertentu. Tetap jelaskan batas keluarga, terutama bila kata digunakan untuk merendahkan orang berdasarkan identitas atau kondisi tertentu.

Bedakan kata yang didengar dari ucapan yang diarahkan kepada anak

Jika anak hanya mendengar orang dewasa mengucapkan kata kasar saat frustrasi, jelaskan bahwa orang dewasa juga dapat membuat pilihan kata yang tidak tepat. Anak boleh mengetahui bahwa perilaku itu tidak perlu ditiru. Orang tua dapat berkata, “Tadi orang itu sedang marah, tetapi menggunakan kata yang tidak baik. Kita bisa marah tanpa menghina.”

Jika kata kasar ditujukan kepada anak, responsnya berbeda. Pastikan anak aman, akui bahwa ucapan tersebut dapat menyakitkan, dan tegaskan bahwa ia tidak pantas dihina. Jangan meminta anak memaklumi penghinaan hanya karena pelakunya orang dewasa atau anggota keluarga. Bila perilaku verbal merendahkan terjadi berulang atau disertai ancaman, cari dukungan dan perlindungan yang sesuai.

Ajarkan pengganti kata untuk menyampaikan emosi

Anak membutuhkan kosakata untuk marah, kecewa, takut, frustrasi, atau merasa diperlakukan tidak adil. Bantu ia menemukan kalimat yang menyampaikan maksud tanpa menyerang: “Aku tidak suka itu,” “Aku kesal,” “Tolong berhenti,” atau “Aku butuh waktu.” Latih saat suasana tenang melalui cerita dan permainan peran.

Jika anak menggunakan kata kasar untuk memancing reaksi, jangan memberi perhatian berlebihan yang memperkuat perilaku tersebut. Tetap berikan batas singkat: “Kita tidak menggunakan kata untuk menghina. Coba sampaikan dengan kalimat lain.” Jika kata diarahkan untuk menyakiti seseorang, hentikan perilaku dan bantu anak memperbaiki interaksi.

Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan dengan mendampingi anak yang mulai mengumpat saat bermain gim daring.

Orang tua perlu memberi contoh bahasa yang ingin ditiru

Anak belajar dari percakapan sehari-hari. Jika orang dewasa sering mengumpat, menghina, atau merendahkan orang lain, sulit mengharapkan anak menggunakan bahasa yang berbeda hanya karena diberi larangan. Orang tua dan pengasuh dapat menyepakati aturan sederhana: tidak menggunakan kata yang menghina, tidak membentak untuk menguasai percakapan, dan meminta maaf jika berbicara dengan cara menyakitkan.

Orang tua juga bisa menunjukkan cara memperbaiki ucapan. Misalnya, “Tadi Ayah mengatakan sesuatu dengan nada keras. Ayah seharusnya berkata lebih baik. Ayah sedang kesal, tetapi itu bukan alasan untuk membentak.” Anak belajar bahwa orang dewasa bertanggung jawab atas bahasa dan perilakunya.

Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan dengan mengurangi komunikasi keras orang tua kepada anak.

Bagaimana jika ucapan kasar datang dari lingkungan dekat?

Jika kata kasar berasal dari anggota keluarga, pengasuh, atau orang yang sering bersama anak, bicarakan batas bahasa secara langsung dan sopan. Jelaskan bahwa anak meniru apa yang didengar dan keluarga ingin menggunakan bahasa yang menghormati. Jika orang tersebut tidak bersedia menghentikan ucapan yang merendahkan atau mengancam, orang tua perlu mempertimbangkan pengaturan interaksi yang lebih aman.

Jika sumbernya dari sekolah atau teman, tanyakan kepada anak seberapa sering ia mendengar kata tersebut dan apakah digunakan untuk menghinanya. Bicarakan dengan guru jika ada pola penghinaan, perundungan, atau bahasa yang membuat anak tidak aman. Jangan langsung menuduh tanpa memahami situasi, tetapi jangan pula mengabaikan laporan anak.

Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan dengan mengenali ucapan orang tua yang dapat melukai perasaan anak.

Jangan menjadikan kata kasar sebagai rahasia yang memalukan

Anak perlu tahu bahwa ia boleh bertanya tentang kata yang tidak dipahami. Jika orang tua bereaksi dengan rasa malu berlebihan, anak mungkin mencari jawaban dari sumber yang tidak sesuai usia. Jawab seperlunya, gunakan istilah yang sopan, dan jelaskan batas bahasa dalam keluarga. Bila pertanyaan memerlukan penjelasan lebih dewasa, sesuaikan dengan usia dan nilai keluarga.

Jangan meminta anak mengulangi kata kasar berkali-kali untuk membuktikan apa yang didengar. Cukup minta gambaran konteks dan fokus pada dampaknya. Jika kata tersebut merupakan bagian dari ancaman atau penghinaan seksual/identitas, hindari meminta detail berulang dan cari bantuan yang memahami perlindungan anak.

Contoh percakapan singkat

Anak bertanya arti kata yang didengar: “Itu kata kasar yang bisa menyakiti orang. Kita tidak menggunakannya. Kalau kamu ingin mengatakan sedang marah, kamu bisa bilang ‘Aku kesal’.”

Anak mengulang kata dari orang dewasa: “Kamu mendengar kata itu tadi. Orang dewasa juga bisa salah memilih kata. Kita tidak perlu menirunya. Mari cari cara lain untuk menyampaikan perasaan.”

Anak dihina oleh orang dewasa: “Kamu tidak pantas dipanggil seperti itu. Terima kasih sudah bercerita. Ibu akan membantu memastikan kamu aman.”

Kapan situasi perlu ditangani lebih serius?

Jika anak berulang kali mendengar penghinaan, ancaman, atau kata-kata yang membuat takut, periksa sumber dan dampaknya. Apakah anak mulai takut bertemu orang tertentu, mengalami perubahan perilaku, sulit tidur, atau merasa dirinya buruk? Jika ucapan kasar merupakan bagian dari pola kekerasan verbal atau ancaman, prioritaskan keamanan dan konsultasikan dengan profesional atau layanan perlindungan yang sesuai.

Jika anak sendiri terus menggunakan kata kasar untuk menyakiti, disertai agresi atau kesulitan hubungan yang menetap, diskusikan dengan dokter anak atau profesional kesehatan mental. Satu kata yang diucapkan saat frustrasi tidak otomatis menunjukkan gangguan, tetapi pola yang lebih luas layak diperhatikan.

Bedakan umpatan, penghinaan, dan kata yang menyerang identitas

Tidak semua ucapan kasar memiliki dampak yang sama. Ada kata yang sekadar menunjukkan frustrasi, ada yang menghina seseorang, dan ada pula yang menyerang identitas, kondisi tubuh, atau latar belakang orang lain. Orang tua tidak perlu mengajarkan daftar kata vulgar secara rinci, tetapi dapat menjelaskan bahwa kata yang merendahkan orang berdasarkan siapa dirinya dapat meninggalkan luka lebih dalam dan tidak dapat dibenarkan sebagai lelucon.

Jika anak bertanya apakah sebuah kata boleh digunakan bersama teman, ajak ia memikirkan konteks dan dampaknya. Apakah semua orang yang mendengar merasa nyaman? Apakah ada seseorang yang menjadi sasaran? Apakah kata itu digunakan untuk mempermalukan? Anak dapat memahami bahwa sesuatu yang dianggap lucu oleh satu kelompok belum tentu aman bagi semua orang.

Jelaskan perbedaan mengutip dan menggunakan kata untuk menyerang

Anak mungkin perlu menyebut kata yang didengarnya untuk bertanya atau menjelaskan kejadian. Orang tua dapat mendengarkan tanpa meminta pengulangan yang tidak perlu. Jelaskan bahwa membicarakan kata untuk mencari makna berbeda dari menggunakannya untuk menyakiti orang. Bila kata itu terlalu vulgar, orang tua dapat menyebutnya sebagai “kata kasar” dan menjelaskan maknanya secara umum sesuai usia.

Jika anak melaporkan bahwa seseorang menggunakan kata tersebut untuk menghinanya, fokuslah pada pengalaman anak. Tanyakan apakah ia merasa takut, apakah kejadian terjadi berulang, dan siapa orang dewasa tepercaya di lingkungan itu. Jangan memaksa anak membuktikan bahwa ucapan tersebut benar-benar terjadi dengan mengulang kata secara detail berkali-kali.

Bangun aturan bahasa yang konsisten di rumah

Aturan keluarga akan lebih mudah dipahami jika berlaku untuk orang dewasa dan anak. Misalnya, keluarga boleh marah tetapi tidak boleh menghina, mengancam, atau menyerang kondisi pribadi seseorang. Jika orang tua terpeleset mengucapkan kata yang menyakitkan, akui dan perbaiki: “Tadi Ibu menggunakan kata yang tidak pantas. Ibu akan mencoba menyampaikan rasa kesal dengan lebih baik.” Contoh nyata lebih bermakna daripada larangan yang hanya ditujukan kepada anak.

Orang tua juga dapat membicarakan perbedaan bahasa di berbagai lingkungan. Anak mungkin menemukan kata yang berbeda di sekolah, permainan daring, film, atau percakapan orang dewasa. Jelaskan bahwa mendengar suatu kata tidak berarti harus menirunya. Jika tidak yakin maknanya, anak boleh bertanya kepada orang dewasa yang dipercaya.

Periksa sumber paparan dan perubahan perilaku anak

Jika anak mulai sering menggunakan kata yang sebelumnya tidak pernah terdengar, cari tahu sumber paparan tanpa menginterogasi. Tanyakan secara terbuka apakah kata itu muncul dari teman, video, permainan, atau percakapan di rumah. Periksa pengaturan konten dan pendampingan digital sesuai usia. Bila kata yang digunakan mengandung ancaman atau ajakan menyakiti, tanggapi lebih serius daripada sekadar melarang pengulangan.

Jika ucapan kasar muncul bersamaan dengan perubahan suasana hati, ketakutan terhadap orang tertentu, penarikan diri, atau laporan perundungan, ajak anak bicara di tempat aman dan pertimbangkan menghubungi sekolah atau profesional yang sesuai. Satu kata yang ditiru tidak otomatis menjadi tanda gangguan, tetapi konteks dan pola perilaku layak diperhatikan.

Jangan menormalisasi penghinaan hanya karena pelakunya orang dewasa

Anak perlu tahu bahwa orang dewasa juga bertanggung jawab atas cara berbicara. Jika anak dihina oleh orang yang seharusnya merawat atau melindunginya, jangan meminta anak menganggapnya wajar demi menghormati orang yang lebih tua. Pastikan anak aman, dengarkan ceritanya, dan ambil langkah perlindungan yang diperlukan. Bila ada ancaman atau kekerasan verbal berulang, cari dukungan dari tenaga profesional atau layanan perlindungan anak yang relevan.

Memberi penjelasan kepada anak tidak selalu berarti mengonfrontasi pelaku di depan anak. Pilih cara penanganan yang tidak menambah risiko. Yang terpenting, anak memahami bahwa ia boleh bercerita, tidak pantas direndahkan, dan tidak bertanggung jawab atas pilihan kata orang dewasa.

Kesimpulan: jelaskan dengan tenang dan beri teladan

Ketika anak mendengar ucapan kasar dari orang dewasa, bantu ia memahami bahwa kata-kata dapat melukai dan ada cara lain untuk menyampaikan emosi. Dengarkan konteks, jawab sesuai usia, dan bedakan antara rasa ingin tahu dengan pengalaman dihina atau diancam. Orang tua perlu menunjukkan contoh bahasa yang menghormati orang lain.

Anak boleh bertanya tanpa dipermalukan. Jika ucapan kasar diarahkan kepadanya atau menjadi pola yang mengancam keselamatan emosional, tanggapi dengan serius dan cari dukungan. Tujuannya bukan membuat anak takut pada kata, melainkan membantunya menggunakan bahasa dengan bertanggung jawab dan mengetahui kapan ia berhak meminta perlindungan.

Rujukan: American Academy of Pediatrics tentang kata kasar pada anak dan UNICEF tentang pengasuhan positif dan contoh perilaku orang dewasa.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.