Anak dapat merasa perlu memiliki barang yang sama dengan teman karena ingin diterima, tidak ingin terlihat berbeda, atau takut tertinggal dalam kelompok. Tekanan itu bisa muncul ketika teman membawa mainan baru, memakai sepatu tertentu, atau memiliki aksesori yang sedang populer. Orang tua dapat membantu anak memahami tekanan untuk membeli barang dengan mendengarkan alasannya, membedakan keinginan dan kebutuhan, lalu membicarakan pilihan berdasarkan kemampuan keluarga dan nilai yang dianut.
Respons yang paling membantu bukan langsung berkata “Kamu ikut-ikutan” atau membandingkan anak dengan keluarga lain. Sebaliknya, ajak anak menjelaskan apa yang membuat barang itu terasa penting. Apakah ia benar-benar menyukai fungsinya, ingin bermain bersama teman, takut diejek, atau merasa semua orang memilikinya? Jawaban tersebut menentukan apakah anak membutuhkan pembicaraan keuangan, dukungan sosial, atau bantuan menghadapi ejekan.
Kenapa pengaruh teman bisa membuat barang terasa wajib?
Teman sebaya menjadi semakin penting ketika anak mulai membangun hubungan di luar keluarga. Barang dapat menjadi bagian dari cara anak merasa terhubung dengan kelompok. Ia mungkin melihat beberapa teman menggunakan benda yang sama dan menyimpulkan bahwa dirinya harus memilikinya agar diterima. Kesimpulan itu belum tentu benar, tetapi dapat terasa kuat bagi anak.
Tekanan tidak selalu datang dalam bentuk ejekan langsung. Anak bisa merasa tertinggal hanya karena melihat teman membicarakan barang baru, mengunggah foto, atau memainkan sesuatu saat istirahat. Ia mungkin menafsirkan bahwa semua orang memiliki barang tersebut, padahal yang terlihat hanya sebagian kecil dari lingkungannya.
Untuk anak yang lebih besar, iklan, konten kreator, dan media sosial juga dapat memperkuat perasaan harus membeli barang tertentu. Orang tua dapat membantu mengenali bagaimana promosi bekerja, siapa yang diuntungkan dari pembelian, dan apakah produk benar-benar dibutuhkan.
Dengarkan alasan sebelum menentukan jawaban
Mulailah dengan pertanyaan: “Apa yang membuat kamu ingin barang itu?” “Apakah kamu ingin karena fungsinya atau karena teman-teman memilikinya?” “Apa yang kamu khawatirkan kalau tidak punya?” Jangan menertawakan keinginan anak. Barang yang tampak sepele bagi orang dewasa mungkin berkaitan dengan pengalaman sosial yang besar bagi anak.
Jika anak takut diejek, dengarkan pengalaman tersebut. Tanyakan apakah ada teman yang benar-benar mengatakan sesuatu atau anak sedang mengantisipasi kemungkinan. Jika ada ejekan berulang atau pengucilan, masalahnya bukan hanya pembelian barang. Orang tua dapat bekerja sama dengan guru untuk mengatasi perilaku yang menyakiti anak.
Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan dengan menghadapi tekanan teman sebaya terkait perbedaan uang saku.
Bedakan kebutuhan, keinginan, dan tekanan kelompok
Kebutuhan adalah barang yang dibutuhkan untuk fungsi atau aktivitas tertentu, seperti sepatu yang sesuai ukuran, alat sekolah, atau perlengkapan olahraga. Keinginan adalah barang yang disukai tetapi belum tentu diperlukan. Tekanan kelompok muncul ketika anak merasa harus memiliki barang karena pengaruh teman atau takut berbeda.
Ketiganya dapat saling bertemu. Anak mungkin membutuhkan sepatu baru, tetapi memilih model tertentu karena sedang populer. Orang tua dapat membahas bagian yang bisa disepakati: sepatu baru memang diperlukan, tetapi pilihan warna dan merek harus sesuai anggaran serta kenyamanan. Anak dapat ikut memilih dari beberapa alternatif yang disediakan.
Gunakan percakapan keuangan yang sesuai usia
Untuk anak kecil, jelaskan bahwa keluarga memiliki uang untuk kebutuhan yang berbeda dan tidak semua keinginan dapat dipenuhi sekaligus. Gunakan contoh sederhana: “Kita perlu membeli sepatu yang nyaman untuk sekolah. Untuk mainan baru, kita perlu menunggu sampai anggaran tersedia.” Hindari membebani anak dengan kecemasan keuangan orang dewasa atau membuatnya merasa bersalah karena meminta sesuatu.
Untuk anak usia sekolah, ajak membandingkan harga, fungsi, daya tahan, dan waktu penggunaan. Jika barang berasal dari uang saku, bantu membuat pilihan: menabung, membeli barang lain yang lebih penting, atau tidak membeli dulu. American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa anak dapat belajar kebiasaan keuangan melalui konsep menyimpan, membelanjakan, dan berbagi. Anak yang lebih besar dapat berlatih memilih karena dana yang dimiliki terbatas.
Untuk remaja, diskusikan anggaran, iklan, diskon, cicilan, dan pengaruh media sosial. Jelaskan bahwa harga murah belum tentu berarti pembelian tepat bila barang tidak dibutuhkan atau kualitasnya tidak sesuai. Libatkan remaja dalam menyusun batas pembelian yang membutuhkan persetujuan orang tua.
Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan dengan mengenalkan literasi keuangan melalui uang saku dan kegiatan belanja.
Bantu anak menolak tekanan dengan kalimat sederhana
Anak dapat berlatih menjawab teman tanpa merendahkan atau memicu pertengkaran. Misalnya: “Aku belum mau beli,” “Aku masih suka yang ini,” “Aku sedang menabung untuk hal lain,” atau “Tidak semua orang harus punya barang yang sama.” Pilih kalimat yang terasa alami bagi usia dan kepribadian anak. Latih melalui permainan peran agar anak tidak harus mencari kata-kata saat sedang tertekan.
Jangan meminta anak mengejek balik teman yang memiliki barang mahal atau menuduh teman pamer. Tujuannya membangun kepercayaan diri dan batas pribadi, bukan membalikkan tekanan kepada orang lain. Anak dapat menghargai pilihan teman sekaligus membuat keputusan berbeda untuk dirinya sendiri.
Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan dengan mengajarkan anak menyampaikan bahwa suatu barang terlalu mahal.
Ajarkan cara membuat keputusan sebelum membeli
Gunakan beberapa pertanyaan sederhana: apakah barang ini dibutuhkan? Seberapa sering akan digunakan? Apakah ada barang serupa di rumah? Apakah harganya sesuai anggaran? Apakah keputusan ini dibuat karena benar-benar tertarik atau takut tidak diterima? Untuk anak yang lebih besar, keluarga dapat menyepakati masa tunggu sebelum membeli barang yang tidak mendesak. Menunda memberi kesempatan memeriksa apakah keinginan tetap ada setelah beberapa hari.
Jika anak menabung, bantu membuat target realistis. Jangan mengambil alih semua keputusan, tetapi pastikan ia memahami bahwa uang yang disimpan memiliki tujuan. Jika dana belum cukup, bicarakan alternatif: membeli barang bekas yang layak, memilih merek lebih sederhana, meminjam bila sesuai, atau menunggu. Jangan mendorong utang konsumtif untuk memenuhi tekanan sosial.
Ketika anak diejek karena tidak memiliki barang
Jika teman mengejek atau mengucilkan anak karena tidak memiliki barang tertentu, tangani perilaku tersebut sebagai masalah hubungan sosial. Dengarkan anak, catat apa yang terjadi, dan bicarakan dengan guru bila ejekan berulang. Jangan hanya membeli barang agar ejekan berhenti, karena perilaku mengejek dapat berpindah ke hal lain.
Bantu anak mengidentifikasi teman yang menghargainya tanpa mengukur hubungan dari barang. Ajak ia membangun aktivitas bersama yang tidak bergantung pada pembelian, seperti bermain di taman, menggambar, olahraga, atau permainan kelompok. Anak perlu mengalami bahwa hubungan dapat dibangun melalui minat dan sikap, bukan kepemilikan.
Jangan menjadikan perbandingan sebagai cara mendidik
Kalimat seperti “Lihat anak lain tidak minta macam-macam” dapat membuat anak malu tanpa mengajarkan keterampilan mengambil keputusan. Begitu pula membanggakan barang mahal untuk menyaingi teman dapat memperkuat pesan bahwa status ditentukan oleh kepemilikan. Tunjukkan nilai keluarga melalui kebiasaan: merawat barang, memperbaiki yang rusak bila aman, berbagi, dan menabung untuk tujuan yang bermakna.
Susun batas belanja yang jelas sebelum anak menghadapi tekanan
Orang tua dapat menetapkan aturan yang mudah dipahami: barang tertentu hanya dibeli setelah dibicarakan, pembelian di luar rencana perlu menunggu, dan uang saku memiliki tujuan yang disepakati. Dengan begitu, anak memiliki pegangan ketika muncul tekanan untuk membeli barang hanya agar sama dengan teman. Aturan ini sebaiknya tidak berubah hanya karena teman memiliki barang baru. Anak akan lebih mudah menerima keputusan ketika keluarga menjelaskan batas anggaran dan alasan prioritas dengan konsisten.
Untuk anak kecil, gunakan contoh konkret seperti memilih satu barang dari dua pilihan atau menunggu sampai ulang tahun. Anak usia sekolah dapat diajak membuat daftar keinginan, membandingkan harga, dan menabung untuk barang yang diinginkan. Remaja dapat berdiskusi tentang biaya kesempatan: uang yang dipakai untuk satu barang berarti tidak tersedia untuk pilihan lain. Jangan membagikan rincian masalah keuangan keluarga yang membebani anak; sampaikan batas seperlunya dan sesuai usia.
Buat jeda sebelum membeli agar keputusan tidak ditentukan tekanan sesaat
Kesepakatan “tunggu satu hari” atau “pikirkan dulu sampai akhir pekan” dapat membantu anak menilai apakah keinginan masih terasa penting setelah suasana kelompok berlalu. Selama jeda, ajak anak mencari informasi: apakah barang itu benar-benar dibutuhkan, apakah ada pilihan yang lebih sederhana, apakah barang bisa dipinjam, atau apakah keinginan hanya muncul karena melihat unggahan teman. Jeda bukan hukuman; ini latihan untuk mengambil keputusan dengan sadar.
Jika barang dibeli dari uang saku, pastikan anak memahami konsekuensi terhadap rencana lain. Jangan memaksa anak menghabiskan tabungan untuk membuktikan kedewasaan. Orang tua tetap perlu mempertimbangkan kemampuan perkembangan dan keamanan transaksi, terutama untuk pembelian daring atau barang yang memiliki risiko tertentu.
Bantu anak menghadapi komentar teman tanpa harus membalas
Anak mungkin takut diejek karena tas, sepatu, atau perangkatnya tidak sama dengan milik teman. Latih respons singkat seperti “Aku suka punyaku,” “Aku sedang menabung untuk hal lain,” atau “Setiap keluarga punya pilihan masing-masing.” Anak tidak perlu menjelaskan kondisi keuangan keluarga atau membuktikan bahwa barangnya lebih baik. Bila ejekan berulang dan berubah menjadi perundungan, orang tua perlu berkoordinasi dengan sekolah.
Dengarkan dampak emosional komentar tersebut. Jangan meremehkan dengan mengatakan “Itu cuma barang” ketika bagi anak persoalannya adalah diterima kelompok. Validasi perasaan, lalu bantu mencari strategi sosial: mendekati teman yang lebih suportif, mengalihkan percakapan, atau meminta bantuan guru bila diperlukan.
Gunakan contoh keluarga untuk mengajarkan pilihan yang konsisten
Orang tua dapat menunjukkan cara mempertimbangkan pembelian tanpa mengkritik orang lain. Misalnya, “Kita memilih memperbaiki barang ini karena masih bisa dipakai. Uangnya kita simpan untuk kebutuhan yang sudah direncanakan.” Anak belajar bahwa keputusan tidak selalu tentang mampu atau tidak mampu, tetapi juga tentang prioritas. Hindari kalimat yang mempermalukan keluarga lain karena membeli barang mahal atau sederhana.
Jika orang tua akhirnya memutuskan membeli barang yang diminta, jelaskan alasannya dan batasnya. Jika tidak membeli, tawarkan alternatif hanya bila masuk akal—bukan untuk menutup rasa kecewa dengan hadiah lain. Anak dapat kecewa dan tetap belajar menerima keputusan yang dibuat dengan pertimbangan keluarga.
Kesimpulan: bantu anak menentukan pilihan, bukan mengikuti kelompok
Tekanan untuk membeli barang dapat berkaitan dengan kebutuhan diterima, rasa takut diejek, atau pengaruh lingkungan. Orang tua perlu mendengarkan alasan anak, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membantu membuat keputusan yang sesuai anggaran. Anak juga perlu berlatih kalimat penolakan yang sederhana dan mengetahui bahwa ia tidak harus memiliki barang yang sama dengan teman.
Jika masalahnya berupa ejekan atau pengucilan, tangani perilaku sosialnya, bukan hanya dengan membeli barang. Dengan komunikasi yang terbuka dan pengalaman membuat keputusan, anak dapat membangun kepercayaan diri sekaligus kebiasaan keuangan yang lebih sehat.
Rujukan: American Academy of Pediatrics tentang kebiasaan keuangan anak dan UNICEF tentang tekanan teman sebaya.










