Ketika teman atau saudara meminta mainan, anak mungkin menjawab tidak, memeluk barangnya, atau menjauh. Orang tua sering merasa malu karena khawatir anak dianggap pelit. Ada pula yang langsung meminta anak menyerahkan mainan agar terlihat ramah. Sebelum memutuskan respons, penting memahami bahwa berbagi, bergiliran, dan meminjamkan adalah hal yang berkaitan tetapi tidak sama.
Anak dapat belajar memperhatikan kebutuhan orang lain sekaligus memahami bahwa ia memiliki batas. Barang pribadi tidak harus selalu diberikan kepada orang yang meminta. Di sisi lain, jika mainan disepakati sebagai milik bersama atau digunakan bergantian, anak perlu belajar menghormati aturan tersebut. Pengasuhan yang seimbang tidak memaksa anak kehilangan hak, tetapi juga tidak membiarkan ia menguasai semua benda bersama.
Bedakan berbagi, bergiliran, dan meminjamkan
Berbagi berarti memberikan sebagian atau menggunakan sesuatu bersama. Bergiliran berarti setiap orang mendapat kesempatan pada waktu berbeda. Meminjamkan berarti memberi izin kepada orang lain memakai barang untuk sementara, biasanya dengan harapan barang itu dikembalikan. Ketiganya melibatkan keterampilan sosial, tetapi tidak semua situasi harus diselesaikan dengan menyerahkan mainan pribadi.
Misalnya, anak memiliki boneka kesayangan yang dibawa dari rumah. Ia boleh menolak meminjamkannya, terutama jika merasa belum siap. Namun, bila anak bermain dengan mainan yang disediakan bersama di taman bermain, keluarga dapat mengajarkan bahwa orang lain juga berhak mendapat giliran. Jelaskan aturan sejak awal agar anak tidak merasa batasnya diubah mendadak.
Mengapa anak mungkin menolak meminjamkan mainan?
Anak dapat menolak karena mainan tersebut sangat berarti, ia masih menggunakannya, khawatir rusak, belum memahami kapan barang akan kembali, atau sedang belajar mengenali kepemilikan. Anak yang lebih kecil mungkin belum dapat membayangkan sudut pandang orang lain secara konsisten. Penolakan juga bisa muncul ketika ia lelah, kewalahan, atau belum nyaman bermain dalam kelompok.
Orang tua sebaiknya tidak langsung memberi label egois. Tanyakan dengan tenang apa yang membuatnya tidak ingin meminjamkan. Bisa jadi ia bersedia menawarkan mainan lain, bermain berdampingan, atau meminjamkan setelah selesai. Dengarkan responsnya dan jangan menjadikan satu penolakan sebagai ukuran keseluruhan karakter anak.
Hormati barang pribadi dan jelaskan aturan mainan bersama
Keluarga dapat membuat kategori sederhana: barang pribadi, barang bersama, dan barang yang digunakan dengan izin orang dewasa. Barang pribadi boleh disimpan anak ketika ada tamu. Mainan bersama perlu memiliki aturan penggunaan yang disepakati. Barang yang berbahaya atau rapuh tidak digunakan tanpa pendampingan.
Aturan ini juga berlaku bagi orang dewasa. Jangan mengambil mainan anak tanpa izin lalu menuntut anak menghormati kepemilikan orang lain. Minta izin saat meminjam barangnya dan kembalikan sesuai kesepakatan. Teladan konsisten membantu anak memahami bahwa batas berlaku untuk semua anggota keluarga.
Ajarkan pilihan selain menyerahkan mainan
Jika anak belum mau meminjamkan benda, orang tua dapat menawarkan beberapa kemungkinan: “Kamu belum mau meminjamkan boneka itu. Apakah kamu mau menawarkan balok yang lain atau bermain bersama tanpa meminjamkan?” Dengan cara ini, anak belajar bahwa menjaga batas dan bersikap ramah dapat berjalan bersamaan.
Untuk mainan bersama, ajarkan kalimat meminta dan menunggu. “Setelah kamu selesai, boleh aku memakai?” atau “Kita bergantian setelah satu putaran.” Jangan menjanjikan waktu yang tidak realistis. Bila anak masih sangat kecil, orang tua perlu mengatur giliran secara langsung dan membuat aturan sederhana yang mudah dipahami.
Jangan memaksa berbagi sebagai bukti anak baik
Kalimat seperti “Anak baik harus mau berbagi” dapat membuat anak merasa bahwa ia harus mengabaikan batas agar diterima. Lebih baik jelaskan tindakan spesifik yang diharapkan: menggunakan mainan bersama dengan giliran, tidak merebut barang orang lain, dan menyampaikan penolakan tanpa menyakiti. Anak tetap dapat menjadi pribadi peduli meskipun tidak selalu meminjamkan barang kesayangannya.
Hindari pula membandingkan dengan saudara atau teman. Setiap anak memiliki keterikatan berbeda terhadap barang dan kemampuan sosial yang berkembang dengan tempo masing-masing. Fokus pada langkah kecil yang bisa dilatih, bukan tuntutan agar semua anak bereaksi sama.
Latih berbagi melalui kegiatan yang disepakati
Orang tua dapat memulai dari kegiatan yang tidak terlalu emosional, seperti menggunakan krayon keluarga, membagi bahan adonan, atau menyusun satu bangunan bersama. Anak belajar merencanakan, menunggu, dan menggunakan benda yang sama tanpa harus menyerahkan barang pribadinya. Beri kesempatan anak memilih perannya agar ia merasa terlibat.
Permainan bergiliran juga dapat dilakukan dengan bola, kartu, atau permainan papan sederhana. Tunjukkan bagaimana mengucapkan “giliranmu” dan “sekarang giliranku”. Jika muncul konflik, hentikan sebentar dan bantu anak mengingat kesepakatan. Artikel permainan untuk melatih kerja sama kakak adik dapat menjadi inspirasi latihan bersama.
Respons orang tua ketika anak menolak
- Jika barang milik pribadi: akui bahwa anak boleh menjaga barangnya, lalu bantu ia menjawab dengan sopan.
- Jika mainan bersama: ingatkan aturan giliran dan bantu anak menyelesaikan satu putaran sebelum berpindah.
- Jika anak takut barang rusak: tanyakan apakah ada benda lain yang bersedia ia pinjamkan atau pilih permainan yang dilakukan bersama.
- Jika anak bereaksi dengan memukul atau merebut kembali: hentikan tindakan tersebut dan ajarkan cara menyampaikan batas tanpa menyakiti.
Orang tua juga dapat membantu tamu memahami aturan rumah. Bila anak memiliki koleksi yang tidak ingin disentuh, simpan sebelum tamu datang dan sediakan mainan bersama. Ini bukan memanjakan; ini cara mengurangi konflik yang dapat diperkirakan.
Kapan perlu memberi dukungan lebih?
Penolakan meminjamkan mainan sendiri bukan masalah yang harus selalu diperbaiki. Namun, jika anak berulang kali merampas benda orang lain, sulit memahami aturan bersama, atau konflik membuatnya tidak dapat terlibat dalam kegiatan sosial, amati situasi dan konsultasikan bila perlu. Perhatikan juga kemampuan komunikasi, usia, kelelahan, dan suasana kelompok. Jangan memberi diagnosis berdasarkan perilaku berbagi saja.
Untuk memahami cara anak berinteraksi dengan mainan sesuai tahap perkembangannya, lihat panduan mendampingi anak bermain. Jika anak menikmati aktivitas kelompok, permainan tanpa layar juga dapat memberi kesempatan untuk berlatih bekerja sama.
Hal yang perlu diingat
Mengajarkan berbagi tidak berarti anak harus selalu menyerahkan barang pribadinya. Bantu anak membedakan kepemilikan, penggunaan bersama, dan giliran. Hormati batasnya, ajarkan cara meminta dan menolak dengan sopan, serta berikan kesempatan latihan yang realistis. Dengan demikian, empati berkembang tanpa mengorbankan rasa aman dan hak anak.
Rujukan untuk orang tua
- American Academy of Pediatrics: The Power of Play menjelaskan peran permainan dalam keterampilan sosial dan hubungan.
- Centers for Disease Control and Prevention: Positive Parenting Tips menyediakan panduan pengasuhan sesuai usia.
Buat kesepakatan sebelum teman datang berkunjung
Sebelum menerima tamu, ajak anak memilih barang mana yang ingin disimpan dan mainan mana yang boleh dipakai bersama. Orang tua dapat menata area bermain sehingga benda pribadi tidak tercampur dengan perlengkapan umum. Katakan kepada tamu bahwa ada mainan tertentu yang tidak untuk dipinjam, tanpa menyebut anak sebagai pelit atau tidak ramah. Jika anak berubah pikiran dan ingin menawarkan sesuatu, sambut pilihannya. Jika ia tetap menolak, bantu tamu menemukan aktivitas lain. Kesepakatan lebih mudah dijalankan ketika dibuat sebelum konflik terjadi, bukan saat dua anak sudah saling menarik barang.










