Dua saudara bergantian menggunakan mainan dengan orang tua membantu membuat kesepakatan.
Bimbingan yang adil membantu kakak dan adik menyepakati giliran saat menginginkan mainan yang sama.
Bermain & Aktivitas Kreatif

Kakak dan Adik Berebut Mainan: Cara Membantu Mereka Menyepakati Giliran

Perselisihan kakak dan adik saat menggunakan mainan merupakan situasi yang perlu dibimbing, bukan sekadar dihentikan. Pelajari cara mengamankan situasi, mendengar kedua pihak, dan membuat kesepakatan giliran sesuai usia.

Dua anak menginginkan mobil-mobilan yang sama, satu memegang boneka sementara yang lain menariknya, atau kakak merasa adik selalu mengambil barangnya. Perselisihan seperti ini dapat membuat rumah terasa riuh. Orang tua mungkin tergoda langsung mengambil mainan, menentukan siapa yang salah, atau memaksa anak segera berbagi. Padahal, anak masih belajar menyampaikan keinginan, menunggu, memahami kepemilikan, serta menyelesaikan perbedaan.

Tujuan pendampingan bukan membuat kakak dan adik tidak pernah bertengkar. Yang lebih realistis adalah membantu mereka tetap aman, belajar menyampaikan kebutuhan, dan menemukan cara yang adil untuk menggunakan benda bersama. Adil tidak selalu berarti semua anak mendapat waktu atau perlakuan yang persis sama; keputusan perlu mempertimbangkan usia, situasi, dan apakah mainan tersebut milik pribadi atau milik bersama.

Amankan situasi sebelum membahas siapa yang memulai

Jika anak saling menarik, memukul, melempar, atau mendekatkan benda keras ke tubuh saudaranya, pisahkan terlebih dahulu dengan tenang. Singkirkan benda yang dapat melukai dan beri jarak hingga keduanya lebih tenang. Gunakan kalimat pendek, misalnya, “Aku tidak membiarkan kalian saling menarik. Kita berhenti dulu.” Jangan memaksa anak berdamai atau berpelukan ketika emosi masih tinggi.

Setelah aman, dengarkan penjelasan masing-masing tanpa langsung menganggap anak yang lebih tua selalu harus mengalah atau anak yang lebih kecil selalu tidak paham. Kakak juga berhak memiliki barang pribadi, sedangkan adik perlu dibimbing memahami batas. Hindari membandingkan karakter seperti “kakak lebih sabar” atau “adik memang nakal” karena label semacam itu tidak membantu penyelesaian kejadian.

Bedakan barang pribadi dan mainan bersama

Masalah sering berulang karena aturan kepemilikan tidak jelas. Sejak awal, keluarga dapat membedakan mainan pribadi, mainan keluarga, dan barang yang hanya boleh digunakan dengan izin. Mainan hadiah atau koleksi khusus bisa menjadi milik salah satu anak. Anak lain tidak otomatis berhak mengambilnya hanya karena mereka tinggal serumah.

Untuk mainan bersama, jelaskan cara bergiliran atau membuat permainan bersama. Misalnya, satu anak menyusun rel kereta dan saudaranya memilih gerbong, atau keduanya menggunakan satu set balok dengan pembagian area. Jangan selalu menuntut anak berbagi benda pribadi sebagai bukti sayang. Belajar berbagi berbeda dari kehilangan hak atas barang sendiri.

Bila keluarga membeli mainan untuk dipakai bersama, bicarakan aturan sebelum main dimulai: kapan boleh digunakan, bagaimana menyimpan, dan apa yang terjadi bila ada bagian yang rusak. Kesepakatan sederhana membantu anak mengerti bahwa hak menggunakan mainan berjalan bersama tanggung jawab.

Bantu anak menyampaikan keinginan dengan kata-kata

Anak yang belum terbiasa menyampaikan kebutuhan mungkin merebut atau menangis. Orang tua dapat memberi contoh kalimat singkat: “Aku masih bermain,” “Setelah kamu selesai, aku mau giliran,” atau “Boleh aku pinjam?” Minta anak mengucapkan kalimat sesuai kemampuan, tetapi jangan menuntut bahasa yang sempurna ketika ia sedang kewalahan.

Ajarkan juga cara menolak dengan sopan. Anak boleh mengatakan, “Aku belum selesai,” atau “Ini mainanku, aku belum mau meminjamkan.” Setelah itu, orang tua membantu mencari alternatif, bukan memaksa salah satu pihak menyerah. Anak dapat memilih mainan lain, bermain bersama, atau menunggu dengan kegiatan berbeda.

Buat sistem giliran yang mudah dilihat

Untuk anak yang masih kecil, konsep “sebentar lagi” mungkin terlalu abstrak. Gunakan penanda sederhana seperti satu putaran permainan, satu lagu pendek, atau giliran sampai bangunan selesai—selama durasinya masuk akal dan tidak memicu perebutan baru. Jam pasir atau timer boleh digunakan sebagai alat bantu, tetapi jangan menjadikannya ancaman atau ukuran mutlak bila anak sedang menyelesaikan bagian penting permainan.

Jika seorang anak sedang menggunakan mainan, jangan langsung mengambilnya hanya karena saudara meminta giliran. Beri tahu kapan giliran berikutnya dimulai dan bantu anak yang menunggu memilih kegiatan lain. Bila anak bergantian, puji proses spesifik: “Tadi kamu memberi tahu bahwa kamu belum selesai, lalu setelah itu kamu menyerahkan mobilnya.”

Jangan selalu memaksa anak berbagi secara instan

Berbagi adalah keterampilan sosial yang berkembang melalui pengalaman dan bimbingan. Memaksa anak menyerahkan benda pribadi setiap kali diminta dapat membuatnya merasa batasnya tidak dihargai. Sebaliknya, orang tua dapat mengajarkan berbagi dengan membuat kesempatan yang disepakati, misalnya menggunakan bahan seni bersama atau bergantian memilih permainan keluarga.

Orang tua juga perlu menghindari penghargaan yang membuat kasih sayang seolah diukur dari kesediaan menyerahkan barang. Anak yang menolak meminjamkan mainan tidak otomatis egois. Tanyakan apakah barang itu milik pribadi, apakah ia sedang menggunakannya, atau apakah ada alasan lain. Artikel permainan sederhana untuk melatih kerja sama kakak adik dapat membantu keluarga berlatih bekerja sama tanpa selalu berpusat pada rebutan barang.

Contoh respons pada situasi yang berbeda

  • Kakak sedang memakai mainan pribadi: bantu adik meminta izin dan terima jawaban kakak. Tawarkan mainan lain sambil menunggu.
  • Keduanya menginginkan mainan bersama: tanyakan siapa yang lebih dulu memakai, lalu sepakati giliran berikutnya.
  • Adik belum memahami giliran: orang tua mendampingi langsung dan menyimpan benda berisiko hingga situasi tenang.
  • Salah satu anak terus mendominasi: tetapkan aturan yang jelas dan pastikan setiap anak mendapat kesempatan memilih permainan.

Perhatikan faktor yang membuat konflik berulang

Konflik bisa lebih sering muncul ketika anak lelah, lapar, ruang bermain sempit, jumlah mainan terbatas, atau aturan berubah-ubah. Coba amati waktu dan situasinya. Mungkin mainan favorit sebaiknya disimpan untuk permainan bergiliran yang didampingi, sedangkan mainan lain disediakan dalam jumlah cukup agar anak dapat bermain paralel.

Jangan berharap perbedaan usia hilang hanya karena anak berbagi kamar. Sesuaikan pilihan mainan dengan kemampuan masing-masing dan pisahkan komponen kecil dari jangkauan adik. Anak yang lebih besar tidak seharusnya dibebani tanggung jawab penuh mengawasi keselamatan adiknya. Orang dewasa tetap bertanggung jawab mengatur lingkungan dan pengawasan.

Kapan konflik membutuhkan perhatian lebih?

Perbedaan pendapat tentang mainan merupakan bagian dari kehidupan bersama, tetapi kekerasan berulang, ancaman, cedera, atau ketakutan yang menetap perlu ditangani. Orang tua dapat mencatat kejadian, pemicu, dan respons yang sudah dicoba. Bila konflik sangat mengganggu hubungan keluarga atau keselamatan, mintalah bantuan tenaga profesional yang sesuai. Jangan memberi label salah satu anak sebagai sumber masalah tanpa memahami pola interaksi.

Untuk membangun kebiasaan bermain yang lebih kooperatif, mulailah dari permainan dengan tujuan bersama dan aturan sederhana. Artikel panduan menemani anak bermain sesuai tahap perkembangan memberi dasar untuk menyesuaikan dukungan orang tua terhadap kemampuan anak.

Hal yang perlu diingat

Ketika kakak dan adik berebut mainan, orang tua dapat bertindak sebagai penengah yang menjaga keselamatan, mendengar kedua pihak, dan membantu membuat kesepakatan. Ajarkan anak menyampaikan keinginan, menghormati barang pribadi, dan menggunakan mainan bersama dengan giliran yang masuk akal. Kemampuan tersebut tumbuh melalui latihan, bukan paksaan sekali jadi.

Rujukan untuk orang tua

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.