Orang tua mendampingi dua anak saat mengembalikan mainan kepada pemiliknya dan berbicara.
Momen merebut mainan dapat menjadi kesempatan mengajarkan cara meminta izin dan menunggu giliran.
Bermain & Aktivitas Kreatif

Anak Merebut Mainan Teman: Apa yang Bisa Diajarkan Orang Tua saat Itu Terjadi?

Saat anak mengambil mainan teman tanpa izin, orang tua dapat melindungi anak lain, mengakui perasaan kedua pihak, dan mengajarkan cara meminta serta menunggu giliran tanpa mempermalukan.

Di taman bermain, rumah teman, atau kelompok bermain, anak tiba-tiba mengambil mobil-mobilan dari tangan anak lain. Temannya menangis, sementara anak kita mungkin memeluk mainan itu atau tidak memahami mengapa orang lain marah. Situasi seperti ini bisa membuat orang tua malu atau merasa harus segera meminta maaf atas nama anak. Namun, respons yang paling berguna adalah menjaga semua anak tetap aman, mengembalikan batas kepemilikan, dan mengajarkan keterampilan sosial yang masih berkembang.

Anak yang merebut mainan belum tentu berniat menyakiti. Ia mungkin menginginkan benda yang menarik, belum mampu menunggu, kesulitan mengungkapkan keinginan, atau belum memahami bahwa teman sedang menggunakannya. Penjelasan tersebut tidak berarti tindakan merebut boleh dibiarkan. Anak tetap perlu belajar bahwa tangan orang lain dan barang yang sedang dipakai harus dihormati.

Mulai dengan menghentikan tindakan dan menjaga anak yang terdampak

Jika terjadi perebutan, dekati anak dan hentikan tarikan dengan tenang. Kembalikan mainan kepada anak yang sedang menggunakannya, jika aman dan jelas pemilik/penggunanya. Katakan, “Mainan itu sedang dipakai teman. Kita tidak mengambil dari tangannya.” Pastikan anak lain tidak terluka dan beri ruang bila ia perlu menenangkan diri.

Hindari menarik keras, membentak, mempermalukan di depan kelompok, atau menyebut anak “jahat”. Tegas terhadap tindakan tidak perlu merendahkan identitas anak. Jika situasi memanas, pisahkan sejenak dan bantu kedua anak menjauh dari benda yang diperebutkan. Jangan memaksa anak yang menangis segera memaafkan atau bermain kembali.

Jelaskan batas kepemilikan dengan bahasa sederhana

Anak perlu memahami bahwa melihat mainan bukan berarti boleh mengambilnya. Gunakan kalimat sesuai usia: “Kamu boleh melihat. Untuk memegang, tanyakan dulu,” atau “Teman masih bermain. Kita menunggu.” Anak yang lebih kecil mungkin membutuhkan pengulangan dan contoh langsung. Pastikan kalimatnya singkat, konkret, dan disampaikan ketika anak cukup tenang untuk mendengarkan.

Bedakan pula mainan pribadi dari mainan yang disediakan bersama. Di taman bermain, beberapa alat memang digunakan bergantian, tetapi benda yang sedang dipegang anak lain tetap memerlukan persetujuan atau giliran. Di rumah teman, tanyakan aturan tuan rumah dan ajari anak menghormatinya. Jangan menganggap semua mainan di ruang bermain otomatis bebas diambil tanpa bertanya.

Ajarkan cara meminta dan menunggu

Berikan contoh ungkapan: “Boleh aku pinjam setelah kamu selesai?” atau “Aku mau giliran berikutnya.” Anak dapat belajar meminta dengan kata-kata, isyarat, atau cara komunikasi lain yang sesuai kemampuannya. Jika ia belum dapat berbicara lancar, orang tua bisa membantu menyampaikan keinginan dan memberi jeda untuk respons anak lain.

Menunggu tidak selalu mudah. Bantu anak memilih aktivitas lain, melihat timer, atau menentukan urutan dengan kesepakatan sederhana. Jangan menjanjikan bahwa ia pasti memperoleh mainan bila teman belum bersedia meminjamkan. Ia perlu belajar menerima jawaban “belum” atau “tidak”, sambil tetap mendapat dukungan untuk mengelola kecewa.

Perbaiki situasi tanpa memaksa permintaan maaf yang kosong

Orang tua dapat mengakui dampak tindakan: “Tadi temanmu sedang memakai mobil itu dan ia kaget ketika diambil.” Jika anak siap, ajak ia mengembalikan benda, bertanya apakah temannya baik-baik saja, atau mengatakan maaf. Namun, permintaan maaf yang dipaksakan saat anak belum memahami kejadian sering hanya menjadi ucapan tanpa makna.

Perbaikan juga dapat berupa tindakan konkret: mengembalikan mainan, memberi ruang kepada teman, atau menunggu giliran. Jangan menggunakan permintaan maaf sebagai syarat agar anak boleh terus bermain. Fokus pada pembelajaran dan pemulihan hubungan, bukan mempermalukan anak di depan umum.

Latih keterampilan sosial saat suasana tidak sedang konflik

Di rumah, orang tua dapat bermain bergiliran dengan bola, balok, atau mobil. Sebutkan tindakan yang sedang dilakukan: “Sekarang giliran Ayah, setelah itu giliranmu.” Lakukan permainan dalam waktu singkat dan akhiri sebelum anak terlalu lelah. Permainan sederhana memberi kesempatan berlatih menunggu, meminta, dan merespons tanpa tekanan kelompok yang besar.

Orang tua dapat membacakan cerita tentang tokoh yang meminta izin atau menunggu. Gunakan cerita untuk bertanya, “Menurutmu, apa yang bisa ia katakan?” Hindari mengubah setiap sesi bermain menjadi pelajaran moral. Anak juga perlu menikmati permainan tanpa terus dinilai. Pendampingan yang hangat dan konsisten lebih berguna daripada mengulang larangan sepanjang hari.

Perhatikan usia, situasi, dan kemampuan komunikasi

Anak yang masih kecil belum tentu dapat memahami sudut pandang orang lain secara konsisten. Kemampuan menunggu, berbagi perhatian, dan mengendalikan dorongan berkembang bertahap. Pada anak yang lebih besar, orang tua dapat melibatkan diskusi tentang aturan permainan, kesepakatan, dan tanggung jawab setelah mengambil barang orang lain.

Namun, usia bukan alasan untuk membiarkan perilaku yang membahayakan. Jika anak mendorong, memukul, menggigit, atau merampas benda dengan kekuatan, hentikan tindakan dan amankan lingkungan. Bila perilaku agresif berulang di berbagai tempat atau menimbulkan cedera, catat konteksnya dan konsultasikan dengan dokter anak atau tenaga profesional yang sesuai. Jangan menyimpulkan diagnosis dari satu kejadian.

Contoh kalimat yang dapat digunakan orang tua

  • “Kamu ingin mobil itu. Temanmu masih memakainya. Kita tunggu.”
  • “Kamu boleh bertanya, bukan menarik dari tangannya.”
  • “Temanmu belum mau meminjamkan. Kita cari pilihan lain.”
  • “Tadi ia terkejut saat mainannya diambil. Kita kembalikan dan pastikan ia baik-baik saja.”
  • “Kamu kecewa karena belum mendapat giliran. Aku temani sampai perasaanmu lebih tenang.”

Pilih kalimat yang sesuai kemampuan memahami anak. Tidak perlu mengucapkan semuanya sekaligus. Dalam situasi ramai, pesan pendek sering lebih mudah diterima daripada penjelasan panjang.

Bangun kebiasaan bermain yang menghargai orang lain

Sebelum pergi ke tempat bermain, bicarakan aturan paling penting: meminta izin, mengembalikan benda setelah selesai, dan memberi tahu orang dewasa bila ada konflik. Ketika tiba, tunjukkan kepada anak cara melihat apakah mainan sedang dipakai. Orang tua juga perlu memberi contoh saat meminjam barang milik orang lain.

Pengalaman bermain bersama dapat menjadi latihan untuk berkomunikasi dan bekerja sama, seperti yang dibahas dalam permainan sederhana untuk melatih kerja sama kakak adik. Untuk memahami kapan perlu mendampingi lebih dekat, baca juga panduan menemani anak bermain sesuai tahap perkembangan.

Hal yang perlu diingat

Merebut mainan adalah kesempatan untuk mengajarkan batas, komunikasi, dan pemulihan hubungan. Hentikan tindakan, kembalikan hak anak yang terdampak, bantu anak menyampaikan keinginan, dan latih menunggu giliran. Bersikap tenang bukan berarti membiarkan; orang tua tetap tegas sambil menghormati proses belajar setiap anak.

Rujukan untuk orang tua

Jangan lupa berbicara dengan orang tua atau pengasuh lain

Jika kejadian berlangsung di rumah teman atau tempat penitipan, bicarakan dengan orang dewasa yang bertanggung jawab secara pribadi dan tenang. Sampaikan apa yang terjadi tanpa membesar-besarkan atau menyembunyikan tindakan anak. Tanyakan aturan setempat dan sepakati respons yang konsisten. Hindari menegur anak lain atau membuat keputusan disiplin untuk keluarga lain. Bila mainan rusak, bantu menyelesaikan dampaknya secara wajar, misalnya mengembalikan barang atau menawarkan bantuan memperbaiki dengan persetujuan pemilik. Kerja sama antarorang dewasa membantu anak menerima batas yang jelas tanpa merasa dipermalukan di depan teman-temannya.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.