Melihat mainan yang baru dibeli patah, dicoret, atau dilempar hingga rusak bisa membuat orang tua kesal. Reaksi spontan seperti membentak atau langsung menyebut anak ceroboh sering muncul karena ada biaya, tenaga, dan harapan yang terasa terbuang. Namun, sebelum mengambil kesimpulan bahwa anak sengaja merusak barang, cobalah memahami apa yang terjadi. Anak mungkin sedang menguji cara kerja benda, belum mampu mengendalikan tenaga, merasa frustrasi, meniru tindakan yang dilihat, atau memang sedang menguji batas yang berlaku.
Respons yang membantu bukan berarti membiarkan semua tindakan. Orang tua tetap perlu menghentikan perilaku yang membahayakan, menjelaskan batas penggunaan, dan membimbing anak memperbaiki kerusakan jika memungkinkan. Bedakan perilaku dengan identitas anak: katakan bahwa melempar mainan tidak aman, bukan bahwa anak adalah anak nakal. Perbedaan ini menjaga pesan tetap jelas tanpa mempermalukan.
Kenali apa yang sebenarnya terjadi sebelum memberi konsekuensi
Perhatikan urutan kejadian. Apakah bagian mainan terlepas saat anak mencoba menyusun? Apakah ia memukul mainan setelah gagal? Apakah ia melemparkannya ke arah orang lain? Atau ia sedang membongkar benda yang memang dirancang untuk dirakit? Tindakan yang terlihat sama-sama menghasilkan kerusakan dapat mempunyai latar yang berbeda sehingga membutuhkan respons berbeda.
Eksplorasi anak kadang tampak kasar bagi orang dewasa. Anak bisa menekan tombol berkali-kali, menjatuhkan benda untuk mendengar bunyinya, atau mencoba menarik bagian yang bergerak. Rasa ingin tahu ini tidak otomatis berarti ia bermaksud merusak. Namun, jika mainan tidak dirancang untuk ditarik atau dibenturkan, orang tua tetap perlu menunjukkan batas aman dan menawarkan benda yang memang boleh dieksplorasi.
Jika kerusakan terjadi ketika anak marah, perhatikan pemicunya. Ia mungkin kesulitan menyelesaikan puzzle, kalah dalam permainan, atau diminta berhenti. Bantu ia mengenali perasaan setelah keadaan tenang. Hindari mendiagnosis karakter atau gangguan dari satu kejadian. Lihat pola, konteks, usia, kemampuan komunikasi, dan apakah perilaku tersebut menimbulkan risiko berulang.
Hentikan tindakan berbahaya dengan kalimat singkat
Ketika anak melempar benda keras, mengarahkan mainan ke wajah orang lain, atau memukul dengan bagian yang tajam, utamakan keselamatan. Dekati anak, jauhkan benda berbahaya, dan gunakan kalimat jelas seperti, “Aku tidak membiarkan balok dilempar ke orang. Balok bisa melukai.” Tidak perlu memberi ceramah panjang saat anak masih sangat marah atau belum siap mendengar.
Setelah situasi terkendali, jelaskan alternatif yang boleh dilakukan. “Kalau ingin melempar, kita gunakan bola kain di area yang aman.” Bila anak ingin menguji bunyi, ajak mengetuk drum mainan atau wadah yang tidak mudah pecah. Pilihan pengganti harus benar-benar aman dan tidak mengajarkan bahwa benda apa pun boleh dilempar ketika sedang kesal.
Pastikan juga anak lain menjauh dari pecahan atau bagian kecil. Simpan mainan yang retak, baterainya terbuka, magnetnya terlepas, atau komponennya tidak lagi terpasang kuat. Jangan biarkan anak terus bermain dengan benda yang sudah berubah menjadi berbahaya hanya karena ia masih menyukainya.
Bicarakan kerusakan setelah emosi mereda
Gunakan pertanyaan yang tidak menuduh: “Apa yang sedang kamu coba lakukan?” atau “Bagian mana yang tidak berhasil?” Dengarkan jawabannya sebelum menjelaskan. Anak kecil mungkin belum dapat menerangkan niatnya dengan kata-kata; perhatikan gerakan, keadaan sekitar, dan responsnya. Orang tua juga dapat menyebut hal yang terlihat, misalnya, “Aku melihat roda mobilnya terlepas setelah kamu menariknya.”
Jika tindakan dilakukan saat frustrasi, ajarkan cara mengekspresikan perasaan dengan aman. Anak dapat mengatakan “aku kesal”, meminta bantuan, mengambil jeda, atau mencoba lagi nanti. Orang tua dapat mencontohkan, “Menara itu roboh. Kita tarik napas dulu, lalu putuskan apakah mau membangun kembali.” Tujuannya bukan agar anak tidak pernah kecewa, melainkan memiliki pilihan selain melempar atau merusak.
Libatkan anak dalam memperbaiki atau membereskan akibatnya
Tanggung jawab harus sesuai kemampuan. Anak prasekolah mungkin dapat membantu mengumpulkan balok yang berantakan, sedangkan anak lebih besar dapat ikut memeriksa petunjuk perakitan atau menyiapkan bagian yang masih utuh. Jangan meminta anak menggunakan lem, alat tajam, baterai, atau perkakas tanpa keterampilan dan pengawasan yang sesuai. Perbaikan yang berisiko sebaiknya dilakukan orang dewasa atau teknisi.
Jika mainan tidak dapat diperbaiki, ajak anak memahami keputusan untuk menghentikan penggunaannya. “Bagian ini patah dan bisa melukai, jadi kita tidak memakainya lagi.” Tidak semua kerusakan harus dibalas dengan membeli pengganti. Keluarga dapat membicarakan apakah mainan perlu diganti, menunggu, atau memilih aktivitas lain. Hindari membuat rasa bersalah sebagai hukuman berkepanjangan.
Bangun aturan penggunaan yang konkret
Aturan yang terlalu umum seperti “jangan kasar” mungkin sulit diterapkan. Ubah menjadi tindakan yang dapat dilihat: mobil didorong di lantai, balok diletakkan di karpet, mainan tidak dilempar ke arah orang, dan bagian yang kecil disimpan setelah bermain. Tunjukkan cara memegang dan menyimpan benda, bukan hanya melarang.
Jika anak sering merusak mainan karena tingkat kesulitan tidak sesuai, sesuaikan pilihan. Mainan rakitan yang terlalu rumit dapat membuat anak frustrasi; mainan yang terlalu mudah mungkin membuatnya mencari tantangan dengan cara lain. Berikan pilihan yang lebih cocok, tetapi jangan menganggap setiap kerusakan sebagai alasan untuk membeli mainan baru.
Contoh respons dalam beberapa situasi
- Mainan patah saat dipakai: periksa keamanan, lalu jelaskan bahwa mainan tersebut tidak bisa digunakan sampai dinilai atau diperbaiki.
- Anak membanting mainan karena kalah: hentikan tindakan, bantu ia menenangkan diri, dan bicarakan cara menghadapi hasil permainan setelah siap.
- Anak membongkar mainan rakitan: lihat apakah benda itu memang dapat dibongkar. Tawarkan area atau bahan khusus untuk eksperimen.
- Anak mengulang tindakan yang sama: jelaskan batas secara konsisten, dekatkan diri saat permainan berlangsung, dan evaluasi apakah mainan tersebut cocok.
Kapan perlu mencari dukungan tambahan?
Satu atau beberapa kejadian merusak mainan tidak cukup untuk menyimpulkan adanya masalah perkembangan atau perilaku. Namun, bila tindakan membahayakan orang, terjadi sangat sering, sulit dikendalikan, muncul di banyak situasi, atau disertai kesulitan komunikasi dan regulasi emosi yang mengganggu keseharian, diskusikan kekhawatiran dengan dokter anak atau tenaga profesional yang sesuai. Ceritakan contoh nyata, frekuensi, pemicu, dan cara keluarga merespons.
Orang tua juga boleh meminta bantuan ketika merasa kewalahan atau khawatir akan bereaksi terlalu keras. Mengambil jeda singkat setelah anak berada dalam keadaan aman merupakan langkah yang lebih baik daripada melanjutkan pertengkaran. Artikel menemani anak bermain sesuai tahap perkembangan dapat membantu orang tua menyesuaikan pendampingan dengan kemampuan anak. Untuk pilihan permainan yang lebih sederhana, lihat permainan keluarga tanpa layar.
Hal yang perlu diingat
Mainan rusak memang dapat mengecewakan, tetapi kejadian tersebut juga bisa menjadi kesempatan mengajarkan keselamatan, pengendalian diri, dan tanggung jawab. Cari tahu penyebabnya, hentikan tindakan berbahaya, beri alternatif yang jelas, lalu libatkan anak memperbaiki akibat sesuai usianya. Tegas terhadap perilaku tidak perlu berarti merendahkan anak.
Rujukan untuk orang tua
- American Academy of Pediatrics: The Power of Play membahas peran bermain dalam hubungan dan keterampilan anak.
- U.S. Consumer Product Safety Commission: Toys memuat panduan umum memilih dan memeriksa keamanan mainan.










