Anak tertawa ketika Ayah mengangkatnya pelan, berpura-pura menjadi monster, atau bermain kejar-kejaran di ruang keluarga. Bagi sebagian keluarga, permainan fisik seperti berguling di karpet atau pura-pura bergulat menjadi momen akrab. Namun, permainan yang menyenangkan bisa berubah tidak aman bila orang dewasa terlalu bersemangat, mengabaikan tanda anak tidak nyaman, atau melakukan gerakan yang tidak sesuai usia dan kemampuan anak.
Permainan kasar yang dimaksud di sini adalah permainan fisik yang dilakukan dengan kesepakatan dan suasana bercanda, bukan kekerasan, hukuman, atau tindakan yang menyakiti. Dalam literatur perkembangan, permainan kejar-kejaran, bergumul, dan saling mengejar kadang disebut rough-and-tumble play, yaitu permainan gerak aktif yang memiliki unsur kontak fisik tetapi berlangsung dalam konteks bermain. Istilah ini tidak berarti semua bentuk pergulatan aman atau cocok untuk setiap anak.
Apa manfaat yang mungkin didapat dari permainan fisik?
Permainan aktif memberi kesempatan anak bergerak, menguji keseimbangan, belajar membaca isyarat sosial, dan mengenali kapan permainan perlu dilanjutkan atau dihentikan. Saat bermain dengan ayah, anak juga dapat belajar bergantian, menyepakati aturan, dan mempercayai bahwa orang dewasa akan merespons ketika ia mengatakan cukup. Manfaat tersebut bukan hasil otomatis dari permainan kasar; kualitas interaksi dan keselamatan tetap menjadi penentu penting.
Tinjauan penelitian mengenai permainan ayah dan anak menemukan beragam bentuk permainan, termasuk permainan fisik dan permainan yang lebih tenang. Temuan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan ayah tidak perlu disamakan dengan aktivitas bergulat saja. Ayah dapat membaca tinjauan penelitian tentang jenis permainan ayah dan anak untuk melihat bahwa permainan memiliki bentuk dan konteks yang beragam.
Sepakati batas sebelum permainan dimulai
Gunakan aturan sederhana yang bisa dipahami anak, misalnya tidak memukul, menendang, menggigit, menarik rambut, menekan leher, melempar, atau menjatuhkan tubuh ke permukaan keras. Tidak boleh memegang bagian tubuh yang tidak diinginkan. Tidak ada permainan mengangkat atau melempar anak ke udara. Jika salah satu orang berkata berhenti, permainan langsung berhenti tanpa ejekan atau tawar-menawar.
Untuk anak kecil, aturan perlu ditunjukkan dengan contoh dan pengulangan. Jangan mengandalkan instruksi panjang ketika anak sedang bersemangat. Ayah dapat berkata, “Kita boleh pura-pura bergulat, tetapi tangan tidak boleh mendorong wajah. Kalau kamu bilang berhenti, Ayah langsung berhenti.” Aturan juga berlaku untuk ayah. Orang dewasa harus menjadi contoh bahwa batas anak dihormati.
Periksa kesiapan anak dan kondisi lingkungan
Pilih ruang yang aman
Singkirkan meja bersudut tajam, benda pecah belah, mainan keras, kabel, dan permukaan yang licin. Jangan bermain di dekat tangga, jendela, furnitur tinggi, kolam, atau area yang memiliki risiko jatuh. Karpet tebal atau alas bermain dapat mengurangi benturan ringan, tetapi tidak membuat semua gerakan aman. Ruang sempit juga dapat membuat anak mudah terbentur.
Sesuaikan gerakan dengan usia dan kemampuan
Bayi belum dapat mengikuti permainan bergulat. Untuk bayi, interaksi yang sesuai dapat berupa berbicara, menyanyi, menyentuh dengan lembut, dan bermain saat ia terjaga di permukaan aman. Balita mungkin menyukai kejar-kejaran singkat, tetapi keseimbangan dan kemampuan memahami aturan masih berkembang. Anak sekolah dapat diajak menyepakati batas lebih rinci, tetapi tetap memerlukan pengawasan orang dewasa.
Jangan bermain ketika salah satu pihak sedang tidak siap
Hindari permainan fisik ketika anak sangat lelah, lapar, sakit, menangis, atau terlihat kewalahan. Ayah juga sebaiknya tidak memulai permainan ketika sedang marah, terburu-buru, atau sulit mengendalikan tenaga. Jika ayah sedang kesal, pilih aktivitas tenang sampai emosi lebih stabil.
Baca tanda anak menikmati permainan dan tanda ia ingin berhenti
Tawa dan gerakan aktif dapat menunjukkan anak menikmati permainan, tetapi bukan satu-satunya ukuran. Perhatikan apakah ia mendekat secara sukarela, kembali meminta bermain, dan terlihat nyaman. Sebaliknya, anak yang mendadak diam, menegang, menghindar, menangis, menutup wajah, atau berkata tidak perlu direspons. Jangan menyimpulkan bahwa anak sebenarnya senang hanya karena ia tertawa gugup atau belum mampu menjelaskan rasa tidak nyaman.
Anak dapat berubah pikiran di tengah permainan. Hal itu bukan perilaku manja atau tanda ia tidak konsisten. Ayah perlu menghentikan gerakan, memberi ruang, dan memeriksa apakah anak ingin beristirahat. Jangan menggelitik atau menahan anak setelah ia meminta berhenti. Memahami batas tubuh lebih penting daripada menyelesaikan permainan sesuai keinginan orang dewasa.
Bedakan permainan dari perilaku agresif
Permainan yang sehat berlangsung dua arah: anak dapat ikut memulai, tertawa atau menunjukkan kesenangan, dan menghentikannya. Dalam perilaku agresif, seseorang dapat merasa takut, terpaksa, kesakitan, atau tidak punya kesempatan untuk menghentikan tindakan. Perbedaan niat juga penting, tetapi niat bercanda tidak menghapus dampak. Jika anak terluka atau takut, hentikan permainan dan tangani kebutuhan anak terlebih dahulu.
Jangan mengajarkan anak bahwa memukul teman adalah wajar karena Ayah sering mengajaknya bermain pukul-pukulan. Tegaskan bahwa permainan memiliki konteks dan kesepakatan khusus. Tindakan memukul orang lain tanpa persetujuan bukan permainan. Bantu anak belajar menggunakan kata-kata, meminta izin, dan berhenti ketika orang lain tidak mau melanjutkan.
Alternatif permainan aktif yang lebih mudah diatur
- Kejar-kejaran dengan batas area: tentukan area bermain dan hindari tangga atau furnitur.
- Meniru gerakan hewan: berjalan seperti beruang atau melompat seperti katak, sesuai kemampuan anak.
- Rintangan dari bantal: buat jalur rendah yang tidak membuat anak melompat dari ketinggian.
- Menari bersama: bergantian memilih lagu dan gerakan sederhana.
- Bermain bola lembut: gunakan bola sesuai usia dan arahkan ke ruang terbuka yang aman.
Untuk ide aktivitas yang disesuaikan dengan tahap perkembangan, orang tua dapat membaca panduan menemani anak bermain sesuai tahap perkembangan dan contoh aktivitas untuk mendukung motorik kasar anak.
Apa yang dilakukan jika anak terjatuh atau terluka?
Hentikan permainan dan periksa kondisi anak. Beri pertolongan pertama sesuai kemampuan dan cari pertolongan medis bila cedera berat, anak kehilangan kesadaran, mengalami kesulitan bernapas, muntah berulang setelah benturan kepala, nyeri berat, atau ada tanda lain yang mengkhawatirkan. Jangan menutupi kejadian atau memaksa anak melanjutkan permainan. Catat bagaimana cedera terjadi untuk membantu tenaga kesehatan bila diperlukan.
Jadikan permainan sebagai ruang belajar tentang rasa aman
Bermain kasar tidak wajib untuk membangun kedekatan. Sebagian anak lebih suka menggambar, membaca, menyusun balok, atau berbicara. Ayah tidak perlu memaksakan permainan fisik hanya karena menganggap anak laki-laki atau perempuan seharusnya menyukainya. Ikuti minat dan kesiapan anak.
Pastikan orang dewasa tetap memegang tanggung jawab keselamatan
Anak yang sangat antusias belum tentu mampu menilai risiko gerakan yang sedang dilakukan. Ayah tetap perlu mengatur intensitas, menjaga agar kepala dan leher tidak mendapat tekanan, serta menghindari gerakan mengangkat tinggi, menjatuhkan, memutar cepat, atau menahan napas. Jangan melanjutkan permainan hanya karena anak tertawa jika tubuhnya tampak tegang atau ia berusaha menjauh. Bila anak memiliki kondisi medis, hambatan gerak, atau pengalaman yang membuat kontak fisik terasa tidak nyaman, pilih aktivitas lain dan konsultasikan kebutuhan khusus bila perlu.
Jika ada saudara kandung dengan usia dan ukuran tubuh berbeda, jangan menganggap aturan yang cocok bagi anak lebih besar juga aman bagi anak kecil. Atur permainan agar tidak ada anak yang menjadi sasaran gerakan orang lain tanpa persetujuan. Orang dewasa perlu menghentikan permainan saat energi meningkat terlalu jauh, bukan menunggu sampai anak menangis atau terluka. Pengawasan aktif berarti Ayah benar-benar memperhatikan, bukan sekadar berada di ruangan sambil fokus pada ponsel.
Jika keluarga memilih permainan fisik, buat aturan yang jelas, perhatikan lingkungan, sesuaikan dengan usia, dan hormati kata “berhenti”. Ayah sedang mengajarkan sesuatu yang lebih penting daripada gerakan bermain: bahwa tubuh anak dihargai, batasnya berlaku, dan orang dewasa yang menyayanginya akan menjaga keselamatannya.










