Kafein bukan kebutuhan tubuh anak
Kafein adalah zat stimulan yang dapat ditemukan secara alami pada kopi, teh, kakao, dan beberapa minuman lain. Anak tidak membutuhkan kafein untuk memperoleh energi atau mendukung konsentrasi. Efeknya dapat berbeda menurut usia, berat badan, jumlah yang diminum, sensitivitas, dan kondisi kesehatan.
Pada anak, kafein dapat berkaitan dengan sulit tidur, gelisah, jantung berdebar, sakit kepala, atau gangguan kenyamanan. American Academy of Pediatrics menyarankan orang tua memperhatikan sumber kafein dan membantu anak memilih minuman yang lebih sesuai. Tidak ada alasan menjadikan kopi atau teh sebagai rutinitas harian anak.
Teh juga berpengaruh pada penyerapan zat besi
Kandungan polifenol dalam teh dapat mengurangi penyerapan zat besi nonheme dari makanan nabati jika diminum berdekatan dengan waktu makan. Hal ini relevan bagi anak yang mengandalkan kacang-kacangan, tahu, tempe, atau sayuran sebagai sumber zat besi. Remaja putri yang menstruasi juga perlu memperhatikan kecukupan zat besi.
Air putih lebih tepat dijadikan minuman saat makan. Jika anak yang lebih besar sesekali minum teh atau kopi, perhatikan jumlah kafein, tambahan gula, dan waktu konsumsi. Hindari menyajikan minuman berkafein pada sore atau malam hari karena dapat mengganggu tidur.
Jangan menganggap semua teh dan kopi memiliki kadar sama
Kadar kafein dipengaruhi jenis daun atau biji, ukuran sajian, cara seduh, konsentrasi, serta tambahan ekstrak. Teh kemasan, kopi susu, minuman rasa kopi, dan cokelat dapat memiliki kandungan berbeda. Produk yang terasa manis atau ringan belum tentu bebas kafein.
Baca label minuman kemasan dan perhatikan kandungan per sajian. Jika tidak jelas berapa kafeinnya, jangan menganggap produk aman untuk anak hanya karena dijual bebas. Hindari pula produk yang dipasarkan untuk meningkatkan fokus atau energi.
Pilihan minuman yang lebih sesuai
Air putih menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan. Susu tawar atau minuman lain yang sesuai usia dan kondisi dapat menjadi bagian pola makan. Untuk anak dengan alergi atau intoleransi, diskusikan pilihan pengganti yang tetap memperhatikan kandungan protein, kalsium, vitamin D, dan zat gizi lain.
Jika anak terbiasa meminta teh manis atau kopi susu karena anggota keluarga meminumnya, orang dewasa dapat memberi contoh dengan menyediakan minuman tanpa kafein dan gula tambahan. Perubahan lingkungan keluarga sering lebih efektif daripada hanya melarang anak.
Perhatikan kafein tersembunyi dalam produk
Kafein tidak hanya ada pada kopi hitam. Teh, cokelat, cola, minuman energi, kopi susu, dan beberapa produk rasa kopi dapat menyumbang kafein. Kadar ditentukan oleh bahan dan cara pembuatan, sehingga rasa manis atau ukuran gelas tidak selalu menunjukkan jumlah kafein.
Bila anak mengeluh sulit tidur, gelisah, sakit kepala, atau jantung berdebar, catat minuman yang dikonsumsi dan waktunya. Bawa informasi tersebut saat berkonsultasi. Jangan sengaja memberikan kopi untuk mengatasi kantuk karena hal itu dapat membentuk siklus tidur yang semakin terganggu.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah teh herbal pasti bebas kafein?
Tidak semua produk herbal memiliki komposisi sama, dan beberapa campuran dapat mengandung teh atau bahan stimulan. Periksa label.
Apakah kopi susu lebih aman daripada kopi hitam?
Susu tidak menghilangkan kafein. Produk kopi susu tetap dapat mengandung kafein dan gula tambahan.
Hal yang perlu diingat
Jangan menggunakan kopi atau teh sebagai cara mengatasi anak mengantuk atau kurang fokus. Periksa kebutuhan tidur, pola aktivitas, dan kondisi kesehatan bila masalah berulang.
Sumber tepercaya untuk bacaan lanjutan
- The Effects of Caffeine on Kids: A Parent’s Guide — American Academy of Pediatrics
- Iron — NIH Office of Dietary Supplements
- Healthy diet — WHO










