Anak usia sekolah memakai jam tangan pintar, sementara orang tua melihat pengaturan privasi dan lokasi di ponsel.
Smartwatch dapat membantu komunikasi keluarga, tetapi fitur lokasi perlu digunakan dengan kesepakatan dan batas yang jelas.
Gawai, Internet & Dunia Digital

Smartwatch Anak Makin Dilirik, GPS-nya Perlu Selalu Aktif?

Jam tangan pintar bisa membantu keluarga berkomunikasi dan mengetahui lokasi anak, tetapi GPS yang selalu aktif bukan otomatis pilihan terbaik. Kenali fitur, risiko data, dan kesepakatan pemakaian yang sehat.

“Kalau anak sudah bisa pulang les sendiri, gimana kalau kita belikan smartwatch yang ada GPS-nya?” Pertanyaan seperti ini makin sering muncul di rumah yang jadwalnya padat. Ada antar-jemput sekolah, les, latihan, dan kadang orang tua belum bisa menjemput tepat waktu. Jam tangan pintar terasa seperti jalan tengah: anak bisa menghubungi keluarga, orang tua bisa mengecek lokasi, dan ponsel belum perlu diberikan.

Tapi, apakah GPS di Smartwatch Anak harus aktif terus-menerus? Jawabannya: nggak selalu. Fitur lokasi bisa berguna saat anak bepergian atau berada di tempat yang belum familiar. Namun, pemantauan sepanjang waktu juga mengumpulkan data pergerakan dan dapat membuat anak merasa selalu diawasi. Jadi, sebelum membeli, jangan cuma terpikat tombol SOS atau peta lokasi. Cek juga apa yang direkam, siapa yang bisa melihatnya, dan kapan fitur itu benar-benar dibutuhkan.

Sebelum membeli smartwatch anak, cek dulu apakah fitur yang ditawarkan benar-benar dibutuhkan atau hanya terlihat menarik di iklan.

Jam tangan pintar itu bukan sekadar jam dengan GPS

Setiap perangkat punya fitur berbeda. Ada yang hanya menampilkan waktu dan langkah, ada yang bisa menerima panggilan, mengirim pesan suara, memakai kartu SIM, mengambil foto, mengakses aplikasi, atau membagikan lokasi secara berkala. Dua perangkat yang sama-sama disebut smartwatch bisa punya kebutuhan data dan risiko privasi yang sangat berbeda.

Karena itu, baca spesifikasi dan kebijakan privasinya. UNICEF Indonesia mengingatkan bahwa perangkat pintar—termasuk jam yang terhubung ke internet—dapat menyimpan atau mengirim informasi pribadi. Dalam daftar periksa privasi online untuk orang tua, keluarga diajak mengecek keamanan perangkat, pembaruan perangkat lunak, serta informasi pribadi yang dikumpulkan. Ini penting karena data lokasi anak bukan informasi biasa; bila bocor atau dibagikan sembarangan, orang lain bisa mengetahui rutinitasnya.

Jam tangan pintar juga sering menjadi pintu pertama anak mengenal komunikasi digital. Karena itu, aturan pemakaiannya bisa dibicarakan bersama aturan akun media sosial atau aplikasi lain. Bunda dapat melihat panduan kapan anak siap memiliki akun media sosial dan bagaimana menjaga privasinya. Prinsipnya mirip: akses digital diberikan sesuai kebutuhan dan kesiapan, bukan sekadar karena perangkatnya tersedia.

GPS selalu aktif: membantu, tetapi ada konsekuensinya

GPS dapat membantu orang tua mengetahui apakah anak sudah tiba di sekolah atau tempat les. Fitur geofence—pemberitahuan ketika perangkat masuk atau keluar dari area tertentu—juga bisa menambah rasa tenang. Namun, lokasi yang terus dikirim berarti perangkat dan aplikasi menyimpan jejak perjalanan lebih banyak. Belum lagi jika akun orang tua memakai kata sandi yang mudah ditebak, aplikasi belum diperbarui, atau akses dibagikan ke terlalu banyak orang.

SituasiPenggunaan lokasi yang masuk akalHal yang perlu disepakati
Anak berangkat atau pulang sendiriAktif selama perjalanan atau pada jam yang disepakati.Siapa yang menerima lokasi dan kapan orang tua akan mengecek.
Anak bermain di area yang dikenalBisa tidak perlu aktif terus jika anak mudah dihubungi.Jam pulang, area bermain, dan cara meminta bantuan.
Perjalanan ke tempat baruLokasi dapat diaktifkan selama perjalanan.Siapa pendampingnya dan kapan fitur dimatikan kembali.
Anak berada di sekolahIkuti aturan sekolah dan kebutuhan khusus anak.Apakah jam perlu dilepas atau fitur komunikasi dibatasi.

Jadi, GPS bukan tombol “aman” yang menjamin anak selalu terlindungi. Lokasi yang terlihat di layar tidak memberi tahu apakah anak sedang baik-baik saja, bersama siapa ia berada, atau apakah ia menghadapi masalah. Tetap penting mengajarkan anak mengenali orang dewasa tepercaya, tempat aman, dan cara meminta bantuan.

Lima hal yang sebaiknya dicek sebelum membeli

  1. Data apa yang dikumpulkan? Apakah perangkat menyimpan lokasi, kontak, foto, rekaman suara, atau daftar panggilan? Apakah data dihapus otomatis atau tersimpan lama?
  2. Siapa yang bisa mengakses? Apakah hanya satu akun orang tua, atau beberapa anggota keluarga bisa melihat lokasi? Hindari membagikan akses ke grup atau orang yang tidak perlu.
  3. Bagaimana keamanan akunnya? Pilih kata sandi unik, aktifkan verifikasi berlapis bila tersedia, dan perbarui aplikasi serta firmware. Jangan memakai tanggal lahir anak sebagai PIN.
  4. Apakah fitur komunikasi dibatasi? Periksa apakah anak bisa menerima panggilan dari nomor yang belum dikenal, mengirim pesan ke orang asing, atau mengakses aplikasi lain.
  5. Bagaimana jika jam hilang? Cari tahu cara mengunci perangkat, menghapus data dari jarak jauh, menonaktifkan SIM, dan mengganti kata sandi akun.

Periksa pula apakah perusahaan memiliki kebijakan privasi yang jelas dan layanan bantuan yang bisa dihubungi. Bila informasi tentang penyimpanan data tidak terang, jangan buru-buru membeli hanya karena fiturnya banyak.

Jangan sampai jam pintar berubah jadi alat mengawasi setiap gerak

Untuk anak yang sudah mulai mandiri, transparansi penting. Jelaskan bahwa GPS digunakan untuk situasi tertentu, bukan untuk memantau setiap langkah diam-diam. Anak bisa diberi tahu kapan lokasi terlihat dan siapa yang dapat melihatnya. Ketika usianya bertambah, kesepakatan tersebut bisa ditinjau ulang.

“Ayah ingin tahu kamu sudah sampai di tempat les, bukan membaca semua gerakanmu sepanjang hari. Kalau suatu waktu GPS perlu diaktifkan, kita sepakati bersama, ya.”

Kalimat seperti ini membantu anak memahami bahwa alat tersebut adalah bagian dari kesepakatan keselamatan, bukan bukti bahwa orang tua tidak percaya. Bila anak merasa risih, dengarkan alasannya. Bisa jadi fitur lokasi terlalu sering berbunyi, baterai cepat habis, atau teman-temannya mengejek perangkat itu. Jangan menganggap semua keberatan sebagai pembangkangan.

Prinsip privasi juga perlu dibawa ke rumah. Jangan unggah foto layar jam yang menampilkan lokasi, nama sekolah, nomor telepon, atau rutinitas anak. Jika ingin membicarakan jejak digital bersama anak, artikel tentang privasi digital sesuai usia bisa jadi bahan obrolan. Untuk benda pintar lain, baca juga panduan memeriksa mainan yang terhubung ke internet.

Penggunaan smartwatch anak akan lebih sehat bila anak tahu kapan lokasi dibagikan dan kapan ia punya ruang pribadi.

Kapan smartwatch membantu, kapan justru belum perlu?

Smartwatch bisa berguna jika anak memang sudah melakukan perjalanan pendek secara mandiri, keluarga punya kebutuhan komunikasi yang jelas, dan orang tua siap mengatur keamanan perangkat. Namun, perangkat ini belum tentu diperlukan bila anak selalu didampingi, belum bisa merawat barang, atau belum memahami batas komunikasi dengan orang asing. Dalam kondisi tertentu, ponsel sederhana yang hanya bisa menghubungi beberapa nomor atau kesepakatan penjemputan mungkin lebih sesuai.

Usia bukan satu-satunya ukuran. Tanyakan juga apakah anak bisa mengisi baterai, menjaga jam agar tidak hilang, memakai tombol darurat dengan benar, dan memahami bahwa lokasi tidak boleh dibagikan kepada sembarang orang. Latih skenario: apa yang dilakukan bila jam mati, hilang, atau menerima panggilan asing. Anak perlu tahu bahwa ia boleh mengabaikan pesan yang membuat tidak nyaman dan segera bercerita kepada orang dewasa tepercaya.

Buat kesepakatan keluarga yang bisa berubah seiring usia

Sebelum jam dipakai, tulis aturan sederhana: jam dipakai pada perjalanan tertentu, panggilan hanya dari kontak yang disetujui, lokasi diperiksa pada waktu yang disepakati, dan perangkat tidak dibawa ke kamar mandi atau ruang privat jika kamera/mikrofonnya aktif. Tambahkan cara menghubungi keluarga saat baterai habis. Lalu evaluasi setelah beberapa minggu: apakah fitur benar-benar membantu atau malah menambah kecemasan?

Tujuan akhirnya bukan membuat orang tua tahu setiap menit anak berada di mana. Yang kita bangun adalah rasa aman dan kemampuan anak menjaga diri. Kalau perangkat membantu komunikasi tanpa menggerus privasi dan kepercayaan, silakan dimanfaatkan. Kalau tidak, keluarga boleh memilih cara lain. Teknologi itu alat bantu—bukan pengganti hubungan yang terbuka.

(Naya)

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.