“Lihat mata Ibu kalau sedang diajak bicara.” Banyak orang tua pernah mengucapkan kalimat itu karena ingin anak menunjukkan perhatian. Dalam beberapa keluarga, kontak mata dianggap tanda sopan, jujur, atau sungguh-sungguh mendengarkan. Namun, ada anak yang merasa tidak nyaman menatap mata orang lain. Ada yang lebih mudah mendengarkan sambil menggambar, melihat benda di meja, atau duduk berdampingan. Ada pula anak yang menggunakan kontak mata secara berbeda karena cara mereka memproses interaksi sosial tidak sama.
Perhatian tidak selalu terlihat dari arah pandangan. Anak bisa mendengarkan tanpa menatap mata, dan anak bisa menatap seseorang tanpa benar-benar memahami pembicaraan. Karena itu, mengajarkan rasa hormat sebaiknya tidak menjadikan kontak mata sebagai satu-satunya ukuran. Orang tua dapat melatih anak menunjukkan bahwa ia menyimak melalui cara yang lebih beragam: menghentikan aktivitas sejenak bila memungkinkan, memberi respons, mengangguk, mengulang inti pesan, atau mengatakan bahwa ia membutuhkan waktu.
Mengapa kontak mata sering dianggap penting?
Dalam banyak situasi sosial, orang menggunakan gerakan wajah dan arah pandangan untuk menunjukkan perhatian. Saat orang tua berbicara dengan anak, menoleh dan menghadap ke arahnya dapat memberi sinyal bahwa percakapan sedang berlangsung. Kontak mata kadang membantu orang saling memahami ekspresi atau mengetahui kapan lawan bicara ingin melanjutkan pembicaraan. Itu sebabnya sebagian keluarga dan sekolah mengajarkannya sebagai salah satu bentuk komunikasi nonverbal.
Namun, kebiasaan sosial bukan aturan yang berlaku sama untuk semua orang. Makna menatap mata dapat berbeda antarbudaya, keluarga, dan situasi. Bagi sebagian anak, menatap orang dewasa yang lebih tua justru terasa tidak sopan atau terlalu intens. Anak yang sedang berpikir juga mungkin mengalihkan pandangan agar lebih mudah menyusun kata. Jangan menganggap arah mata sebagai bukti tunggal tentang kejujuran, perhatian, atau sikap hormat.
Kontak mata juga bukan keterampilan yang perlu dipaksakan. National Autistic Society menjelaskan bahwa sebagian orang autistik dapat merasa kontak mata tidak nyaman atau menyakitkan, dan menyarankan agar komunikasi tidak bergantung pada satu bentuk respons nonverbal. Hal itu tidak berarti setiap anak yang menghindari kontak mata adalah autistik. Perilaku tersebut bisa dipengaruhi banyak hal, dan tidak boleh digunakan sendirian untuk menilai atau mendiagnosis anak.
Apa yang bisa dilakukan anak untuk menunjukkan bahwa ia menyimak?
Alih-alih berkata “Tatap mata lawan bicaramu”, berikan anak beberapa pilihan perilaku yang bermakna. Ia dapat memutar tubuh ke arah orang yang berbicara jika nyaman, menghentikan kegiatan yang terlalu mengganggu percakapan, memberi respons singkat, atau menanyakan bagian yang belum dipahami. Pilihan yang tersedia membuat keterampilan komunikasi lebih inklusif dan tidak mengharuskan semua anak memakai gerakan tubuh yang sama.
- Respons verbal: “Iya, aku dengar,” atau “Boleh ulangi bagian terakhir?”
- Respons nonverbal: mengangguk, menghadap ke arah pembicara, atau memberi isyarat bahwa ia sedang menyimak.
- Mengulang inti: “Jadi setelah makan, aku perlu menaruh buku di tas, ya?”
- Meminta jeda: “Aku dengar, tetapi aku sedang menyelesaikan ini. Boleh bicara dua menit lagi?”
- Meminta cara lain: “Aku lebih mudah memahami kalau Ibu menuliskannya.”
Perilaku tersebut tidak harus dilakukan sekaligus. Pilih yang sesuai usia dan konteks. Anak kecil mungkin cukup berhenti bermain sebentar dan menoleh. Anak yang lebih besar bisa mengulang informasi atau meminta klarifikasi. Anak yang menggunakan komunikasi alternatif dapat menunjuk gambar, mengetik, atau memakai alat bantu komunikasinya.
Orang tua bisa memulai dari cara sendiri mendengarkan anak
Sering kali, orang dewasa meminta anak memberi perhatian penuh, tetapi tetap berbicara sambil melihat ponsel atau beraktivitas. Coba balik kebiasaannya. Saat anak ingin menyampaikan sesuatu yang penting, orang tua dapat berhenti sebentar, menurunkan posisi tubuh jika diperlukan, dan menunjukkan bahwa ia siap mendengarkan. Bila sedang tidak bisa, katakan kapan percakapan dapat dilanjutkan. “Ibu sedang menyelesaikan telepon. Setelah ini Ibu dengarkan ceritamu.” Pastikan janji itu ditepati.
UNICEF menekankan pentingnya mendengarkan secara aktif, merespons perasaan anak, dan memberi perhatian pada apa yang sedang ia ceritakan. Mendengarkan aktif bukan berarti memaksa anak menatap mata. Orang tua dapat mengulang inti cerita, mengajukan pertanyaan terbuka, dan tidak langsung menghakimi. Ketika anak merasa didengar, ia juga memiliki model tentang bagaimana menghormati orang lain.
Jika anak sedang bercerita sambil melihat ke samping, jangan langsung memotong, “Lihat Ibu dulu.” Dengarkan isi ceritanya. Jika Anda tidak yakin ia memahami, tanyakan, “Kamu ingin Ibu dengarkan dulu atau membantu mencari solusi?” Pertanyaan itu mengajarkan bahwa perhatian dapat ditunjukkan melalui respons yang sesuai dengan kebutuhan pembicaraan.
Latih keterampilan mendengarkan tanpa mengubahnya menjadi tes kepatuhan
Anda dapat berlatih melalui permainan sederhana. Ceritakan dua atau tiga petunjuk untuk membuat gambar, lalu minta anak mengulang bagian yang ia ingat. Setelah itu, tukar peran: anak memberi instruksi dan orang tua mencoba mengikutinya. Fokus pada kemampuan mendengar, bertanya, dan memeriksa pemahaman, bukan pada apakah mata anak terus menghadap wajah lawan bicara.
Dalam percakapan keluarga, buat kesepakatan bergantian berbicara. Misalnya, setiap orang diberi waktu menjelaskan pendapat tanpa dipotong. Jika ada yang lupa menunggu giliran, beri isyarat yang disepakati, bukan memarahi di depan orang lain. Anak belajar bahwa perhatian juga berarti memberi ruang bagi orang lain menyelesaikan kalimat.
Untuk anak yang lebih kecil, gunakan instruksi singkat dan konkret. “Ketika Ayah memanggil, berhenti sebentar dan jawab.” Untuk anak yang lebih besar, bahas konteks: saat guru menjelaskan, ia mungkin perlu menghentikan percakapan dengan teman; saat sedang berdiskusi santai, ia boleh melihat catatan atau benda sambil menyimak. Keterampilan ini lebih berguna daripada aturan satu ukuran untuk semua keadaan.
Bagaimana jika anak terlihat tidak mendengarkan?
Periksa dulu apakah pesan disampaikan dengan cara yang bisa diterima anak. Apakah ruangan terlalu ramai? Apakah ia sedang asyik dalam aktivitas yang sulit dihentikan? Apakah instruksi terlalu panjang? Apakah anak memahami kata-kata yang dipakai? Alih-alih mengulang “Lihat mata Mama!” dengan volume lebih tinggi, dekati anak, sebut namanya, sampaikan satu pesan, dan tunggu respons.
Jika anak sedang menggambar atau menyusun benda dan terlihat tidak menatap, jangan otomatis menganggap ia mengabaikan. Tanyakan kembali dengan tenang: “Apa yang kamu dengar dari pesan Ibu?” Bila ia bisa menjawab, berarti informasi mungkin sudah diterima. Jika belum, ubah cara penyampaian. Ada anak yang lebih mudah memahami informasi tertulis, gambar urutan, atau instruksi satu per satu.
Bila kesulitan komunikasi terjadi dalam banyak situasi dan mengganggu kegiatan sehari-hari, orang tua dapat berdiskusi dengan guru atau tenaga profesional. Sampaikan apa yang diamati, kapan terjadi, dan cara komunikasi apa yang membantu. Jangan mendiagnosis berdasarkan satu perilaku seperti tidak menatap mata. Penilaian perkembangan membutuhkan gambaran yang lebih menyeluruh dan dilakukan oleh tenaga yang kompeten.
Jangan membuat anak memilih antara sopan dan nyaman
Anak dapat belajar menyapa, menjawab, dan mendengarkan dengan hormat tanpa harus menoleransi tatapan atau kedekatan fisik yang membuatnya tidak nyaman. Jangan meminta anak menatap mata orang asing saat ia merasa takut. Dalam situasi tersebut, ia boleh berdiri dekat orang tua, menjawab dengan suara pelan, atau menyampaikan salam melalui orang dewasa. Kesopanan tidak berarti anak harus mengabaikan batas pribadinya.
Ini juga berlaku dalam interaksi dengan guru, kerabat, dan teman. Orang tua dapat menjelaskan kepada orang dewasa lain bahwa anak sedang mendengarkan meski pandangannya tidak tertuju langsung. Bila perlu, bantu anak mengatakan, “Saya mendengarkan, tetapi lebih nyaman melihat ke arah lain.” Kita tidak harus menjelaskan kondisi pribadi anak kepada semua orang; cukup berikan penyesuaian yang diperlukan.
Contoh kalimat yang lebih membantu daripada memerintahkan kontak mata
Berikut beberapa pilihan yang dapat dipakai sesuai situasi:
- “Boleh berhenti sebentar supaya kita bisa saling mendengar?”
- “Kamu bisa menghadap ke sini jika nyaman. Kalau tidak, cukup beri tahu kalau kamu mendengar.”
- “Coba ulangi bagian yang paling penting agar Ayah tahu penjelasannya jelas.”
- “Kalau suara di ruangan ini mengganggu, kita pindah ke tempat yang lebih tenang.”
- “Kamu boleh minta waktu untuk berpikir sebelum menjawab.”
Kalimat tersebut mengarahkan pada tujuan komunikasi, bukan menilai bentuk tubuh anak. Orang tua tetap dapat menetapkan batas: anak tidak boleh terus memainkan suara keras saat orang lain berbicara, memotong pembicaraan dengan sengaja, atau mengabaikan instruksi keselamatan. Namun, batas itu dapat ditegakkan tanpa memaksa kontak mata.
Belajar menghormati orang lain dimulai dari saling menyesuaikan
Komunikasi adalah proses dua arah. Anak belajar membaca konteks dan memberi respons, sementara orang dewasa belajar memahami bahwa perhatian dapat terlihat dengan cara berbeda. Jika seseorang tidak menatap mata, jangan langsung menyebutnya tidak sopan. Perhatikan keseluruhan interaksi: apakah ia menjawab, mengajukan pertanyaan, menindaklanjuti informasi, atau menunjukkan bahwa ia memahami. Itu memberi gambaran yang lebih masuk akal daripada arah pandangan saja.
Untuk memperdalam pembahasan, baca artikel tentang sopan santun tanpa mengabaikan batas pribadi, memahami batas pribadi dalam pertemanan anak, dan mendukung perkembangan komunikasi melalui kebiasaan sehari-hari.
Ketika anak merasa tidak dipaksa untuk menampilkan satu bentuk perilaku, ia memiliki lebih banyak ruang untuk benar-benar mendengarkan dan berkomunikasi. Hormat bukan sekadar tatapan mata. Hormat tampak saat kita memberi kesempatan orang lain berbicara, mengakui pesannya, menjaga batas, dan menanggapi dengan cara yang tidak menyakiti. Itulah keterampilan sosial yang layak dibangun di rumah dan dibawa anak ke lingkungan yang lebih luas.
Perbedaan kontak mata bukan masalah yang harus segera diperbaiki
Anak yang tidak menatap mata bisa saja sedang berpikir, malu, lelah, cemas, menghindari rangsangan yang terasa intens, atau memang memiliki gaya komunikasi yang berbeda. Kita tidak bisa mengetahui penyebabnya hanya dari satu percakapan. Bahkan pada anak yang biasanya nyaman melakukan kontak mata, kebiasaan itu dapat berubah ketika ia sedang stres, sakit, berada di lingkungan baru, atau diminta menjawab pertanyaan yang sulit.
Pada sebagian anak autistik, kontak mata dapat terasa tidak nyaman atau menguras tenaga. Ada juga anak yang lebih mudah memahami kata-kata ketika tidak harus memproses ekspresi wajah secara bersamaan. National Autistic Society mengingatkan bahwa memaksa kontak mata yang tidak nyaman bukan pendekatan komunikasi yang tepat. Namun, penting diingat bahwa tidak semua anak yang tidak menatap mata adalah autistik. Perbedaan ini tidak boleh dijadikan label, bahan ejekan, atau alasan untuk mengurangi kesempatan anak berpartisipasi.
Jika orang tua melihat pola komunikasi yang lebih luas—misalnya anak sangat kesulitan bergiliran berbicara, memahami instruksi, menyampaikan kebutuhan, atau menjalin interaksi di berbagai situasi—catat contoh dan diskusikan dengan tenaga profesional bila kekhawatiran menetap. Jangan datang dengan kesimpulan “anak saya tidak menatap mata, berarti...” Sampaikan apa yang diamati, kapan terjadi, dan bentuk komunikasi apa yang membantu. Penilaian perkembangan perlu mempertimbangkan banyak aspek, bukan satu tanda.
Penjelasan National Autistic Society tentang komunikasi dengan murid autistik mengingatkan bahwa kontak mata dapat terasa tidak nyaman atau menyakitkan bagi sebagian anak. Orang tua juga dapat mempraktikkan cara mendengarkan dan berbicara yang lebih responsif melalui panduan komunikasi UNICEF.
Catatan sumber: Prinsip komunikasi inklusif merujuk pada panduan National Autistic Society dan saran komunikasi UNICEF. Menghindari kontak mata tidak dapat digunakan sendiri untuk menilai atau mendiagnosis autisme.










