Parenting saat Anak Autis Mengalami Perundungan: Langkah Melindungi dan Menguatkan Anak. Ilustrasi kegiatan keluarga Indonesia yang menunjukkan dukungan orang tua sesuai kebutuhan anak.
Orang tua dan guru berbicara tenang di ruang sekolah sambil meninjau catatan kejadian dan rencana perlindungan
Sosialisasi & Pertemanan

Parenting saat Anak Autis Mengalami Perundungan: Langkah Melindungi dan Menguatkan Anak

Perundungan terhadap anak autis tidak boleh dianggap sebagai bagian biasa dari proses bersosialisasi. Orang tua perlu mendengarkan cerita anak, mengenali tanda yang mungkin tidak disampaikan secara langsung, lalu bekerja sama dengan sekolah untuk menghentikan perilaku yang merugikan dan memulihkan rasa aman.

Perundungan terhadap anak autis tidak boleh dianggap sebagai bagian biasa dari proses bersosialisasi. Orang tua perlu mendengarkan cerita anak, mengenali tanda yang mungkin tidak disampaikan secara langsung, lalu bekerja sama dengan sekolah untuk menghentikan perilaku yang merugikan dan memulihkan rasa aman.

Bedakan konflik biasa, ketidakcocokan, dan perundungan

Anak dapat mengalami perbedaan pendapat, salah paham, atau konflik sesaat dengan teman. Namun, perundungan biasanya melibatkan tindakan menyakiti, merendahkan, mengucilkan, atau mengintimidasi yang berulang atau memiliki ketimpangan kekuatan. Anak autis dapat menjadi sasaran ejekan karena cara berbicara, minat, gerakan, kebutuhan sensori, atau cara merespons situasi sosial. Peristiwa tidak harus berupa kekerasan fisik untuk dianggap serius.

Jangan mengecilkan kejadian dengan kalimat “namanya juga anak-anak” atau meminta anak mengabaikan begitu saja. Perhatikan apakah anak mulai takut pergi ke sekolah, kehilangan barang, menghindari tempat tertentu, menolak kegiatan yang sebelumnya disukai, mengalami gangguan tidur, atau menunjukkan perubahan emosi. Tanda-tanda tersebut tidak otomatis membuktikan perundungan, tetapi merupakan alasan untuk bertanya dengan tenang dan mencari tahu apa yang terjadi.

Buka percakapan tanpa mendesak anak bercerita panjang

Sebagian anak dapat menceritakan kejadian secara runtut, tetapi sebagian lain memerlukan pertanyaan konkret, waktu lebih lama, atau alat bantu komunikasi. Mulailah dengan pertanyaan yang tidak mengarahkan, seperti “Apa yang terjadi saat istirahat?” atau “Bagian mana yang membuatmu tidak nyaman?” Jika anak menjawab singkat, jangan langsung mengisi kekosongan dengan dugaan orang dewasa. Beri jeda dan izinkan anak menunjuk, menggambar, mengetik, atau memilih gambar.

Jika anak belum mampu menceritakan kejadian, perhatikan perubahan yang terlihat dan kumpulkan informasi dari sekolah atau pengasuh lain. Jelaskan bahwa ia tidak bersalah karena menjadi sasaran ejekan. Tegaskan bahwa ia boleh meminta bantuan dan tidak wajib menyelesaikan perundungan sendirian. Hindari menyuruh anak membalas, mengancam teman, atau menyembunyikan kejadian demi menjaga nama baik sekolah.

Catat kejadian dengan detail yang dapat diperiksa

Buat catatan berisi tanggal, waktu, tempat, siapa yang terlibat jika diketahui, apa yang dilakukan atau dikatakan, saksi, dampak pada anak, dan respons sekolah. Simpan pesan, foto kerusakan barang, atau bukti lain secara aman. Catatan yang faktual membantu orang tua membedakan kejadian berulang dari satu insiden dan memudahkan sekolah melakukan pemeriksaan. Hindari menyebarkan identitas anak lain di media sosial.

Jika anak bercerita menggunakan kata-kata sendiri, catat kutipannya secara akurat tanpa menambahkan tafsir. Jangan meminta anak mengulang cerita berkali-kali kepada banyak orang. Pilih satu orang dewasa utama yang dipercaya untuk mengumpulkan informasi dan menyampaikan perkembangan. Bila ada cedera, ancaman, eksploitasi, atau risiko keselamatan yang mendesak, cari bantuan sesuai prosedur sekolah dan layanan perlindungan atau kesehatan yang relevan.

Minta sekolah menjalankan rencana perlindungan yang konkret

Hubungi wali kelas, GPK, konselor sekolah, atau pimpinan sekolah sesuai jalur yang berlaku. Sampaikan bahwa keluarga meminta penyelidikan dan langkah pencegahan, bukan sekadar nasihat agar anak lebih kuat. Tanyakan siapa yang akan mengawasi area rawan, bagaimana anak dapat meminta bantuan, siapa yang menghubungi keluarga, dan kapan tindak lanjut akan disampaikan. Rencana harus menjelaskan tindakan untuk menghentikan perilaku, bukan hanya mempertemukan anak dengan pelaku.

Pastikan tindakan sekolah tidak justru membatasi akses anak yang menjadi korban, misalnya memindahkan anak dari kegiatan yang disukainya tanpa membahas perilaku pelaku. Jika diperlukan, minta pengaturan aman pada waktu istirahat, perpindahan kelas, transportasi, atau kegiatan ekstrakurikuler. Anak perlu tahu orang dewasa mana yang dapat ia cari, dengan cara apa, dan apa yang akan terjadi setelah ia meminta bantuan.

Ajarkan keterampilan meminta bantuan tanpa membebankan tanggung jawab

Anak dapat berlatih menyampaikan kalimat sederhana seperti “Berhenti, saya tidak suka”, “Saya mau ke guru”, atau menunjukkan kartu bantuan. Latihan ini bukan berarti anak bertanggung jawab mencegah perundungan. Tugas utama menghentikan perundungan tetap berada pada orang dewasa dan sekolah. Keterampilan meminta bantuan hanya menambah pilihan anak ketika ia mampu menggunakannya.

Buat rencana yang tidak mengharuskan anak berhadapan langsung dengan pelaku. Jika anak tidak nyaman berbicara, ia dapat menunjukkan kartu atau mendekati orang dewasa yang telah disepakati. Hindari memaksa anak melakukan kontak mata atau berbicara lantang agar dianggap serius. Sekolah perlu memahami cara komunikasi anak dan memastikan laporannya didengar.

Pulihkan rasa aman dan hubungan dengan sekolah

Setelah kejadian ditangani, anak mungkin masih merasa takut atau malu. Jangan menuntutnya segera kembali akrab dengan teman yang menyakiti. Tanyakan kegiatan apa yang membuatnya nyaman dan dukungan apa yang dibutuhkan saat kembali ke kelas. Bila anak memerlukan waktu di tempat tenang atau ditemani orang dewasa tertentu, diskusikan penyesuaian tersebut dengan sekolah.

Perhatikan tanda stres yang menetap seperti mimpi buruk, sakit perut sebelum berangkat, ketakutan kuat, menarik diri, atau perubahan makan dan tidur. Bila dampaknya berat atau berlanjut, pertimbangkan bantuan psikolog atau tenaga kesehatan mental anak. Jangan menganggap anak harus belajar menghadapi perundungan sendirian agar menjadi tangguh. Rasa aman adalah prasyarat untuk kembali belajar dan berinteraksi.

Bangun budaya kelas yang tidak menoleransi ejekan

Perlindungan anak tidak berhenti pada satu laporan. Sekolah dapat mengajarkan perbedaan cara berkomunikasi, membuat aturan kelas yang jelas, menyediakan pengawasan di area yang rawan, serta membangun kegiatan kelompok yang memberi banyak cara untuk berpartisipasi. Teman sebaya perlu memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk mengejek atau mengucilkan.

Orang tua dapat meminta sekolah menjelaskan kebijakan anti-perundungan dan bagaimana dukungan diterapkan untuk anak dengan disabilitas. CDC mengingatkan bahwa anak dengan disabilitas dapat menghadapi peningkatan risiko menjadi korban bullying, abuse, dan neglect, sehingga strategi keselamatan perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan tiap anak. Lihat panduan menjaga keselamatan anak penyandang disabilitas. Artikel BisaBaca tentang langkah melindungi anak dari perundungan karena disabilitas, memilih sekolah inklusif 9 hal yang perlu ditanyakan orang tua sebelum mendaftar, dan memilih sekolah inklusif dapat membantu diskusi lanjutan.

Kapan perlu eskalasi lebih lanjut

Jika sekolah tidak merespons, kejadian terus berulang, ada ancaman serius, kekerasan fisik, pelecehan, pemerasan, atau risiko anak tidak aman, orang tua dapat mengajukan keluhan kepada pimpinan sekolah dan mengikuti jalur pengaduan yang tersedia di daerah. Simpan dokumentasi komunikasi dan permintaan tindak lanjut. Bila ada cedera atau kebutuhan medis, cari pertolongan kesehatan terlebih dahulu.

Anak juga perlu dilibatkan sesuai kesiapan dan cara komunikasinya saat rencana perlindungan dibuat. Tanyakan siapa yang paling ia percaya, tempat mana yang terasa aman, dan sinyal apa yang dapat digunakan jika takut. Hindari menjadikan anak sebagai satu-satunya sumber bukti atau pihak yang harus menyelesaikan masalah. Orang dewasa bertanggung jawab membangun lingkungan belajar yang aman dan menghormati martabat setiap murid.

Minta sekolah menangani perundungan sebagai tanggung jawab lingkungan

Jangan hanya meminta anak belajar mengabaikan ejekan. Sekolah perlu memeriksa lokasi dan waktu kejadian, pola interaksi, serta apakah pengawasan orang dewasa memadai. Tanyakan siapa yang akan menindaklanjuti, bagaimana anak dilindungi dari pembalasan, dan kapan orang tua menerima kabar. Jika ada ancaman atau kekerasan, perlindungan harus berjalan segera, bukan menunggu rapat rutin.

Anak mungkin membutuhkan cara khusus untuk melaporkan kejadian, seperti kartu, formulir sederhana, atau orang dewasa yang dipercaya. Pastikan ia tahu bahwa laporan akan ditanggapi dan tidak membuatnya dihukum. Setelah langkah sekolah dilakukan, tanyakan kepada anak apakah ia merasa lebih aman. Perubahan situasi perlu dipantau, bukan dianggap selesai hanya karena satu percakapan.

Libatkan anak dalam rencana perlindungan

Jika anak bersedia, sepakati satu atau dua orang dewasa di sekolah yang dapat ia datangi ketika tidak nyaman. Pastikan anak tahu tempat menemui orang tersebut dan cara meminta bantuan. Untuk anak yang menggunakan komunikasi alternatif, guru perlu mengetahui bagaimana pesan itu disampaikan. Rencana harus mudah digunakan dalam situasi nyata, bukan hanya tertulis di dokumen sekolah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Haruskah anak belajar membela diri secara fisik?

Ajarkan cara menjauh dan meminta bantuan, bukan membalas kekerasan. Bila ada ancaman fisik, orang dewasa dan sekolah harus memastikan keselamatan serta menangani pelaku melalui prosedur yang tepat.

Apakah melaporkan perundungan akan membuat anak makin dikucilkan?

Kekhawatiran itu dapat dibicarakan dengan sekolah. Minta rencana yang menjaga privasi anak dan tidak membuka identitas pelapor secara tidak perlu. Jangan membiarkan risiko tersebut menjadi alasan untuk tidak menghentikan perundungan.

Untuk memperluas pembahasan, baca juga keterampilan sosial anak.

Rujukan lebih lanjut: National Autistic Society.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.