Orang tua, anak, dan guru berdiskusi di ruang sekolah untuk menyusun langkah perlindungan.
Mendengarkan anak dan berkoordinasi dengan sekolah membantu penanganan perundungan yang terkait disabilitas.
Kebutuhan Khusus & Pengasuhan Inklusif Anak

Anak Mengalami Perundungan karena Disabilitas? Langkah Orang Tua Melindungi dan Berkoordinasi dengan Sekolah

Kenali tanda perundungan terkait disabilitas, dengarkan anak, dokumentasikan kejadian, dan susun langkah perlindungan bersama sekolah.

Anak penyandang disabilitas dapat mengalami ejekan, pengucilan, ancaman, pemaksaan, atau tindakan yang memanfaatkan kebutuhan dukungannya. Perundungan tidak selalu berupa kekerasan fisik. Mengambil alat bantu, meniru cara bicara, menyembunyikan perangkat komunikasi, atau sengaja membuat akses terhalang juga dapat merugikan anak. Orang tua mungkin baru mengetahui kejadian setelah perubahan perilaku muncul. Respons yang paling penting adalah mendengarkan anak, memastikan keselamatannya, dan bekerja sama dengan sekolah untuk menghentikan tindakan serta mencegah pengulangan.

Kenali perubahan yang mungkin menjadi tanda

Perubahan dapat berupa enggan berangkat sekolah, kehilangan barang atau alat bantu, munculnya cedera yang penjelasannya tidak jelas, perubahan tidur, atau anak semakin enggan bercerita tentang teman. Namun, tanda tersebut tidak selalu berarti perundungan. Tanyakan dengan tenang apa yang terjadi dan kapan anak merasa tidak aman. Gunakan cara komunikasi yang dapat diakses, seperti gambar, pilihan, atau percakapan singkat.

Untuk menyiapkan transisi pendidikan, lihat panduan transisi anak menuju sekolah dasar.

Anak mungkin tidak langsung menceritakan kejadian karena takut tidak dipercaya, khawatir situasi memburuk, atau kesulitan menyusun cerita. Jangan memaksa pertanyaan berulang atau menyalahkan anak karena tidak melawan. Tegaskan bahwa ia berhak merasa aman dan bahwa orang dewasa bertanggung jawab membantu. Bila ada cedera atau ancaman langsung, utamakan pertolongan dan perlindungan segera.

Dengarkan cerita tanpa menginterogasi

Mulailah dengan pertanyaan terbuka dan sederhana: “Apa yang terjadi saat istirahat?” atau “Bagian mana di sekolah yang membuatmu tidak nyaman?” Beri waktu menjawab. Bila anak menggunakan alat komunikasi, pastikan alat tersedia dan orang yang mendampingi memahami cara menggunakannya. Jangan menyelesaikan kalimat anak terlalu cepat atau menebak cerita berdasarkan satu tanda perilaku.

Catat kata-kata anak sedekat mungkin dengan yang disampaikan, termasuk tanggal dan konteks. Hindari mengulang cerita di depan banyak orang karena dapat membuat anak merasa dipermalukan. Jelaskan siapa yang perlu diberi tahu untuk melindungi dirinya. Bila dugaan melibatkan orang dewasa di sekolah atau lingkungan, cari jalur pelaporan yang aman di luar pihak yang diduga terlibat.

Kerangka terbaru ini mencakup perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural, dan keamanan digital di sekolah serta pelibatan orang tua dan warga sekolah. Rujukan: Kemendikdasmen: Budaya Sekolah Aman dan Nyaman berdasarkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026.

Dokumentasikan kejadian secara faktual

Simpan tanggal, waktu, lokasi, pihak yang terlibat, saksi, jenis tindakan, dampak, serta respons sekolah. Foto kerusakan barang atau cedera hanya bila diperlukan dan tetap menjaga privasi anak. Simpan pesan tertulis, tangkapan layar, atau catatan pertemuan sesuai aturan perlindungan data. Hindari menyebarkan bukti di media sosial sebelum memahami risiko terhadap anak dan proses penanganan.

Pembahasan tentang menghargai keunikan anak juga tersedia pada cara menghargai keunikan anak tanpa membandingkan.

Bedakan fakta yang dilihat langsung, cerita anak, dan dugaan. Catatan yang jelas membantu sekolah menyelidiki tanpa membangun kesimpulan terlalu dini. Jangan menambahkan label atau menulis motif yang belum diketahui. Bila kejadian berulang, dokumentasi dapat memperlihatkan pola tempat, waktu, pelaku, atau situasi yang memerlukan penyesuaian pengawasan.

Minta sekolah menyusun langkah perlindungan konkret

Hubungi wali kelas, pimpinan sekolah, atau penanggung jawab perlindungan sesuai prosedur. Sampaikan bahwa kebutuhan akses anak harus dipertimbangkan dalam penanganan. Minta langkah segera untuk mencegah kontak yang berisiko, menjaga alat bantu, memastikan pengawasan, dan menyediakan cara aman bagi anak untuk meminta bantuan. Hindari solusi yang hanya memindahkan anak korban dari kelas tanpa mengatasi tindakan perundungan.

Mintalah sekolah menjelaskan siapa yang bertanggung jawab, kapan tindak lanjut dilakukan, bagaimana anak dapat melapor, dan bagaimana keluarga diberi kabar. Penyesuaian dapat mencakup pengawasan di lokasi rawan, akses komunikasi, pendampingan transisi, atau perubahan lingkungan bila dibutuhkan. Langkah tersebut harus dirancang agar anak tetap dapat mengikuti pembelajaran dan kegiatan bersama teman.

Pastikan penanganan tidak menyalahkan anak

Anak tidak bertanggung jawab atas tindakan perundungan yang diterimanya. Hindari menyuruhnya menyembunyikan alat bantu, mengubah cara bicara, atau menahan kebutuhan akses agar tidak menjadi sasaran. Penguatan keterampilan meminta bantuan dapat berguna, tetapi tidak boleh menggantikan kewajiban orang dewasa untuk mencegah kekerasan. Anak juga tidak harus dipertemukan dengan pelaku secara langsung jika pertemuan tersebut membuatnya tidak aman.

Untuk memahami respons emosi dalam konteks perkembangan, baca cara memahami dan mendampingi perkembangan emosi anak.

Sekolah perlu menangani perilaku yang terjadi, menjaga kerahasiaan, dan menghindari tindakan balasan terhadap anak yang melapor. Diskusikan bagaimana sekolah akan memberi informasi kepada keluarga tanpa membuka identitas atau detail yang tidak perlu. Jika anak mengalami dampak emosional atau cedera, konsultasikan kepada tenaga yang sesuai. Beri anak pilihan tentang cara dukungan diberikan selama proses berlangsung.

Panduan Kementerian Pendidikan ini menjelaskan kerangka Unit Layanan Disabilitas (ULD), yang dapat menjadi salah satu jalur konsultasi dan dukungan terkait akomodasi pendidikan bagi peserta didik penyandang disabilitas. Rujukan: Panduan pembentukan dan pelaksanaan layanan pada Unit Layanan Disabilitas (ULD).

Pantau pemulihan dan pencegahan pengulangan

Setelah laporan ditangani, tanyakan apakah anak merasa lebih aman, apakah kejadian berulang, dan apakah ia dapat mengakses bantuan. Jangan menganggap masalah selesai hanya karena pertemuan telah dilakukan. Buat jadwal tindak lanjut yang jelas dan gunakan cara komunikasi yang nyaman bagi anak. Bila sekolah tidak merespons atau perlindungan tidak memadai, gunakan jalur pengaduan resmi sesuai wilayah dan kondisi kasus.

Untuk perlindungan di sekolah, orang tua perlu menanyakan mekanisme yang berlaku saat ini. Kemendikdasmen menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, yang mencakup perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural, dan keamanan digital. Peraturan ini mencabut Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023; karena itu, jangan mengandalkan istilah atau struktur penanganan lama tanpa memeriksa prosedur terbaru. Kebutuhan akomodasi dan layanan disabilitas tetap perlu dibicarakan melalui sekolah dan Unit Layanan Disabilitas sesuai ketentuan yang relevan.

Contoh menindaklanjuti dugaan perundungan di sekolah

Misalnya, anak pulang tanpa alat komunikasi yang biasa dipakai dan mengatakan teman menyembunyikannya. Orang tua memastikan alat ditemukan atau menyediakan cara komunikasi sementara, mencatat cerita anak, lalu menghubungi sekolah. Keluarga meminta pengawasan di tempat alat tersebut disimpan dan kesepakatan agar anak dapat meminta bantuan segera. Setelah beberapa hari, keluarga meninjau apakah alat tetap aman dan anak merasa lebih nyaman.

Informasi yang perlu dicatat dan disampaikan

  • Pastikan anak aman dan mendapat bantuan medis bila diperlukan.
  • Dengarkan cerita menggunakan cara komunikasi yang dapat diakses.
  • Dokumentasikan fakta dan simpan bukti secara privat.
  • Minta rencana perlindungan, penanggung jawab, dan jadwal tindak lanjut dari sekolah.

Pertanyaan tentang perlindungan dari perundungan

Haruskah anak dipindahkan sekolah setelah dirundung?

Tidak otomatis. Pertama, nilai keselamatan, respons sekolah, dan langkah perbaikan. Perubahan sekolah dapat dipertimbangkan bila lingkungan tidak mampu memberikan perlindungan yang memadai.

Apakah mediasi langsung selalu diperlukan?

Tidak. Pertemuan bersama perlu mempertimbangkan keselamatan, kehendak anak, dan prosedur perlindungan. Anak tidak boleh dipaksa menghadapi pelaku.

Anak berhak merasa aman dan dipercaya

Perlindungan dari perundungan adalah tanggung jawab orang dewasa dan satuan pendidikan. Anak perlu dipercaya, aksesnya dijaga, dan suaranya didengar dalam langkah penanganan. Fokus bukan membuat anak menyesuaikan diri dengan kekerasan, melainkan menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.