Pertemanan anak tidak harus terlihat seperti kelompok besar yang selalu bermain bersama. Orang tua dapat membantu anak autis mengenali bentuk hubungan yang nyaman, menemukan minat bersama, dan membangun interaksi tanpa memaksakan gaya bersosialisasi tertentu.
Pertemanan bukan satu bentuk yang harus diikuti semua anak
Sebagian anak senang bermain dalam kelompok, sebagian lebih nyaman dengan satu teman, dan sebagian memilih kegiatan sendiri sambil tetap menikmati kehadiran orang lain. Anak autis tidak harus memiliki banyak teman agar dianggap berhasil bersosialisasi. Yang penting adalah apakah ia memiliki kesempatan untuk terhubung, merasa aman, dan diterima tanpa harus terus-menerus menutupi kebutuhan dirinya.
Tanyakan kepada anak apa arti teman baginya. Ia mungkin ingin seseorang untuk membahas dinosaurus, menggambar bersama, bermain gim secara bergantian, atau duduk berdampingan tanpa banyak percakapan. Jangan langsung menyimpulkan bahwa anak kesepian hanya karena ia tidak mengikuti pola pertemanan yang biasa terlihat. Amati kebahagiaan, pilihan, dan kebutuhan anak.
Cari titik temu dari minat, bukan dari tuntutan percakapan
Minat khusus dapat menjadi jembatan interaksi. Jika anak menyukai kereta, hewan, peta, atau permainan konstruksi, kegiatan itu dapat menjadi awal untuk bertemu anak lain yang memiliki ketertarikan serupa. Pilih aktivitas yang punya tujuan jelas, seperti menyusun puzzle bersama, membuat prakarya, atau mengamati sesuatu. Kegiatan bersama sering memberi struktur interaksi yang lebih mudah daripada percakapan bebas.
Jangan menjadikan minat anak sebagai umpan yang harus ditukar dengan kepatuhan sosial. Ia tetap boleh menikmati kegiatan tanpa harus berbicara terus-menerus atau menatap wajah teman. Orang tua dapat membantu menyediakan situasi yang nyaman, lalu memberi ruang untuk anak menentukan seberapa jauh ia ingin terlibat.
Ajarkan keterampilan yang membantu hubungan dua arah
Beberapa keterampilan praktis dapat mendukung pertemanan: mengajak bermain, menolak dengan jelas, meminta giliran, menyampaikan bahwa suara terlalu keras, atau meminta jeda. Ajarkan melalui contoh, kartu, permainan peran, atau pesan tertulis sesuai cara komunikasi anak. Sampaikan bahwa komunikasi dua arah berarti kedua anak boleh memiliki batas dan kebutuhan.
Jangan mengajarkan anak bahwa ia harus selalu mengalah agar disukai. Ia boleh mengatakan tidak pada permainan yang tidak aman atau tidak disukai. Anak juga tidak wajib menerima sentuhan, pelukan, atau berbagi barang pribadi. Pertemanan yang sehat memberi ruang bagi persetujuan, pergantian pilihan, dan rasa saling menghormati.
Mulai dari pertemuan singkat dan terencana
Jika anak ingin bertemu teman, awali dengan kegiatan singkat di tempat yang sudah dikenal. Tentukan siapa yang datang, kegiatan apa yang mungkin dilakukan, berapa lama, dan bagaimana anak dapat meminta istirahat. Beri tahu teman atau orang tuanya tentang kebutuhan yang perlu diketahui, dengan tetap menjaga privasi anak. Hindari mengundang terlalu banyak orang pada pertemuan pertama.
Sediakan kegiatan alternatif bila interaksi tidak berjalan sesuai rencana. Anak boleh bermain berdampingan, beristirahat, atau mengakhiri pertemuan lebih awal. Jangan menilai keberhasilan hanya dari lamanya anak berbicara. Jika ia merasa nyaman dan ingin bertemu lagi, itu bisa menjadi tanda pengalaman yang bermakna.
Bantu anak memahami isyarat sosial tanpa menuntut menebak
Aturan sosial sering disampaikan secara tidak langsung. Misalnya teman berkata “sebentar lagi” ketika ingin menyelesaikan permainan, atau menjauh saat membutuhkan ruang. Orang tua dapat menjelaskan kemungkinan makna dalam konteks tertentu, tetapi jangan mengajarkan bahwa satu gerakan selalu berarti sama. Cara orang berkomunikasi berbeda-beda dan salah paham dapat terjadi pada siapa pun.
Lebih aman mengajarkan cara bertanya daripada mewajibkan anak menebak: “Kamu masih mau bermain?” atau “Kamu ingin istirahat?” Anak juga dapat diajari mengatakan, “Aku belum paham, maksudmu apa?” Ini mengurangi beban membaca isyarat yang tidak jelas dan membantu teman belajar berkomunikasi secara lebih terbuka.
Jika anak mengalami penolakan atau pertemanan tidak seimbang
Tidak semua ajakan bermain akan diterima dan tidak semua hubungan cocok. Bantu anak membedakan penolakan sesaat, ketidakcocokan minat, dan pola pengucilan atau perundungan. Dengarkan tanpa menyalahkan. Kalimat “mungkin kamu terlalu berbeda” dapat membuat anak merasa masalahnya adalah dirinya. Lebih baik tanyakan apa yang terjadi dan bagaimana ia ingin dibantu.
Jika penolakan berulang disertai penghinaan, ancaman, pemerasan, atau kekerasan, libatkan sekolah dan orang dewasa yang bertanggung jawab. Anak tidak harus menyelesaikannya sendiri. Simpan catatan kejadian bila diperlukan, sepakati langkah perlindungan, dan pastikan ada orang dewasa yang dapat dihubungi.
Bekerja sama dengan sekolah dan komunitas
Guru dapat membantu menemukan kelompok kegiatan berdasarkan minat, mengatur pasangan kerja yang suportif, atau menyediakan aktivitas terstruktur saat istirahat. Sampaikan dukungan yang dibutuhkan tanpa meminta guru memaksa anak menjalin persahabatan dengan orang tertentu. Tujuan sekolah adalah menyediakan lingkungan inklusif dan aman, bukan menetapkan siapa yang harus menjadi teman anak.
Kegiatan komunitas seperti klub membaca, kelas seni, olahraga adaptif, atau kelompok minat dapat memberi kesempatan bertemu teman di luar kelas. Pastikan pengelola memahami kebutuhan akses dan keselamatan anak. Cobalah satu kegiatan terlebih dahulu, lalu tanyakan kepada anak apakah ia ingin melanjutkan.
Hormati pilihan anak tentang hubungan sosialnya
Ada masa ketika anak ingin lebih banyak berinteraksi dan masa ketika ia membutuhkan waktu sendiri. Orang tua dapat membuka kesempatan tanpa mendesak. Jangan menggunakan hadiah atau hukuman untuk memaksa anak menghadiri acara sosial. Bila ada kekhawatiran tentang isolasi, kecemasan, atau suasana hati yang menetap, cari tahu lebih jauh dan konsultasikan bila diperlukan.
Ukuran hubungan yang sehat bukan jumlah teman atau foto bersama. Perhatikan apakah anak dapat menyebut seseorang yang dipercaya, merasa aman mengatakan tidak, menikmati kegiatan bersama, dan memperoleh bantuan saat terjadi konflik. Anak berhak memiliki hubungan yang sesuai dengan minat, cara komunikasi, dan batasnya sendiri.
Bantu teman memahami cara berinteraksi dengan hormat
Jika anak menginginkannya, orang tua atau guru dapat menjelaskan kepada teman tentang cara berkomunikasi yang membantu. Misalnya, menunggu jawaban, mengatakan aturan permainan secara jelas, atau tidak mengambil benda dari tangan anak. Penjelasan harus menjaga privasi dan tidak membuat anak menjadi bahan demonstrasi. Tanyakan terlebih dahulu informasi apa yang nyaman dibagikan.
Teman tidak harus memahami semua aspek autisme untuk dapat bersikap baik. Mereka dapat belajar meminta izin, menghormati jawaban tidak, memberi waktu, dan tidak mengejek cara bicara atau gerak. Orang dewasa perlu memberi contoh bahwa pertemanan dibangun melalui saling menghormati, bukan menuntut satu anak menyesuaikan diri sendirian.
Perhatikan tanda hubungan yang sehat
Anak dapat merasa aman ketika temannya menghargai batas, tidak mengambil barang tanpa izin, dan mau mencari cara berkomunikasi yang dipahami bersama. Pertemanan tidak selalu bebas konflik, tetapi perbedaan dapat dibicarakan tanpa ancaman atau penghinaan. Ajarkan anak bahwa ia boleh mencari bantuan jika permainan terasa tidak adil atau membuatnya takut.
Jika anak mengalami pengalaman negatif berulang, jangan meminta ia terus mencoba kelompok yang sama. Tinjau lingkungan dan cari kelompok lain yang lebih sesuai. Tujuannya bukan membuat anak disukai semua orang, melainkan menyediakan kesempatan hubungan yang saling menghargai dan tidak menuntut anak mengubah identitasnya.
Hindari menjadikan hubungan sebagai program latihan tanpa akhir
Setelah anak menemukan teman atau kegiatan yang disukai, jangan terus menilai setiap interaksi. Beri ruang bagi hubungan berkembang secara alami, termasuk bercanda, diam bersama, atau melakukan aktivitas masing-masing. Orang tua dapat tetap mengawasi keselamatan dan membantu ketika ada konflik, tetapi tidak harus mengatur setiap percakapan.
Jika anak tidak ingin melanjutkan satu pertemanan, dengarkan alasannya. Bisa jadi minat berubah, ia merasa tidak nyaman, atau hubungan tidak lagi seimbang. Anak tidak perlu mempertahankan hubungan hanya untuk memenuhi target sosial. Menghormati pilihan anak juga merupakan bagian dari mengajarkan hubungan yang sehat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah anak autis harus memiliki banyak teman?
Tidak. Kualitas, rasa aman, dan kesesuaian hubungan lebih penting daripada jumlah teman.
Bagaimana jika anak lebih suka bermain sendiri?
Hormati pilihannya sambil tetap membuka kesempatan untuk berinteraksi jika ia menginginkannya.
Untuk memperluas pembahasan, baca juga anak tidak punya teman di sekolah.
Untuk memperluas pembahasan, baca juga anak baru di sekolah membangun pertemanan.
Untuk memperluas pembahasan, baca juga keterampilan sosial anak.
Rujukan lebih lanjut: National Autistic Society.
Rujukan lebih lanjut: ASHA.










