Orang tua mendengarkan kakak dan adik saat membicarakan candaan di ruang keluarga.
Orang tua membantu kakak dan adik membedakan candaan bersama dari ejekan yang membuat salah satu anak terluka.
Dinamika Keluarga & Pengasuhan Bersama

Menghadapi Ejekan antara Kakak dan Adik: Membedakan Candaan dan Perilaku yang Menyakiti

Kenali kapan candaan kakak-adik mulai menyakiti, cara menghentikan ejekan, dan langkah orang tua menjaga rasa aman tanpa memberi label negatif.

Candaan antara kakak dan adik kadang menjadi bagian dari kedekatan mereka. Mereka bisa saling menggoda, memberi julukan, atau bercanda tentang kebiasaan masing-masing. Namun, candaan tidak selalu terasa lucu bagi orang yang menerimanya. Ketika ejekan terus diulang, menyentuh hal yang sensitif, atau membuat salah satu anak takut dan malu, orang tua perlu turun tangan.

Tujuan orang tua bukan membuat saudara tidak pernah bercanda. Tujuannya adalah membantu mereka memahami batas antara humor yang dinikmati bersama dan perilaku yang merendahkan. American Academy of Pediatrics mengingatkan bahwa ejekan dapat berdampak emosional, dan perilaku mengejek juga bisa terjadi di rumah, termasuk di antara saudara.

Tanyakan bagaimana candaan itu dirasakan

Jangan hanya menilai dari niat anak yang mengejek. Kalimat “Aku cuma bercanda” belum tentu berarti saudaranya merasa baik-baik saja. Tanyakan kepada anak yang menerima ejekan: “Kamu merasa lucu juga, atau sebenarnya tidak nyaman?” Dengarkan tanpa memaksa anak membalas candaan atau langsung memaafkan.

Perhatikan juga bahasa tubuh. Anak mungkin tertawa karena gugup, ikut tertawa agar diterima, atau diam karena khawatir dianggap terlalu sensitif. Karena itu, satu respons saja tidak cukup untuk menilai situasi. Amati apakah perilaku itu berulang dan bagaimana pengaruhnya terhadap hubungan mereka.

Kenali tanda candaan berubah menjadi ejekan yang menyakiti

  • Julukan terus digunakan walaupun anak sudah meminta berhenti.
  • Ejekan menyasar fisik, kemampuan belajar, kondisi kesehatan, keluarga, atau hal pribadi yang membuat anak malu.
  • Satu anak selalu menjadi sasaran, sementara anak lain mengendalikan permainan atau kelompok.
  • Anak yang diejek mulai menghindari saudara, tidak mau bermain, atau tampak takut berada di dekatnya.
  • Ejekan disertai ancaman, pengucilan, merusak barang, atau kekerasan fisik.

Tidak setiap pertengkaran saudara otomatis merupakan perundungan. Namun, pola berulang, ketimpangan kuasa, dan dampak terhadap rasa aman perlu diperhatikan. Jangan menunggu sampai anak enggan berada di rumah untuk menegakkan aturan.

Hentikan perilaku, bukan memberi label kepada anak

Gunakan arahan spesifik: “Berhenti menyebut adik dengan julukan itu. Kita tidak memakai nama yang membuat orang lain merasa rendah.” Hindari memberi label seperti “kakak jahat” atau “adik cengeng”. Label dapat mengunci anak pada identitas negatif, padahal yang perlu diperbaiki adalah perilakunya.

Bila kedua anak sedang emosional, pisahkan sejenak. Jangan memaksa mereka menyelesaikan konflik ketika masih saling menyerang. Setelah tenang, dengarkan cerita masing-masing secara bergantian dan buat aturan sederhana yang bisa dipahami semua anggota keluarga.

Ajarkan cara bercanda yang tetap menghormati orang lain

Bantu anak memahami bahwa candaan yang baik tidak membutuhkan seseorang menjadi korban. Mereka dapat bercanda tentang situasi yang sama-sama dialami, permainan, atau hal lucu yang tidak merendahkan identitas seseorang. Ajarkan kalimat untuk berhenti: “Aku tidak suka dipanggil begitu,” dan respons yang harus dihormati: “Baik, aku berhenti.”

Orang tua juga perlu memeriksa kebiasaan sendiri. Jika orang dewasa sering membandingkan atau menggoda salah satu anak karena tubuh, prestasi, atau sifatnya, anak dapat meniru pola tersebut. Panduan AAP tentang ejekan dan perundungan menekankan pentingnya menanggapi ejekan secara serius, termasuk ketika terjadi di rumah.

Kapan orang tua perlu lebih tegas?

Segera hentikan situasi jika ada ancaman, pemaksaan, kekerasan, penghinaan yang terus berulang, atau salah satu anak tampak tidak aman. Jangan meminta anak yang menjadi sasaran untuk sekadar “lebih kuat” atau “jangan baper”. Orang tua bertanggung jawab menetapkan batas dan menjaga keselamatan.

Jika pola sulit dihentikan atau berdampak pada tidur, sekolah, suasana hati, dan hubungan anak, diskusikan dengan tenaga profesional yang memahami perkembangan anak. Artikel mengapa kakak-adik sering bertengkar dan kapan konflik kakak-adik perlu didampingi orang tua dapat membantu orang tua memahami konflik saudara secara lebih luas.

Bangun budaya saling menghormati di rumah

Anak tidak harus selalu setuju atau menyukai semua candaan saudaranya. Mereka perlu belajar bahwa kedekatan tidak memberi izin untuk merendahkan. Dengan aturan yang jelas, contoh dari orang tua, dan respons yang konsisten, rumah dapat menjadi tempat anak belajar bercanda sekaligus menjaga perasaan satu sama lain.

Jangan buru-buru memaksa mereka berdamai

Setelah ejekan dihentikan, beri jarak bila anak masih marah atau takut. Permintaan maaf yang dipaksa di depan orang lain dapat membuat anak fokus pada rasa malu. Orang tua dapat mengatur percakapan terpisah, lalu mempertemukan mereka ketika keduanya siap dan situasi aman. Anak yang menjadi sasaran tidak wajib langsung memaafkan atau bermain kembali.

Periksa apakah ada pemicu yang berulang, seperti perbedaan kemampuan, bentuk tubuh, prestasi, barang pribadi, atau kebutuhan khusus. Jika ejekan menyasar aspek tersebut, tegaskan bahwa hal itu tidak boleh dijadikan bahan olok-olok. Hindari membalas dengan mengejek anak yang memulai perilaku karena orang tua sedang mencontohkan cara yang justru ingin dihentikan.

Amati perubahan setelah aturan dibuat

Catat apakah ejekan berkurang, apakah anak yang sebelumnya menjadi sasaran kembali nyaman berada di ruang bersama, dan apakah aturan dipatuhi tanpa pengawasan terus-menerus. Bila perilaku berlanjut, tingkatkan pengawasan dan cari dukungan profesional atau sekolah jika dampaknya meluas. Tujuannya bukan menghukum satu anak, melainkan memulihkan rasa aman dan mengubah pola interaksi.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.