Orang tua mendengarkan kakak dan adik bergantian saat terjadi perselisihan kecil di rumah.
Mendengarkan laporan anak lebih dahulu membantu orang tua membedakan kebutuhan perlindungan dari konflik kecil antar saudara.
Dinamika Keluarga & Pengasuhan Bersama

Kebiasaan Saling Mengadu antara Kakak dan Adik: Cara Orang Tua Menilai dan Menengahi

Pahami alasan anak saling mengadu, bedakan laporan keselamatan dari konflik kecil, dan latih kakak-adik berbicara serta menyelesaikan masalah.

“Bu, Kakak mengambil punyaku.” “Ayah, Adik menggangguku.” Dalam keluarga dengan lebih dari satu anak, orang tua mungkin sering mendengar laporan seperti ini. Ada laporan yang membantu orang tua mengetahui bahwa seseorang sedang tidak aman. Ada juga yang muncul karena anak belum tahu cara menyelesaikan perbedaan kecil atau ingin orang tua menentukan siapa yang benar.

Kebiasaan saling mengadu tidak sebaiknya langsung dianggap buruk. Anak yang melapor bisa sedang meminta perlindungan, mencari keadilan, atau belum memiliki keterampilan menyampaikan keberatan. Tugas orang tua adalah membedakan kebutuhan di balik laporan, bukan menutup telinga setiap kali anak datang bercerita.

Bedakan laporan keselamatan dan konflik kecil

Ajarkan bahwa anak selalu boleh datang kepada orang dewasa ketika ada bahaya, kekerasan, ancaman, sentuhan yang tidak nyaman, perusakan barang, atau situasi yang membuatnya takut. Untuk hal seperti ini, anak tidak perlu diminta menyelesaikan sendiri.

Untuk perselisihan kecil—misalnya siapa yang lebih dulu memakai pensil warna atau memilih acara—anak bisa dibimbing mencoba bicara langsung jika situasinya aman dan kemampuan usianya memungkinkan. Contoh kalimat: “Aku sedang pakai. Setelah selesai, giliranmu,” atau “Aku belum selesai bermain. Kita bisa atur waktunya.”

Dengarkan dulu sebelum menentukan siapa yang salah

Saat dua anak datang dengan cerita berbeda, hindari langsung percaya pada anak yang lebih tua, yang lebih tenang, atau yang lebih cepat menjelaskan. Berikan kesempatan keduanya bicara tanpa saling memotong. Orang tua dapat merangkum: “Kakak merasa mainannya diambil, Adik merasa belum mendapat giliran.” Ringkasan ini membantu anak melihat bahwa orang tua memahami kedua sisi.

Jangan mengadakan sidang keluarga untuk setiap persoalan. Fokus pada apa yang perlu terjadi berikutnya: barang dikembalikan, giliran disepakati, permainan dihentikan sementara, atau anak membutuhkan ruang untuk menenangkan diri.

Ajari anak menyampaikan masalah tanpa menyerang

  • Ganti “Kakak selalu jahat” dengan “Aku tidak suka saat barangku diambil tanpa izin.”
  • Ganti “Adik menyebalkan” dengan “Aku ingin bermain sendiri selama beberapa menit.”
  • Ganti “Dia curang” dengan “Aturan kita tadi adalah bergiliran.”
  • Bila belum siap berbicara, anak boleh meminta jeda dan kembali berdiskusi setelah tenang.

Kapan orang tua sebaiknya turun tangan?

Orang tua perlu bertindak ketika ada pukulan, ancaman, paksaan, perusakan barang, penghinaan yang berulang, ketimpangan kuasa, atau tanda salah satu anak merasa tidak aman. Intervensi juga diperlukan ketika anak yang lebih kecil belum mampu mempertahankan batas atau ketika konflik semakin meningkat.

Jika masalahnya ringan dan anak relatif setara, orang tua dapat bertindak sebagai fasilitator: jelaskan aturan, ajukan pilihan, lalu beri waktu mereka mencoba menyepakati solusi. Pendekatan ini sejalan dengan panduan AAP tentang hubungan saudara, yang menekankan perlunya orang tua menyesuaikan bantuan dengan usia, kematangan, dan jenis konflik.

Jangan memberi hadiah untuk laporan atau menghukum anak karena bercerita

Hindari menjadikan anak sebagai “mata-mata” yang mendapat hadiah ketika melaporkan kesalahan saudaranya. Namun, jangan pula memarahi anak karena mengadu. Kedua pola ini dapat membuat anak menyembunyikan masalah atau melaporkan hal sepele demi perhatian.

Sebaliknya, ucapkan: “Terima kasih sudah memberi tahu. Kita lihat apakah ini sesuatu yang perlu Ayah bantu.” Setelah situasi ditangani, ajarkan cara menghadapi masalah serupa. Orang tua juga dapat membaca peran orang tua saat kakak-adik berbeda pendapat dan cara membantu kakak-adik berdamai setelah bertengkar.

Bangun kebiasaan menyelesaikan masalah bersama

Latih keluarga membuat aturan sederhana: tidak memukul, tidak menghina, meminta izin sebelum mengambil barang, dan meminta bantuan ketika tidak aman. Tinjau aturan saat suasana tenang, bukan hanya setelah anak bertengkar. Orang tua dapat menunjukkan cara meminta maaf, mengembalikan barang, dan menyelesaikan perbedaan tanpa mempermalukan siapa pun.

Tujuannya bukan membuat anak berhenti bercerita kepada orang tua. Justru, anak perlu tahu bahwa pintu komunikasi selalu terbuka, sambil perlahan belajar keterampilan untuk menyelesaikan konflik kecil secara mandiri.

Gunakan tiga pertanyaan sebelum mengambil keputusan

Saat anak melapor, orang tua dapat memeriksa: apakah ada risiko keselamatan; apakah ada batas atau aturan keluarga yang dilanggar; dan apakah anak hanya membutuhkan bantuan menyampaikan keinginannya? Pertanyaan ini mencegah dua kesalahan sekaligus: mengabaikan laporan penting atau terlalu cepat mengadili konflik kecil.

Contohnya, jika adik berkata kakak mengambil pensilnya, tanyakan apakah pensil itu milik pribadi atau sedang dipakai bersama. Jika ada aturan meminta izin, bantu anak mengembalikannya dan mengulang permintaan. Jika anak melaporkan dipukul, diancam, atau dipaksa, jangan meminta mereka menyelesaikan sendiri.

Periksa apakah perhatian orang tua ikut memengaruhi pola

Anak mungkin lebih sering melapor ketika hanya mendapat perhatian saat konflik terjadi. Sisihkan waktu untuk berinteraksi ketika mereka sedang bermain baik, berbagi, atau melakukan kegiatan masing-masing. Pujian yang spesifik seperti “Kalian tadi berhasil bergantian tanpa berebut” membantu anak melihat perilaku yang ingin diulang. Tetap pastikan setiap anak mendapat perhatian individual, bukan hanya ketika ada masalah.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.