Ketika anak marah, respons spontan orang dewasa kadang berbunyi, “Jangan marah!” atau “Anak baik tidak boleh begitu.” Kalimat itu mungkin dimaksudkan untuk meredakan suasana. Namun, ada perbedaan besar antara membantu anak menenangkan diri dan meminta anak berhenti merasakan sesuatu. Marah adalah salah satu emosi manusia. Anak tidak menjadi buruk hanya karena ia kesal, kecewa, atau merasa diperlakukan tidak adil. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana menyampaikan kemarahan tanpa memukul, mengancam, menghina, atau merusak barang.
Emosi bukan perilaku: dua hal yang perlu dipisahkan
Orang tua dapat menerima perasaan anak tanpa menyetujui semua tindakannya. Misalnya, anak kesal karena gilirannya bermain diambil teman. Perasaan kesalnya dapat dimengerti, tetapi mendorong teman bukan cara yang aman untuk menyelesaikan masalah. Pesan yang ingin disampaikan ialah, “Kamu boleh marah. Ayah tidak akan membiarkan kamu memukul.” Dua bagian kalimat ini bekerja bersama: anak merasa dipahami, sementara batas perilaku tetap jelas.
Jika setiap kemarahan langsung dibalas dengan larangan, anak mungkin menangkap pesan bahwa perasaannya sendiri tidak pantas dibicarakan. Ia bisa memilih diam, menyembunyikan kekesalan, atau menunggu sampai emosinya terlalu besar untuk diatur. Itu bukan akibat yang pasti pada setiap anak, tetapi risiko komunikasi yang patut diperhatikan. Anak membutuhkan kosakata emosi dan kesempatan berlatih, bukan hanya perintah untuk tenang.
Mengapa larangan marah tidak otomatis membuat anak lebih tenang?
Ucapan “sudah, jangan marah” tidak memberi petunjuk tentang apa yang harus dilakukan berikutnya. Anak yang belum mampu mengenali sensasi tubuh, menyebut penyebab, atau meminta jeda akan tetap menghadapi masalah yang sama. Ia mungkin tahu bahwa orang dewasa tidak menyukai ekspresi marah, tetapi belum tahu cara menggantinya. Akhirnya, ia tidak memiliki langkah yang bisa dipakai saat konflik kembali muncul di kelas, lapangan, atau rumah.
Kemampuan mengatur emosi berkembang melalui pengalaman dan bantuan berulang. Anak belajar menghubungkan kejadian, pikiran, sensasi tubuh, dan tindakan. Orang tua dapat membantu dengan pertanyaan sederhana: “Apa yang terjadi sebelum kamu kesal?”, “Bagian mana yang terasa tidak adil?”, atau “Apa yang kamu butuhkan sekarang?” Pertanyaan tersebut bukan interogasi. Beri waktu anak untuk menjawab, termasuk ketika ia belum menemukan kata-katanya.
Apakah menahan marah dapat membuat anak agresif di sekolah?
Tidak tepat menyimpulkan bahwa satu larangan akan langsung membuat anak agresif. Perilaku agresif dapat dipengaruhi banyak hal: kemampuan bahasa, pengalaman konflik, kelelahan, stres, pola yang dipelajari, kesulitan mengendalikan impuls, atau situasi di sekolah. Namun, jika anak terus-menerus tidak mendapat ruang aman untuk mengungkapkan masalah, orang dewasa bisa kehilangan kesempatan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kemarahan yang tidak dibicarakan juga tidak otomatis hilang.
Di sekolah, anak mungkin menunjukkan kekesalan dengan berteriak, mendorong, mengejek, atau menarik diri. Jangan buru-buru menganggap semua tindakan itu berasal dari kebiasaan di rumah. Cari tahu urutan kejadiannya: apakah ada ejekan berulang, kesulitan mengikuti permainan, rasa takut ditolak, atau salah paham? Informasi dari anak, guru, dan pengamatan yang tenang lebih berguna daripada mencari satu pihak untuk disalahkan.
Ajarkan tiga langkah: kenali, beri jeda, pilih tindakan
Kenali. Bantu anak memperhatikan tanda awal kemarahan, misalnya rahang mengencang, tangan mengepal, suara meninggi, atau keinginan membalas. Jangan menyebut tanda itu sebagai bukti anak nakal. Katakan, “Sepertinya tubuhmu mulai tegang. Apa kamu sedang kesal?” Anak yang lebih kecil mungkin perlu pilihan kata seperti kecewa, kesal, takut, atau malu.
Beri jeda. Jeda bukan hukuman dan bukan cara mengusir anak. Ajak ia menjauh sebentar dari situasi yang memicu konflik jika aman, minum air, bernapas perlahan, atau duduk di tempat yang tidak ramai. Sebagian anak ingin ditemani, sementara yang lain lebih nyaman diberi ruang. Tanyakan dukungan seperti apa yang membantu, lalu sepakati cara kembali ke percakapan.
Pilih tindakan. Setelah lebih tenang, latih kalimat yang bisa dipakai: “Aku belum selesai bermain,” “Aku tidak suka didorong,” atau “Tolong panggil guru.” Anak juga perlu tahu bahwa meminta bantuan orang dewasa bukan tanda kalah. Bila ada kekerasan atau ancaman, keselamatan lebih penting daripada meminta anak menyelesaikan konflik sendirian.
Contoh respons orang tua yang menerima emosi sekaligus menjaga batas
- Daripada “Jangan marah!”, coba: “Kamu sedang marah. Ceritakan apa yang membuatmu kesal.”
- Daripada “Berhenti menangis, itu sepele,” coba: “Bagi kamu ini penting. Kita bahas setelah napasmu lebih tenang.”
- Daripada “Kalau marah, pergi sana!”, coba: “Kita ambil jeda di sini. Ayah tetap menemanimu.”
- Daripada “Pukul saja kalau dia mulai duluan,” coba: “Jaga jarak, katakan berhenti, lalu cari bantuan guru.”
Kalimat pengganti tidak harus terdengar sempurna. Pilih kata yang wajar bagi keluarga dan sesuai usia anak. Yang penting, anak mendapat pesan yang konsisten: perasaan boleh dibicarakan, tetapi tindakan yang menyakiti orang lain perlu dihentikan dan diperbaiki.
Bekerja sama dengan sekolah tanpa memberi label
Jika anak beberapa kali terlibat konflik, hubungi guru untuk memahami pola, bukan sekadar meminta hukuman. Tanyakan kapan kejadian muncul, siapa yang berada di sekitar, apa pemicunya, respons apa yang sudah dicoba, dan apa yang membantu anak kembali tenang. Buat rencana sederhana yang konsisten antara rumah dan sekolah, misalnya anak boleh meminta jeda, guru membantu menamai masalah, dan anak diajak memperbaiki dampak tindakannya setelah tenang.
Jangan memberi label “pemarah” atau “anak agresif” sebagai identitas. Lebih baik jelaskan perilakunya: “Hari ini ia mendorong teman saat berebut bola.” Bahasa yang spesifik membuat semua orang lebih mudah merancang dukungan. Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melihat cara menyepakati komunikasi saat sedang marah dan contoh validasi emosi anak.
Kapan orang tua perlu mencari bantuan tambahan?
Pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog anak, dokter anak, atau tenaga profesional yang sesuai bila ledakan emosi sering terjadi, berlangsung lama, mengganggu sekolah dan pertemanan, membahayakan anak atau orang lain, atau muncul bersama perubahan tidur, makan, suasana hati, dan aktivitas yang menetap. Bantuan profesional bukan berarti orang tua gagal. Justru, penilaian yang tepat membantu memahami faktor yang mungkin belum terlihat dan memilih dukungan sesuai kebutuhan anak.
Jika anak menyampaikan bahwa ia mengalami perundungan, kekerasan, atau merasa tidak aman, tanggapi serius dan koordinasikan perlindungan dengan pihak sekolah atau layanan yang relevan. Jangan menunggu perilaku memburuk untuk mendengarkan ceritanya. Orang tua juga dapat mendalami latihan mengelola emosi sesuai usia dan cara menjaga respons orang tua saat anak kewalahan.
Yang ingin anak pelajari dari rumah
Anak tidak membutuhkan rumah yang bebas dari kemarahan. Ia membutuhkan orang dewasa yang mampu menunjukkan bahwa konflik dapat dibicarakan tanpa kekerasan dan hubungan dapat diperbaiki setelah emosi mereda. Ketika orang tua bersedia mendengar, menetapkan batas, dan mengakui kesalahan sendiri, anak memperoleh contoh nyata tentang pengelolaan emosi. Tujuannya bukan membuat anak selalu tersenyum, melainkan membantunya mengenali perasaan, menjaga keselamatan, dan memilih tindakan yang lebih baik saat keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
UNICEF menjelaskan pengasuhan positif sebagai pendekatan yang mendengarkan perasaan anak sambil menetapkan batas yang jelas dan tenang. Kemenkes juga menekankan komunikasi terbuka dan kemampuan regulasi emosi dalam membangun relasi sehat. Orang tua dapat membaca panduan UNICEF tentang pengasuhan positif serta artikel Kemenkes mengenai relasi sehat dan komunikasi sebagai bacaan lanjutan.










