Seorang ayah mendengarkan putrinya yang sedang menjelaskan masalah sambil menunjuk mainan yang dipakai bersama.
Mendengarkan laporan anak dengan tenang membantu orang tua memahami persoalan sebelum menentukan apakah anak perlu dibimbing atau dilindungi.
Komunikasi & Kedekatan Orang Tua-Anak

Cara Menanggapi Anak yang Sering Mengadu tanpa Mengabaikan Masalah Sebenarnya

Anak yang sering mengadu belum tentu ingin membuat orang lain dihukum. Pelajari cara membedakan konflik ringan, permintaan bantuan, dan situasi yang membutuhkan perlindungan.

“Bu, tadi dia mengambil pensilku.” “Ayah, kakak tidak mau bergantian.” “Ma, temanku mengejek.” Keluhan seperti ini sering datang ketika orang tua sedang memasak, bekerja, atau mengurus hal lain. Kadang persoalannya sederhana dan dapat diselesaikan anak dengan bantuan sedikit. Pada kesempatan lain, laporan yang terdengar sepele justru menjadi petunjuk bahwa anak sedang mengalami perlakuan tidak adil, perundungan, atau situasi yang membuatnya tidak aman.

Karena itu, menanggapi anak yang sering mengadu tidak cukup dengan meminta mereka berhenti mengeluh. Orang tua perlu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, membedakan permintaan bantuan dari konflik biasa, lalu menentukan kapan anak bisa dilatih menyelesaikan persoalan dan kapan orang dewasa harus turun tangan. Tujuannya bukan membuat anak selalu bergantung, tetapi memastikan ia tahu bahwa meminta bantuan adalah hal yang boleh dilakukan ketika diperlukan.

Mengadu tidak selalu berarti ingin membuat orang lain dihukum

Anak mungkin menyampaikan keluhan karena belum tahu cara menyelesaikan masalah, merasa dirugikan, ingin mendapat perhatian, atau khawatir sesuatu akan terjadi. Anak yang lebih kecil juga masih belajar membedakan kejadian yang mengganggu, aturan yang dilanggar, dan situasi yang membutuhkan pertolongan orang dewasa. Satu laporan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak sedang mencari perhatian atau sengaja ingin membuat saudaranya dimarahi.

Perhatikan isi laporan dan kebutuhan di baliknya. “Dia tidak mau meminjamkan mainan” berbeda dari “Dia memukulku sampai sakit.” “Temanku tidak mengajakku bermain hari ini” berbeda dari “Mereka setiap hari mengancam kalau aku ikut bermain.” Orang tua perlu mendengar rincian yang relevan tanpa menganggap semua keluhan memiliki tingkat risiko yang sama.

Hindari label seperti tukang mengadu, cengeng, atau tidak bisa mandiri. Label dapat membuat anak malu meminta bantuan pada saat ia benar-benar membutuhkannya. Lebih baik menilai situasi dan tindakan yang terjadi, bukan memberi cap pada kepribadian anak.

Empat jenis situasi yang perlu dibedakan

1. Perselisihan sehari-hari

Anak bertengkar soal giliran, aturan permainan, barang yang dipakai bersama, atau pilihan kegiatan. Bila tidak ada ancaman, kekerasan, atau ketimpangan yang membuat salah satu anak tidak mampu melindungi diri, orang tua dapat membantu mereka menyampaikan kebutuhan dan mencari kesepakatan. Anak tetap perlu belajar bahwa perbedaan pendapat dapat diselesaikan tanpa menyakiti.

2. Permintaan bantuan karena anak belum mampu

Anak mungkin sudah mencoba meminta giliran, menjelaskan aturan, atau mencari jalan keluar tetapi belum berhasil. Dalam situasi ini, orang tua dapat memberi contoh kalimat, mendampingi percakapan, atau membantu mengatur lingkungan. Bantuan tidak harus mengambil alih seluruh penyelesaian.

3. Laporan tentang pelanggaran batas atau perlakuan tidak adil

Anak melaporkan barangnya dirusak, tubuhnya disentuh tanpa izin, rahasianya disebarkan, atau dirinya terus dikecualikan secara sengaja. Dengarkan dan cari tahu konteksnya. Jangan buru-buru menyebutnya konflik biasa atau meminta anak memaklumi perilaku yang merugikan.

4. Situasi yang menyangkut keselamatan

Ancaman, pemukulan, pemaksaan, pelecehan, intimidasi, perundungan berulang, atau bahaya di lingkungan fisik dan digital perlu ditangani oleh orang dewasa. Anak tidak perlu diminta menyelesaikannya sendiri demi belajar mandiri. Utamakan keselamatan, dengarkan dengan tenang, dan libatkan pihak yang tepat.

Gunakan pertanyaan untuk memahami, bukan menguji siapa yang salah

Ketika anak datang mengadu, respons awal orang tua menentukan apakah ia merasa aman untuk melanjutkan cerita. Berhenti sejenak jika memungkinkan, letakkan pekerjaan atau gawai, lalu dengarkan sampai selesai. Tidak perlu langsung memberi keputusan. Ajukan pertanyaan satu per satu agar anak tidak merasa sedang diinterogasi.

  1. “Apa yang terjadi?” Minta anak menceritakan urutan kejadian dengan kata-katanya sendiri.
  2. “Kapan dan di mana itu terjadi?” Pertanyaan ini membantu memahami konteks tanpa menuduh.
  3. “Apa yang kamu lakukan setelah itu?” Tanyakan dengan nada ingin tahu, bukan mencari kesalahan anak.
  4. “Apakah ini baru sekali atau sudah beberapa kali?” Pola kejadian dapat membedakan perselisihan sesaat dari masalah berulang.
  5. “Apa yang kamu butuhkan sekarang?” Anak mungkin ingin ditemani, dibantu bicara, atau meminta orang dewasa menghentikan tindakan yang tidak aman.

Jangan memaksa anak menceritakan detail yang tidak perlu, terutama jika ia sedang takut atau sangat emosional. Jika informasi belum lengkap, katakan bahwa orang tua akan mencari tahu dengan hati-hati. Hindari memberi janji bahwa pihak lain pasti dihukum sebelum memahami keadaan.

Kapan anak dapat dibimbing menyelesaikan sendiri?

Untuk konflik ringan yang setara dan tidak membahayakan, orang tua bisa menjadi pelatih, bukan hakim. Bantu anak mengungkapkan kebutuhan dengan kalimat yang jelas: “Aku masih memakai balok ini. Setelah selesai, kamu boleh meminjam.” Ajari ia meminta giliran, menawarkan pertukaran, atau mengusulkan permainan lain. Setelah itu, beri kesempatan mencoba dan tetap awasi bila anak masih kecil.

Orang tua juga dapat membantu anak melihat sudut pandang pihak lain tanpa menghapus pengalaman dirinya. “Kamu kesal karena mainanmu diambil. Kakak mungkin ingin segera memakainya, tetapi tetap perlu meminta izin.” Kalimat ini mengakui perasaan anak sekaligus menjaga aturan. Jangan menyuruh anak selalu mengalah hanya karena ia lebih kecil, lebih besar, atau dianggap lebih mengerti.

Jika anak berhasil menyelesaikan perselisihan ringan, apresiasi tindakan spesifiknya: “Kamu tadi bilang ingin bergantian dan menunggu giliran. Itu cara yang jelas untuk menyampaikan kebutuhan.” Hindari pujian yang membandingkan, seperti “Kamu lebih baik daripada kakak.” Tujuannya menumbuhkan keterampilan, bukan persaingan.

Kapan orang tua perlu langsung turun tangan?

Jangan menunggu anak mencoba berulang kali bila ada risiko fisik, ancaman, pemaksaan, perbedaan kekuatan yang besar, atau anak tampak ketakutan. Hentikan situasi dengan aman, pisahkan pihak yang terlibat jika diperlukan, dan pastikan anak yang melapor tidak ditinggalkan menghadapi orang yang membuatnya tidak aman. Jangan meminta anak berhadapan langsung atau berdamai saat ia belum siap.

Jika keluhan menyangkut sekolah, dengarkan anak terlebih dahulu, catat informasi penting, lalu hubungi guru atau pihak sekolah yang bertanggung jawab. Untuk dugaan perundungan, tanyakan bagaimana sekolah akan menjaga keselamatan anak dan bagaimana tindak lanjut akan dipantau. Jika kejadian melibatkan kekerasan, pelecehan, atau ancaman serius, cari bantuan profesional atau pihak perlindungan sesuai kebutuhan. Jangan menyebarkan cerita anak ke grup orang tua atau media sosial.

Materi UNICEF Indonesia untuk guru tentang penanganan perundungan menekankan pentingnya menanggapi laporan dengan serius, berempati, tidak menyalahkan anak, dan membantu memastikan anak merasa aman. Prinsip tersebut relevan bagi orang tua: terima laporan terlebih dahulu, kemudian lakukan langkah yang diperlukan. Baca tips UNICEF Indonesia bagi guru dalam mengatasi perundungan sebagai salah satu rujukan untuk memahami respons yang berpusat pada keselamatan anak.

Contoh respons dalam situasi yang sering terjadi

Ucapan anakRespons awal orang tuaArah tindak lanjut
“Kakak mengambil remote.”“Kamu masih ingin menonton atau sedang memakai remote itu?”Atur giliran bila tidak ada konflik atau ancaman.
“Temanku tidak mengajakku bermain.”“Kamu merasa tersisih. Ini baru hari ini atau sudah sering?”Dengarkan pola kejadian dan bantu anak memilih respons.
“Dia mendorongku sampai jatuh.”“Kamu sakit atau terluka? Sekarang kamu aman?”Pastikan kondisi fisik, cari tahu kejadian, dan hubungi pihak terkait.
“Mereka bilang akan memukulku besok.”“Terima kasih sudah memberi tahu. Ayah akan membantu memastikan kamu aman.”Jangan minta anak menghadapi ancaman sendiri; buat rencana perlindungan.

Contoh tersebut hanya gambaran percakapan. Sesuaikan kata-kata dengan usia, kemampuan komunikasi, dan situasi keluarga. Bila risiko tinggi, keselamatan lebih penting daripada menyelesaikan dialog dengan sempurna.

Jangan hanya mendengar anak yang paling cepat melapor

Dalam konflik antar-saudara atau kelompok teman, anak yang lebih vokal mungkin lebih cepat menyampaikan ceritanya. Anak yang pendiam dapat memerlukan waktu atau cara lain untuk menjelaskan. Beri kesempatan setiap pihak menyampaikan pengalaman secara terpisah bila diperlukan. Jangan menganggap anak yang menangis pasti benar, atau yang tidak menangis berarti tidak terluka.

Jika orang tua tidak menyaksikan kejadian, bedakan apa yang diketahui langsung, apa yang didengar, dan apa yang masih berupa dugaan. Gunakan kalimat “Ibu belum tahu seluruh kejadiannya. Ibu akan mendengarkan satu per satu” agar anak memahami prosesnya. Adil bukan berarti memaksakan dua cerita menjadi sama, melainkan memberi ruang yang layak dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia.

Ajarkan anak bahwa meminta bantuan adalah keterampilan

Kemandirian bukan berarti anak harus mampu menghadapi semua masalah tanpa dukungan. Anak perlu belajar mengenali jenis persoalan yang bisa dicoba sendiri dan situasi yang harus dibagikan kepada orang dewasa. Buat daftar orang dewasa tepercaya yang dapat dihubungi di rumah dan sekolah. Jelaskan bahwa anak boleh melapor berkali-kali bila masalah belum berhenti atau ia masih merasa tidak aman.

Orang tua juga perlu menjelaskan perbedaan antara privasi dan rahasia yang membahayakan. Anak boleh memiliki percakapan pribadi dengan teman, tetapi ancaman, permintaan yang membuat tidak nyaman, atau ajakan menyembunyikan tindakan berbahaya tidak harus disimpan sendiri. Ucapkan dengan jelas bahwa anak tidak akan disalahkan karena meminta bantuan.

Untuk membangun kebiasaan ini, orang tua dapat membaca panduan mendengarkan anak agar berani bercerita, pembahasan mendengarkan pendapat anak sesuai usia, dan membuat aturan keluarga yang mendukung hubungan kakak-adik. Ketiganya dapat membantu orang tua menempatkan komunikasi dan batas keluarga secara seimbang.

Jangan biarkan keluhan menjadi satu-satunya pintu perhatian

Jika anak hanya mendapat perhatian ketika ada masalah, percakapan keluarga dapat terasa selalu berkaitan dengan konflik. Sisihkan waktu untuk mendengar cerita biasa, membahas hal yang menyenangkan, atau melakukan kegiatan bersama tanpa mencari kesalahan siapa pun. Dengan begitu, anak tidak perlu membuat masalah menjadi besar hanya untuk mendapat kesempatan berbicara.

Orang tua juga boleh menjelaskan batas waktu dengan hangat. “Ayah sedang menyelesaikan telepon selama lima menit. Setelah itu Ayah akan mendengarkan. Kalau ada yang membuatmu tidak aman, beri tahu Ayah sekarang.” Kalimat ini menjaga kebutuhan orang dewasa tanpa menutup akses bantuan ketika keselamatan menjadi persoalan.

Respons yang adil dimulai dari kesediaan mendengar

Anak yang sering mengadu tidak otomatis manja atau tidak mandiri. Bisa jadi ia belum memiliki keterampilan menyelesaikan konflik, sedang meminta bantuan, atau mencoba memberi tahu sesuatu yang penting. Orang tua perlu memeriksa isi laporan, pola kejadian, risiko, dan kebutuhan anak sebelum menentukan respons.

Dengarkan lebih dulu, ajukan pertanyaan secukupnya, lalu pilih tindakan yang sesuai. Beri kesempatan anak mencoba menyelesaikan perselisihan ringan, tetapi jangan memindahkan tanggung jawab perlindungan kepada anak ketika ada kekerasan, ancaman, atau perundungan. Pesan yang perlu anak rasakan sederhana: suaranya akan didengar, masalahnya ditanggapi dengan adil, dan ia tidak harus menghadapinya sendirian.

Untuk membedakan konflik biasa dari perundungan, orang tua juga dapat membaca panduan UNICEF Indonesia tentang cara membicarakan perundungan dengan anak. Panduan tersebut membantu membuka percakapan tanpa mengabaikan kemungkinan ketimpangan kekuatan dan kejadian yang berulang.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.