Ibu mendengarkan anak bercerita tentang kata kasar yang didengar di sekolah
Anak berbicara kepada ibu di rumah dengan suasana tanpa penghakiman.
Komunikasi & Kedekatan Orang Tua-Anak

Cara Menangani Anak yang Terpengaruh Bahasa Kasar dari Lingkungan Sekolah

Anak kadang pulang sekolah membawa kata kasar yang sebelumnya tidak pernah terdengar di rumah. Ia mungkin mengucapkannya saat bermain, meniru teman, atau menggunakannya ketika marah. Reaksi orang tua sering beragam: ada yang langsung membentak, ada yang tertawa karena menganggapnya lucu, dan ada yang meminta anak mengulang kata tersebut untuk memastikan. Padahal, respons orang dewasa dapat membuat kata itu.

Anak kadang pulang sekolah membawa kata kasar yang sebelumnya tidak pernah terdengar di rumah. Ia mungkin mengucapkannya saat bermain, meniru teman, atau menggunakannya ketika marah. Reaksi orang tua sering beragam: ada yang langsung membentak, ada yang tertawa karena menganggapnya lucu, dan ada yang meminta anak mengulang kata tersebut untuk memastikan. Padahal, respons orang dewasa dapat membuat kata itu semakin menarik atau justru membantu anak memahami batas.

Tujuan utama bukan membuat anak takut berbicara, melainkan mengajarkan bahwa bahasa memiliki dampak. Anak perlu tahu kata mana yang menyakiti, kapan sebuah ucapan tidak pantas, dan bagaimana menyampaikan emosi tanpa menghina. Orang tua juga perlu mencari tahu apakah kata tersebut hanya tiruan sesaat, menjadi kebiasaan kelompok, atau digunakan untuk merendahkan dan mengancam teman.

Jangan memberi perhatian berlebihan pada kata yang baru ditiru

Jika anak mengucapkan kata kasar satu kali karena penasaran, respons yang terlalu dramatis dapat membuatnya mengulang untuk melihat reaksi. Tetap beri batas dengan singkat: “Kata itu menyakiti orang. Kita tidak menggunakannya untuk memanggil teman.” Lalu alihkan ke kata yang lebih tepat. Jangan tertawa, memaki balik, atau meminta anak mengulang kata tersebut di depan orang lain.

Jika anak belum memahami artinya, jelaskan secara sederhana tanpa memberikan uraian yang tidak sesuai usia. Katakan bahwa kata itu digunakan untuk merendahkan atau menyakiti, bukan untuk menyampaikan ketidaksetujuan. Jika anak bertanya lebih lanjut, jawab dengan jujur dan secukupnya. Hindari membuat kata itu terasa seperti rahasia terlarang yang justru semakin menarik.

Cari tahu kapan dan dari mana bahasa itu muncul

Tanyakan dengan tenang, “Kapan kamu mendengar kata itu?” atau “Biasanya dipakai saat apa?” Anak mungkin mendengar di sekolah, lingkungan bermain, video, gim, atau dari orang dewasa. Jangan langsung menuduh satu teman sebagai sumber masalah. Amati konteks dan frekuensinya. Jika kata kasar muncul hanya saat anak kalah bermain, ia mungkin memerlukan dukungan mengelola frustrasi. Jika dipakai untuk mengejek satu teman, perlu penanganan lebih serius.

Bicarakan dengan guru bila bahasa kasar menjadi kebiasaan kelompok atau membuat anak lain tidak nyaman. Sampaikan contoh yang spesifik tanpa menuntut guru menghukum anak tertentu berdasarkan satu laporan. Tujuannya memahami pola dan membangun kesepakatan bahasa yang aman di kelas. Orang tua dapat memperkuat pesan yang sama di rumah agar anak tidak menerima standar yang saling bertentangan.

Ajarkan pengganti untuk menyampaikan emosi

Anak lebih mudah berhenti menggunakan kata kasar jika memiliki pilihan bahasa lain. Latih ungkapan seperti “Aku kesal,” “Aku tidak suka diperlakukan begitu,” “Berhenti, aku tidak nyaman,” atau “Aku butuh waktu sebentar.” Kalimat ini menyampaikan perasaan dan batas tanpa menghina. Orang tua dapat bermain peran dengan situasi yang biasa terjadi, seperti mainan direbut atau aturan permainan berubah.

Jangan hanya melarang kata tanpa mendengar emosi di baliknya. Jika anak berkata kasar karena marah, akui perasaan sambil tetap melarang penghinaan: “Kamu marah karena kalah. Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh menyebut teman dengan kata itu.” Setelah tenang, bahas cara menyelesaikan masalah. Ini membantu anak memahami bahwa emosi bukan kesalahan, tetapi perilaku tetap perlu dijaga.

Orang tua perlu memeriksa bahasa yang digunakan di rumah

Anak belajar dari percakapan orang dewasa, candaan, dan cara keluarga mengungkapkan frustrasi. Jika orang tua sering memaki pengemudi lain atau menggunakan hinaan saat marah, larangan kepada anak akan terasa tidak konsisten. Tidak perlu berpura-pura bahwa orang dewasa tidak pernah salah. Jika terlanjur mengucapkan kata kasar, akui: “Ayah tadi memakai kata yang tidak baik. Ayah akan memperbaiki cara bicara.”

Buat aturan keluarga yang berlaku untuk semua: tidak menghina tubuh, keluarga, identitas, atau kemampuan seseorang; tidak mengancam; dan tidak menggunakan kata kasar untuk mempermalukan. Aturan ini lebih kuat jika disertai contoh alternatif dan cara memperbaiki ketika ada yang melanggar. Anak melihat bahwa bahasa hormat bukan tuntutan khusus untuk anak kecil.

Bedakan bahasa kasar sesaat dan perilaku merundung

Satu kata kasar yang ditiru tidak otomatis berarti perundungan. Namun, jika bahasa digunakan berulang untuk menargetkan anak tertentu, disertai ancaman, mempermalukan, atau membuat korban takut, orang tua perlu menganggapnya serius. Tanyakan apakah anak menyebut nama teman tertentu, apakah ada pola kelompok, dan apakah ada pesan digital yang menyertainya. Jangan meremehkan dengan mengatakan “anak-anak memang begitu”.

Jika anak menggunakan bahasa kasar untuk merundung, hentikan perilaku dan bantu memperbaiki dampak. Jika ia menjadi sasaran, lindungi dan libatkan sekolah. UNICEF mengingatkan bahwa ejekan dan perundungan perlu ditanggapi serius serta korban perlu merasa aman melalui panduan membicarakan perundungan dengan anak. Orang tua dapat membaca mendampingi anak yang melakukan perundungan jika perilaku berulang menargetkan orang lain.

Jangan menggunakan penghinaan untuk mengoreksi bahasa

Mengatakan “Mulutmu kotor” atau “Kamu anak nakal” justru mencontohkan penghinaan. Tegaskan perilaku yang harus berubah: “Kata itu tidak boleh digunakan untuk teman.” Jika anak mengulang, hentikan aktivitas sejenak dan bantu ia menenangkan diri. Setelah itu, minta anak mencoba kalimat pengganti. Konsekuensi harus terkait dengan perilaku, bukan hukuman yang mempermalukan atau menyakiti.

Jika anak meminta maaf, jelaskan bahwa ia juga perlu berhenti mengulang kata dan memperbaiki hubungan dengan orang yang terluka. Teman tidak harus langsung memaafkan. Anak dapat menunjukkan perubahan melalui tindakan. Untuk memperluas komunikasi positif, baca contoh kalimat saat anak melakukan kesalahan dan membangun ungkapan sosial yang bermakna.

Atur paparan media dan lingkungan tanpa mengisolasi anak

Jika kata kasar berasal dari video atau gim, tonton atau mainkan bersama untuk memahami konteksnya. Periksa pengaturan usia, fitur obrolan, dan siapa yang dapat berinteraksi dengan anak. Jangan hanya mengandalkan larangan umum. Jelaskan mengapa konten tertentu tidak cocok dan apa yang harus dilakukan jika anak mendengar bahasa yang merendahkan. Anak juga perlu tahu bahwa ia boleh keluar dari percakapan digital dan melapor.

Jika sumbernya lingkungan sekolah, jangan langsung melarang anak berteman dengan semua teman yang menggunakan kata kasar. Bantu anak memilih respons, menjauh dari situasi yang berulang, dan mencari teman atau orang dewasa yang mendukung. Perubahan bahasa membutuhkan latihan dan konsistensi, bukan isolasi mendadak yang membuat anak merasa kehilangan seluruh kelompok bermain.

Bahasa kasar dapat menjadi pintu untuk mengajarkan empati, batas, dan pengelolaan emosi. Ketika orang tua memberi contoh, menjelaskan dampak, serta menyediakan kata pengganti, anak belajar bahwa ia tetap boleh marah dan berbeda pendapat tanpa merendahkan orang lain.

Bangun kerja sama dengan sekolah tanpa memberi stigma

Jika bahasa kasar sering muncul setelah anak pulang sekolah, orang tua dapat menanyakan konteks kepada guru dengan netral: apakah kata tersebut umum digunakan di kelas, muncul dalam konflik, atau berasal dari konten yang ditonton bersama. Hindari menyebut nama anak lain sebagai sumber masalah tanpa memahami kejadian. Kerja sama bertujuan menjaga lingkungan belajar, bukan mencari kambing hitam.

Jika anak menggunakan bahasa kasar untuk mengancam atau merendahkan teman, tindak lanjuti perilakunya. Bantu ia memahami dampak, meminta maaf bila sesuai, dan mengganti ungkapan dengan kata yang lebih tepat. Jika anak justru menjadi sasaran bahasa kasar, beri dukungan dan libatkan guru. Jangan menganggap semua umpatan sebagai sekadar fase yang harus dibiarkan.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.